REVIEW : GOOD WILL HUNTING (1997)


real loss.jpg

Film ini menceritakan seorang anak remaja bernama Will Hunting. Will Hunting adalah seorang remaja yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (jenius). Ia mempelajarai segala hal secara otodidak dan sangat senang sekali membaca buku apapun. Ia beranggapan bahwa tidak harus sekolah formal untuk mendapatkan sebuah ilmu. Baginya hanya cukup mendatangi perpustakaan di pusat kota saja ia bisa mendapatkan ilmu baru. Kecerdasannya dapat dibuktikan ketika ia mengerjakan soal matematika yang tertera di dinding lorong tempatnya bekerja. Dimana soal tersebut ditujukan bagi mahasiswa didiknya untuk memenangkan penghargaan kala itu. Satupun mahasiswanya tidak ada yang mampu mengerjakan kecuali Will. Namun Will tidak ingin diketahui bahwa dirinya yang menyelesaikan persoalan tersebut.

Keadaan Will ini mengingatkan saya bahwa seberapapun pintar, kaya, atau berkuasanya seseorang, bila tidak memiliki tujuan dan memahami eksistensi kehidupannya, maka semua itu akan sia-sia. Kecerdasan, limpahan materi, atau daya kuasa yang besar tanpa tahu apa yang akan dicapai hanya membuat diri terombang-ambing, mudah dipengaruhi orang lain.

Salah satu bagian yang paling saya suka adalah ketika Sean mengatakan jangan pernah mencintai seseorang karena kesempurnaannya, sebab kita hanya akan kecewa bila ternyata kita tidak menemukan kesempurnaan yang kita harapkan pada orang yang kita cintai. Cintailah seseorang karena rasa saling melengkapi di antara ketidaksempurnaan yang dimiliki. Itulah yang membuat seseorang berarti bagi orang lain. Sean pun juga belajar dari Will bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, perjuangan harus diteruskan dan tidak boleh putus asa.

Scene tersebut adalah pada saat sesi konsultasi antara Sean dan Will, di mana Sean mengucapkan kalimat “It’s not your fault“. Adegan tersebut merupakan momen kunci di mana dinding yang selama ini memisahkan kehidupan Will dari kebahagiaan, dinding yang membekukan hati Will, dinding yang menjadi tempat berlindung Will ketika ia lari dari kehidupan, dan kini dengan satu kalimat “it’s not your fault“, dinding itu runtuh, membebaskan Will dari sisi gelap hidupnya. 

Jika gw bertanya you tentang seni, mungkin elu akan memberitahu gw tentang michelangelo, elu mungkin tahu ia banyak, tentang pekerjaanya, political viewsnya (tidak tertarik dengan politik), sexual orientationsya (homo), atau semua pekerjaanya.  Tapi gw bertaruh elu belum pernah dan ga bisa memberitahu wangi di dalam sistine chapel, karena elu ga pernah berada disana dan menatap ke atapnya.

Jika gw bertanya elu tentang wanita, mungkin elu akan memberikan gw makalah tentang personal favorites elu, elu mungkin pernah get laid a few times but  you cant tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel truly happy. You’ll never have that kind of relationship in a world where you’re afraid to take the first step because all you see is every negative thing 10 miles down the road. He pushes people away before they get a chance to leave him. It’s a defense mechanism. And for 20 years he’s been alone because of that. And if you push him right now, it’s gonna be the same thing all over again and I’m not gonna let that happen to him.

Dan jika gw bertanya tentang perang, mungkin elu akan melemparkan sajak great dictator speech by charlie chaplin, tapi elu ga pernah dekat dengan itu, bahkan elu ga pernah memegang dan memperhatikan kepala teman mu di pangkuanmu, menatap tarikan dan hembusan nafasnya yang berharap mendapat pertolongan ya tidak akan pernah tiba.

Iraq

Many excited to go to Iraq,
That feeling changed to terror and shock.
The first tragedy may be the truth,
Witnessing terror, and loss of their youth.

They expected plenty of danger,
Here in Baghdad, it’s not a stranger.
So much at stake, pressures immense,
Protecting each other, mutual defense.

Often times, combat is so close,
Deep inside, violence oppose.
They witness bloodshed that is extreme,
So many things are not what they seem.

These people are poor, and severely oppressed,
Suicide bombers, like civilians are dressed.
Those damned, improvised explosive devices,
Killed so many, they’re paying the prices.

They can’t wait, till war reaches the end,
Letters of love and courage they send.
Real soon, they all hope to return home,
Their personal stories, will have their own poem.

