Surat Richard Dawkins Kepada Putrinya

0

Juliet Tersayang,

Sekarang kamu berumur sepuluh tahun, ayah ingin menuliskan kepadamu sesuatu yang penting bagi ayah. Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana kita mengetahui hal-hal yang kita ketahui? Bagaimana kita mengetahui, misalnya, bahwa bintang-bintang, yang tampak seperti peniti-peniti kecil di langit, sebenarnya adalah bola-bola api besar seperti matahari dan sangat jauh disana? Dan bagaimana kita mengetahui bahwa Bumi adalah bola yang lebih kecil yang berputar mengelilingi salah satu bintang, yaitu matahari?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah “pembuktian”. Kadangkala pembuktian berarti benar-benar melihat (atau mendengar, merasakan, membaui,…) bahwa sesuatu itu benar adanya. Para astronot telah menempuh perjalanan cukup jauh dari bumi untuk melihat dengan mata mereka sendiri bahwa bumi itu bulat. Terkadang mata kita perlu dibantu. “Bintang kejora” tampak bagai sebuah kerlip terang di angkasa, namun dengan sebuah teleskop, kamu dapat melihat bahwa sebenarnya ia adalah sebuah bola indah – planet yang kita sebut Venus. Sesuatu yang kamu pelajari dengan melihat (atau mendengar atau merasakan…) secara langsung, disebut sebagai observasi (pengamatan).

Seringkali, bukti bukan hanya dari sebuah observasi, namun observasi selalu ada dibelakang sebuah bukti. Jika terjadi sebuah pembunuhan, seringkali tak seorangpun (kecuali si pembunuh dan korbannya!) yang benar-benar mengamatinya. Tetapi para detektif dapat mengumpulkan banyak hal atau berbagai pengamatan lain yang dapat membawa semua petunjuk ke arah kecurigaan tertentu. Jika sidik jari seseorang cocok dengan yang ditemukan pada sebiah belati, maka ini adalah bukti bahwa ia telah menyentuhnya. Hal itu tidak membuktikan bahwa orang itu melakukan pembunuhan, namun pembuktian ini dapat membantu ketika digabungkan dengan berbagai bukti lainnya. Terkadang seorang detektif dapat berpikir mengenai seluruh kesatuan observasi dan tiba-tiba menyadari bahwa mereka semua itu berada pada satu tempat dan masuk akal jika begini-dan-begitu terjadi pembunuhan.

Para ilmuwan – para ahli dalam menemukan kebenaran tentang dunia dan alam semesta – seringkali bekerja selayaknya para detektif. Mereka membuat perkiraan (yang disebut sebagai hipotesis) mengenai apa yang mungkin benar. Kemudian mereka berkata kepada diri sendiri: Jika hipotesis itu sungguh benar adanya, kita seharusnya melihat ini-dan-itu. Ini disebut sebagai prediksi. Contohnya, jika bumi sungguh bulat, kita dapat memperkirakan bahwa seorang petualang, yang terus berjalan pada arah yang sama, seharusnya pada saatnya akan kembali pada titik dimana ia memulai perjalanannya.

Ketika seorang dokter mengatakan bahwa kamu sakit campak, ia bukannya memeriksamu sekali lalu melihat campak. Pemeriksaan pertamanya memberikan hipotesis bahwa kamu mungkin sakit campak. Kemudian ia berkata kepada diri sendiri: Jika dia benar sakit campak maka seharusnya aku menemukan… Lalu ia mengambil daftar prediksinya dan menguji dengan matanya (apakah kulitmua berbintik-bintik?); tangannya (apakah keningmu panas?); dan telinganya (apakah nafasmu temah?). Barulah kemudian ia membuat keputusan dan berkata, “Aku mendiagnosa anak ini terkena campak.” Kadang-kadang para dokter perlu melakukan tes lain seperti tes darah atau x-ray, yang membantu mata, tangan dan telinganya untuk membuat pengamatan.

Cara para ilmuwan menggunakan pembuktian untuk mempelajari dunia, jauh lebih cerdas dan lebih rumit daripada apa yang dapat kukatakan dalam sebuah surat pendek. Tapi sekarang aku akan meniggalkan pembahasan mengenai pembuktian, yang merupakan alasan baik untuk memercayai sesuatu, dan memperingatkanmu akan tiga alasan yang buruk untuk percaya akan apapun. Yakni yang disebut “tradisi,” “wewenang,” dan “pewahyuan”.

Pertama, yaitu tradisi. Beberapa bulan yang lalu, aku ada di televisi berdiskusi dengan sekitar limapuluh anak-anak. Anak-anak ini diundang karena mereka taat dalam banyak agama. Sebagian taat sebagai orang Kristen, sebagian lain sebagai Yahudi, Muslim, Hindu, atau Sikhs. Pria dengan mikrofon berjalan dari satu anak ke anak yang lain, menanyai mereka apa yang mereka percayai.

Jawaban yang muncul dari anak-anak itu tepat apa yang kusebut sebagai “tradisi”. Apa yang mereka percayai menjadi tidak berhubungan dengan pembuktian. Mereka hanya menyuarakan kepercayaan orangtua dan leluhur mereka yang, pada gilirannya, juga tidak didasarkan pada bukti apapun. Mereka mengatakan hal-hal seperti: “Kami para Hindu percaya ini dan ini”; “Kami para Muslim percaya itu dan itu”; “Kami para Kristen percaya sesuatu yang lain.”

Tentu saja, karena mereka semua percaya hal-hal yang berbeda, tidak mungkin semuanya benar. Pria dengan mikrofon tampak berpikir bahwa ini cukup benar dan pantas, dan ia bahkan tidak berusaha membuat mereka memperdebatkan perbedaan satu sama lain.

Namun itulah poin yang ingin kubuat pada saat itu. Aku hanya ingin menanyakan dari mana datangnya kepercayaan-kepercayaan mereka. Datangnya dari tradisi. Tradisi berarti kepercayaan yang diturunkan dari buyut kepada orangtua kepada anak, dan seterusnya. Atau dari buku-buku yang diwariskan selama berabad-abad. Kepercayaan tradisional bermula hampir dari kehampaan; mungkin sebenernya seseorang hanya membuat cerita, seperti cerita tentang Thor dan Zeus. Namun setelah cerita itu diwariskan selama beberapa abad, hanya fakta bahwa cerita-cerita itu sangat kuno yang membuat tampak istimewa. Orang-orang percaya berbagai hal hanya karena hal-hal yang sama telah dipercayai selama berabad-abad sebelumnya. Itulah tradisi.

Masalahnya, tradisi itu, seberapa jauhpun selang waktu dari pembuatan sebuah cerita, cerita itu tetap tepat seperti aslinya, benar maupun salah. Jika kamu membuat cerita yang tidak benar, mewarisinya selama berabad-abad tidak akan membuatnya lebih benar!

Kebanyakan orang di Inggris telah dibaptis dalam Gereja Inggris, namun ini bukan satu-satunya cabang agama Kristen. Masih ada cabang-cabang lainnya seperti Orthodok Rusia, Katolik Roma, dan gereja-gereja Metodis. Kesemuanya percaya akan hal-hal yang berbeda. Agama Yahudi dan agama Muslim sedikit lebih berbeda; dan terdapat beberapa jenis Yahudi dan Muslim yang berbeda. Mereka yang percaya bahkan hanya sedikit perbedaan diantara mereka, berperang atas segala ketidaksepakatan itu. Jadi kamu mungkin berpikir mereka pastilah memiliki sejumlah alasan yang baik – bukti – untuk memercayai apa yang mereka yakini. Tapi pada kenyataannya, kepercayaan-kepercayaan mereka yang berbeda itu seluruhnya hanya karena tradisi-tradisi yang berbeda.

