DANIAR


Cahaya kuning senja yang semakin lama menjingga menyiram jalanan, meyiram segenap perasaan yang ta berhenti sejenak dari upacara kehidupan.

Cahaya itu beranjak lalu melesat-lesat, membias dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin, wajah wanita yang membelakangi cahaya, tapi tidak terlalu meyilaukan sehingga bisa ditatap, tapi aku ta ingin menatap mu seperti keindahan yang segera hilang, semcam kebahagiaan. Wajah itu juga memantul dari genangan air disekitarnya, genangan air yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja. Aku tak akan lupa saat-saat pertama kali aku menatapmu. Kau sedang berdiri di sana, dalam remang senja langit yang kemerah-merahan, senja menjadi begitu sendu dan mengharu begitu indah. Segala pesona senja yang akan membuat kita jatuh cinta terlalu mudah.

Perlahan aku melihat ke langit jingga yang menaungi wajah kebahagiaan diriku. Kamu menoreh ke-atas dan melihat layang-layang dilangit bertarung dalam kekelaman jingga yang memudar. Sebelum jingga menghilang, saat jingga semakin mengungu aku harus menyatakanya padamu.

Kau duduk sebentar di bangku taman kota itu, aku melihatmu, aku duduk di sudut berseberangan dengan wajahmu. Seolah-olah aku menulis surat cinta terhadapmu, surat yang kutulis di bawah cahay senja yang merah temaram, di sini, di tempat aku memikirkan dirimu.

‘wanita tercinta tanpa bernama, apakah kau melihat ke arah yang sama? Memandangi senja yang menyelimuti kota yang perlahan-lahan merubahnya menjadi malam.

Kutulis surat ini kepadamu disana perlahan-lahan, bukan tangan yang bergerak di atas kertas melainkan hati yang menterjemahkan dirinya ke dalam tinta, aku harap kata-kata ini merungkuh dirimu’

Aku berhenti menulis sejenak, ku lihat langit disekitar semakin menggelap, seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut, perlahan-lahan menjauh, tapi itu tidaklah sepenting dengan wanita tanpa nama itu. Aku melanjutkan gerakan pena ditanganku.

‘wahai wanita tanpa namaku, apakah suasana ini indah bagi kita berdua, bisakah kita tinggal abadi, seperti daun melayang tertiup angin yang kita tidak tahu lagi ada dimana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita’

‘aku berharap kita tinggal di sebuah ruang dalam semesta yang dimana waktu tak tercatat, kau dan aku berbisik dalam kegelapan, kita saling menyentuh, saling merasa.’ Aku kembali berhenti menulis senjenak.

Kemudian Aku melihat sekitar bahwa cahaya keremangan berubah menjadi kegelapan, bola matahari tenggelam dicakrawala, jauh – jauh diluar kota. Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat. Kini kekelaman tinggal di kota, kota yang riang menjadi temaram, ditemani oleh kegenitan cahaya listrik yang kemudian berkeredap riang di antara kelam, menghabiskan hari-hari yang terulang ke-sekian.

‘wanita tanpa nama, aku ingin membangun dunia kita sendiri. Wanita tanpa nama jangan tinggalkan aku dalam kesunyinan dan kedinginan dalam pekat malam ini, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dari kelam ke kelam, kita arungi waktu bersama’

‘aku ragu mendekatimu, aku pesimis bahwa kau akan menerima perasaaanku, bahwa kau ta tertarik secara fisik terhadap diriku, aku yang peduli terhadap dirimu dan kau yang tak pernah memandangku bahkan tidak berfikiran untuk perduli terhadap orang asing seperti diriku’

‘apakah harusnya aku tidak perduli dengan semua ini, terhadap serbuk-serbuk perasaan yang tersisa untukmu, aku takut bahwa serbuk-serbuk perasaan itu dihempaskan oleh kata-kata mu, bagiakan lenyap hilang ditiup angin, bertebaran berantakan bercampur baur dengan debu yang berterbangan’

Ah sudahlah, aku beranjak dan menapaki langkahku ke arahmu berharap bahwa aku akan mengenali serbuk-serbuk perasaan itu kembali jika arah angin kembali menuju ke arah kita. Perasaan – perasaan yang seolah olah membuat kita berkata ‘aku seperti pernah berada disini, pada suatu hari, pada suatu masa, entah kapan, dari masa lalu ataukah masa depan’.

