LABEL

0

People are missing the point of the video. Some say what’s wrong with being black!? or how we’ll just be mindless machines. You have it all wrong. He never said anything wrong with being black. He said the same for many other races. He saying that we shouldn’t define our selves by black or white because people will have a presumption about you. Face it, blacks are sadly looked down upon, don’t try to deny it. They’re considered gangsters or the only good rappers. You know how some look at vanilla ice and call him so white or others against white rappers. Every race is looked down upon by someone, and this video tells us why.

Labels. From birth we had to be whatever race we got. We started not being racist but something happened, like society pushing it on us. I mean, think about Muslims. For a while, most were okay, but when 911 happened, everything changed. Just because they were Muslim, people started to look down upon them. I mean just look at the kid who brung a clock to school, only to be arrested because they thought it was a bomb, which he repeatedly said it wasn’t. Or how Jews were hated because many thought they were imperfect because of there beliefs and looks!

They say we’d be mindless robots if we looked the same, but we wouldn’t because we still have the mind, that’s not what it means though, imagine a world where no person is labeled. Instead, we looked different, but we’re all considered one race. No blacks, whites, or anything else, just people. Slavery might have never happened, world war I or II. Things that happened because of labels. We don’t need to be all the same. We then would become mindless robots, but just imagine a world were everyone is treated equally. That’s all I have so say.

 

EKONOMI DAN KEHIDUPAN – PERMINTAAN DAN PENAWARAN : HASRAT PSIKOLOGIS

0

 

‘SURAT CINTA SEBAGAI MINIATUR EKONOMI dalam perspektif psikoanalisis’

Pertukaran yang berbasis pasar.

Pasar kapitalis, sosialis.

Menulis surat cinta tidak sama dengan menulis surat pada umumnya.

Surat cinta = pertukaran ekonomi pasar (tidak hanya mendapatkan pemahaman surat cinta, tapi mendapatkan pemahaman baru mengenai pertukaran ekonomi berbasis pasar bekerja pada saat kita selesai, berpaling pada kasus-kasus surat cinta).

Pertukaran pasar (medium penjelasan) terhadap surat cinta, kembali ke surat cinta.. lalu masuk ke ekonomi pasar, dan kita akan mendapatkan pemahaman baru tentang pertukaran pasar.

Retroactive = ex post facto

Kebenaran itu tidak ada di depan, tapi dibelakang, dan berlaku sampai masa depan.  

Psikoanaliss bukanlah merupakan suatu perangkat yang dpt kt terapkan ke suatu kasus, kita tidak dapat bertanya kenapa psikoanalisis melihat x, apakah Y d pandang dalam psikonalsisis. Sebaliknya psikonanalisis,  suatu paradigma yang implikasinya dan konsekuensiny yang bisa kita jumpai dikeseharian. Dalam hal ini surat cinta dan ekonomi pasar. Sehingga ketimbang menjelaskan surat cinta dan ekonomi pasar dgn psikoanlisi, tulisan ini justru akan bertanya.. apa konsep atau tema psikoanalisi yang bisa kita pelajari dgn merefleksikan kenyataan kongkrit pada kedua fenomena tersebut.

Surat cinta dalam ekonomi pasar. Maka pertanytaany sama, apa yang kita bisa pelajari dari surat cinta dalam bekerjanya ekonomi pasar.

Surat cinta = sublime, berbeda dengan yang lainya.

Kalau kita berbicara ekonomi = keadaan, ektivitas, upaya org dlm mmnhuhi kbutuhanya. Kalkulasi rasional = ada yg di untungkan, Korbankan, keluarkan.. ada proses pengerobanan, adanya imbalan. Perhitungan ekonomis

Penemuhan kebutuhan, kalkulasi rasional.

Pasar = suatu ruang atrificial, pembeli, penjual bertemu kegiatan keonomi.. jual beli, saat pembeli dan penjual bertemu barang dan komoditas, alat tukar.

Pasar = penting, lalu lintas informasi, siapa A, siapa B.. barang ini harganya brp, gunanya apa.

Pasar = bebas, stp org di dalamnya bisa mempertimbangkan/kalkulasi rencana ekonomya (pelaku, komoditas, alat tukar, informasi)

Gw permukaan air yang tenang, tapi deep down below im shaking profoundly, anomali yang dari seolah-olah normal.

Pengalaman membeli susu kaleng. Bagaimana elu bisa tahu bahwa produk tersebut ialah produk yang benar-benar elu butuhkan. Mengimani pasar.

Sprite : aku tahu apa yang ku mau. Nein, ada tidak tahu apa yang anda mau.

Pasar = kita harus mengimani spg, dan copywriter sang produk.

Semakin kamu bertanya, semakin anda tidak bahagia.. So jadi percaya saja. Gw tidak tahu bagaimana itu d proses, kok harganya beda jauh. Pokoya percaya saja. Ditundukan dalam rezim tukar dalam dengan medium..

 Percaya kepada merek. Dan informasi yang tertera.

Saya kira subjective, saya butuh laptop = objective.

Menurut gue ini bernilai = tapi engga menurut elu.

Pesanya sampai, tidak ada distorsi.. sayangnya gw ga tahu pasti.

