NIETZSCHE : UBERMENSCH AND MENTALITY IN LIFE


Nietzsche memiliki pandangan kehidupan bahwa hidup ini tragis, berbahaya, dan mengerikan. Ia dengan tegas menerima kehidupan ini. Nietzsche terkenal dengan semboyannya dalam bahasa Jerman yang berbunyi Ja-sagen, yaitu mengatakan ya. Arti dari mengatakan ya ini adalah mengafirmasi kehidupan. Dalam bukunya yang berjudul The Birth of Tragedy, Nietzsche menjelaskan bahwa orang-orang Yunani kuno sudah memahami bahwa hidup ini berbahaya dan menyulitkan. Nietzsche berkata dalam bukunya yang berjudul Ecce Homo, The Birth of Tragedy “Saying Yes to life even in its strangest and hardest problems.”.

Berkata Ya pada kehidupan bahkan dalam masalah-masalah yang paling aneh dan keras. Mereka tidak menyerah lari atau menegasi kehidupan ini, justru sebaliknya mereka menantang dan mengafirmasi terhadap kehidupan ini.

Nietzsche menyarankan manusia untuk selalu hidup secara Amor-fati, artinya dalam bahasa Yunani adalah mencintai takdir. Manusia tidak boleh untuk mengutuk dan menjauhi tragedi. Tragedi harus kita lawan dengan keteguhan hati, sebab dengan cara seperti inilah hidup menjadi lebih berguna. Pandangan hidup yang seperti ini terlihat dalam nilai-nilai estetika mereka. Menurut Nietzsche, dari estetika Yunani kuno itu dapat dibedakan adanya dua macam mentalitas, yaitu mentalitas Dionysian dan Apollonian.

Dionysios adalah dewa anggur dan kemabukan. Bagi Nietzsche, ia menjadi lambang pengakuan terhadap kehidupan sekarang dan di sini (diesseitigkeit) yang selalu mengalir. Dionysios adalah simbol kejantanan, keberanian, gairah, nafsu, dan pendobrakan dari segala batas serta kekangan.

Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan pesta riuh-rendah yang setiap tahun diadakan untuk menghormati Dionysios. Dalam ritual pemujaan dewa ini para pemujanya mabuk, tetapi dalam kemabukan itu justru menyatukan mereka dengan kehidupan yang estetis. Dalam ecstasy itu, individuasi dan perbedaan-perbedaan menjadi kabur. Mentalitas Dionysian adalah mentalitas kebudayaan Yunani kuno yang cenderung melampaui segala aturan atau norma dan bebas mengikuti dorongan-dorongan hidup tanpa kenal batas.

Apollo adalah dewa matahari dan ilmu kesusastraan. Bagi Nietzsche, Apollo menjadi lambang pencerahan, keugaharian, individuasi, kontemplasi intelektual, dan pengendalian diri. Mentalitas Apollonian adalah mentalitas kebudayaan Yunani kuno yang berpegang pada keseimbangan, ketertiban, kedamaian, harmoni, kecintaan pada bentuk-bentuk, dan keselarasan diri.

Mentalitas ini terlihat dalam tata cara berlaku di antara dewa-dewi Olympus, seni arsitektural, dan seni pahat patung-patung Yunani. Dalam kebudayaan Yunani kuno, mentalitas Apollonian ini berfungsi mengendalikan mentalitas Dionysian. Tragedi Yunani diterangkannya sebagai semacam sintesa antara musik dan tarian Dionysian dengan bentuk Apollonian.

Di setiap diri manusia selalu terdapat unsur Apollonian dan Dionysian. Unsur-unsur yang berkaitan dengan Apollo (kekuatan nalar, keteraturan, dan kelembutan) dan Dionysios (intuisi, naluri, kehendak, dan nafsu) pasti terdapat dalam diri setiap manusia. Kombinasi dari kedua unsur ini yang melahirkan tragedi. Nietzsche menyadari bahwa kehidupan manusia selalu diwarnai dengan tragedi tapi selalu ada usaha-usaha untuk mengatasi tragedi itu dalam kehidupan.

Menurut Nietzsche, sikap mental Dionysian ini telah menyelamatkan kebudayaan Yunani kuno dari pesimisme hidup. Sikap Dionysian yang ‘mengiyakan’ hidup ini apa adanya merupakan sikap penuh vitalitas dan gairah untuk tidak menolak apa-pun yang diberikan hidup ini, baik itu menyenangkan maupun menyakitkan. Sikap seperti ini menuntut keberanian untuk hidup tanpa berpaling sedikit-pun darinya. Mentalitas Dionysian inilah yang dimiliki oleh para jenius dalam kebudayaan Yunani.

Pandangan Nietzsche yang mengafirmasi kehidupan ini diperkuat oleh pandangan kaum ‘Penegasan Kehidupan’. Manusia harus melakukan sebuah sikap penegasan kehidupan, yaitu sebuah refleksi diri bahwa keutamaan yang terbaik bagi setiap manusia adalah menerima dan menghadapi kehidupan ini sepenuhnya dan apa adanya.

Manusia seharusnya berpendirian bahwa segala usaha mempertanyakan keberadaan manusia itu salah dan merupakan ilusi belaka, melainkan ia harus menerima kenyataan hidup ini secara utuh dan tanpa menggolong-golongkan – baik itu realita yang menyenangkan maupun menyusahkan.

