Surat Cinta sebagai Miniatur Ekonomi Pasar : Hizkia Yosie Polimpung


Konon, menulis surat cinta tidaklah sama dengan menulis surat pada umumnya. Apalagi saat realtime chatting melalui beragam media japri belum ada. Hampir seluruh pecinta yang pernah menulis surat cinta merasa tabu untuk menulisnya dengan menggunakan mesin tik atau Microsoft Word.

Entah, ada yang “salah” kalau menulisnya tidak dengan tangan yang berpeluh. Seakan-akan ingin ditunjukkan betapa guratan tinta di kertas melambangkan sebuah daya upaya yang lebih dari biasanya, sebuah kekhusyukan yang lain dari biasanya. Seluruh penulis surat cinta juga tahu betapa satu kali adalah jumlah yang tidak mungkin untuk bisa menyelesaikan sebuah surat cinta. Butuh berkali-kali, belasan, puluhan kali untuk sebuah surat cinta versi final selesai dituliskan. Ada yang berubah pikiran di kata kertama, di akhir kalimat pertama, di tengah-tengah, bahkan saat di penghujung surat; sontak tangan langsung meremas kertas dan membuangnya. Hal ini demikian soalnya si penulis butuh untuk benar-benar merangkai kata dengan hati-hati. Untaian antar kalimat benar-benar ia perhatikan. Seakan-akan keterus-terangan pesan dan makna dari tulisan adalah sesuatu yang rendahan dan mesti dijauhi.

Pernah juga saya mendengar beberapa ada yang frustrasi karena tak kunjung puas dengan tulisan surat cintanya, lantas kemudian memakan kertas surat tersebut. Terkait ini, dengar-dengar, kaum perempuan lebih banyak menuliskan surat cinta ketimbang mengirimkannya!

Jadi kira-kira apa yang membedakan surat cinta dari surat biasa pada umumnya? Apa yang membuat proses penulisan surat cinta menjadi seolah “tidak santai” dan lebih dramatis dari lainnya?

Apa dan bagaimana sebenarnya surat cinta ini bagi sang pecinta dari para penulis surat cinta?

Tulisan singkat ini mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan cara yang bisa jadi agak kurang biasa, yaitu dengan menggunakan medium penjelasan yang secara skala jauh jauh jauh lebih besar dari pada perkara penulisan surat cinta, yaitu fenomena pertukaran dalam ekonomi pasar. Taruhan saya, dengan memahami pertukaran dalam ekonomi pasar, maka kita tidak hanya akan mendapat jawaban terkait persurat-cintaan di atas, melainkan kita akan mendapat pemahaman baru mengenai bagaimana pertukaran ekonomi berbasiskan pasar bekerja saat kita selesai berpaling pada kasus surat cinta.

Jadi, kita menggunakan ekonomi pasar sebagai medium penjelasan bagi fenomena surat cinta, lalu kita kembali lagi pada perbincangan surat cinta. Tapi yakinlah, setelah perbincangan tersebut, kita justru akan mendapat pemahaman baru mengenai ekonomi pasar yang berbeda dari penghampiran pertama
kita.

Cara berpikir ini, yang secara kronologis bersifat retroaktif, salah satunya dipakai oleh
psikoanalisis. Suatu kebaruan bagi masa kini dan/atau bagi yang akan datang, hanya akan kita dapati ironisnya saat kita kembali (retro) ke titik atau masa yang telah lampau (baik itu dekade, tahunan, atau bahkan beberapa menit saja ; entah itu secara riil, atau secara logis di kepala saja). Psikoanalisis sama sekali bukan perangkat analisis untuk kita terapkan atau aplikasikan ke suatu kasus—kita sebenarnya tidak benar untuk bertanya “bagaimana psikoanalisis melihat x?”, “apakah y jika dipandang dari perspektif psikoanalisis?”.

Sebaliknya, psikoanalisis adalah selalu paradigma yang implikasi dan konsekuensinya kita jumpai di keseharian.

Dalam kasus kali ini: surat cinta dan ekonomi pasar.