Subjek menjadi galau, baper, ketidak tentuan.. apa yang ia mau dari ku, apa yang kamu mau dari ku.. apakah ku baginya.

Surat cinta ialah pesan dan makna sekaligus objek dari cinta itu. Menulis surat cinta, menjalin hubungan dengan mayat.  Pesanya sampai, dia mengerti.. apa ada feedback? Ketidakpastian, ketidak-menentuan.. pertanyaanya apa yg aku mau, apa yang dia mau, apa yang ia mau dari aku.. siapa aku untuknya.

Apa elu menginkan gue serupa dengan elu? Apa elu tulus? Tulus itu elu terima adanya kenyataan-kenyataan liar.

Pasar ada, saya tidak bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri. Saya butuh orang lain untuk itu. Cinta salah satunya.

Mereka berterima-kasih kepada proletar-proletar.. menyereap kehidupan, intelektual, emosi, kreativitas, death labour = gw punya kehdiupan.

Gw terpikat terhadap benda itu tapi gw engga mempertanyakan itu lagi = fetish

Fetishme komoditas. Harga beda, ya diem aja. Gw menjangkarkan pada sebuah belief, bahwa normal benda ada harganya.

Secara biologis gue hidup.. 9 to 5, get a life.. pharse-pharse apa artinya life dalam get a life.. bukankah orang itu hidup.. tapi ada hidup yang lebih hidup pada umumnya, life menjadi something yang excessive, excessiveness ini dimunculkan dari mana?

Sex itu excessive.. sex manual. Position, elu harus melakukan ini, itu, untuk dapat makna dari sex itu sendiri. Kalau engga maka elu belum pernah benar-benar ngesex.

Mati, mati bukan hanya mati.. tapi ada mati yang lebih excessive, beranak dalam kubur, kuburanya ada uler.

Dimensi exessive : tekno capitalism = kehidupan, apalah artinya hidup ada org yg bunuh diri. Dia memprovide itu.

Hidup itu something yang excessive. Ga pasti.. ini yang diisi oleh marketing, motivator, mitors.

Manusiawi – cinta kasih, cinta kasih itu  batasanya apa? Aldof hitler juga bilang cinta.

“And I can fight only for something that I love, love only what I respect, and respect only what I at least know.”
Adolf Hitler

Traumatisasi, itu terjadi di hari ini.. elu mendramatisir kisah masa lalu.. elu yang buat itu. Ada org yang trauma dikhianati, ada orang yang tidak trauma dikhianati.. ada orang yang trauma dikhianati, jadi ada orang yang trauma akibat/dengan cinta.. ada yang engga trauma tentang/terhadap cinta. Walaupun sama-sama dikhianati.. itu kan yang buat elu sendiri.

Eksploitasi = jam kerja, bukan hasil kerja. Adanya kesepakatan.

Kesejahteraan melihatnya dari duid.. kwkw eksploitasi mau dikemanain bung..

DANIAR

0

Cahaya kuning senja yang semakin lama menjingga menyiram jalanan, meyiram segenap perasaan yang ta berhenti sejenak dari upacara kehidupan.

Cahaya itu beranjak lalu melesat-lesat, membias dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin, wajah wanita yang membelakangi cahaya, tapi tidak terlalu meyilaukan sehingga bisa ditatap, tapi aku ta ingin menatap mu seperti keindahan yang segera hilang, semcam kebahagiaan. Wajah itu juga memantul dari genangan air disekitarnya, genangan air yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja. Aku tak akan lupa saat-saat pertama kali aku menatapmu. Kau sedang berdiri di sana, dalam remang senja langit yang kemerah-merahan, senja menjadi begitu sendu dan mengharu begitu indah. Segala pesona senja yang akan membuat kita jatuh cinta terlalu mudah.

Perlahan aku melihat ke langit jingga yang menaungi wajah kebahagiaan diriku. Kamu menoreh ke-atas dan melihat layang-layang dilangit bertarung dalam kekelaman jingga yang memudar. Sebelum jingga menghilang, saat jingga semakin mengungu aku harus menyatakanya padamu.

Kau duduk sebentar di bangku taman kota itu, aku melihatmu, aku duduk di sudut berseberangan dengan wajahmu. Seolah-olah aku menulis surat cinta terhadapmu, surat yang kutulis di bawah cahay senja yang merah temaram, di sini, di tempat aku memikirkan dirimu.

‘wanita tercinta tanpa bernama, apakah kau melihat ke arah yang sama? Memandangi senja yang menyelimuti kota yang perlahan-lahan merubahnya menjadi malam.

Kutulis surat ini kepadamu disana perlahan-lahan, bukan tangan yang bergerak di atas kertas melainkan hati yang menterjemahkan dirinya ke dalam tinta, aku harap kata-kata ini merungkuh dirimu’

Aku berhenti menulis sejenak, ku lihat langit disekitar semakin menggelap, seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut, perlahan-lahan menjauh, tapi itu tidaklah sepenting dengan wanita tanpa nama itu. Aku melanjutkan gerakan pena ditanganku.

‘wahai wanita tanpa namaku, apakah suasana ini indah bagi kita berdua, bisakah kita tinggal abadi, seperti daun melayang tertiup angin yang kita tidak tahu lagi ada dimana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita’

‘aku berharap kita tinggal di sebuah ruang dalam semesta yang dimana waktu tak tercatat, kau dan aku berbisik dalam kegelapan, kita saling menyentuh, saling merasa.’ Aku kembali berhenti menulis senjenak.

