NIETZSCHE : UBERMENSCH AND MENTALITY IN LIFE

0

Nietzsche memiliki pandangan kehidupan bahwa hidup ini tragis, berbahaya, dan mengerikan. Ia dengan tegas menerima kehidupan ini. Nietzsche terkenal dengan semboyannya dalam bahasa Jerman yang berbunyi Ja-sagen, yaitu mengatakan ya. Arti dari mengatakan ya ini adalah mengafirmasi kehidupan. Dalam bukunya yang berjudul The Birth of Tragedy, Nietzsche menjelaskan bahwa orang-orang Yunani kuno sudah memahami bahwa hidup ini berbahaya dan menyulitkan. Nietzsche berkata dalam bukunya yang berjudul Ecce Homo, The Birth of Tragedy “Saying Yes to life even in its strangest and hardest problems.”.

Berkata Ya pada kehidupan bahkan dalam masalah-masalah yang paling aneh dan keras. Mereka tidak menyerah lari atau menegasi kehidupan ini, justru sebaliknya mereka menantang dan mengafirmasi terhadap kehidupan ini.

Nietzsche menyarankan manusia untuk selalu hidup secara Amor-fati, artinya dalam bahasa Yunani adalah mencintai takdir. Manusia tidak boleh untuk mengutuk dan menjauhi tragedi. Tragedi harus kita lawan dengan keteguhan hati, sebab dengan cara seperti inilah hidup menjadi lebih berguna. Pandangan hidup yang seperti ini terlihat dalam nilai-nilai estetika mereka. Menurut Nietzsche, dari estetika Yunani kuno itu dapat dibedakan adanya dua macam mentalitas, yaitu mentalitas Dionysian dan Apollonian.

Dionysios adalah dewa anggur dan kemabukan. Bagi Nietzsche, ia menjadi lambang pengakuan terhadap kehidupan sekarang dan di sini (diesseitigkeit) yang selalu mengalir. Dionysios adalah simbol kejantanan, keberanian, gairah, nafsu, dan pendobrakan dari segala batas serta kekangan.

Simbol-simbol tersebut diwujudkan dengan pesta riuh-rendah yang setiap tahun diadakan untuk menghormati Dionysios. Dalam ritual pemujaan dewa ini para pemujanya mabuk, tetapi dalam kemabukan itu justru menyatukan mereka dengan kehidupan yang estetis. Dalam ecstasy itu, individuasi dan perbedaan-perbedaan menjadi kabur. Mentalitas Dionysian adalah mentalitas kebudayaan Yunani kuno yang cenderung melampaui segala aturan atau norma dan bebas mengikuti dorongan-dorongan hidup tanpa kenal batas.

Apollo adalah dewa matahari dan ilmu kesusastraan. Bagi Nietzsche, Apollo menjadi lambang pencerahan, keugaharian, individuasi, kontemplasi intelektual, dan pengendalian diri. Mentalitas Apollonian adalah mentalitas kebudayaan Yunani kuno yang berpegang pada keseimbangan, ketertiban, kedamaian, harmoni, kecintaan pada bentuk-bentuk, dan keselarasan diri.

Mentalitas ini terlihat dalam tata cara berlaku di antara dewa-dewi Olympus, seni arsitektural, dan seni pahat patung-patung Yunani. Dalam kebudayaan Yunani kuno, mentalitas Apollonian ini berfungsi mengendalikan mentalitas Dionysian. Tragedi Yunani diterangkannya sebagai semacam sintesa antara musik dan tarian Dionysian dengan bentuk Apollonian.

Di setiap diri manusia selalu terdapat unsur Apollonian dan Dionysian. Unsur-unsur yang berkaitan dengan Apollo (kekuatan nalar, keteraturan, dan kelembutan) dan Dionysios (intuisi, naluri, kehendak, dan nafsu) pasti terdapat dalam diri setiap manusia. Kombinasi dari kedua unsur ini yang melahirkan tragedi. Nietzsche menyadari bahwa kehidupan manusia selalu diwarnai dengan tragedi tapi selalu ada usaha-usaha untuk mengatasi tragedi itu dalam kehidupan.

Menurut Nietzsche, sikap mental Dionysian ini telah menyelamatkan kebudayaan Yunani kuno dari pesimisme hidup. Sikap Dionysian yang ‘mengiyakan’ hidup ini apa adanya merupakan sikap penuh vitalitas dan gairah untuk tidak menolak apa-pun yang diberikan hidup ini, baik itu menyenangkan maupun menyakitkan. Sikap seperti ini menuntut keberanian untuk hidup tanpa berpaling sedikit-pun darinya. Mentalitas Dionysian inilah yang dimiliki oleh para jenius dalam kebudayaan Yunani.

Pandangan Nietzsche yang mengafirmasi kehidupan ini diperkuat oleh pandangan kaum ‘Penegasan Kehidupan’. Manusia harus melakukan sebuah sikap penegasan kehidupan, yaitu sebuah refleksi diri bahwa keutamaan yang terbaik bagi setiap manusia adalah menerima dan menghadapi kehidupan ini sepenuhnya dan apa adanya.