Sehingga ketimbang mencoba menjelaskan surat cinta dan ekonomi pasar dengan psikoanalisis, tulisan ini justru akan bertanya: “apa yang bisa kita pelajari mengenai surat cinta sebagai fenomena psikis dari mekanisme beroperasinya ekonomi pasar?”

Ekonomi Pasar

Kembali ke pertanyaan awal kita; apa yang membuat surat cinta dan proses penulisannya seakan-akan berbeda dari lainnya? Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita akan menjawabnya dengan mengerling fenomena pertukaran dalam ekonomi pasar. Sebelum lebih jauh, kita perlu menyamakan frekuensi dulu. Umumnya kita memahami ‘ekonomi’ sebagai suatu keadaan dan juga aktivitas orang terkait upayanya dalam memenuhi kebutuhannya dan mengupayakan penghidupannya.

Terdapat kalkulasi rasional di sini antara sesuatu yang kita korbankan/keluarkan (uang, tenaga, waktu) dengan apa yang dihasilkan atau bahkan diuntungkan dari proses pengorbanan tersebut. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita bungkus terkait ekonomi: pemenuhan kebutuhan dan kalkulasi rasional.

Lalu ‘pasar’, ia adalah suatu ruang artifisial yang mana pembeli dan penjual bertemu dan saling melakukan kegiatan ekonomi. Saat pembeli dan penjual bertemu, maka otomatis barang dan komoditas pun bertemu dengan alat pertukaran yang dipakai untuk menukar/menebusnya — uang, cek, kartu kredit, dsb. Unsur lainnya yang penting di dalam pasar adalah lalu lintas informasi dan pengetahuan akan seluruh komponen di dalam pasar itu sendiri — penyedia lapak, penjual, pembeli, uang, komoditas, dst.

Dan ini semua yang membuat pasar itu menjadi bebas, dan setiap orang di dalamnya bisa mempertimbangkan/mengkalkulasikan rencana ekonominya berdasarkan informasi tersebut. Sehingga dengan pasar, kita selalu berbicara tentang pelaku, komoditas, alat tukar dan informasi.

Lalu, apa yang enigmatik (segala sesuatu yang mengandung unsur misterius, sulit dipahami, sulit ditebak, layaknya puzzle, teka-teki) dari pasar? Semuanya seolah-olah normal dan baik-baik saja, bukan?

Di sinilah justru pintu masuk analisis dari psikoanalisis: di permukaan air yang relatif tenang yang mana seharusnya ia bergejolak dengan hebatnya. Mendeteksi anomali adalah langkah awal psikoanalisis: mendeteksi bagaimana seharusnya ia bergejolak, dan bagaimana ia bisa menjadi tampak tenang?

Untuk ini, kita bisa saja mengambil contoh-contoh besar seperti kasus Subprime Mortgage 2008*, atau krisis Eurozone 2012, dst. Tapi, supaya lebih keseharian, kita gunakan contoh remeh saja: pengalaman membeli susu kaleng. Sebut saja Ale, seorang supir lulusan SMP, sedang terdampar di supermarket hendak membeli susu kaleng untuk anaknya yang baru saja lahir.

Si Ale bingung karena ia dihadapkan pada belasan merk susu kaleng mulai Dancow sampai yang superpremium. Karena ia baru dapat rezeki, ia berniat sesekali beli susu yang superpremium. “DHA, AA, omega 3 dan 6, zat besi, taurina, kolina, dan zat besi untuk mendukung perkembangan kognitif dan penglihatan,”.

Ale mengernyit membaca baliho susu GainPlus Advance. “Sustagen School 6+-nya pak. Dengan kolin dan prebiotik inulin lho pak. Penting untuk memperbaiki sel tubuh anak yang rusak. Apalagi diperkaya dengan 11 vitamin dan 9 mineral. Harganya juga lebih murah, pak,” sapa mbak-mbak SPG Mead Johnson. “Sekarang lagi musim hujan. Kayaknya Sustagen ini lebih berguna deh, kan musim penyakit nih biasanya. GainPlus-nya kalo dapet rezeki berikutnya deh,”.