Mari berbicara tentang satu tradisi yang spesifik. Katolik Roma percaya bahwa Maria, ibu dari Yesus, sangat istimewa sehingga ia tidak wafat melainkan seluruh tubuhnya naik ke Surga. Tradisi-tradisi Kristen yang lain tidak setuju, mengatakan bahwa Maria wafat seperti orang-orang lainnya. Agama-agama yang lainnya ini tidak bicara banyak mengenai Maria dan, tidak seperti Katolik Roma, mereka tidak menyebutnya “Ratu Surga.” Tradisi bahwa tubuh Maria naik ke Surga bukan tradisi kuno. Alkitab tidak menuliskan apapun mengenai bagaimana ia wafat; bahkan sebenarnya, wanita malang itu jarang disebutkan dalam Alkitab. Kepercayaan bahwa tubuhnya terangkat ke Surga tidak ditemukan sampai sekitar enam abad setelah masa-masa Yesus. Mulanya, cerita itu hanya dibuat-buat, dalam cara yang sama seperti cerita “Putri Salju” dibuat. Namun, setelah berabad-abad, berkembang menjadi sebuah tradisi dan orang-orang mulai menanggapinya serius hanya karena cerita tersebut telah diwarisi dalam banyak generasi. Semakin tua tradisi, semakin dianggap serius oleh masyarakat. Pada akhirnya kisah itu dituliskan dan Katolik Roma secara resmi memercayainya baru-baru ini saja, pada tahun 1950, ketika aku masih seusiamu sekarang. Namun kisah itu tidak lebih benar pada tahun 1950 daripada ketika pertama kali dibuat enam ratus tahun setelah wafatnya Maria.

Aku akan kembali membicarakan tradisi pada akhir suratku, dan melihatnya dengan cara yang lain. Tapi pertama-tama, aku harus menguraikan dua alasan buruk lainnya jika percaya akan segalanya: otoritas dan pewahyuan.

Otoritas, sebagai sebuah alasan untuk memercayai sesuatu, berarti percaya akan suatu hal karena kamu disuruh untuk memercayainya oleh seseorang yang penting. Dalam Gereja Katolik Roma, paus adalah orang yang paling penting, dan orang-orang percaya ia pasti benar hanya karena ia adalah paus. Dalam satu cabang agama Muslim, orang-orang pentingnya adalah pria-pria tua berjenggot yang disebut para ayatollah. Banyak Muslim di negara ini yang bersiap-siap untuk melakukan pembunuhan, semata-mata karena para ayatollah di negeri yang nun jauh disana menyuruh mereka untuk melakukannya.

Ketika kukatakan bahwa baru pada tahun 1950 Katolik Roma pada akhirnya mereka harus percaya bahwa tubuh Maria terangkat ke Surga, yang kumaksud adalah bahwa di tahun 1950, paus memberitahukan kepada orang-orang bahwa mereka harus percaya. Hanya itu. Paus mengatakan bahwa kisah itu adalah benar, maka pastilah memang benar! Sekarang, mungkin sebagian yang dikatakan paus semasa hidupnya adalah benar, dan sebagian tidak benar. Tidak ada alasan yang baik, hanya karena dialah pausnya, kamu harus percaya segala yang dikatakannya lebih daripada kamu percaya segala yang dikatakan orang-orang lain. Paus yang sekarang (1995) telah memerintahkan para pengikutnya untuk tidak membatasi jumlah anak yang dimiliki. Jika orang-orang mengikuti otoritas ini mentah-mentah seperti yang diharapkannya, hasilnya bisa jadi kelaparan parah, penyakit, dan perang, yang disebabkan oleh populasi berlebihan.

Tentu saja, bahkan dalam sains, terkadang kita belum melihat bukti dengan mata-kepala sendiri dan kita harus mengambil kata-kata orang lain. Aku belum pernah, dengan mataku sendiri, melihat bukti bahwa cahaya melesat pada kecepatan 186,000 mil per detik. Mahalan, aku memercayai buku-buku yang menuliskan tentang kecepatan cahaya. Ini tampak seperti “otoritas.” Namun sebenarnya, hal ini jauh lebih baik daripada otoritas, karena orang-orang yang menulis buku-buku ini telah melihat buktinya dan siapapun bebas untuk melihat bukti itu dengan seksama kapanpun mereka mau. Sangat menghibur. Namun tidak ada siapapun bahkan para pendeta yang menyatakan adanya bukti akan cerita mereka bahwa tubuh Maria terangkat ke Surga.

Jenis ketiga dari alasan buruk untuk memercayai segalanya disebut “pewahyuan.” Jika kamu menanyakan paus di tahun 1950 bagaimana ia tahu bahwa tubuh Maria menghilang ke Surga, ia mungkin akan berkata bahwa hal itu “diwahyukan” kepadanya. Ia mengunci diri dalam kamarnya dan berdoa untuk bimbingan. Ia berpikir dan berpikir, sendiri, dan ia menjadi semakin yakin didalam hatinya. Ketika orang-orang religius memiliki perasaan dalam dirinya bahwa sesuatu pasti benar, meskipun tiada bukti akan kebenarannya, mereka menyebut perasaan itu sebagai “pewahyuan.” Bukan hanya para paus yang mengklaim mendapat wahyu. Banyak orang religius mengklaim hal yang sama. Itu adalah salah satu alasan utama mereka untuk memercayai hal-hal yang mereka yakini. Namun apakah itu adalah alasan yang baik?

Andaikan aku mengatakan padamu bahwa anjingmu mati. Kau akan sangat marah, dan mungkin mengatakan, “Ayah yakin? Bagaimana ayah tahu? Bagaimana terjadinya?” Sekarang jika aku menjawab: “Sebenarnya aku tidak tahu bahwa Pepe mati. Aku tidak punya bukti. Aku hanya punya perasaan lucu didalam diriku bahwa ia mati.” Kau akan mengira aku menakut-nakutimu, karena kau pasti tahu bahwa sebuah “perasaan” didalam diri seseorang bukanlah sebuah alasan yang baik untuk percaya bahwa seekor whippet temah mati. Kau butuh bukti. Kita semua memiliki perasaan dari waktu ke waktu, kadangkala perasaan-perasaan itu ternyata benar dan kadangkala tidak. Bagaimanapun, perasaan pada orang-orang saling bertentangan, jadi bagaimana kita menentukan perasaan siapa yang benar? Satu-satunya cara untuk yakin bahwa seekor anjing telah mati adalah dengan melihatnya mati, atau mendengar jantungnya telah berhenti; atau diberitahukan oleh seseorang yang telah melihat atau mendengar bukti nyata bahwa anjing itu mati.

Terkadang orang-orang mengatakan bahwa kamu harus percaya akan perasaan jauh di dalam diri, jika tidak, kau tidak akan pernah percaya diri akan hal-hal seperti “Isteriku mencintaiku.” Namun ini adalah penjelasan yang buruk. Ada banyak bukti bahwa seseorang mencintaimu, kamu melihat dan mendengar banyak bukti-bukti kecil, an terus bertambah. Bukan sekedar perasaan, seperti yang oleh para pendeta disebut sebagai pewahyuan. Ada hal-hal diluar diri yang mendukung perasaan didalam diri: pandangan mata, nada halus dalam suara, bantuan dan kebaikan-kebaikan kecil; semua ini adalah bukti nyata. Kadang-kadang orang memiliki sebuah perasaan kuat di dalam bahwa seseorang mencintai mereka tanpa berdasarkan pada bukti apapun, dan kemudian mereka sepertinya salah total.