Dan jika gw bertanya tentang cinta, elu mungkin akan kasih gw sonnet/puisi, tapi elu ga pernah melihat seorang wanita dan ketika elu melihat dia, elu merasakan rapuh, atau pernah mengenal seseorang yang dimana sepertinya dia dapat mengimbangi elu dari matanya, serasa merasakan tuhan menempatkan bidadari di dunia hanya untuk elu yang mana dapat menyelamatkan elu dari kedalaman neraka, dan elu ga pernah tahu rasanya untuk menjadi malaikatnya, untuk memiliki dan mencintainya, untuk menjadi berada disana, melalui apapun, kanker.

Dan elu tidak pernah mengalami tidur dan duduk di rumah sakit untuk 2 bulan, memegang tanganya karena dokter tahu dan dapat melihat matamu bahwa visiting hours do not apply to you. Elu ga tahu real loss, karena itu hanya ada apabila elu telah mencintai seseorang melebihi elu mencintai diri elu sendiri dan gw ragu bahwa elu pernah berani mencintai seseorang seperti itu.

And lihat elu, gw ga pernah melihat seseorang yang pintar dan percaya diri, gw melihat seseorang yang sombong, gw melihat seseorang yang sangat ketakutkan. Tapi elu genius, ga ada seseorang pun yang menyangkal itu. Ga ada seseorang pun yang dapat memahami kedalaman dari diri elu. Tapi elu akan beranggapan bahwa elu tahu semuanya, bahwa elu dapat mengetahui segalanya dari selera lagu seseorang dan elu merobek-robek kehidupan gw menjadi berkeping-keping.

Elu pikir gw tahu tentang ‘how hard your life has been, how hard you feel, and who you are, karena gw membaca oliver twist?’

Does that encapsulate you? Personally… I don’t give a shit about all that, because you know what, I can’t learn anything from you, I can’t read in some fuckin’ book. Unless you want to talk about you, who you are. Then I’m fascinated. I’m in. But you don’t want to do that. You’re terrified of what you might say. Your move, chief.

You’re not perfect, sport, and let me save you the suspense: this girl you’ve met, she’s not perfect either. But the question is whether or not you’re perfect for each other. Fuck them, ok?

Ia terlalu takut untuk mencoba sesuatu, dan takut untuk menjalin hubungan dengan orang lain, karena ia takut akan ditinggalkan. Itu adalah sebuah mekanisme pertahanan diri, kata Sean.

Film ini mengajarkan:

1) Semua orang takut untuk gagal, tetapi setidaknya mereka telah mencoba. Jangan takut berusaha.

2) Kecerdasan setiap orang berbeda-beda. Ada kalanya orang pintar di bidang akademis, tapi bidang lainnya tidak. Will mengalami hal ini.

3) Penyakit mental lebih mengerikan daripada penyakit jasmani. Mereka terus menggerogotimu. Temukan penyebabnya dan sembuhkan.



Skylar: Well, what aren’t you scared of? You live in this safe little world where no one challenges you and you’re scared shitless to do anything else but defend yourself because that would mean you’d hafta’ change.

Will: Oh no. Don’t, don’t, don’t tell me about my world. Don’t tell me about my world! I mean you just wanna have your fling with like the guy from the other side of town. Then you’re going to go off to Stanford, you’re going to marry some rich prick who your parents will approve of and just sit around with the other trust fund babies and talk about how you went slumming too, once.

Skylar: Why are you saying this? What is your obsession with this money? My father died when I was 13 and I inherited this money. You don’t think that every day I wake up and wish I could give it back? That I would give it back in a second if I could have one more day with him? But I can’t, and that’s my life and I deal with it. So don’t put your shit on me when you’re the one that’s afraid.

Will: I’m afraid? What am I afraid of? What the fuck am I afraid of?

Skylar: You’re afraid of me! You’re afraid that I won’t love you back! Fuck it, I wanna give it a shot! At least I’m honest with you.


Will: Alright, well, Beethoven. He looked at a piano, and it just made sense to him. He could just play… I look at a piano, I see keys, three pedals and a box of wood. But Beethoven, Mozart, they see it. They could just play. I couldn’t paint you a picture, I probably can’t hit the ball out of Fenway, and I can’t plan the piano. Well, I mean, when it came to stuff like that, I could always just play. That’s the best I can explain it.


‘Cause tomorrow I’m gonna wake up and I’ll be 50. And I’ll still be doing this shit. And that’s all right, that’s fine. I mean, you’re sittin’ on a winning lottery ticket and you’re too much of a pussy to cash it in. And that’s bullshit. `Cause I’d do anything to fuckin’ have what you got. So would any of these fuckin’ guys. It’d be an insult to us if you’re still here in 20 years. Hanging around here is a fuckin’ waste of your time


Some people can never believe in themselves, until someone believes in them.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s