Gumam Ale yang tak punya banyak waktu untuk tenggelam dalam kebingungan pilihannya itu saat peringatan toko akan tutup berkumandang. “Oh baik mbak, saya coba Sustagen-nya. Kayaknya anak saya lebih butuh kolin dan prebiotik inulin ya ujan-ujan gini.” Akhirnya Ale membayar susu itu dengan jumlah uang yang jauh lebih besar dari biasanya, dan ia pulang dengan wajah cerah dan hati gembira.

Jika para pembaca sekalian tidak juga melihat ada yang aneh dan enigmatik, maka anda
sebaiknya pergi ke konsultan psikis terdekat di tempat anda. Inilah alasannya. Enigma pertama, kita semua bisa cukup yakin bahwa pada umumnya, orang seperti Ale tidak cukup diuntungkan sistem hari ini untuk punya kesempatan mempelajari, atau setidaknya mengetahui, atau bahkan familiar dengan “DHA, AA, omega 3 dan 6, zat besi, taurina, kolina.” Otherwise, ia tentu tidak akan jadi supir. Pula ada kemungkinan besar Ale baru pertama kali mendengar “kolin dan prebiotik inulin,” apalagi tahu pasti mengenai kegunaannya. Bisa dipastikan pula bahwa penyimpulan deduktifnya – “Sekarang lagi musim hujan. … Kayaknya anak saya lebih butuh kolin dan prebiotik inulin ya ujan-ujan gini” – sebenarnya tidaklah valid. Inilah enigma pertama. Tapi toh Ale bahagia-bahagia saja dengan susu superpremiumnya. Jangankan mempertanyakan, terbersit kecurigaan sedikit saja pun tidak. Inilah enigma kedua.

Kedua enigma ini kalau kita turunkan dalam pertanyaan, maka beberapa yang akan muncul dari “permukaan air tenang” pertukaran pasar tersebut, antara lain dua yang akan menjadi pembahasan kita:

  1. Bagaimana Ale bisa yakin dengan zat-zat bernama aneh di susu super premium? Bukankah itu semua baru pertama kali ia dengar? Jangankan mengetahui, mendengar dan melafalkannya saja bisa jadi ia salah! Bagaimana Ale bisa memastikan dan membuktikan bahwa memang zat-zat aneh itu ada di butiran-butiran susu superpremium? Bahkan, bagaimana Ale bisa yakin mengenai hubungan kausal antara zat-zat itu dengan khasiatkhasiat yang ia janjikan? Jangankan membaca buku, searching di Google saja bisa jadi ia kebingungan!

2. Bagaimana ia tahu bahwa susu superpremium itu memang pantas dihargai setinggi itu? Apa yang membuat zat-zat tadi—yang tidak juga bisa ia konfirmasi, pastikan dan buktikan keberadaan dan khasiatnya—mendadak memiliki harga yang berbeda dari susu lainnya? Bagaimana bisa Ale menjadi rela dan bahagia mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang ia tidak benar-benar tahu? Apakah dengan “percaya saja pada bungkus” lantas Ale menjadi tidak rasional dan non-kalkulatif?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagaimana psikoanalisis, tidaklah urgent untuk dijawab. Yang lebih penting adalah menyingkapkan faktor-faktor yang memungkinkan kemunculannya sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan pertama menunjukan betapa identitas dan kegunaan suatu barang/komoditas adalah suatu misteri yang sukar dipecahkan subyek. Bagaimana saya tahu bahwa produk tersebut adalah yang benar-benar saya butuhkan? “Ku tahu yang ku mau,” kata Sprite — tidak! Anda tidak tahu!

Di sini, pasar hadir untuk mengemban kesukaran-kesukaran tersebut. Syaratnya cuma satu:

Semua subyek harus mengimani akurasi dan kebijakan pasar dalam mengetahui dan menginformasikan identitas dan kegunaan suatu produk. Senjata pasar cuma satu: yaitu hukum besi keseimbangan pasar dan kompetisi terbuka (laissez-faire). Dengan hukum ini pasar mampu (konon) menjamin setiap pelaku untuk berkompetisi secara jujur dan terbuka—mau tidak mau, karena ia terekspos kepada pelaku lainnya.

