Kesehatan Jiwa dan Gender dalam Konteks Indonesia


Saat ini sebenarnya Indonesia sedang darurat kesehatan jiwa. Mengapa?

Karena ada 250 juta jiwa penduduk, sementara psikolog klinis baru ada 451 orang (15 per 10.000.000 penduduk), 773 psikiater (32 per 10.000.000). Padahal standar dari WHO untuk tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1: 30 ribu orang. Selain itu, berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan tahun 2013, sebanyak 6% atau 19 juta penduduk Indonesia usia lebih dari 15 tahun menderita gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan.

Selain itu, kesehatan mental merupakan gabungan banyak unsur dalam kehidupan manusia. Kondisi masyarakat secara sosial, politik, ekonomi, budaya, hokum, pertahanan dan keamanan secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kondisi kesehatan jiwa individu maupun masyarakat secara umum.

Kesehatan mental perlu dipahami sebagai suatu spektrum bukan dikotomi “ya” dan “tidak”, “ada” atau “tidak ada”, “sehat” atau “sakit”.  Selain itu, kesehatan mental perlu dirawat, dipelihara dan diperhatikan sama seperti kita menjaga kesehatan tubuh. Seperti berlatih membangun otot, tidak bisa hanya berlatih sehari semalam langsung bisa punya badan berotot. Butuh latihan setiap hari, daily practice. Because happiness is a state not an external condition. We have to build our mental health “muscle” yang disebut dalam istilah psikologis sebagai resiliensi/resilience.

Merujuk pada kekayaan dan tradisi budaya Indonesia maupun budaya Asia, kita sebenarnya punya sejarah panjang tentang usaha menjaga kesehatan mental dari dalam diri, memiliki kedekatan dengan Tuhan/Sang Pencipta, alam dan sesama manusia. It’s all abount balancing life, harmony, yin-yang.

Dalam perspektif Nusantara, kata “manusia” berasal dari bahasa Sansekerta “Manusya”, artinya lahir dari Manu/Brahma. Menyadari diri kita lahir dari entitas Yang Maha dan punya hak untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan citra Allah, Imago Dei, bukan membatasi diri karena peran gender adalah salah satu cara menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, hampir di semua agama terutama agama Samawi/Abrahamisme menekankan pentingnya kontribusi kita di dunia sebagai makluk hidup. Bukannya membatasi diri tentang “kamu waktu hidup di dunia jadi perempuan atau laki-laki yang kayak gimana?”. Maka sudah layak dan sepantasnya kita kembali menemu-kenali kesejatian diri kita, siapa kita di kedalaman diri dan apa yang bisa kita lakukan di dunia sekitar kita untuk menemukan kebermaknaan hidup, kebahagiaan dan pada akhirnya kesehatan jiwa lahir dan batin.

Oleh : Anastasia Satriyo 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s