TEKANAN UDARA

0

Tekanan Udara, Rumus dan Alat Ukurnya – Udara memiliki massa meskipun sangt kecil. Akan tetapi dengan jumlah mereka yang sangat banyak massa mereka tidak bisa dianggap ringan. Di bumi ada yang namanya gravitasi yang menarik udara ini ke bawah sehingga dikenal namanya berat. Berat udara inilah yang akan menekan permukaan bumi sehingga timbul tekanan udara. Jadi pengertian tekanan udara adalah besarnya berat udara pada satu satuan luas bidanng tekan.

Besarnya tekanan udara di suatu tempat sangat bergantung pada jumlah udara di atasnya. Semakin tinggi suatu tempat maka semakin sedikit jumlah udara di atasnya, semakin sedikit berat udara yang ditahan wilayah tersebut sehingga tekanannya semakin sedikit. Berbanding terbalik dengan daerah atau dataran rendah, mereka mempunyai tekanan udara yang lebih besar. Jadi tekanan udara di suatu wilayah sangat ditentukan oleh ketinggian tempat atau wilayah tersebut dari permukaan air laut.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Udara

ada 2 hal yang sangat mempengaruhi tekanan udara yaitu suhu dan tinggi suatu daerah

  1. Tinggi Suatu Tempat
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tinggi suatu tempat berbanding terbalik dengan tekanan udara di daerah tersebut.
  2. Suhu Udara
    Suhu udara sangat mempengaruhi tekanan udaranya. Ketika suhu tinggi molekul udara akan mengembang dan volume udara menjadi lebih besar. Jika volume di udara di atas suatu tempat adalah tetap maka ketika suhu udara naik, massa udara total akan berkurang, berat udara berkurang, demikian juga dengan tekanan udara. Sebaliknya, ketika suhu rendah makan tekanan udara akan semakin tinggi.
  3. Lintang bumi : semakin tinggi kerapatan udara, semakin besar udara yang ditimbulkan. Perbedaan dalam menerima energy matahari pada berbagai permukaan bumi pada lintang tempat yang berbeda membawa konsentrasi terhadap perbedaan kerapatan udara
  4. Sebaran lautan dan daratan : pengaruh sebaran daratan dan lautan ini sangat jelas pada lintang pertengahan, pada musim dingin benua relatif lebih dingin dan mempunyai tendensi membentuk pusat-pusat tekanan tinggi

Tekanan udara di berbagai tempat berbeda-beda terutama tergantung pada tinggi daerah tersebut dari permukaan air laut. Perbedaan tekanan udara inilah yang mengakibatkan berbagai fenomena cuaca seperti angin, topan, badai, dan sebagainya.


Rumus Tekanan Udara

Bagaimana menetukan tinggi suatu tempat bila diketahui tekanannya? Bagaimana pula menentukan tekanan jika yang kita ketahui adalah tekanannya. Tekanan udara dipermukaan air laut adalah 76 cmHg yang akan jadi patokan dan setiap perubahan tinggi 100 m maka akan terjadi perubahan tekanan sebesaar 1 mmHg.

Ph = (Pu – h/100) cmHg

Ph = tekanan pada ketinggian h
Pu = tekanan udara permukaan air laut
h  = tinggi suatu tempat

untuk mencari ketinggian

h = (Pu-Ph) x 100 m

Contoh Soal

Wilayah Jakarta utara memiliki ketinggian 10 m dibawah permukaan air laut. Berapakah tekanan udara di tempat tersebut.

Jawab

Ph = (Pu – h/100) cmHg
Ph = (76 – (-10)/100) = 76 + 0,1 = 76,1 cmHg

jika disuatu puncak gunung tekanan udaranya adalah 45 cmHg, berapa ketinggian gunung tersebut dari permukaan air laut?

h = (Pu-Ph) x 100
h = (76-45 x 100) = 31 x 100 = 3100 m di atas permukaan laut.