Tapi, apakah pasar itu sendiri jujur dan terbuka? Saya tidak ingin berspekulasi dan memperpanjang tulisan ini dengan menjawab pertanyaan yang rawan mendapat jawaban suudzon seperti ini. Apapun jawabannya, praktis kita tidak akan pernah tahu. Itulah mengapa, kalau kita susah-susah mencari tahu, kita tidak akan bisa bahagia seperti Ale. Jadi, percaya saja. Di sinilah kita berjumpa dengan misteri ‘nilai guna’ dari suatu barang.

Pertanyaan kedua membawa kita dan Ale untuk menyadari mengenai anomali dalam proses pengukuran atau penilaian (valuation) atau bahkan pemberian harga (pricing). Proses pengukuran dan penilaian ini menjadi unsur penting karena suatu barang harus masuk dalam suatu kontestasi pertukaran terbuka. Sehingga ia harus bisa menjadi sebangun dan serupa dari satu ukuran/satuan tertentu agar ia bisa dipertukarkan. Satu laptop dan satu ekor kambing tidaklah sebangun. Namun lain soal saat keduanya dipadankan dengan sejumlah hal lain (alat tukar, misalnya uang), barulah kita bisa mengukur dan mempertukarkan keduanya.

Tapi tetap saja pertanyaannya, atas dasar apa suatu barang bisa memiliki price tag berbeda dengan selisih jauh dari sejawatnya? Padahal kita toh tetap tidak akan pernah tahu bagaimana ia diproses?

Jawabannya kembali sama: percaya saja pada merk dan informasi yang tertera. Informasi produk, dengan demikian tidak hanya berkisar pada profil identitas dan kegunaan, melainkan juga nilainya dibandingkan barang-barang lainnya di pasaran. Di sini kita berjumpa dengan problematika ‘nilai tukar’ dari suatu barang.

Simpulan sementara yang bisa kita tarik kemudian adalah bahwa yang fitur spesifik yang membuat pasar menjadi pasar dengan demikian adalah selalu persoalan informasi. Informasi yang menjadi penambal ketidaktahuan dan ketidakmenentuan subyek akan apa yang ia butuhkan, dan akan apakah barang yang ia kira ia butuhkan adalah memang yang ia butuhkan.

Informasi juga memberi justifikasi bahwa kegunaan barang yang satu—yang tetap saja tidak kita ketahui secara pasti adalah lebih berguna dari kegunaan barang lainnya—yang juga tetap saja tidak bisa kita pastikan. Informasi ini tampil seolah-olah netral dan informatif dan komprehensif: bisa saja ia menceracaukan bagaimana kompleksnya proses pembuatan, banyak dan terampilnya para pekerja yang membuat, betapa susahnya bahan baku dicari, dst. Tapi tetap saja, pilihan kita hanya satu: percaya pada informasi tersebut dan memutuskan: take it or leave it. Sebuah pilihan yang … bebas, bukan?

Itulah mengapa, bagi subyek, informasi tersebut tidaklah sekedar informasi. Ia adalah alibi yang memiliki efek kongkrit dan psikis: ia menjadi punya justifikasi rasional untuk setiap perhitunganperhitungan pelitnya; ia mendapatkan ketenangan batin dan emosional; bahkan ia bisa berbahagia memamerkan produk yang beli ke orang lain—dibalik seluruh ketidaktahuan dan keacuhannya akan fakta yang sebenarnya tentang produk tersebut.

Nilai, baik guna maupun tukar, adalah suatu misteri di dalam ekonomi pasar. Misteri ini yang kemudian dimanfaatkan penguasa untuk menciptakan berbagai macam informasi yang akhirnya membentuk apa yang kita sebut pasar dengan segala manifestasi kongkrit dan susunan materialnya.

Namun di sisi lain, subyek juga mengafirmasi (mis)informasi pasar ini, karena mereka butuh sesuatu untuk menambal ketidaktahuannya akan dirinya dan kebutuhannya sendiri. Mereka butuh alibi ekonomi.

Inilah proses dialektis antara pasar dan pelaku pasar dalam proses pertukaran di suatu ruang bernama pasar; yang satu memberikan alibi-informasi, yang satu menerima alibi-justifikasi, dan pertukaran material barang dan jasa terjadi dengan aman, nyaman dan tenteram.