Ada orang-orang yang memiliki perasaan kuat bahwa seorang bintang film terkenal mencintai mereka, padahal sebenarnya bintang film itu bahkan belum pernah bertemu dengan mereka. Orang-orang itu sakit dalam pikirannya. Perasaan harus didukung oleh bukti-bukti, jika tidak kamu tidak boleh langsung percaya.

Perasaan juga berharga dalam sains, namun hanya untuk memberimu gagasan-gagasan yang kemudian kau uji untuk mendapatkan bukti. Seorang ilmuwan dapat memiliki sebuah “firasat” mengenai sebuah gagasan yang “terasa” benar. Dalam dirinya sendiri, ini bukan sebuah alasan baik untuk percaya akan sesuatu. Namun dapat menjadi alasan yang baik untuk untuk menghabiskan waktu melakukan sebuah eksperimen tertentu, atau mencari bukti dalam suatu arah tertentu. Para ilmuwan menggunakan perasaan-perasaan di dalam dirinya setiap waktu untuk mendapatkan gagasan-gagasan. Namun semua perasaan itu tidak berarti apapun sampai didukung oleh bukti.
Aku telah berjanji bahwa aku akan kembali pada pembahasan tradisi, dan melihatnya dalam cara lain. Aku ingin mencoba menjelaskan mengapa tradisi sangat penting bagi kita. Semua binatang terbentuk (oleh proses yang disebut evolusi) untuk bertahan dalam tempat yang normal dimana jenis mereka hidup. Singa terbentuk untuk dapat bertahan pada dataran Afrika. Udang Karang dapat bertahan hidup di air tawar, dimana lobster terbentuk untuk hidup di air laut yang asin. Manusia adalah binatang, juga, dan kita terbentuk untuk dapat bertahan dalam dunia yang penuh dengan… manusia lainnya. Sebagian besar dari kita tidak berburu untuk mendapatkan makanan kita sendiri seperti singa atau lobster; kita membelinya dari manusia lain yang telah membelinya dari orang lain lagi. Kita berenang mengarungi “lautan manusia.” Seperti halnya ikan membutuhkan insang untuk bertahan dalam air, manusia membutuhkan otak yang membuat mereka mampu menghadapi manusia lainnya. Seperti halnya lautan yang penuh dengan air garam, lautan manusia penuh dengan hal-hal rumit untuk dipelajari. Seperti bahasa.

Kau berbicara bahasa Inggris, tapi temanmu Ann-Kathrin berbicara bahasa Jerman. Masing-masing dari kalian berbicara bahasa yang memudahkanmu “berenang” dalam “lautan manusia” kalian yang terpisah. Bahasa diwariskan melalui tradisi. Tidak ada cara lain. Di Inggris, Pepe adalah seekor anjing. Di Jerman ia adalah Ein Hund. Tidak ada diantara sebutan ini yang lebih tepat, ataupun lebih benar dari yang lainnya. Keduanya hanya diwariskan. Agar dapat “berenang mengarungi lautan manusia mereka” dengan baik, anak-anak harus belajar bahasa negara mereka sendiri, dan banyak hal lainnya tentang masyarakat mereka sendiri; dan ini berarti bahwa mereka harus menyerap, seperti keras hisap, informasi tradisional dalam jumlah yang sangat besar. (Ingat bahwa informasi tradisional hanya berarti hal-hal yang diwariskan dari para buyut kepada orangtu kepada anak-anak) Otak anak-anak harus menjadi penyerap untuk informasi tradisional. Dan anak-anak tidak dapat diharapkan untuk memilah informasi tradisional yang baik dan berguna, misalnya kata-kata dalam sebuah bahasa, dari indormasi tradisional yang buruk atau bodoh, seperti percaya akan penyihir dan setan dan para perawan yang abadi.

Sangat disayangkan, namun tidak dapat dihindarkan untuk terjadi demikian, karena anak-anak harus menjadi penyerap akan informasi tradisional, mereka mudah percaya apapun yang dikatan oleh orang dewasa kepada mereka, baik yang sungguhan ataupun palsu, benar ataupun salah.

Banyak yang dikatakan oleh orang dewasa kepada mereka adalah benar dan berdasarkan pada pembuktian, atau setidaknya masuk akal. Namun jika sebagiannya adalah palsu, konyol, atau bahkan jahat, tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegah anak-anak memercayainya juga. Nah, ketika anak-anak tumbuh dewasa, apa yang mereka lakukan? Yah, tentu saja, mereka mengatakannya kepada anak-anak generasi berikutnya. Jadi, sekali sesuatu dipercayai secara kuat – bahkan kalaupun hal itu sepenuhnya tidak benar dan tidak pernah ada alasan untuk memercayainya pada sejak awal – hal itu dapat berlangsung selamanya.

Mungkinkah ini yang telah terjadi dalam hal agama? Kepercayaan akan adanya tuhan atau dewa, kepercayaan akan Surga, kepercayaan bahwa Maria tidak pernah wafat, kepercayaan bahwa Yesus tidak pernah memiliki ayah seorang manusia, kepercayaan bahwa doa-doa dijawab, kepercayaan bahwa anggur berubah menjadi darah – tidak satupun kepercayaan ini yang didukung oleh bukti yang bagus. Namun tetap saja jutaan orang memercayainya. Mungkin ini dikarenakan mereka disuruh untuk percaya pada usia yang cukup muda untuk percaya akan apapun.

Jutaan orang lain percaya akan hal-hal yang agak berbeda, karena mereka diajarkan hal-hal yang berbeda semasa kecilnya. Anak-anak Muslin diajarkan hal-hal yang berbeda dari yang diajarkan kepada anak-anak Kristen, dan mereka semua tumbuh dewasa dengan sepenuhnya yakin bahwa mereka benar sedangkan yang lainnya salah. Bahkan diantara para penganut Kristen, hal-hal yang diyakini oleh Katolik Roma berbeda dengan Gereja Inggris atau Episcopalians, Shakers or Quakers , Mormons or Holy Rollers, dan kesemuanya itu sepenuhnya yakin bahwa keyakinan merekalah yang benar dan yang lain keliru.

Mereka percaya akan berbagai hal yang berbeda untuk jenis hal yang sama persis seperti kamu berbicara bahasa Inggris dan Ann-Kathrin berbicara bahasa Jerman. Kedua bahasa itu, di negara mereka sendiri, adalah bahasa yang benar untuk digunakan. Namun tidak mungkin bahwa agama-agama yang berbeda dianggap benar di negaranya sendiri, karena satu sama lain mengklaim kebenaran atas hal-hal yang berbeda. Maria bisa saja hidup dalam keyakinan Katolik Irlandia Selatan, namun Protestan Irlandia Utara percaya ia wafat.