Pada hakikatnya, apa yang terpampang di dalam kehidupan inilah satu-satunya makna hidup. Orang-orang yang tidak dapat menerima kehidupan ini sebagaimana adanya akan membangun dunia-dunia bayangan, tempat mereka mencari naungan secara khayal. Contoh orang-orang yang seperti ini misalnya: seorang biarawan yang mengecam dunia dengan mengutamakan surga, seorang idealis yang merendahkan materi tapi mengatasnamakan roh, dan seorang moralis yang melarang kegembiraan dengan menjalankan kewajiban keras.

Nietzsche memiliki pandangan sinis tersendiri terhadap orang-orang yang seperti ini. Di dalam bukunya yang berjudul Why I Am a Destiny ia berkata “The concept of the ‘beyond’, the ‘true world’ invented in order to devaluate the only world there is – in no order to retain no goal, no reason, no task for our earthly reality!”.

Konsep tentang ‘yang melampaui’, ‘dunia sejati’ diciptakan untuk mengurangi nilai dari dunia yang nyata – agar tidak menyisakan tujuan, tiada alasan, tiada tugas pada realitas duniawi kita!

Sikap pandangan penegasan kehidupan ini sangat mengecam segala bentuk penyisihan yang berkembang dengan mengatasnamakan nalar. Peradaban yang mendasarkan diri pada nilai-nilai ideal dipandangnya sebagai semangat yang dijiwai oleh suatu nihilism1 mendalam. Peradaban semacam itu menghasilkan masyarakat-masyarakat yang memaksa anggota-anggotanya untuk tunduk kepada suatu sistem yang semakin tidak manusiawi dan menekan segala kehendak untuk mengungkapkan diri secara non-conformist.

Peradaban seperti itu dengan semakin licik memberangus para penyimpang, yakni orang-orang yang tidak mengikuti kaidah-kaidah peradaban tersebut. Ideologi-ideologi yang berkuasa adalah penguatan sistem penindasan dengan menyatakan bahwa percobaanpercobaan untuk mematahkan cara hidup yang dipaksakan itu hanyalah usahausaha yang bertentangan dengan akal. Ilmu-ilmu tentang manusia baik disadari atau tidak telah dicemari oleh ideologi yang seperti ini – sebab dengan dalih mempelajari tentang manusia, ilmu-ilmu itu sebenarnya berusaha untuk memanipulasikan manusia dengan mengendalikan perilakunya secara sepenuhnya.

Pandangan penegasan kehidupan ini berusaha menghancurkan tata kenalaran yang menyekap bahasa, keinginan, kreatifitas; dan berusaha mengembangkan suatu gaya keberadaan yang menerima hidup ini sebagaimana adanya. Pendirian ini ingin menegaskan kembali nilai segala bentuk ungkapan spontan kehidupan. Paham penegasan kehidupan bertendensi menjalani segala pengalaman, tanpa mengesampingkan satu-pun darinya.

Übermensch adalah simbol manusia yang tidak hanya memiliki kekuatan secara fisik dan intelligence, tapi juga merupakan manusia yang telah melewati kerasnya ujian kehidupan sosial. Ia adalah sesosok manusia yang terbaik yang diciptakan oleh kondisi masyarakat yang bergejolak. Ia adalah segelintir manusia yang memiliki keutamaan bahwa hidup hanyalah untuk memperbesar kekuasaan. Ia adalah sebuah contoh bagi seorang pemimpin sejati.

Berkenaan dengan prinsip individualisme yang dijadikan keutamaan oleh Nietzsche, ia menjelaskan tentang perlunya pengembangan terhadap manusia. Pertama, manusia harus mampu untuk bertahan hidup atau survive dari alam. Alam memiliki hukumnya sendiri, yaitu “siapa yang kuat, maka dialah yang berkuasa; siapa yang lemah, maka dia akan binasa”. Manusia, sebagai makhluk hidup, tidak bisa menghindar dari hukum alam.

Kehidupan setiap makhluk hidup hanya seputar menjadi pemangsa atau mangsa. Kehidupan yang seperti ini sama halnya dengan bangsa-bangsa yang besar di dalam sejarah peradaban dunia, di mana mereka melakukan penaklukkan manusia yang lainnya dengan penuh keberanian dan kekuatan.

Manusia yang satu berperang dan menaklukkan manusia yang lainnya dengan kemurnian naluri dan kehendak untuk berkuasa. Ini adalah kodrat alami setiap makhluk hidup. Kebudayaan dan kemasyarakatan merupakan bentuk lanjutan dari hukum alam. Manusia harus selalu memiliki keberanian dan kekuatan untuk menaklukkan kebudayaan dan sosial-politik kemasyarakatan yang ada di lingkungannya. Ini adalah pengejawantahan kehidupan aristokrasi, yaitu kehidupan yang keras karena adanya keinginan dari individu untuk melawan dan menaklukkan society di mana ia berada, bahwa ia mengakui bahwa dialah being yang harus memiliki kekuasaan.

Selanjutnya, Nietzsche menegaskan bahwa dengan adanya kemandirian dalam menghadapi kehidupan yang asing, manusia akan membanggakan dirinya sendiri sebagai suatu being yang telah mampu untuk menaklukkan kerasnya kehidupan alam serta sosial kemasyarakatan. Ini adalah dasar untuk terciptanya sebuah being yang paling digdaya, yaitu Übermensch. Übermensch secara esensial adalah seorang individu yang telah melewati kerasnya hidup dan memberontak terhadap kebudayaan yang usang dan rigid. Übermensch tidak melihat kehidupan sebagai suatu pandangan yang ke belakang tetapi ia melihat jauh ke masa depan. Übermensch memiliki segala nilai moral yang terbaik, sebab tragedi sebagai seni dalam kehidupan telah melahirkan mahakaryanya yang terindah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s