Surat Cinta

Jadi apa dari ekonomi pasar yang bisa kita pakai untuk menjelaskan surat cinta? Pertama, bukankah kebingungan Ale saat memilih-milih produk mirip dengan kegelisahan sang penulis surat saat memilih-milih kata dan rangkaian kalimat untuk dituliskan di suratnya? Sama seperti ale yang mondar-mandir sana sini, mengambil satu dan memasukkannya ke keranjang, lalu dikembalikan lagi karena ragu, lalu diambil lagi, dikembalikan lagi, dst. Begitu pula sang pecinta saat bolak-balik mengganti kata, bahkan mengganti kertasnya.

Saya cukup yakin kita sudah bisa tahu mengapa? Sama seperti Ale yang tidak benar-benar yakin apa yang ia mau dan bagaimana itu direpresentasikan dalam produk susu superpremium, demikianlah sang penulis juga tidak yakin apakah benar kata-kata dan kalimat yang dituliskan itu mewakili perasaannya. Ia tidak bisa tidak, harus percaya saja pada keterberian tata bahasa, wawasan kosakata, dan struktur penulisan bahasa yang pada umumnya.

Ia juga tidak bisa mempertanyakan “siapa yang menciptakan bahasa?” sama seperti Ale yang tidak mungkin mempertanyakan pasar. Kebimbangan tersebut juga tidak akan selesai dengan sang penulis memilih kata atau kalimat yang tepat. Ia juga harus mempertimbangkan apakah pilihan tepatnya juga adalah tepat bagi dia yang dialamatkan? Apakah bahasa yang bernilai baginya, juga mampu memberikan nilai kegunaan yang sama kepada si dia? Apakah dengan upaya representasi makna dan pesan melalui surat ini, sang penulis akan mendapat pertukaran yang setimpal?—misalnya, tersampainya pesan, pengertian, bahkan pendalaman tali cinta, misalnya. Sayangnya, ia tidak tahu pasti.

Ketidaktahuan secara pasti inilah yang membuat subyek berpotensi menjadi stres dan frustrasi. Ketidakmenentuan akan pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang ku mau”, “apa yang ia mau” dan bahkan lebih jauh lagi, “apa yang ia mau dariku?” atau malah “apakah aku baginya?” ini yang membuat penulisan surat cinta menjadi tidak seperti menulis surat pada umumnya.

Tapi justru ini jugalah yang membuat surat cinta menjadi surat cinta. Ia tidak menjadi sekedar surat, melainkan ia adalah pesan dan makna dan sekaligus obyek cinta itu sendiri. Mengapa obyek? Karena mau tidak mau, sang penulis harus membekukan, bahkan memortifikasikan, sang subyek teralamat agar supaya ia bisa tenang menulis. Sang subyek menjadi suatu obyek yang diawetkan di kepala, di ingatan, di angan, di bayangan dan di … surat cinta. Sama seperti enigma nilai tukar, nilai guna suatu barang harus dibekukan (dimatikan dari segala ambiguitasnya), agar supaya ia bisa diukur, diekuivalenkan dan dipertukarkan. Itulah mengapa saat kita menulis surat cinta, kita selalu menujukannya pada mayat.

Demi menenangkan dirinya, Ale menciptakan alibi bagi pembunuhan nilai—berikut para pekerja yang membubuhkan nilai tersebut ke produk/komoditas melalui kerjanya—oleh informasi-informasi dalam pasar bebar. Begitu pula sang pecinta, demi menenangkan dirinya dari ambiguitas dan ambivalensi diri dan hasratnya, ia menciptakan alibi bagi pembunuhan sang liyan tercintanya oleh surat cinta dan bahasa. Cinta, dengan demikian tak lebih dari hubungan sepasang mayat hidup; sama seperti pasar yang diisi dengan mayat-mayat hidup rakyat pekerja.

Demikianlah saudara-saudara, dalam pasar dan bahasa, kita saling membunuh satu sama lain, namun saling mencintai.