Apa yang dapat kita lakukan sehubungan dengan semua ini? Tidak mudah bagimu untuk melakukan apapun, karena kamu baru sepuluh tahun. Namun kau dapat mencoba ini. Lain kali jika seseorang mengatakan padamu sesuatu yang sepertinya penting, berpikirlah sendiri: “Apakah ini sejenis hal yang mungkin diketahui oleh orang-orang karena adanya bukti? Ataukah hal yang dipercayai oleh mereka hanya karena tradisi, otoritas, atau perwahyuan?” Dan, lain kali jika ada yang mengatakan padamu bahwa suatu hal adalah benar, kenapa tidak kau katakan pada mereka: “Bukti seperti apa yang ada?” Dan jika mereka tidak dapat memberimu jawaban yang baik, kuharap kau pikirkan dengan sangat berhati-hati sebelum kau percaya setiap kata yang mereka ucapkan.

Yang Tersayang,
Ayah

NEIL DEGRESSE TYSON – MAJALAH HISTORY

0

Oleh Neil deGrasse Tyson
Dari Majalah Natural History, Maret 2001
________________________________________
Berbekal dengan panca indera, manusia menjelajahi alam semesta disekitarnya dan menamakan petualangan tersebut dengan ilmu pengetahuan.
— Edwin P. Hubble 1948

Mata kita adalah alat pendeteksi khusus. Mata membuat kita dapat menerima informasi tidak hanya dari ruangan di sebelah kita tetapi juga dari alam semesta. Tanpa penglihatan, ilmu astronomi tidak akan lahir dan kemampuan kita untuk mengukur tempat kita di alam semesta ini akan terhalang. Bayangkan kelelawar. Apapun rahasia kelelawar yang turun dari satu generasi ke generasi berikutnya, anda dapat bertaruh bahwa tidak ada diantaranya yang berdasarkan dari bentuk langit di malam hari.

Bila digunakan sebagai alat untuk bereksperimen, kumpulan indera kita menikmati ketajaman yang menakjubkan dan sejumlah kepekaan. Telinga kita tidak hanya dapat mendengarkan kerasnya suara pesawat luar angkasa yang lepas landas, tapi juga dapat mendengar suara nyamuk berputar di sekitar kepala kita. Rasa sentuh kita dapat merasakan sakitnya saat bola bowling jatuh di jari jempol kaki kita, juga saat seekor serangga berberat satu miligram melangkah di tangan kita. Beberapa dari kita menikmati mengunyah kertas habanero saat lidah kita yang sensitif mengetahui adanya rasa makanan dari beberapa bagian per sejuta. Dan mata kita dapat melihat cerahnya hamparan pasir pantai di siang hari, namun mata yang sama juga dapat menangkap cahaya korek api, yang baru terbakar, sejauh ratusan kaki di dalam sebuah ruangan yang suram.

Sebelum kita terlalu memuja diri kita sendiri, ingatlah apa yang kita dapat secara luas, kita tidak melihat detil karena kita melihat dunia secara logarithmic bukan dengan secara pertumbuhan linear. Sebagai contoh, jika anda menaikkan kekuatan suara dengan faktor sepuluh, telinga kita akan menganggap perubahan tersebut relatif kecil. Naikkan dengan faktor dua dan anda akan merasakannya perubahannya.

Hal yang sama juga berlaku pada saat kita mengukur cahaya. Jika anda pernah melihat gerhana matahari penuh anda mungkin akan menyadari bahwa seluruh matahari setidaknya tertutup sembilan puluh persen oleh bulan sebelum orang menyadari bahwa langit telah suram. Perbedaan cahaya bintang, skala desibel pada suara, dan skala seismic dari kerasnya gempa bumi setiapnya adalah bagian logarithmic karena tubuh biologis kita cenderung untuk melihat, mendengar, dan merasakan dunia seperti itu.

Apakah, jika ada, yang diluar jangkauan indera kita? Apakah ada cara untuk mengetahui apa-apa yang melampaui antar muka biologis kita dengan lingkungan?

Bayangkan jika manusia adalah mesin, walaupun bagus saat menterjemahkan dasar-dasar dari lingkungan sekitar — seperti siang atau malam atau saat sebuah mahluk akan memangsa anda — tetapi memiliki bakat yang sedikit dalam menterjemahkan bagaimana seluruh alam bekerja tanpa alat-alat ilmiah. Jika kita ingin mengetahui apa yang ada di luar sana maka kita memerlukan alat pendeteksi selain dari yang ada pada badan kita semenjak lahir. Hampir disetiap kasus, pekerjaan dari para ilmuwan adalah memperluas dan memperdalam indera kita.

Beberapa orang mengaku memiliki indera keenam, saat mereka mengaku mengetahui atau melihat sesuatu yang orang lain tidak. Peramal, pembaca pikiran, dan orang-orang mistis adalah tingkatan teratas dari orang-orang yang mengaku memiliki kekuatan misterius.

Dalam melakukannya, mereka membangkitkan ketakjuban orang-orang lain, terutama penerbit buku dan produser televisi. Yang menjadi pertanyaan dari ruang parapsychology ini adalah berharap adanya setidaknya beberapa orang yang menyembunyikan bakat ini. Menurut saya, misteri terbesar dari mereka adalah kenapa para peramal tersebut lebih memilih bekerja lewat telepon dan televisi bukan memanfaatkan kemampuannya untuk menambah kekayaan dengan meramalkan keadaan Wall Street pada masa depan. Secara tersendiri ini adalah misteri yang dalam, sering gagalnya sebuah percobaan yang terkontrol untuk mendukung klaim dari parapsychology ini memberitahukan bahwa apa yang mereka lakukan tidak masuk akal bukan lah indera keenam.

Di sisi yang lain, ilmu modern menggunakan lusinan indera. Dan para ilmuwan tidak pernah mengakui bahwa itu merupakan hasil dari sebuah kekuatan khusus, hanya sejumlah perangkat keras. Pada akhirnya, tentu saja, perangkat tersebut mengubah informasi sedikit demi sedikit dari indera tambahan ini menjadi sebuah tabel, grafik, diagram, atau gambar sederhana yang mana indera kita dapat menterjemahkannya lebih lanjut. Di sebuah serial fiksi Star Trek, anggota yang dikirim dari pesawat ke sebuah planet yang awam selalu membawa tricorder, yaitu sebuah perangkat yang dapat menganalisa apa yang mereka temui, hidup atau tidak hidup, untuk mengetahui sifat dasarnya. Saat tricoder tersebut digoyangkan ke benda yang tidak diketahui, alat itu akan menghasilkan sebuah suara yang dapat diterjemahkan oleh pengguna.

Misalkan ada segumpal benda berkilap terhampar di depan anda. Tanpa alat penelitian seperti tricoder untuk membantu, manusia akan bingung akan komposisi kimiawi atau nuklir dari gumpalan tersebut. Kita tidak dapat mengetahui apakah terdapat elektromagnetik, atau apakah ia dapat menangkap sinar gamma, sinar x, ultraviolet, microwaves atau gelombang radio. Tidak juga kita dapat menentukan struktur cel atau kristal pada gumpalan tersebut. Jika gumpalan berada jauh di luar angkasa, tampak hanya sebagai sebuah titik di langit, panca indera kita tidak dapat mengukur jaraknya, kecepatannya di angkasa, atau laju perputarannya. Lebih lanjut kita tidak memiliki kapasitas untuk melihat spektrum warna yang membentuk cahaya yang diterimanya, dan tidak juga kita mengetahui apakah cahaya terpolarisasi atau tidak.