Kemudian Aku melihat sekitar bahwa cahaya keremangan berubah menjadi kegelapan, bola matahari tenggelam dicakrawala, jauh – jauh diluar kota. Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat. Kini kekelaman tinggal di kota, kota yang riang menjadi temaram, ditemani oleh kegenitan cahaya listrik yang kemudian berkeredap riang di antara kelam, menghabiskan hari-hari yang terulang ke-sekian.

‘wanita tanpa nama, aku ingin membangun dunia kita sendiri. Wanita tanpa nama jangan tinggalkan aku dalam kesunyinan dan kedinginan dalam pekat malam ini, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dari kelam ke kelam, kita arungi waktu bersama’

‘aku ragu mendekatimu, aku pesimis bahwa kau akan menerima perasaaanku, bahwa kau ta tertarik secara fisik terhadap diriku, aku yang peduli terhadap dirimu dan kau yang tak pernah memandangku bahkan tidak berfikiran untuk perduli terhadap orang asing seperti diriku’

‘apakah harusnya aku tidak perduli dengan semua ini, terhadap serbuk-serbuk perasaan yang tersisa untukmu, aku takut bahwa serbuk-serbuk perasaan itu dihempaskan oleh kata-kata mu, bagiakan lenyap hilang ditiup angin, bertebaran berantakan bercampur baur dengan debu yang berterbangan’

Ah sudahlah, aku beranjak dan menapaki langkahku ke arahmu berharap bahwa aku akan mengenali serbuk-serbuk perasaan itu kembali jika arah angin kembali menuju ke arah kita. Perasaan – perasaan yang seolah olah membuat kita berkata ‘aku seperti pernah berada disini, pada suatu hari, pada suatu masa, entah kapan, dari masa lalu ataukah masa depan’.

Aku sampai di depan wajahmu, aku merasakan cinta. Aku tak mengerti kenapa, memang ada saat-saat diamana kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa bergerak dan menjelma.

‘hi, naufal’ sambil menawarkan jabat tangan

‘Daniar’ dia berkata.

Lampu – lampu kendaraan disekitar kita membentuk untaian cahaya putih dan cahaya merah yang panjang, Wajah penjual kopi bermunculan dan mereka menawarkan ke setiap orang-orang yang duduk di bangku-bangku taman itu.

Aku memesan kopi, dan aku akan mengenang wakut dalam gelas kopi itu yang akan mendingin sebelum embun pagi tiba.

Kita saling bertanya satu sama lain, tentang siapa diriku, siapa dirimu. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya? Kau mencertiakan pahit, getir dan perjuangan hidupmu, begitu juga diriku. Begitu banyak kabar dari jauh, tentang orang-orang yang kita termui, yang mengabarkan tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran dan kita begitu sibuk dengan perasaan kita sendiri – tapi apalah salahnya? Kadang aku berfikir tentang betapa hidup itu fana, sepotong riwayat di tengah miliaran tahun semesta.

Kita berdua saling bercerita, seperti dua orang di belantara peristiwa, bertanya-tanya tentang apakah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya? 😥 dalam sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu.

Aku ingin percakapan kita utuh, ah sepertinya tak pernah untuh dan ta pernah selesai, dan tak pernah menjadi lengkap. Namum siapa yang menuntut semua ini harus sempurna?

Aku gagal menyatakan perasaanku sebelum senja temaram. Tekatku berubah untuk menyatakan perasaan sebelum aku kehilangan malam. Atau seharusnya aku tahu bahwa semua ini tidak bisa menjadi apa-apa, tak perlu menjadi apa-apa. Aku sudah senang meski hanya saling memandang, dan tak perlu menengok segala penyesalan sebelum pertemuan.

Tak ada yang bisa disalahkan, tak perlu harus bertanya, kenapa harus jadi begini. Aku bertanya tentang apakah kita harus memanjakan perasaan? Atau memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri, membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan? Tapi apakah kamu bersedia menjadi teman hidupku dan hidup bersama-sama denganku?

Sudah terlalu seringku mendengar tentang seorang yang manti sendirian di kamar, kesepian, tanpa teman, membusuk perlahan-lahan, aku tak mau seperti itu, atau jangan-jangan aku akan mati seperti itu.

Kita berbincang dan kemudian aku menyembunyikan perasaan bahwa kamulah orang yang akan selalu kurindukan dan kucemaskan dan aku ialah seorang yang menyandarkan kehidupanya pada perasaan, dan perasaan itu ialah kamu.

Bintang mengintip dilangit yang bersih disaat kamu menyapukan lipstik kebibir. Perasaan ragu dan perbuatan dungu yang berharap kau pun tahu. Perasaan yang merubah menjadi gelap menghitam, langit berubah menjadi muram, gerimis pun melintas setelah senja, aku ta tahu masikah aku akan bertemu ‘malamku’. Dalam jejak senyap malam, langkahku mendekat diselimuti hujan, aku mencinta dalam sedu sendan yang tak bertanya. Apakah masih disebut cinta apabila tidak terdapat kebahagiaan padanya?