Alat Ukur Tekanan Udara

alat ukur tekanan udara barometer raksa

Tekanan udara merupakan besaran turunan yang dapat diukur dengan alat ukur yang dinamakan barometer yang berasal dari bahasa yunani baros = berat dan metron = udara. Barometer ada beberapa jenis seperti barometer. Alat yang ditemukan oleh Ilmuwan asal Irlandia (Robert Boyle) ini memiliki beberapa jenis seperti barometer air raksa, barometer air, barometer aneroid, dan beberapa jenis barometer lainnya. Pada umumnya dunia menggunakan hektopascal untuk menyatakan nilai tekanan udara. Akan tetapi sobat hitung mungkin masih ada yang menjumpai satuan cmHg pada barometer tua dengan konversi satuan 1 cmHg = 1,103 x 105 Pa = 1 x 1,013 x 103 hektopascal. Penggunaan hektopascal sebagai pengganti milibar. Hektopascal adalah satuan pengukuran langsung dari tekanan udara (gaya/luas alas) seperti halnya newton/cm persegi tetapi dalam satuan metrik. 1 Hektopascal = 100 Pascal sedangkan 1 bar = 100.000 newton/m2 = 100.000 Pa.


 

 

 

MENGAPA LANGIT MALAM TERLIHAT GELAP ?

0

Kita tahu, ruang angkasa berisi milyaran bintang dan galaksi,- katakanlah rata-rata semua bintang kira-kira seterang matahari (sebenarnya ada yg lebih terang dan ada yang lebih redup), dan di langit yang luas, titik manapun yang anda pilih untuk dipandang, maka seharusnya pandangan anda akan bertemu dengan sebuah bintang atau galaksi. Jadi, langit seharusnya terang, siang ataupun malam! Dan karena kenyataannya tidak seperti itu, apakah kegelapan langit itu berarti ada ruang dimana bintang dan galaksi.. sama sekali tidak ada? Sebuah perbatasan antara ada dan ketiadaan? Atau “tepi” ruang angkasa?

Tidak tepat begitu- semua bukti sepertinya menunjukan bahwa ruang angkasa tidak bertepi. Tetapi alam semesta kita berhingga (dalam dua dimensi ini analog dg kulit bola yang tiada tepi namun berhingga). Alam semesta berhingga dalam ruang-waktu: alam semesta mempunyai awal. Setidaknya sekitar 13.7 milyar tahun yang lalu, ketika alam semesta sangatlah kecil dan terbelut dengan dirinya, dimana pengertian kita tentang ruang dan waktu pun menjadi kabur. Dan karena waktu telah berjalan sejak “awal semesta”, ini berarti bahwa bintang yang diperlukan untuk mengisi “cahaya disegala arah” sangatlah jauh, sehingga cahaya mereka belum memiliki cukup waktu untuk mencapai kita…

Jika alam semesta adalah badai, maka saat ini kita sedang menunggu untuk mendengar suara petir dari bintang-bintang yang sangat jauh. Luarbiasanya lagi – karena cahaya membutuhkan waktu untuk melintasi ruang, ketika kita mengarahkan teleskop pada objek yang sangat jauh, kita sebenarnya melihat bagian alam semesta ketika cahaya sedang dipancarkan. Jadi, ketika kita melihat cahaya yang berusia 13.5 milyar tahun, bukan berarti kita tidak bisa melihat bintang karena sinar mereka belum mencapai kita, tetapi kita tidak bisa melihat bintang karena kita sedang melihat awal alam semesta sebelum bintang-bintang terbentuk! alam semesta tanpa bintang! Sekarang, itu terdengar seperti alasan yang bagus mengapa kita melihat langit itu gelap.

Meskipun kita bisa mencari tempat di angkasa yang tidak ada bintang dengan melihat jauh kedalam waktu. Tetapi ketika kita mengarahkan teleskop kita kesana, kita tetap melihat cahaya. Bukan cahaya bintang, tetapi cahaya yang tersisa dari ledakan dashyat (Big Bang). Dan kita menemukan “radiasi latar belakang kosmik” yang dipancarkan kurang lebih dari segala arah, membuat latar belakang untuk para bintang. Jadi, sebenarnya langit TIDAK benar-benar gelap di saat-saat awalnya.