Tanpa perangkat untuk membantu kita dalam menganalisa, dan tanpa keinginan untuk menjilat benda tersebut, apa yang dapat anda laporkan kembali ke pesawat, Kapten, itu adalah sebuah gumpalan. Mohon maaf kepada Edwin P. Hubble, tetapi pernyataan pembukaan, walau tampak pedih dan puitis, harusnya seperti ini Berbekal panca indera, berikut dengan teleskop dan mikroskop dan sejumlah spectrometers dan seismographs dan magnetometers dan akselerasi dan pendeteksi partikel untuk spektrum elektromagnetik, kami menjelajahi alam semesta di sekitar kami dan menamakan petualangan tersebut dengan ilmu pengetahuan. Bayangkan kayanya dunia dan banyaknya alam semesta kita ketahui lebih awal jika kita lahir dengan mata yang dapat diatur, dengan presisi yang tinggi. Menggunakan gelombang radio sebagai bagian dari spektrum dan siang hari tampak seperti malam hari, kecuali untuk lokasi-lokasi tertentu. Galaksi kita termasuk salah satu tempat terterang di luar angkasa dan berada di belakang sebuah bintang utama dari kelompok Sagittarius. Bergabung dengan microwaves dan seluruh alam semesta tampak bercahaya bekas dari alam semesta sebelumnya, dinding cahaya yang terbentuk 300,000 tahun setelah big bang. Bergabung dengan x-rays dan lokasi dari black holes, dengan segala hal yang berputar di sekitarnya, akan langsung terlihat. Bergabung dengan sinar gamma dan dapat melihat pecahan kapal titanik bertebaran di seluruh alam dengan laju sekitar satu pert perhari. Melihat di sekitar bahan-bahan efek dari ledakan akan tampaklah panas dan kilauan di bagian cahaya lainnya.

Jika kita lahir dengan pendeteksi magnet, kompas tidak akan ada karena kita tidak membutuhkannya. Cukup dengan bergabung dengan jalur magnet bumi dan arah ke magnet Utara akan terbayang seperti Oz terbentang di horizon. Jika kita memiliki alat analisis spektrum di retina kita, kita tidak perlu khawatir apa yang ada di udara yang kita hirup. Kita cukup melihatnya dan dapat mengetahui apakah terdapat cukup oksigen untuk bertahan hidup. Dan kita seharusnya mengetahui ribuan tahun lalu bahwa bintang-bintang dan nebula di galaksi mengandung elemen yang sama dengan yang ada di bumi.

Dan jika lahir dengan mata yang besar dan memiliki pendeteksi gerak seperti Doppler, kita akan melihat langsung, walaupun hanya dalam bentuk gerutuan troglodytes, bahwa seluruh galaksi di alam semesta menjauh dari kita.

Jika mata kita memiliki resolusi seperti mikroskop bertingkat tinggi, tidak akan ada yang menyalahi wabah dan penyakit-penyakit disebabkan oleh sesuatu yang Maha Kuasa. Bakteri dan virus yang menyebabkan anda sakit akan tampak saat ia menjalar di makanan atau saat ia merangkat ke bagian luka di badan anda. Dengan percobaan sederhana, anda dapat mengetahui mana dari mahluk tersebut yang baik dan mana yang buruk. Dan tentu saja masalah infeksi sesudah operasi dapat ditangani ratusan tahun yang lalu.

Jika kita dapat melihat partikel berenergi tinggi, kita dapat melihat radioaktif dari jarak jauh. Tidak perlu lagi alat Geiger. Anda dapat melihat gas radon menyusup lewat bawah rumah anda tanpa perlu membayar orang untuk mengetahui hal tersebut. Pengasahan indera kita sejak dari lahir sampai masa kanak-kanak membuat kita sebagai orang dewasa mengindahkan hal-hal dan fenomena di hidup kita, menganggapnya masuk akal atau tidak. Masalahnya adalah, tidak banyak penemuan dari masa lalu yang tercipta dari penggunaan langsung panca indera kita. Mereka umumnya berkembang dari penerapan ilmu matematik dan perangkat keras. Fakta sederhana ini bertanggung jawab terhadap kenapa, pada orang umum, relativitas, partikel physics, dan teori sepuluh-dimensi string menjadi tidak masuk akal. Termasuk di dalamnya, black holes, wormholes, dan big-bang.

Sebenarnya, ide ini tidak masuk akal bagi para ilmuwan, sampai kita menjelajahi luar angkasa dalam waktu lama dengan segala indera teknologi yang ada. Akibatnya, pada akhirnya, adalah sebuah indera baru dengan tingkat yang lebih tinggi yang membolehkan ilmuwan berpikir dengan kreatif dan mengindahkan anggapan tentang dunia awam di bawah atom atau di luar angkasa. Ahli ilmu fisika dari abad 20 German Max Plank membuat pengamatan yang mirip tentang penemuan quantum mechanics:

Fisika modern mempengaruhi kita terutama dengan kebenaran dari doktrin lama yang mengajarkan bahwa terdapat kenyataan selain dari persepsi-indera kita, dan disanalah masalah dan konflik dimana kenyataan tersebut apakah bernilai lebih tinggi bagi kita dari pada kekayaan berharga dari pengalaman di dunia.

Panca indera kita bahkan mempengaruhi jawaban terhadap sebuah pertanyaan metaphysical seperti, Jika sebuah pohon roboh di dalam hutan dan tidak ada orang di sekitarnya, apakah ia mengeluarkan suara? Jawaban terbaik saya, Bagaimana anda tahu pohon itu roboh? Tapi itu hanya membuat orang-orang (yang bertanya) merasa marah. Jadi saya memberikan analogi yang lebih masuk akal, Q: Jika anda tidak dapat mencium bau karbon monoksida, lalu bagaimana anda tahu ia ada di sana? A: Anda mati. (Gas alami tidak memiliki bau bagi hidung manusia. Sebagai perlindungan, bau-bauan yang tajam ditambahkan supaya bocornya gas dapat ditemukan dan ditutup.) Di masa maju, jika seluruh anggapan di luar sana keluar dari akal sehat (indera) anda maka hidup yang berbahaya akan menunggu anda.

Menemukan suatu cara yang baru dalam mengetahui sesuatu selalu membuka sebuah jendela baru terhadap alam semesta — alat pendeteksi baru yang dapat di tambahkan ke daftar indera di luar badan kita. Bila hal ini terjadi, sebuah tingkat baru dari keagungan dan kompleksitas di alam semesta akan membuka dirinya sendiri kepada kita, walaupun kita berevolusi secara teknologi ke arah mahluk berakal luar biasa, membuatnya masuk akal sehat kita.

BLUE PALE DOT

0

Renungkanlah kembali titik itu, disinilah itu, itulah rumah, itulah kita. Diatasnya semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang kamu pernah dengar, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama yang percaya diri, ideologi dan doktrin ekonomi, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pendiri dan penghancur dari peradaban, setiap raja dan petani, semua pasangan anak muda yang sedang jatuh cinta, setiap ibu, ayah dan anak-anak berpengharapan besar, penemu dan petualang, setiap guru moral, semua politisi yang korup, setiap superstar, setiap pemimpin besar, setiap orang suci dan pendosa dalam sejarah hidup spesies kita hidup disana – di atas setitik debu, melayang didalam sinar matahari.

Bumi adalah sebuah panggung yang amat kecil dihadapan luasnya alam semesta. Pikirkanlah sungai darah yang ditumpahkan oleh para jenderal dan kaisar supaya, dalam keagungan dan kemenangan, mereka dapat menjadi penguasa sementara dari sebagian dari sebuah titik. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang ditemui oleh penduduk sebuah sudut dari titik ini oleh sedikit penghuni lainnya yang hampir tidak dapat dibedakan dari sudut lainnya, betapa sering terjadinya kesalahpahaman, betapa inginnya mereka untuk saling membunuh, betapa hebatnya kebencian mereka.