Kita semua memang akan menjadi tua Dan, tapi siapakah yang akan merasa kehilangan? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Dan, percayalah kita, kamu dan aku akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba selamanya. Aku menulis ini untuk mu, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang untuk selama-lamanya.

 

APA YANG MEMBUAT KITA MANUSIA

0

Does “Animal have the humanity more than human these days” … sometimes it does, and doest, sometimes I lost faith in humanity, sometimes I don’t, we were living in cruel world, kalau kata nietz kita terlalu naïve apabila hanya menginginkan ‘positive side’ dari realita, dan mengabaikan ‘evil’ itu sendiri. Hanya orang sakit yang bertarung dengan musuh-musuh yang lemah..

Kalau kita perhatikan sekitar kita, akan menyiratkan terkadang kemanusiaan manusia semakin hilang. Dan itu benar juga. Orang yang punya gelar, tidak semua lebih pintar dari pada orang yang tidak bergelar.

Kita tak akan bisa mengerti orang lain kalau kita tidak mengenal diri kita sendiri. “Understanding is deeper than knowledge. Because there are so many people who know you, but there are only few who understand you”. Sama juga dengan membaca buku. Berapa banyakpun buku yang kita baca, kalau kita tidak mengerti, tidak berguna… Mengenali diri sendiri itu sangat-sangat penting karena, everything is comes from within…

Surat Cinta sebagai Miniatur Ekonomi Pasar : Hizkia Yosie Polimpung

0

Konon, menulis surat cinta tidaklah sama dengan menulis surat pada umumnya. Apalagi saat realtime chatting melalui beragam media japri belum ada. Hampir seluruh pecinta yang pernah menulis surat cinta merasa tabu untuk menulisnya dengan menggunakan mesin tik atau Microsoft Word.

Entah, ada yang “salah” kalau menulisnya tidak dengan tangan yang berpeluh. Seakan-akan ingin ditunjukkan betapa guratan tinta di kertas melambangkan sebuah daya upaya yang lebih dari biasanya, sebuah kekhusyukan yang lain dari biasanya. Seluruh penulis surat cinta juga tahu betapa satu kali adalah jumlah yang tidak mungkin untuk bisa menyelesaikan sebuah surat cinta. Butuh berkali-kali, belasan, puluhan kali untuk sebuah surat cinta versi final selesai dituliskan. Ada yang berubah pikiran di kata kertama, di akhir kalimat pertama, di tengah-tengah, bahkan saat di penghujung surat; sontak tangan langsung meremas kertas dan membuangnya. Hal ini demikian soalnya si penulis butuh untuk benar-benar merangkai kata dengan hati-hati. Untaian antar kalimat benar-benar ia perhatikan. Seakan-akan keterus-terangan pesan dan makna dari tulisan adalah sesuatu yang rendahan dan mesti dijauhi.

Pernah juga saya mendengar beberapa ada yang frustrasi karena tak kunjung puas dengan tulisan surat cintanya, lantas kemudian memakan kertas surat tersebut. Terkait ini, dengar-dengar, kaum perempuan lebih banyak menuliskan surat cinta ketimbang mengirimkannya!

Jadi kira-kira apa yang membedakan surat cinta dari surat biasa pada umumnya? Apa yang membuat proses penulisan surat cinta menjadi seolah “tidak santai” dan lebih dramatis dari lainnya?

Apa dan bagaimana sebenarnya surat cinta ini bagi sang pecinta dari para penulis surat cinta?

Tulisan singkat ini mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan cara yang bisa jadi agak kurang biasa, yaitu dengan menggunakan medium penjelasan yang secara skala jauh jauh jauh lebih besar dari pada perkara penulisan surat cinta, yaitu fenomena pertukaran dalam ekonomi pasar. Taruhan saya, dengan memahami pertukaran dalam ekonomi pasar, maka kita tidak hanya akan mendapat jawaban terkait persurat-cintaan di atas, melainkan kita akan mendapat pemahaman baru mengenai bagaimana pertukaran ekonomi berbasiskan pasar bekerja saat kita selesai berpaling pada kasus surat cinta.

Jadi, kita menggunakan ekonomi pasar sebagai medium penjelasan bagi fenomena surat cinta, lalu kita kembali lagi pada perbincangan surat cinta. Tapi yakinlah, setelah perbincangan tersebut, kita justru akan mendapat pemahaman baru mengenai ekonomi pasar yang berbeda dari penghampiran pertama
kita.

Cara berpikir ini, yang secara kronologis bersifat retroaktif, salah satunya dipakai oleh
psikoanalisis. Suatu kebaruan bagi masa kini dan/atau bagi yang akan datang, hanya akan kita dapati ironisnya saat kita kembali (retro) ke titik atau masa yang telah lampau (baik itu dekade, tahunan, atau bahkan beberapa menit saja ; entah itu secara riil, atau secara logis di kepala saja). Psikoanalisis sama sekali bukan perangkat analisis untuk kita terapkan atau aplikasikan ke suatu kasus—kita sebenarnya tidak benar untuk bertanya “bagaimana psikoanalisis melihat x?”, “apakah y jika dipandang dari perspektif psikoanalisis?”.