Tapi mengapa teleskop kita berkata bahwa langit tidak gelap, sedangkan kita melihat langit gelap? Inilah sebuah petunjuk untuk jawaban sebenarnya: ketika teleskop Hubble memotret bintang dari wilayah ekstrim Hubble yang sangat indah, ia mengambil gambarnya dengan kamera infrmerah. Mengapa? Bintang dan galaksi yang jauh terus menjauh dari kita karena semesta terus membesar  dan mengembang. Ini analog dengan ketika sebuah piringan hitam melambat, dan menurunkan nada suara. Efek Doppler menyebabkan bintang yang menjauh dari kita terlihat merah, dan semakin jauh bintangnya, semakin cepat mereka menjauh maka akan semakin merah mereka menjadi, sampai mereka menjadi… inframerah. Saat itu, kita tidak bisa melihat mereka lagi. setidaknya dengan mata telanjang- dan itulah mengapa langit malam terlihat gelap!

BENCANA ALAM – MITIGASI BENCANA

0

BENCANA ALAM

Macam-macam Bencana Alam

Definisi bencana yang dikeluarkan oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia atau keduanya yang mengakibatkan korban manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana, dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Bencana alam adalah salah satu faktor yang bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup. Bencana alam bila dilihat dari penyebabnya, dapat dibedakan sedikitnya menjadi tiga jenis, yaitu geologis, klimatologis, dan ekstra-terestial. Berikut adalah macam-macam bencana alam yang terjadi di Indonesia, diantaranya :

  • Tsunami
  • Banjir
  • Kebakaran
  • Longsor
  • Gunung Berapi
  • Kekeringan
  • Abrasi

Sebab-sebab Terjadinya Bencana Alam

Begitu banyak bencana yang terjadi di Indonesia, dan ditinjau dari sudut penyebab terjadinya semua bencana tersebut secara umum terbagi menjadi dua yaitu, akibat ulah manusia dan alam itu sendiri.

Perhatikan tabel berikut !

Penyebab Bencana Bencana yang ditimbulkan Disebabkan oleh …
Manusia Banjir Membuang sampah sembarangan,

Penebangan hutan,

Membangun pemukiman di daerah resapan air,

Pembakaran hutan

  Longsor Penambangan, Penebangan hutan,
  Abrasi Penambangan
     
Alam Tsunami Adanya gangguan impulsif terhadap air laut yang disebabkan oleh adanya gempa bumi, landslide (longsor) yang terjadi di dalam laut
  Banjir Hujan terus menerus
  Kekeringan Musim kemarau berkepanjangan
  Longsor Rusaknya hutan sebagai penyangga
  Gunung Meletus Endapan magma yang berada di dalam perut bumi di dorong oleh gas yang bertekanan tinggi
  Kebakaran Terjadinya gesekan antar batang pohon yang kering
  Abrasi Angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai

Impulsif = tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu

Abrasi = proses pengikisan laut oleh gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak


Upaya-upaya Penanggulangan Bencana Alam

  • Mitigasi

Mitigasi dapat juga diartikan sebagai penjinak bencana alam, dan pada prinsipnya mitigasi adalah usaha-usaha baik bersifat persiapan fisik, maupun non-fisik dalam menghadapi bencana alam. Persiapan fisik dapat berupa penataan ruang kawasan bencana dan kode bangunan, sedangkan persiapan non-fisik dapat berupa pendidikan tentang bencana alam.

  • Menempatkan Korban di Suatu Tempat yang Aman

Menempatkan korban di suatu tempat yang aman adalah hal yang mutlak diperlukan. Sesuai dengan deklarasi Hyogo yang ditetapkan pada Konferensi Dunia tentang Pengurangan Bencana, di Kobe, Jepang, pertengahan Januari 2005 yang lalu. Berbunyi : “Negara-negara mempunyai tanggung jawab utama untuk melindungi orang-orang dan harta benda yang berada dalam wilayah kewenangan dan dari ancaman dengan memberikan prioritas yang tinggi kepada pengurangan resiko bencana dalam kebijakan nasional, sesuai dengan kemampuan mereka dan sumber daya yang tersedia kepada mereka”.