Pengambilan sikap kita sendiri, keistimewaan diri sendiri yang semu, ilusi bahwa kita memiliki sebuah posisi yang istimewa di dunia ini, ditantang oleh setitik cahaya yang redup ini. Planet kita adalah sebutir debu yang kesepian di dalam kebesaran dan kegelapan alam semesta. Di dalam kebingungan kita, tidak ada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri
Bumi adalah satu-satunya tempat yang diketahui sejauh ini yang memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya pada masa depan yang dekat, dimana spesies kita dapat pindah. Mengunjungi, iya, menetap, belum. Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi merupakan satu-satunya tempat kita hidup.

Sudah pernah dikatakan bahwa astronomi adalah pengalaman yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tidak ada yang dapat menunjukkan dengan lebih baik kebodohan dari kesombongan manusia daripada gambaran yang sangat jauh dari dunia kita yang teramat kecil ini. Untukku, hal ini menggarisbawahi tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik satu sama lain, dan untuk menjaga dan merawat titik biru pucat ini, satu-satunya rumah yang kita pernah tahu.

— Carl Sagan, Pale Blue Dot, 1994

Arti dan Ketiadaan

0

Orang muda pencari kebenaran berjalan melalui tahap bertanya-tanya apakah hidup memiliki arti yang nyata. Mengapa kita disini? Mengapa alam semesta disini? Apakah ada tujuan dari semua ini? Ini adalah pertanyaan terakhir, meliputi yang lainnya. Para pencari biasanya terjun dalam filsafat, dan menghabiskan bertahun-tahun bersusah payah membahas “keberadaan” dan “esensi” dan berdebat tentang bagaimana pikiran mendapatkan pengetahuan, bagaimana kita menentukan realitas, dan bagaimana bahasa membentuk pengertian kita.

Pada akhirnya, sebagian besar muncul (seperti yang terjadi pada saya) dengan jawaban yang tidak lebih baik dari ketika memulai — dan perasaan bahwa mereka telah memboroskan banyak waktu dan usaha. Omar Khayyan merasakan hal yang sama sembilan ratus tahun yang lalu:

Diriku ketika muda bersemangat mengunjungi mahaguru dan santo, dan mendengarkan perdebatan agung Tentang ini dan itu, namun selamanya Muncul dari pintu yang sama seperti saat ku masuk. Bagaimanapun, meski sia-sia, saya pikir setiap orang cerdas dapat menunjuk pertanyaan mengenai arti hidup dengan rasional tanpa berkutat dalam rincian filosofis dan argumen. Itulah apa yang akan saya lakukan sekarang: hanya mengatakan apa yang dapat diketahui, sebagaimana saya melihatnya.

Berikut adalah pandangan pribadi saya yang bersifat amatir. Pertama, 90% umat manusia — penganut agama — tidak perlu bertanya mengenai arti hidup. Gereja mereka memberi mereka jawaban. Pendeta dan kitab suci mengatakan bahwa Tuhan yang magis, tak terlihat, menciptakan alam semesta dan menempatkan manusia disini untuk diuji, menetapkan peraturan untuk perilaku kita guna diikuti, dan menciptakan surga sebagai balasan bagi mereka yang mengikuti petunjuk setelah mereka mati serta neraka untuk tempat penyiksaan bagi pelanggar perintah setelah mereka mati. Beberapa penjelasan supernatural seperti ini diterima oleh mayoritas luas manusia.

Namun sebagian dari kita tidak dapat menelannya, karena tidak ada bukti. Tak seorangpun pernah membuktikan bahwa manusia terus hidup sesudah kematian. Tak ada yang dapat membuktikan bahwa manusia disiksa atau diberikan balasan atas kebaikannya di dunia kematian — juga tidak bahwa ada jiwa tak terlihat yang menyiksa dan memberi balasan.

Oleh karenanya, manusia yang tak mudah diyakinkan, yang dikutuk menjadi pencari kebenaran, selalu mencari arti hidup namun tidak pernah menemukannya. Saya telah melaluinya selama setengah abad. Sekarang, saya pikir saya dapat menyatakan bahwa terdapat dua jawaban jelas: (1) Hidup tak memiliki arti. (2) Hidup memiliki ribuan arti.

Pertama, kurangnya arti: tentang tujuan akhir atau transcending moral order, semua pemikir besar sejak zaman Yunani kuno telah gagal menemukannya. Telah ada teori tak terbatas, tapi tak ada jawaban jelas. Martin Heidegger menyimpulkan bahwa kita dikutuk

Ketika kita mempelajari fakta ilmiah kita menyadari bahwa kosmos dan biosfir kita tampak sangat tak peduli dengan kemanusiaan, dan tak peduli apakah kita kita hidup atau mati. Gempa bumi, topan dan letusan gunung berapi tak peduli apakah mereka mengenai atau tidak mengenai kita. Singa, cacing pita, dan bakteria menganggap kita makanan.

Mengenai moralitas, saya tidak berpikir hal itu ada terlepas dari manusia. Itu hanyalah peraturan-peraturan yang dikembangkan kebudayaan untuk diri mereka sendiri dalam upayanya untuk membuat hidup dapat berjalan baik. Kaum konservatif berbicara mengenai “hukum alam”, namun sebenarnya tidak ada. Jika orang Ku Klux Klan menggantung orang hitam di cabang sebuah pohon, pohon tak peduli. Tidak juga tupai dan burung-burung di dahan. Tidak juga matahari atau bulan di atas. Alam tak peduli. Hanya manusia peduli. Atau pikirkan hak-hak manusia. Thomas Jefferson mengatakan bahwa semua orang “diberikan oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak dapat diambil atau dirampas.” Tapi saya pikir Jefferson salah. Tidak ada bukti bahwa Pencipta mengkaruniai seseorang dengan suatu hak-hak yang diberikan Tuhan. Hak-hak tak terampas apa yang dinikmati oleh orang hitam Afrika yang dijual ke perbudakan — termasuk mereka yang terdapat di perkebunan Monticello Jefferson? Hak-hak pemberian Tuhan apa yang menjamin enam juta bangsa Yahudi ke kamp kematian Nazi? Atau sejuta kelas menengah Kamboja yang dibunuh tentara petani Pol Pot? Atau satu juta suku Tutsi yang dibunuh Hutu? Atau anak-anak Uster yang dibunuh oleh bom kaum Katolik dan Protestan? Atau penduduk Hiroshima pada tahun 1945? Atau sekitar satu juta perempuan yang dibakar sebagai penyihir oleh Inkuisisi?

Apakah arti hidup bagi jutaan yang sekarat karena AIDS, jutaan yang mati karena epidemi flu tahun 1918 atau Wabah Hitam, atau 900 orang yang memberikan sianida kepada anak-anaknya di Jonestown, atau 90 orang yang terbakar dengan anak-anaknya di kamp David Koresh? Apa arti yang ada bagi ribuan rakyat Honduras yang tenggelam dalam badai banjir dua tahun yang lalu? Atau enambelas murid taman kanak-kanak yang dibunuh oleh seorang psikopat dengan pistol? Atau dua ribu perempuan Amerika yang dibunuh oleh suami atau kekasihnya setiap tahun? Atau dua puluh ribu bangsa Aztec yang setiap tahun dikorbankan untuk ular terbang yang tak terlihat? Atau dua puluh ribu yang dicekik kaum Thugs untuk dewi mereka Kali?