Sebaliknya, psikoanalisis adalah selalu paradigma yang implikasi dan konsekuensinya kita jumpai di keseharian.

Dalam kasus kali ini: surat cinta dan ekonomi pasar.

Sehingga ketimbang mencoba menjelaskan surat cinta dan ekonomi pasar dengan psikoanalisis, tulisan ini justru akan bertanya: “apa yang bisa kita pelajari mengenai surat cinta sebagai fenomena psikis dari mekanisme beroperasinya ekonomi pasar?”

Ekonomi Pasar

Kembali ke pertanyaan awal kita; apa yang membuat surat cinta dan proses penulisannya seakan-akan berbeda dari lainnya? Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita akan menjawabnya dengan mengerling fenomena pertukaran dalam ekonomi pasar. Sebelum lebih jauh, kita perlu menyamakan frekuensi dulu. Umumnya kita memahami ‘ekonomi’ sebagai suatu keadaan dan juga aktivitas orang terkait upayanya dalam memenuhi kebutuhannya dan mengupayakan penghidupannya.

Terdapat kalkulasi rasional di sini antara sesuatu yang kita korbankan/keluarkan (uang, tenaga, waktu) dengan apa yang dihasilkan atau bahkan diuntungkan dari proses pengorbanan tersebut. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita bungkus terkait ekonomi: pemenuhan kebutuhan dan kalkulasi rasional.

Lalu ‘pasar’, ia adalah suatu ruang artifisial yang mana pembeli dan penjual bertemu dan saling melakukan kegiatan ekonomi. Saat pembeli dan penjual bertemu, maka otomatis barang dan komoditas pun bertemu dengan alat pertukaran yang dipakai untuk menukar/menebusnya — uang, cek, kartu kredit, dsb. Unsur lainnya yang penting di dalam pasar adalah lalu lintas informasi dan pengetahuan akan seluruh komponen di dalam pasar itu sendiri — penyedia lapak, penjual, pembeli, uang, komoditas, dst.

Dan ini semua yang membuat pasar itu menjadi bebas, dan setiap orang di dalamnya bisa mempertimbangkan/mengkalkulasikan rencana ekonominya berdasarkan informasi tersebut. Sehingga dengan pasar, kita selalu berbicara tentang pelaku, komoditas, alat tukar dan informasi.

Lalu, apa yang enigmatik (segala sesuatu yang mengandung unsur misterius, sulit dipahami, sulit ditebak, layaknya puzzle, teka-teki) dari pasar? Semuanya seolah-olah normal dan baik-baik saja, bukan?

Di sinilah justru pintu masuk analisis dari psikoanalisis: di permukaan air yang relatif tenang yang mana seharusnya ia bergejolak dengan hebatnya. Mendeteksi anomali adalah langkah awal psikoanalisis: mendeteksi bagaimana seharusnya ia bergejolak, dan bagaimana ia bisa menjadi tampak tenang?

Untuk ini, kita bisa saja mengambil contoh-contoh besar seperti kasus Subprime Mortgage 2008*, atau krisis Eurozone 2012, dst. Tapi, supaya lebih keseharian, kita gunakan contoh remeh saja: pengalaman membeli susu kaleng. Sebut saja Ale, seorang supir lulusan SMP, sedang terdampar di supermarket hendak membeli susu kaleng untuk anaknya yang baru saja lahir.

Si Ale bingung karena ia dihadapkan pada belasan merk susu kaleng mulai Dancow sampai yang superpremium. Karena ia baru dapat rezeki, ia berniat sesekali beli susu yang superpremium. “DHA, AA, omega 3 dan 6, zat besi, taurina, kolina, dan zat besi untuk mendukung perkembangan kognitif dan penglihatan,”.

Ale mengernyit membaca baliho susu GainPlus Advance. “Sustagen School 6+-nya pak. Dengan kolin dan prebiotik inulin lho pak. Penting untuk memperbaiki sel tubuh anak yang rusak. Apalagi diperkaya dengan 11 vitamin dan 9 mineral. Harganya juga lebih murah, pak,” sapa mbak-mbak SPG Mead Johnson. “Sekarang lagi musim hujan. Kayaknya Sustagen ini lebih berguna deh, kan musim penyakit nih biasanya. GainPlus-nya kalo dapet rezeki berikutnya deh,”.

Gumam Ale yang tak punya banyak waktu untuk tenggelam dalam kebingungan pilihannya itu saat peringatan toko akan tutup berkumandang. “Oh baik mbak, saya coba Sustagen-nya. Kayaknya anak saya lebih butuh kolin dan prebiotik inulin ya ujan-ujan gini.” Akhirnya Ale membayar susu itu dengan jumlah uang yang jauh lebih besar dari biasanya, dan ia pulang dengan wajah cerah dan hati gembira.