  • Pada 2001-2005, pertumbuhan perumahan di Amerika Serikat menggelembung seiring rendahnya suku bunga perbankan akibat kolapsnya indutri dotcom. Sejak 1995, industri dotcom (saham-saham teknologi) di AS lebih dulu booming, namun kolaps dan menyebabkan banyak perusahaan jenis ini tak mampu membayar pinjaman ke bank. Untuk menyelamatkan mereka, The Fed menurunkan suku bunga, sehingga suku bunga menjadi rendah. Suku bunga yang rendah dimanfaatkan pengembang dan perusahaan pembiayaan perumahan untuk membangun perumahan murah dan menjualnya melalui skema subprime mortgage. Gelembung perumahan ini terjadi di banyak negara bagian, seperti California, Florida, New York, dan banyak negara bagian di barat daya.

    Saat bisnis perumahan mulai booming pada tahun 2001 ini, banyak warga AS berkantong tipis yang membeli rumah murah melalui skema subprime mortgage (KPR murah). Pada tahun 2006, ketika koreksi pasar mulai menyentuh gelembung bisnis perumahan di AS, ekonom Universitas Yale, Robert Shiller memperingatkan bahwa harga rumah akan naik melebihi aslinya. Koreksi pasar ini, menurutnya, bisa berlangsung tahunan dan menyebabkan penurunan nilai rumah-rumah tersebut hingga muliaran dolar AS. Peringatan itu mulai terbukti ketika pada akhir 2006, sebanyak 2,5 juta warga AS yang membeli rumah melalui skema tadi tak mampu membayar cicilan. Harga rumah yang mereka kredit melambung tinggi, bahkan ada yang sampai 100% dari nilai awalnya. Akibatnya, menurut laporan perusahaan penyedia data penyitaan rumah di AS, RealtyTrac, sebanyak itu pula, rumah yang akan disita dari penduduk AS.

    RealtyTrac mencatat pengumuman lelang sebanyak 179.599 yang mencakup 2,5 juta rumah yang dinyatakan disita karena gagal bayar. Ini adalah jumlah penyitaan terbanyak selama 37 tahun. Penyitaan besar-besaran ini jelas dapat menimbulkan banyak warga AS menjadi tuna wisma mendadak, dan bisa menjadi masalah sosial baru.

    Tidak semua warga negara AS memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah atau memiliki sejarah kredit yang baik. Kebanyakan dari mereka adalah pengangguran, pekerja-pekerja seperti office boy, pedagang kecil, dan pembersih rumah atau kantor. Sebenarnya, mereka dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman untuk memiliki rumah murah, karena sejarah kreditnya kurang baik dan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk mencicil. Untuk itulah diadakan subprime mortgage.

    Pembiayaan jenis ini sebenarnya berisiko, baik bagi kreditor maupun debitor, karena bunganya yang tinggi, sejarah kredit peminjam yang buruk, dan kemampuan keuangan peminjam yang rendah. Kamus online Wikipedia menjelaskan, Subprime Lenders (Pemberi pinjaman), biasanya adalah lembaga pembiayaan perumahan, mengumpulkan berbagai utang itu (pool) dan menjualnya kepada bank komersial. Oleh bank komersial, sebagian portofolio tersebut dijual lagi kepada bank investasi. Oleh bank investasi, kumpulan utang tersebut dijual kepada investor di seluruh dunia seperti bank komersial, perusahaan asuransi, maupun investor perorangan.

    Kumpulan utang tersebut dinamakan Mortgage-Backed Securities (MBS) yang merupakan bentuk utang yang dijamin. MBS ini termasuk salah satu bentuk transaksi derivatif yang penuh risiko. Ketika pembeli rumah membayar bunga, baik pada cicilan bulanan atau pada saat pelunasan, pembeli MBS mendapat pendapatan. Layaknya transaksi derivatif lain, MBS bisa dibeli dari tangan pertama atau berikutnya. Artinya, investor yang sudah membeli MBS bisa menjualnya lagi ke investor lain. Perolehan pendapatan dibagi menurut jenjang atau senioritas pembeli MBS ini. Dan ini menjadi beban seluruhnya bagi pembeli rumah. Ini membuat nilai yang harus dibayar pembeli rumah melambung tinggi hingga 100% dari nilai aslinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s