Tak berarti, tak berguna (senseless), pointless — semua horror ini memiliki absurditas yang fantastis tentangnya. Kata-kata seperti tujuan, hak, dan moral tak dapat dipakai. Kejahatan seperti ini membuat jelas dengan logika sederhana bahwa tidak ada Tuhan ayah yang maha kasih, penyayang, pengampun. Akal sehat membuktikan bahwa Tuhan dermawan modern adalah fantasi yang sebenarnya tidak ada.

Dalam bukunya Consilience, ahli sosiobiologi besar E.O. Wilson menunjuk bahwa terdapat dua cara mendasar dalam melihat realitas: empirisme, hanya mempercayai apa yang diberikan oleh bukti, dan transendentalisme, mempercayai bahwa ketuhanan or hukum (order) moral kosmik eksis terlepas dari manusia. Jika ada bukti yang pernah mendukung yang terakhir, katanya, “Penemuan akan menjadi sangat berarti dalam sejarah manusia”.

Cukup untuk pengenalan bahwa hidup adalah tak berarti. Sekarang untuk realisasi bahwa hidup memiliki banyak arti. Jelas, realitas fisika, biologi, kimia, atom, sel, zat, radiasi — alam, dengan kata lain — memaksakan keteraturan fisik pada kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari hukum alam yang mengatur bintang-bintang pada planet yang mengorbit. Kematian lebih besar dari kita; kita tidak dapat mencegahnya. Karenanya, apapun arti yang ada harus digunakan untuk waktu sementara sewaktu kita hidup. Jelas, terdapat tujuan fisik dan psikologis untuk hidup. Tubuh kita memerlukan makanan, pakaian,tempat berlindung, kesehatan, kenyamanan kasih sayang, dan keamanan dari kekerasan dan pencurian, dan seterusnya. Kita juga memerlukan hubungan dan reaksi sosial yang bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita. Dan kita memerlukan kebebasan demokratis agar kita dapat bicara jujur tanpa takut hukuman, dan hukum supaya kita tidak akan diperlakukan secara kejam. Ini adalah tujuan humanis dalam hidup: untuk memberikan nutrisi yang lebih baik, obat-obatan, perumahan, transportasi, pendidikan, keamanan, hak asasi, dan kebutuhan manusia lainnya.

Untuk mencapai “kehidupan baik” humanis, manusia memiliki kebutuhan tinggi untuk membesarkan anak-anak yang cerdas, sehat, perhatian, dan bertanggung jawab. Kadangkala, saya berpikir bahwa satu-satunya tujuan terbesar dalam hidup ini ialah membesarkan anak-anak yang baik.

Saya pikir kita memberi persetujuan mengenai arti hidup secara biologis psikologis. Kita percaya dalam hal mencegah peperangan, menyembuhkan penyakit, mengakhiri kelaparan, meningkatkan literasi, mengurangi kejahatan, menghindari kekurangan makan, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang membuat hidup menyenangkan — sampai kematian mengambil kita. Bagaimanapun, disamping dari tujuan berjenis “pekerjaan rumah tangga”, adakah arti yang lebih besar yang melampaui kebutuhan manusia? Saya pikir tidak. Paling tidak, saya tidak pernah dapat menemukan bukti apapun tentang itu. Kita hanya harus mencoba membuat kehidupan sebaik mungkin, dan menghindari horror, dan perhatian pada orang lain, dan membuat kegembiraan, meskipun tahu kekaburan sedang menjelang.

Tanam jerami selagi matahari bersinar, karena kegelapan menjelang. Carpe diem: renggut hari untuk saat ini; hidup sepenuhnya selagi anda bisa. Omar Khayyam melihat kebodohan dari mengagungkan diri sendiri, karena kebangkrutan atau sakit akan segera menghapus seseorang:”Bodoh, balasanmu tidaklah disini atau disana”. Jadi penyelesaian Omar adalah mencari kesenangan dalam puisi, anggur, dan kekasihnya “disampingku menyanyi dalam hutan belantara — dan hutan belantara cukup surgawi.” Sekitar 1400 tahun sebelum dia, skeptik besar Yunani Epicurus merasakan hal yang sama.

Jadi ini yang anda dapat: Kita yang bukan kaum ortodoks religius tidak dapat menemukan alasan yang mendasari eksistensi/keberadaan. Dan kita tahu bahwa kematian merangkak di depan. Jadi kita harus membuat masa antara sebaik mungkin sementara kita disini. Pandangan akan tujuan hidup seperti ini diringkaskan beberapa tahun yang lalu oleh judul seminar Unitarian:”Menari di Ngarai Gelap”. Dan Zorba Yunani mengajar kita, Apakah hidup, jika bukan untuk menari?

SAYAP – SAYAP GAJAH

0

Mari sedikit bercerita tentang : SAYAP – SAYAP GAJAH

Pada suatu ketika, empat orang buta sedang berjalan di dalam hutan, dan mereka merpapasan dengan seekor gajah. Moe berjalan di depan, dan menyadari sedang memegang belalai si gajah. “Benda ini memiliki tentakel,” serunya. “Kurasa kita menemukan cumi-cumi raksasa!”

Larry menabrak sisi si gajah. “Ini sebuah tembok,” katanya, “Sebuah tembok berbulu yang besar.”

Curly, di belakang, menyentuh bagian ekor. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak lain dari sepotong tali yang mengganting di jalan.”

Eagletosh melihat penghalang itu sebagai sebagai sebuah kesempatan untuk duduk di bawah keteduhan sebuah pohon dan bersantai. “Pertimbangan perndapatku adalah,” katanya “bahwa apapun itu ia memiliki bulu. Bulu berwarna-warni dengan banyak corak.”

Tiga orang yang pertama, yang berbakat secara ilmiah, dengan cepat bekerjasama dan bertukar-tukar tempat, dan mengkonfirmasi observasi satu sama lain; mereka setuju bahwa masing-masing telah memberikan hasil investigasi yang benar, kecuali bahwa tidak ada petunjuk adanya bulu dimanapun, tetapi jelas bahwa interpretasi mereka memerlukan perbaikan dan data yang lebih banyak. Jadi mereka menyelidiki lebih jauh, melaporkan kepada satu sama lain apa yang mereka temukan, dengan tujuan membangun gambaran yang lebih sempurna akan halangan di jalan itu.

“Menelusuri ke belakang tentakel, aku menemukan bahwa tentakel itu terhubung ke sebuah kepala besar dengan mata, telinga-telinga berbentuk kipas, dan sebuah mulut yang bergading. Aduh, benda itu bukan cumi-cumi, melainkan sepertinya sejenis mamalia besar,” kata Moe.

“Cukup tepat, Moe—Aku telah menemukan empat cabang besar. Dapat dipastikan ini binatang vertebrata berkaki empat,” imbuh Larry.

Curly tampak kesulitan. “sedikit rumit dan lembut di belakang sini, kawan-kawan, ttapi aku telah memeriksa sebuah lubang yang menarik. Berhubung ini cerita anak-anak, Aku akan menangguhkan detail-detailnya.” Eagletosh menguap dan merentangkan badannya dalam bayangan pohon. “Hewan itu memiliki sayap, sayap yang besar, sehingga ia dapat naik sampai surga dan mengilhami kemanusiaan. Mungkin tidak ada kegunaan hewan semacam itu tanpa kemampuan mengangkat metafora dan memberi kita sesuatu yang dapat kita ilhami.”