  • Membentuk Tim Penanggulangan Bencana
  • Memberikan Penyuluhan-penyuluhan
  • Merelokasi Korban Secara Bertahap

Akibat kompleknya permasalahan pascabencana, maka dibuatlah panduan internasional mengenai prinsip-prinsip perlindungan pengungsi. Sebagai contoh, misalnya pasal 18 ayat (2) , Pasal 23 dinyatakan setiap manusia memiliki hak atas pendidikan ayat (1) dan pada ayat (2) dan masih banyak lagi pasal lain yang menekankan perlunya ditindaklanjuti pemberian perlindungan terhadap para pengungsi, baik yang disebabkan oleh bencana alam atau ulah manusia, termasuk konflik bersenjata atau perang.

MITIGASI BENCANA ALAM – ADAPTASI BENCANA

2

Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, mengatakan bahwa pengertian mitigasi dapat didefinisikan. Pengertian mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Berdasarkan siklus waktunya, penanganan bencana terdiri atas 4 tahapan sebagai berikut…  

Tahap-Tahap Penanganan Bencana 
 
  • Mitigasi merupakan tahap awal penanggulangan bencana alam untuk mengurangi dan memperkecil dampak bencana. Mitigasi adalah kegiatan sebelum bencana terjadi. Contoh kegiatannya antara lain membuat peta wilayah rawan bencana, pembuatan bangunan tahan gempa, penanaman pohon bakau, penghijauan hutan, serta memberikan penyuluhan dan meningkatkan kesadaran masyarakat yang tinggal di  wilayah rawan gempa
  • Kesiapsiagaan merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian bencana. Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan bencana lain yang mungkin akan terjadi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum yang meliputi upaya mengurangi tingkat risiko, pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, serta pelatihan warga di wilayah rawan bencana. 
  • Respons merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan bencana. Tahap ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana. Rencana penanggulangan bencana dilaksanakan dengan fokus pada upaya pertolongan korban bencana dan antisipasi kerusakan yang terjadi akibat bencana. 
  • Pemulihan merupakan upaya mengembalikan kondisi masyarakat seperti semula. Pada tahap ini, fokus diarahkan pada penyediaan tempat tinggal sementara bagi korban serta membangun kembali saran dan prasarana yang rusak. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap langkah penanggulangan bencana yang dilakukan. 
Pengertian Mitigasi dan Penjelasannya

DEFINISI – MITIGASI

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). 

Bencana sendiri adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non

alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan

lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat berupa kebakaran, tsunami,gempa bumi, letusan gunung api, banjir, longsor, badai tropis, dan lainnya. 

 Kegiatan mitigasi bencana di antaranya :

  1. pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
  2. perencanaan partisipatif penanggulangan bencana; pengembangan budaya sadar bencana;
  3. penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan bencana;
  4. identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana;
  5. pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam;
  6. pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi;
  7. pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
  8. kegiatan mitigasi bencana lainnya. 

Robot sebagai perangkat bantu manusia, dapat dikembangkan untuk turut melakukan mitigasi bencana. Robot mitigasi bencana bekerja untuk mengurangi resiko terjadinya bencana.

Contoh robot mitigasi bencana diantaranya :

  1.  robot pencegah kebakaran
  2.  robot pendeteksi tsunami
  3.  robot patroli/pemantau rumah atau gedung
  4.  robot pemantau gunung api
  5.  robot penghijauan
  6.  robot pembersih sungai
  7.  robot assistant untuk penyuluhan bencana
  8.  robot mitigasi bencana lainnya

Berdasarkan siklus waktunya, kegiatan penanganan bencana dapat dibagi 4 kategori :

  1.  kegiatan sebelum bencana terjadi (mitigasi)
  2.  kegiatan saat bencana terjadi (perlindungan dan evakuasi)
  3.  kegiatan tepat setelah bencana terjadi (pencarian dan penyelamatan)
  4.  kegiatan pasca bencana (pemulihan/penyembuhan dan perbaikan/rehabilitasi)

Mitigasi merupakan tahap penanggulangan bencana alam yg pertama. Mitigasi bencana merupakan langkah yg sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen dampak bencana.

