Erich Fromm: Tentang Cinta dalam Psikologi


Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900. Ia belajar psikologi dan sosiologi di University Heidelberg, Frankfurt, dan Munich. Setelah memperoleh gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar psikoanalisis di Munich dan pada Institut psikoanalisis Berlin yang terkenal waktu itu. Tahun 1933 ia pindah ke Amerika Serikat dan mengajar di Institut psikoanalisis Chicago dan melakukan praktik privat di New York City. Ia pernah mengajar pada sejumlah universitas dan institut di negara ini dan di Meksiko. Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980.


Teori Cinta Erich Fromm

Erich Fromm menjelaskan bahwa cinta adalah suatu kegiatan yang aktif. Karena itu cinta memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya dan mencintai adalah memberikan kebebasan demi pertumbuhan yang dicintai. Dengan demikian cinta bukanlah suatu pengaruh pasif. Cinta adalah Standing in (tetap tegak di dalam) bukan Falling for (Jatuh untuk).

Jika cinta adalah suatu kegiatan, berarti ia bukanlah benda melainkan lebih pada kerja, aktivitas, orientasi. Cinta bukanlah komoditas barang yang dapat dibarter dan diperjualbelikan apalagi dipaksakan oleh orang lain, karena ia tidak bisa terwujud dengan paksaan. Cinta adalah pilihan bebas yang diberikan secara suka rela atas kemauan sendiri dan rasional. Jika sesorang ingin membagi cintanya kepada orang lain, ia bebas memberikannya. Begitu juga sebaliknya, jika ada keinginan untuk tidak memberikan cintanya kepada orang lain, itu juga memberikan kebebasan baginya. Oleh karena itu, dalam cinta dituntut kedewasaan dalam berpikir, serta kesadaran dalam memilih.Ekspresi tipikal cinta tidaklah mendominasi atau memiliki. Ekspresi ini, sebaliknya adalah pemberian secara mutual, yakni menerima dan memberi. Karena itu, menurut Marcel, cinta kita rasakan terhadap makhluk ini sama dengan keyakinan yang kita rasakan terhadap Tuhan.

Aktivitas yang paling jelas dalam kegiatan cinta dan mencintai adalah memberi. Menurut Fromm, selama ini ada kesalahan luar biasa dalam tindakan “memberi”. Memberi sering disamakan dengan “memberikan” sesuatu atau mengorbankan sesuatu. Bagi pribadi-pribadi yang perkembangan karakternya berhenti pada tahap orientasi reseptif, eksploitatif atau menimbun, tindakan “memberi” memang dimaknai dalam pengertian ini. Orang yang berkarakter pasar hanya akan memberi jika dia mendapat untung. Orang yang mengidap orientasi non-produktif akan merasa tindakan memberinya sebagai bentuk pemiskinan. Sementara orang yang berkarakter produktif, tindakan memberinya dimaknai sebagai bentuk ekspresi tertinggi dari potensi yang ada dalam diri mereka. Bagi mereka memberi adalah potensi dan vitalitas manusia yang menghasilkan kegembiraan luar biasa daripada menerima. Karena itulah mereka percaya dengan sebuah yang mengatakan “tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”.

“yang terpenting dalam hal ini bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut sesorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri…..(Erich Fromm, The Art Of Loving, hal.41)

Fromm mengkritik orang-orang modern yang memandang cinta dalam visi keindahan dan kenikmatannya saja tanpa melihat cinta sebagai bagian esensial dari seni hidup. Bahkan cinta adalah seni hidup itu sendiri dan merupakan pandangan terhadap manusia yang lebih utuh.

Fromm mengemukakan tiga kekeliruan orang-orang modern dalam memahami cinta.

Pertama, persoalan cinta hanya dilihat sebagai persoalan “dicintai” ketimbang “mencintai”. Oleh karena itu, persoalan terpenting bagi kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, atau bagaimana agar bisa dicintai. Karena masalahnya adalah bagaimana agar dicintai (to be loved), maka orang-orang berusaha bagaimana ‘menciptakan’ dirinya semenarik mungkin bagi lawan jenisnya. Tentunya hal ini disesuaikan dengan selera zaman atau trend yang berkembang daam kehidupan sosial.

Kedua, persoalan cinta adalah persoalan objek bukan persoalan kemampuan. Orang berpikir bahwa mencintai adalah persoalan mudah, yang sulit adalah bagaimana mencari sasaran (objek) yang tepat. Namun persoalan objek cinta pun selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Fromm mencontohkan, bagi laki-laki zaman sekarang, gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka inginkan. Sebaliknya bagi perempuan, lelaki yang menarik adalah hadiah yang selalu mereka dambakan. Arti “menarik” di sini tak lain adalah adanya kesesuaian dengan model karakter yang dicari-cari di pasar kepribadian.

Di Amerika tahun 1920-an, seorang gadis peminum dan perokok, ulet serta sexy akan dipandang sebagai sosok yang menarik. Namun pada zaman sekarang, sifat-sifat seperti senang tinggal di rumah serta pemalu justru akan dianggap anggun dan mengesankan pada saat ini. Begitu juga dengan laki-laki, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, untuk dapat dikatakan sebagai “bingkisan” menarik, seorang laki-laki mesti memiliki karakter agresif dan ambisius. Namun sekarang laki-laki yang menarik adalah mereka yang berwatak sosial dan toleran.

Perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas-komoditas yang dapat dipertukarkan. Sang “aku” selalu berada luar penawaran; karena segala sesuatu dihargai berdasarkan nilai sosialnya. Seseorang diinginkan karena ia juga menginginkan, dengan mempertimbangkan segala asset dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dua sosok manusia akan jatuh cinta jika telah menemukan objek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai tukar yang dimiliki.