Jika para pembaca sekalian tidak juga melihat ada yang aneh dan enigmatik, maka anda
sebaiknya pergi ke konsultan psikis terdekat di tempat anda. Inilah alasannya. Enigma pertama, kita semua bisa cukup yakin bahwa pada umumnya, orang seperti Ale tidak cukup diuntungkan sistem hari ini untuk punya kesempatan mempelajari, atau setidaknya mengetahui, atau bahkan familiar dengan “DHA, AA, omega 3 dan 6, zat besi, taurina, kolina.” Otherwise, ia tentu tidak akan jadi supir. Pula ada kemungkinan besar Ale baru pertama kali mendengar “kolin dan prebiotik inulin,” apalagi tahu pasti mengenai kegunaannya. Bisa dipastikan pula bahwa penyimpulan deduktifnya – “Sekarang lagi musim hujan. … Kayaknya anak saya lebih butuh kolin dan prebiotik inulin ya ujan-ujan gini” – sebenarnya tidaklah valid. Inilah enigma pertama. Tapi toh Ale bahagia-bahagia saja dengan susu superpremiumnya. Jangankan mempertanyakan, terbersit kecurigaan sedikit saja pun tidak. Inilah enigma kedua.

Kedua enigma ini kalau kita turunkan dalam pertanyaan, maka beberapa yang akan muncul dari “permukaan air tenang” pertukaran pasar tersebut, antara lain dua yang akan menjadi pembahasan kita:

  1. Bagaimana Ale bisa yakin dengan zat-zat bernama aneh di susu super premium? Bukankah itu semua baru pertama kali ia dengar? Jangankan mengetahui, mendengar dan melafalkannya saja bisa jadi ia salah! Bagaimana Ale bisa memastikan dan membuktikan bahwa memang zat-zat aneh itu ada di butiran-butiran susu superpremium? Bahkan, bagaimana Ale bisa yakin mengenai hubungan kausal antara zat-zat itu dengan khasiatkhasiat yang ia janjikan? Jangankan membaca buku, searching di Google saja bisa jadi ia kebingungan!

2. Bagaimana ia tahu bahwa susu superpremium itu memang pantas dihargai setinggi itu? Apa yang membuat zat-zat tadi—yang tidak juga bisa ia konfirmasi, pastikan dan buktikan keberadaan dan khasiatnya—mendadak memiliki harga yang berbeda dari susu lainnya? Bagaimana bisa Ale menjadi rela dan bahagia mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang ia tidak benar-benar tahu? Apakah dengan “percaya saja pada bungkus” lantas Ale menjadi tidak rasional dan non-kalkulatif?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagaimana psikoanalisis, tidaklah urgent untuk dijawab. Yang lebih penting adalah menyingkapkan faktor-faktor yang memungkinkan kemunculannya sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan pertama menunjukan betapa identitas dan kegunaan suatu barang/komoditas adalah suatu misteri yang sukar dipecahkan subyek. Bagaimana saya tahu bahwa produk tersebut adalah yang benar-benar saya butuhkan? “Ku tahu yang ku mau,” kata Sprite — tidak! Anda tidak tahu!

Di sini, pasar hadir untuk mengemban kesukaran-kesukaran tersebut. Syaratnya cuma satu:

Semua subyek harus mengimani akurasi dan kebijakan pasar dalam mengetahui dan menginformasikan identitas dan kegunaan suatu produk. Senjata pasar cuma satu: yaitu hukum besi keseimbangan pasar dan kompetisi terbuka (laissez-faire). Dengan hukum ini pasar mampu (konon) menjamin setiap pelaku untuk berkompetisi secara jujur dan terbuka—mau tidak mau, karena ia terekspos kepada pelaku lainnya.

Tapi, apakah pasar itu sendiri jujur dan terbuka? Saya tidak ingin berspekulasi dan memperpanjang tulisan ini dengan menjawab pertanyaan yang rawan mendapat jawaban suudzon seperti ini. Apapun jawabannya, praktis kita tidak akan pernah tahu. Itulah mengapa, kalau kita susah-susah mencari tahu, kita tidak akan bisa bahagia seperti Ale. Jadi, percaya saja. Di sinilah kita berjumpa dengan misteri ‘nilai guna’ dari suatu barang.

Pertanyaan kedua membawa kita dan Ale untuk menyadari mengenai anomali dalam proses pengukuran atau penilaian (valuation) atau bahkan pemberian harga (pricing). Proses pengukuran dan penilaian ini menjadi unsur penting karena suatu barang harus masuk dalam suatu kontestasi pertukaran terbuka. Sehingga ia harus bisa menjadi sebangun dan serupa dari satu ukuran/satuan tertentu agar ia bisa dipertukarkan. Satu laptop dan satu ekor kambing tidaklah sebangun. Namun lain soal saat keduanya dipadankan dengan sejumlah hal lain (alat tukar, misalnya uang), barulah kita bisa mengukur dan mempertukarkan keduanya.

Tapi tetap saja pertanyaannya, atas dasar apa suatu barang bisa memiliki price tag berbeda dengan selisih jauh dari sejawatnya? Padahal kita toh tetap tidak akan pernah tahu bagaimana ia diproses?

Jawabannya kembali sama: percaya saja pada merk dan informasi yang tertera. Informasi produk, dengan demikian tidak hanya berkisar pada profil identitas dan kegunaan, melainkan juga nilainya dibandingkan barang-barang lainnya di pasaran. Di sini kita berjumpa dengan problematika ‘nilai tukar’ dari suatu barang.