Manusia seharusnya berpendirian bahwa segala usaha mempertanyakan keberadaan manusia itu salah dan merupakan ilusi belaka, melainkan ia harus menerima kenyataan hidup ini secara utuh dan tanpa menggolong-golongkan – baik itu realita yang menyenangkan maupun menyusahkan.

Pada hakikatnya, apa yang terpampang di dalam kehidupan inilah satu-satunya makna hidup. Orang-orang yang tidak dapat menerima kehidupan ini sebagaimana adanya akan membangun dunia-dunia bayangan, tempat mereka mencari naungan secara khayal. Contoh orang-orang yang seperti ini misalnya: seorang biarawan yang mengecam dunia dengan mengutamakan surga, seorang idealis yang merendahkan materi tapi mengatasnamakan roh, dan seorang moralis yang melarang kegembiraan dengan menjalankan kewajiban keras.

Nietzsche memiliki pandangan sinis tersendiri terhadap orang-orang yang seperti ini. Di dalam bukunya yang berjudul Why I Am a Destiny ia berkata “The concept of the ‘beyond’, the ‘true world’ invented in order to devaluate the only world there is – in no order to retain no goal, no reason, no task for our earthly reality!”.

Konsep tentang ‘yang melampaui’, ‘dunia sejati’ diciptakan untuk mengurangi nilai dari dunia yang nyata – agar tidak menyisakan tujuan, tiada alasan, tiada tugas pada realitas duniawi kita!

Sikap pandangan penegasan kehidupan ini sangat mengecam segala bentuk penyisihan yang berkembang dengan mengatasnamakan nalar. Peradaban yang mendasarkan diri pada nilai-nilai ideal dipandangnya sebagai semangat yang dijiwai oleh suatu nihilism1 mendalam. Peradaban semacam itu menghasilkan masyarakat-masyarakat yang memaksa anggota-anggotanya untuk tunduk kepada suatu sistem yang semakin tidak manusiawi dan menekan segala kehendak untuk mengungkapkan diri secara non-conformist.

Peradaban seperti itu dengan semakin licik memberangus para penyimpang, yakni orang-orang yang tidak mengikuti kaidah-kaidah peradaban tersebut. Ideologi-ideologi yang berkuasa adalah penguatan sistem penindasan dengan menyatakan bahwa percobaanpercobaan untuk mematahkan cara hidup yang dipaksakan itu hanyalah usahausaha yang bertentangan dengan akal. Ilmu-ilmu tentang manusia baik disadari atau tidak telah dicemari oleh ideologi yang seperti ini – sebab dengan dalih mempelajari tentang manusia, ilmu-ilmu itu sebenarnya berusaha untuk memanipulasikan manusia dengan mengendalikan perilakunya secara sepenuhnya.

Pandangan penegasan kehidupan ini berusaha menghancurkan tata kenalaran yang menyekap bahasa, keinginan, kreatifitas; dan berusaha mengembangkan suatu gaya keberadaan yang menerima hidup ini sebagaimana adanya. Pendirian ini ingin menegaskan kembali nilai segala bentuk ungkapan spontan kehidupan. Paham penegasan kehidupan bertendensi menjalani segala pengalaman, tanpa mengesampingkan satu-pun darinya.

Übermensch adalah simbol manusia yang tidak hanya memiliki kekuatan secara fisik dan intelligence, tapi juga merupakan manusia yang telah melewati kerasnya ujian kehidupan sosial. Ia adalah sesosok manusia yang terbaik yang diciptakan oleh kondisi masyarakat yang bergejolak. Ia adalah segelintir manusia yang memiliki keutamaan bahwa hidup hanyalah untuk memperbesar kekuasaan. Ia adalah sebuah contoh bagi seorang pemimpin sejati.

Berkenaan dengan prinsip individualisme yang dijadikan keutamaan oleh Nietzsche, ia menjelaskan tentang perlunya pengembangan terhadap manusia. Pertama, manusia harus mampu untuk bertahan hidup atau survive dari alam. Alam memiliki hukumnya sendiri, yaitu “siapa yang kuat, maka dialah yang berkuasa; siapa yang lemah, maka dia akan binasa”. Manusia, sebagai makhluk hidup, tidak bisa menghindar dari hukum alam.

Kehidupan setiap makhluk hidup hanya seputar menjadi pemangsa atau mangsa. Kehidupan yang seperti ini sama halnya dengan bangsa-bangsa yang besar di dalam sejarah peradaban dunia, di mana mereka melakukan penaklukkan manusia yang lainnya dengan penuh keberanian dan kekuatan.

Manusia yang satu berperang dan menaklukkan manusia yang lainnya dengan kemurnian naluri dan kehendak untuk berkuasa. Ini adalah kodrat alami setiap makhluk hidup. Kebudayaan dan kemasyarakatan merupakan bentuk lanjutan dari hukum alam. Manusia harus selalu memiliki keberanian dan kekuatan untuk menaklukkan kebudayaan dan sosial-politik kemasyarakatan yang ada di lingkungannya. Ini adalah pengejawantahan kehidupan aristokrasi, yaitu kehidupan yang keras karena adanya keinginan dari individu untuk melawan dan menaklukkan society di mana ia berada, bahwa ia mengakui bahwa dialah being yang harus memiliki kekuasaan.