Ketiga, sebagai implikasi dari kekeliruan tersebut, bahwa pengakuan cinta merupakan pengakuan jatuh cinta (falling in love) bukan pengalaman meng-ada dalam cinta (being in love) atau berdiri dalam cinta (standing in love). Pengalaman jatuh adalah pengalaman objektivikasi, bagaimana jatuh senantiasa berimplikasi kepemilikan terhadap orang lain.

Bias-bias ini menurut Fromm merupakan akibat dari pandangan dunia yang begitu kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai materialis dalam dunia kapitalis.

“Man’s happiness today consists in “having fun.” Having fun lies in the satisfaction of consuming and “taking in” commodities, sights, food, drinks, cigarettes, people, lectures, books, movies—all are consumed, swallowed. The world is one great object for our appetite, a big apple, a big bottle, a big breast; we are the sucklers, the eternally expectant ones, the hopeful ones—and the eternally disappointed ones.”
Erich Fromm, The Art of Loving

“To be loved because of one’s merit, because one deserves it, always leaves doubt; maybe I did not please the person whom I want to love me, maybe this, or that – there is always a fear that love could disappear.”
Erich Fromm, The Art of Loving

“Love is an activity, not a passive affect; it is a “standing in,” not a “falling for.” In the most general way, the active character of love can be described by stating that love is primarily giving, not receiving.”
Erich Fromm, The Art of Loving

“Love, experienced thus, is a constant challenge; it is not a resting place, but moving, growing, working together; even when there is harmony or conflict, joy or sadness, is secondary to the fundamental fact that two people experience themselves, rather than by fleeing from themselves. There is only one proof for the presence of love: the depth of the relationship, and the aliveness and strength in each person concerned; this is the fruit by which love is recognized.”
Erich Fromm, The Art of Loving

“Love is a power which produces love.”
Erich Fromm, The Art of Loving

“Love is possible only if two persons communicate with each other from the center of their existence, hence if each one of them experiences himself from the center of his existence. Only in this “central experience” is human reality, only here is aliveness, only here is the basis for love. Love, experienced thus, is a constant challenge; it is not a resting place, but a moving, growing, working together; even whether there is harmony or conflict, joy or sadness, is secondary to the fundamental fact that two people experience themselves from the essence of their existence, that they are one with each other by being one with themselves, rather than by fleeing from themselves. There is only one proof for the presence of love: the depth of the relationship, and the aliveness and strength in each person concerned; this is the fruit by which love is recognized.”
Erich Fromm, The Art of Loving


“I love you because I need you, or I need you because I love you”
“I love because I am loved, or I am loved because I love”

Aku mencintaimu karena membutuhkanmu, atau aku membutuhkanmu karena mencintaimu. Keduanya adalah frasa kalimat yang membedakan mature love dan immature love. Bagaimana kita dapat mengetahui perbedaan antar keduanya? pertanyaan tersebut akan dijelaskan dari perspektif Erich Fromm, melalui karyanya; The Art of Loving. Fromm adalah seorang psikolog-marxist, bersama Adorno, Horkheimer, Marcuse maupun Benjamin sempat menjadi generasi pertama institut sosial Frankurt, atau yang lebih dikenal sebagai Madzhab Frankurt.

Cinta, bagi Fromm, sekaligus yang membedakanya dari Freud, bukanlah semata-mata persoalan impuls seksual, lebih dari itu, ia merupakan persoalan hubungan antar seorang dengan orang lain, juga seorang dengan seluruh orang lain, bukan hanya persoalan antar saya dan kamu, tapi kita, sebagai manusia, persis dari titik pusat eksistensinya. Bagi Fromm, bahkan Psikologi sebagai sebuah ilmu memiliki batasan, dan karenanya, konsekuensi logis dari Psikologi adalah cinta. Tanpa cinta, semua hal akan tanpa makna, percakapan hanya menjadi perbincangan, dunia yang dihidupi hanya rutinitas beku tanpa arti, dengan kata lain, melalui sudut pandang cintalah manusia memiliki arti untuk hidup, untuk menghidupi hidup.

Kalimat yang paling saya ingat dari buku ini adalah “Love is an activity, not a passive affect. It is ‘standing in’, not ‘falling for’.” Guru saya pernah bilang, cinta itu seperti melompat dari Menara Eiffel jam tiga pagi. “It is not that I happened to love you,” kata dia. “It is that I will love you.” Kalau ada yang bilang jatuh cinta sama kita, jangan senang dulu. Sekarang dia boleh jatuh, tapi besok bisa bangkit dan jalan lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa, lho.. 😛
Jadi apakah kita memilih untuk jatuh cinta, atau cintalah yang memilih kita?
Kata Erich Fromm, bukan itu soalnya. Kita bisa mengalami ketertarikan dengan siapa saja dan kapan saja, tetapi mau diapakan ketertarikan itu? Cinta yang dibicarakan Fromm sepertinya adalah cinta yang diwujudkan dalam suatu hubungan yang berkomitmen. Cinta adalah sesuatu yang harus dirawat dan dikembangkan. Kalau kita merasa cinta pada seseorang, kita harus bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya berikan untuk orang yang saya cintai? Memberi, bukan diberi. Menyayangi, bukan disayangi. Menjaga, bukan dijaga.
Menyelingkuhi, bukan diselingkuhi. #eh
Lalu bagaimana dengan ketertarikan kita pada orang lain, yang mungkin terjadi berkali-kali sepanjang hidup? Jawablah ketertarikan itu dengan prinsip yang sama: perilaku aktif, bukan pasif. Sadari ketertarikan itu dan ubahlah menjadi suatu tindakan yang produktif. Soalnya, suka itu bisa tidak sengaja, tapi butuh tanggung jawab untuk mengubahnya jadi cinta.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s