Simpulan sementara yang bisa kita tarik kemudian adalah bahwa yang fitur spesifik yang membuat pasar menjadi pasar dengan demikian adalah selalu persoalan informasi. Informasi yang menjadi penambal ketidaktahuan dan ketidakmenentuan subyek akan apa yang ia butuhkan, dan akan apakah barang yang ia kira ia butuhkan adalah memang yang ia butuhkan.

Informasi juga memberi justifikasi bahwa kegunaan barang yang satu—yang tetap saja tidak kita ketahui secara pasti adalah lebih berguna dari kegunaan barang lainnya—yang juga tetap saja tidak bisa kita pastikan. Informasi ini tampil seolah-olah netral dan informatif dan komprehensif: bisa saja ia menceracaukan bagaimana kompleksnya proses pembuatan, banyak dan terampilnya para pekerja yang membuat, betapa susahnya bahan baku dicari, dst. Tapi tetap saja, pilihan kita hanya satu: percaya pada informasi tersebut dan memutuskan: take it or leave it. Sebuah pilihan yang … bebas, bukan?

Itulah mengapa, bagi subyek, informasi tersebut tidaklah sekedar informasi. Ia adalah alibi yang memiliki efek kongkrit dan psikis: ia menjadi punya justifikasi rasional untuk setiap perhitunganperhitungan pelitnya; ia mendapatkan ketenangan batin dan emosional; bahkan ia bisa berbahagia memamerkan produk yang beli ke orang lain—dibalik seluruh ketidaktahuan dan keacuhannya akan fakta yang sebenarnya tentang produk tersebut.

Nilai, baik guna maupun tukar, adalah suatu misteri di dalam ekonomi pasar. Misteri ini yang kemudian dimanfaatkan penguasa untuk menciptakan berbagai macam informasi yang akhirnya membentuk apa yang kita sebut pasar dengan segala manifestasi kongkrit dan susunan materialnya.

Namun di sisi lain, subyek juga mengafirmasi (mis)informasi pasar ini, karena mereka butuh sesuatu untuk menambal ketidaktahuannya akan dirinya dan kebutuhannya sendiri. Mereka butuh alibi ekonomi.

Inilah proses dialektis antara pasar dan pelaku pasar dalam proses pertukaran di suatu ruang bernama pasar; yang satu memberikan alibi-informasi, yang satu menerima alibi-justifikasi, dan pertukaran material barang dan jasa terjadi dengan aman, nyaman dan tenteram.


Surat Cinta

Jadi apa dari ekonomi pasar yang bisa kita pakai untuk menjelaskan surat cinta? Pertama, bukankah kebingungan Ale saat memilih-milih produk mirip dengan kegelisahan sang penulis surat saat memilih-milih kata dan rangkaian kalimat untuk dituliskan di suratnya? Sama seperti ale yang mondar-mandir sana sini, mengambil satu dan memasukkannya ke keranjang, lalu dikembalikan lagi karena ragu, lalu diambil lagi, dikembalikan lagi, dst. Begitu pula sang pecinta saat bolak-balik mengganti kata, bahkan mengganti kertasnya.

Saya cukup yakin kita sudah bisa tahu mengapa? Sama seperti Ale yang tidak benar-benar yakin apa yang ia mau dan bagaimana itu direpresentasikan dalam produk susu superpremium, demikianlah sang penulis juga tidak yakin apakah benar kata-kata dan kalimat yang dituliskan itu mewakili perasaannya. Ia tidak bisa tidak, harus percaya saja pada keterberian tata bahasa, wawasan kosakata, dan struktur penulisan bahasa yang pada umumnya.

Ia juga tidak bisa mempertanyakan “siapa yang menciptakan bahasa?” sama seperti Ale yang tidak mungkin mempertanyakan pasar. Kebimbangan tersebut juga tidak akan selesai dengan sang penulis memilih kata atau kalimat yang tepat. Ia juga harus mempertimbangkan apakah pilihan tepatnya juga adalah tepat bagi dia yang dialamatkan? Apakah bahasa yang bernilai baginya, juga mampu memberikan nilai kegunaan yang sama kepada si dia? Apakah dengan upaya representasi makna dan pesan melalui surat ini, sang penulis akan mendapat pertukaran yang setimpal?—misalnya, tersampainya pesan, pengertian, bahkan pendalaman tali cinta, misalnya. Sayangnya, ia tidak tahu pasti.

Ketidaktahuan secara pasti inilah yang membuat subyek berpotensi menjadi stres dan frustrasi. Ketidakmenentuan akan pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang ku mau”, “apa yang ia mau” dan bahkan lebih jauh lagi, “apa yang ia mau dariku?” atau malah “apakah aku baginya?” ini yang membuat penulisan surat cinta menjadi tidak seperti menulis surat pada umumnya.

Tapi justru ini jugalah yang membuat surat cinta menjadi surat cinta. Ia tidak menjadi sekedar surat, melainkan ia adalah pesan dan makna dan sekaligus obyek cinta itu sendiri. Mengapa obyek? Karena mau tidak mau, sang penulis harus membekukan, bahkan memortifikasikan, sang subyek teralamat agar supaya ia bisa tenang menulis. Sang subyek menjadi suatu obyek yang diawetkan di kepala, di ingatan, di angan, di bayangan dan di … surat cinta. Sama seperti enigma nilai tukar, nilai guna suatu barang harus dibekukan (dimatikan dari segala ambiguitasnya), agar supaya ia bisa diukur, diekuivalenkan dan dipertukarkan. Itulah mengapa saat kita menulis surat cinta, kita selalu menujukannya pada mayat.