Mitigasi adalah segala upaya yg dilakukan untuk mengurangi dan memperkecil dampak bencana alam.

Mitigasi meliputi beberapa kegiatan, diantaranya :

– menerbitkan peta wilayah rawan bencana.

 

– memasang rambu-rambu peringatan bahaya dan larangan di wilayah rawan bencana

 

– mengembangkan SDA satuan pelaksana

– mengadakan pelatihan penanggulangan bencana kepada warga di wilayah rawan bencana

– mengadakan penyuluhan atas upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat di wilayah rawan bencana

– menyiapkan tempat penampungan sementara di jalur-jalur evakuasi jiga bencana terjadi

– memindahkan masyarakat yg tinggal di wilayah bencana ke tempat yg aman


PENGERTIAN ADAPTASI BENCANA

Adaptasi yaitu upaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan melakukan perubahan yang mengarah pada peningkatan daya tahan dan daya lenting terhadap perubahan misalnya adaptasi fisiologis mangrove yang tumbuh di daerah bersalinitas tinggi dan tergenang pasang surut laut. Bencana alam dapat berupa dan berasal apa saja. Saat ini, bencana terbesar adalah semakin meningkatnya pemanasan global yang menyebabkan bencana alam. Adaptasi guna mengantisipasi efek bencana perlu dilakukan di berbagai bidang untuk meminimalisir akibat negative bencana tersebut.

Berikut merupakan adaptasi yang perlu diperhatikan dalam aspek-aspek yang menunjang

kehidupan manusia :

  1. Adaptasi dalam pertanian

Para petani harus mempersiapkan varietas tanaman yang paling cocok ditanami saat musim hujan, kemarau, dan bahkan varietas yang mampu hidup di iklim yang ekstrim. Selain itu, upaya meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan organik harus dilakukan agar tanah mampu menahan air. Pengelolaan sumber air yang baik seperti, investasi untuk irigasi, drainse, penampungan, dan penyimpanan air dapat dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan sumber air di waktu musim kemarau. Serta, pemberitahuan rutin mengenai keadaan cuaca penting untuk mempersiapkan jenis tanaman yang akan ditanam.

  1. Adaptasi ketersediaan air

Pengelolaan sumber air terpadu perlu dilakukan sedini mungkin untuk melestarikan ekosistem dan perbaikan infrastruktur pendukung seperti waduk perlu dilakukan.

  1. Adaptasi kesehatan

Penambahan unit dan fasilitas kesehatan harus dilakukan untuk mengantisipasi masalah kesehatan yang timbul akibat adanya bencana. Selain itu, iklim yang semakin tak tentu menyebabkan penyebaran nyamuk ke wilayah-wilayah baru. Sehingga, diperlukan pengawas kesehatan yang handal untuk memonitor penyebaran penyakit seperti malaria, dan demam berdarah dengue (DBD).

  1. Adaptasi wilayah perkotaan

Strategi antisipasi bencana banjir di wilayah perkotaan perlu ditingkatkan. Menambah area penghijauan di perkotaan akan membantu dalam penyerapan air hujan. Penyerapan akan meningkat jika area penghijauan dilengkapi dengan biopori dan pohon yang mampu menyerap air tinggi.

KEBAKARAN HUTAN

0

Causes of Forest Fires

Replanting our majestic national forest

Wildfires can be ignited by a variety of occurrences. In addition to lightning, human-related activities start a large number of fires every year. Unattended or out-of-control campfires, a discarded burning cigarette, arson, or even equipment use can set off a blaze.

Once a forest fire has started, many factors contribute to its spread and intensity.

  • Fuel – such as leaves, needles, grass, branches, and logs
  • Weather, including temperature, humidity, precipitation, and wind
  • Topography, or landscape of the area, as steep slopes offer greater potential for increased fire intensity and more obstacles for fire fighting.

More than 83% of forest fires in 2006 were started by human activities, accounting for the burning of nearly 4.4 million acres. However, lightning-caused fires burned more total area – nearly 5.5 million acres. *

* Source: National Interagency Fire Center