Aku sampai di depan wajahmu, aku merasakan cinta. Aku tak mengerti kenapa, memang ada saat-saat diamana kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa bergerak dan menjelma.

‘hi, naufal’ sambil menawarkan jabat tangan

‘Daniar’ dia berkata.

Lampu – lampu kendaraan disekitar kita membentuk untaian cahaya putih dan cahaya merah yang panjang, Wajah penjual kopi bermunculan dan mereka menawarkan ke setiap orang-orang yang duduk di bangku-bangku taman itu.

Aku memesan kopi, dan aku akan mengenang wakut dalam gelas kopi itu yang akan mendingin sebelum embun pagi tiba.

Kita saling bertanya satu sama lain, tentang siapa diriku, siapa dirimu. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya? Kau mencertiakan pahit, getir dan perjuangan hidupmu, begitu juga diriku. Begitu banyak kabar dari jauh, tentang orang-orang yang kita termui, yang mengabarkan tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran dan kita begitu sibuk dengan perasaan kita sendiri – tapi apalah salahnya? Kadang aku berfikir tentang betapa hidup itu fana, sepotong riwayat di tengah miliaran tahun semesta.

Kita berdua saling bercerita, seperti dua orang di belantara peristiwa, bertanya-tanya tentang apakah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya? 😥 dalam sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu.

Aku ingin percakapan kita utuh, ah sepertinya tak pernah untuh dan ta pernah selesai, dan tak pernah menjadi lengkap. Namum siapa yang menuntut semua ini harus sempurna?

Aku gagal menyatakan perasaanku sebelum senja temaram. Tekatku berubah untuk menyatakan perasaan sebelum aku kehilangan malam. Atau seharusnya aku tahu bahwa semua ini tidak bisa menjadi apa-apa, tak perlu menjadi apa-apa. Aku sudah senang meski hanya saling memandang, dan tak perlu menengok segala penyesalan sebelum pertemuan.

Tak ada yang bisa disalahkan, tak perlu harus bertanya, kenapa harus jadi begini. Aku bertanya tentang apakah kita harus memanjakan perasaan? Atau memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri, membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan? Tapi apakah kamu bersedia menjadi teman hidupku dan hidup bersama-sama denganku?

Sudah terlalu seringku mendengar tentang seorang yang manti sendirian di kamar, kesepian, tanpa teman, membusuk perlahan-lahan, aku tak mau seperti itu, atau jangan-jangan aku akan mati seperti itu.

Kita berbincang dan kemudian aku menyembunyikan perasaan bahwa kamulah orang yang akan selalu kurindukan dan kucemaskan dan aku ialah seorang yang menyandarkan kehidupanya pada perasaan, dan perasaan itu ialah kamu.

Bintang mengintip dilangit yang bersih disaat kamu menyapukan lipstik kebibir. Perasaan ragu dan perbuatan dungu yang berharap kau pun tahu. Perasaan yang merubah menjadi gelap menghitam, langit berubah menjadi muram, gerimis pun melintas setelah senja, aku ta tahu masikah aku akan bertemu ‘malamku’. Dalam jejak senyap malam, langkahku mendekat diselimuti hujan, aku mencinta dalam sedu sendan yang tak bertanya. Apakah masih disebut cinta apabila tidak terdapat kebahagiaan padanya?

Kita semua memang akan menjadi tua Dan, tapi siapakah yang akan merasa kehilangan? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Dan, percayalah kita, kamu dan aku akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba selamanya. Aku menulis ini untuk mu, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang untuk selama-lamanya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s