Demi menenangkan dirinya, Ale menciptakan alibi bagi pembunuhan nilai—berikut para pekerja yang membubuhkan nilai tersebut ke produk/komoditas melalui kerjanya—oleh informasi-informasi dalam pasar bebar. Begitu pula sang pecinta, demi menenangkan dirinya dari ambiguitas dan ambivalensi diri dan hasratnya, ia menciptakan alibi bagi pembunuhan sang liyan tercintanya oleh surat cinta dan bahasa. Cinta, dengan demikian tak lebih dari hubungan sepasang mayat hidup; sama seperti pasar yang diisi dengan mayat-mayat hidup rakyat pekerja.

Demikianlah saudara-saudara, dalam pasar dan bahasa, kita saling membunuh satu sama lain, namun saling mencintai.


  • Pada 2001-2005, pertumbuhan perumahan di Amerika Serikat menggelembung seiring rendahnya suku bunga perbankan akibat kolapsnya indutri dotcom. Sejak 1995, industri dotcom (saham-saham teknologi) di AS lebih dulu booming, namun kolaps dan menyebabkan banyak perusahaan jenis ini tak mampu membayar pinjaman ke bank. Untuk menyelamatkan mereka, The Fed menurunkan suku bunga, sehingga suku bunga menjadi rendah. Suku bunga yang rendah dimanfaatkan pengembang dan perusahaan pembiayaan perumahan untuk membangun perumahan murah dan menjualnya melalui skema subprime mortgage. Gelembung perumahan ini terjadi di banyak negara bagian, seperti California, Florida, New York, dan banyak negara bagian di barat daya.

    Saat bisnis perumahan mulai booming pada tahun 2001 ini, banyak warga AS berkantong tipis yang membeli rumah murah melalui skema subprime mortgage (KPR murah). Pada tahun 2006, ketika koreksi pasar mulai menyentuh gelembung bisnis perumahan di AS, ekonom Universitas Yale, Robert Shiller memperingatkan bahwa harga rumah akan naik melebihi aslinya. Koreksi pasar ini, menurutnya, bisa berlangsung tahunan dan menyebabkan penurunan nilai rumah-rumah tersebut hingga muliaran dolar AS. Peringatan itu mulai terbukti ketika pada akhir 2006, sebanyak 2,5 juta warga AS yang membeli rumah melalui skema tadi tak mampu membayar cicilan. Harga rumah yang mereka kredit melambung tinggi, bahkan ada yang sampai 100% dari nilai awalnya. Akibatnya, menurut laporan perusahaan penyedia data penyitaan rumah di AS, RealtyTrac, sebanyak itu pula, rumah yang akan disita dari penduduk AS.

    RealtyTrac mencatat pengumuman lelang sebanyak 179.599 yang mencakup 2,5 juta rumah yang dinyatakan disita karena gagal bayar. Ini adalah jumlah penyitaan terbanyak selama 37 tahun. Penyitaan besar-besaran ini jelas dapat menimbulkan banyak warga AS menjadi tuna wisma mendadak, dan bisa menjadi masalah sosial baru.

    Tidak semua warga negara AS memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah atau memiliki sejarah kredit yang baik. Kebanyakan dari mereka adalah pengangguran, pekerja-pekerja seperti office boy, pedagang kecil, dan pembersih rumah atau kantor. Sebenarnya, mereka dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman untuk memiliki rumah murah, karena sejarah kreditnya kurang baik dan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk mencicil. Untuk itulah diadakan subprime mortgage.

    Pembiayaan jenis ini sebenarnya berisiko, baik bagi kreditor maupun debitor, karena bunganya yang tinggi, sejarah kredit peminjam yang buruk, dan kemampuan keuangan peminjam yang rendah. Kamus online Wikipedia menjelaskan, Subprime Lenders (Pemberi pinjaman), biasanya adalah lembaga pembiayaan perumahan, mengumpulkan berbagai utang itu (pool) dan menjualnya kepada bank komersial. Oleh bank komersial, sebagian portofolio tersebut dijual lagi kepada bank investasi. Oleh bank investasi, kumpulan utang tersebut dijual kepada investor di seluruh dunia seperti bank komersial, perusahaan asuransi, maupun investor perorangan.

    Kumpulan utang tersebut dinamakan Mortgage-Backed Securities (MBS) yang merupakan bentuk utang yang dijamin. MBS ini termasuk salah satu bentuk transaksi derivatif yang penuh risiko. Ketika pembeli rumah membayar bunga, baik pada cicilan bulanan atau pada saat pelunasan, pembeli MBS mendapat pendapatan. Layaknya transaksi derivatif lain, MBS bisa dibeli dari tangan pertama atau berikutnya. Artinya, investor yang sudah membeli MBS bisa menjualnya lagi ke investor lain. Perolehan pendapatan dibagi menurut jenjang atau senioritas pembeli MBS ini. Dan ini menjadi beban seluruhnya bagi pembeli rumah. Ini membuat nilai yang harus dibayar pembeli rumah melambung tinggi hingga 100% dari nilai aslinya.