Ketiga orang lainnya mengabaikan filusuf yang sedang bermalas-malasan itu, sebab hal-hal menarik sedang terjadi terhadap gajah mereka!

“Aku dapat merasakan belalainya meraup tumbuhan, mencabutnya, dan memasukaannya ke mulut! Belalai itu dapat memegang! Menakjubkan!”seru Moe. Larry menekankan telinganya ke panggul si hewan. “Aku sapat mendengar suara-suara bergemuruh ketika sistem pencernaannya memproses makanan! Suaranya sangat keras dan besar.”

Muncul onggokan berlumpur dari ujung lubang tersebut. “Oh, tidak,” kata Curly, “Aku dapat membauinya, dan kurasa aku harus mandi.”

“Kalian semua sama sekali melewatkan keindahan sayap-sayapnya yang terbentang,” cemooh Eagletosh, “Sementara kalian semua bekerja sembarangan dengan hal-hal tidak penting yang biasa-biasa saja dan tidak terencana serta menurunkan harga diri, aku merenungkan kualitas-kualitas yang sangat penting dari makhluk terhormat ini. Ini adalah malaikat yang kubicarakan, sebuah simbol arti yang lebih dalam dari kehidupan.”

“Tidak ada sayap, bodoh, dan tidak ada bulu juga,” sahut Moe.
“Tidak peka,” kata Eagletosh. “Mungkin sayap-sayap itu tidak kelihatan, atau terlipat di dalam kantong-kantong tersembunyi pada panggul gajah iyu, atau malahan, aku curiga sayap itu kuantum. Kalian tidak dapat membuktikan bahwa sayap itu tidak kuantum.”

Penyelidikan berlanjut, dengan sangat teliti mendetail oleh ketiganya, dan bahkan dalam serangan spekulasi metafora yang lebih luas dari yang satunya. Bertahun-tahun kemudian, mereka telah jauh lebih pandai.

Moe telah mempelajari gajah itu dan tingkah lakunya selama bertahun-tahun, mencari cara bagaimana agar dapat berkomunikasi dengan si gajah dan kawanannya, mempelajari pola makan mereka, penyakit dan kesehatannya, dan bagaimana memfungsikan mereka untuk bekerja dengan manusia. Ia mendapat keuntungan, dengan menggunakan gajah-gajah sebagai buruh kasar dalam pekerjaan konstruksi, dan ia juga menggunakan mereka, sayangnya, dalam perang. Ia belum mendapatkan cara bagaimana menggunakan mereka sebagai pesawat tempur, bagaimanapun… namun Moe adalah ahli dalam biologi dan industri gajah.

Larry mempelajari gajah, namun juga telah menggunakan ilmu pengetahuannya akan hewan itu untuk mempelajari hewan-hewan liar lainnya di wilayah itu: jerapah dan kudanil dan singa dan bahkan manusia. Ia menjadi ahli dalam perbandingan anatomi dan fisiologi, dan juga telah mengemukakan sebuah teori yang menarik untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan diantara hewan-hewan ini. Larry adalah sarjana terkenal bidang fauna.

Pengalaman-pengalaman Curly membawanya menjelajahi lingkungan gajah, dari kumbang tahi yang berjalan cepat mengejar gajah-gajah sampai dahan-dahan daun yang mereka patahkan dari pohon. Ia belajar bagaimana si gajah tergantung pada sekitarnya, dan bagaimana tingkahlakunya merubah hutan dan daratan. Curly menjadi ahli lingkungan hidup dan aktivis lingkungan hidup, serta bekerja untuk melindungi kawanan gajah dan elemen-elemen biome lainnya.

Eagletosh menulis banyak buku. Buku-buku yang sangat berpengaruh. Segeranya, banyak orang yang tidak pernah melihat gajah teryakinkan bahwa gajah memiliki sayap. Mereka yang telah melihat foto-foto gajah setidaknya yakin bahwa gajah memiliki sayap-sayap kuantum, yang bergetar secara tidak tampak ketika foto itu diambil. Ia meyakinkan banyak orang bahwa hakikat sejati gajah terletak pada sayap-sayapnya yang menakjubkan–sampai pada titik dimana siapapin yang tidak setuju dan menyatakan bahwa gajah hanyalah hewan bumi berarti mengkhianati keindahan si gajah.

Dengan jengkel, Larry beristirahat dari menulis risalat teknis mengenai anatomi mamalia, lalu menulis sebuah buku untuk dilemparkan kepada masyarakat awam, Gajah Tidak Bersayap. Saaat buku itu terkenal, para Eagletoshian (penganut paham Eagletosh) merasa sakit hati. Berani betul ia mencemarkan nama baik gajah bersayap? Apa dipikirnya gajah hanya mamalia mekanik biasa, berkelut dalam lumpur, tidak pernah membumbung tinggi diantara bintang-bintang? Ia tidak punya apresiasi terhadap kesarjanaan ahli dalam bidang sayap gajah? Tidakkah ia menyadari bahwa ia tidak mungkin dapat menyangkal keberadaan sayap pada gajah, terutama karena sayap itu dapat dilipat dengan sangat rapi kedalam kuantum? (Pertanyaan akan bagaimana nabi pertama persayapan mendapatkan informasi itu tampaknya tidak pernah disinggung, atau tidak pernah dipertimbangkan secara mendalam.). Adalah suatu penghinaan jika menimpangkan gajah-gajah malang itu, menjerumuskan mereka kepada keterbatasan duniawi.

Ketika buku tersebut dengan cepat diikuti oleh milik Moe: Gajah Berjalan dan milik Curly: Dataran Gajah, para sarjana sayap gajah menjadi panik–mereka diserang oleh para ahli pergajahan, yang tampaknyna mengetahui jauh lebih banyak tentang gajah daripada yang mereka tahu! Untungnya, para ilmuwan hanya tahu sedikit mengenai sayap gajah–mengejutkan, bahwa–dan masyarakat murka dalam keyakinan bahwa gajah, nun jauh disana, mengepakkan sayap dengan perkasa menembus langit. Mereka juga mendapat keuntungan dengan jumlah uang yang besar. Kekayaan jarang diasosiasikan dengan kecakapan dalam hal pergajahan, dan orang-orang kaya mengucurkan uang dalam usaha mendamaikan keluhuran persayapan dengan anatomi realita yang tidak mengenakkan. Bahkan beberapa ilmuwan yang seharusnya lebih mengerti terjerumus ke dalam pihak persayapan; dari pertimbangan, jarang disebabkan oleh faktor keuntungan, tapi lebih dikarenakan mereka secara sentimental terikat pada gagasan sayap-sayap itu. Mereka tidak dapat menolak bukti, bagaimanapun, dan biasanya mengamati sampai tergeliat karena mereka melibatkan kekuatan mistis dari kuantum, atau dari sayap-sayang yang cepat dan tak tampak yang hanya terlihat saat tidak seorangpun memperhatikan.

Dan disitulah pertempuran terjadi, argumen tanpa henti antara si buta yang berjuang menjelajahi dunia apa adanya di sekitar mereka, dan si buta yang memilih menyulap momok dalam ruang-ruang didalam tengkorak mereka. Aku terpaksa mengecewakanmu, karena aku tidak punya akhir cerita maupun resolusi, hanya sebuah pertanyaan.

Dimana anda dapat menemukan arti dan kebahagiaan dan kekayaan dan kecantikan, wahai pemabaca? Dalam gajah, atau sayap gajah?