Selanjutnya, Nietzsche menegaskan bahwa dengan adanya kemandirian dalam menghadapi kehidupan yang asing, manusia akan membanggakan dirinya sendiri sebagai suatu being yang telah mampu untuk menaklukkan kerasnya kehidupan alam serta sosial kemasyarakatan. Ini adalah dasar untuk terciptanya sebuah being yang paling digdaya, yaitu Übermensch. Übermensch secara esensial adalah seorang individu yang telah melewati kerasnya hidup dan memberontak terhadap kebudayaan yang usang dan rigid. Übermensch tidak melihat kehidupan sebagai suatu pandangan yang ke belakang tetapi ia melihat jauh ke masa depan. Übermensch memiliki segala nilai moral yang terbaik, sebab tragedi sebagai seni dalam kehidupan telah melahirkan mahakaryanya yang terindah.

 

SELF HARM

0

I’m trapped
Trapped in prison
Prison made of flesh
Flesh I’ve tried to break
Break and escape
And run away
Away from my prison
And be free
When I scratch and cut
Against my prison
Little scarlet pieces of me
Run free
And though I may late hate it
In that moment
I couldn’t feel more alive
And free

EVERYONE IS BROKEN

1

Everyone is broken; the strongest people are the ones who can admit that and know it doesn’t mean they are worth any less.

I want to share with you a few things to remember during hard times:

• The people that can handle the ugliest parts of life are the people that deserve to share your victories. Those people that can see you at your absolute worst and still say, “I’m here,” are the people that deserve to make up your inner circle. There are a lot of people that will want to use your momentum when you’re winning, but those people will ultimately quit when you aren’t.

• Faith doesn’t mean anything if it can’t withstand truly authentic lows in life. Religion, spirituality, whatever you call your personal beliefs, should bring peace and comfort in difficult times, not add to it. If it doesn’t reassure you when everything is going wrong, it needs to be reevaluated.

• Answers aren’t always necessary, sometimes we just need to verbalize thoughts to help show how untrue they really are. Many times our own heads are our worst enemy, specifically in difficult times. It’s easy to blow things out of proportion in our minds and we don’t always realize that’s what’s happening until we hear it out loud.

• Terrible things are part of life, but without them we can never truly understand the beautiful parts of life. We can’t appreciate light without darkness, heat without cold, love without lack thereof. It is never easy to experience difficult times, but it brings into sharp perspective the incredible things in our lives.

• Be wary of people who aren’t able to face the darkest parts of themselves with honesty. One of the most authentic signs of a mature and wise person is that they know and understand what they are truly capable of. A friend of mine once said that a person’s greatest strength is in knowing their greatest weakness and that kind of self-awareness speaks volumes.

• Brokenness is part of the human condition. We have all been dealt blows and wounds, but the best of us understand that and know that neither our self- worth nor our value is tied to that brokenness.

• Surround yourself with people who are authentic rather than people who pretend to have it all together. It takes nothing to put on a façade of perfection; any person can say the right things or posture to an audience. Real growth and healing comes from people that can empathize with you, but also push you out of your comfort zone.

• Platitudes work in books not in the midst of genuine pain. That quick one liner appeases that initial need to feel helpful, but really helpful things come from a heart of empathy and genuine love.

• For every low there is a high, but that doesn’t make the low feel any less infinite. On some level we all know that pain and hurt is temporary. However that doesn’t change the feeling, in the moment, that this is just how life is now and it is ok to feel that way for a time.

• Tragedy has a way of revealing our true character. How we respond to pain and tragedy is one of the most honest reflections on ourselves we will ever see. Be aware in those moments, but also be gracious with yourself.

Take care 🌷

Gua Nggak Pernah Bantu Bini Gua.

0

Seorang teman berkunjung ke rumah. Kami ngobrolin berbagai topik, mulai dari politik sampai filosofi sambil makan siang. “Gua tinggal sebentar buat cuci piring ya, loe sementara baca2 koran atau majalah aja”, gua bilang setelah makan.

Dia liat gua dengan kagum campur heran. Katanya, “Salut, loe bantuin bini loe. Gua mah nggak pernah lagi, soalnya pernah gua ngepel seluruh rumah tapi dia bilang terima kasih pun enggak”.

Gua bilang, “Gua nggak bantuin bini gua. Bini gua gak butuh bantuan, dia butuh partner. Gua partner dia di rumah, dan bagi gua ngerjain urusan rumah tangga bukan ‘bantuan’ buat dia.”

Gua nggak “bantuin” bini gua bersihin rumah, karena gua juga tinggal di sini, dan gua perlu bikin rumah ini bersih.

Gua nggak “bantuin” bini gua masak karena yang makan bukan dia doang; gua juga, jadi gua juga perlu masak.

Gua nggak “bantuin” bini cuci piring; gua juga pake piring2, gelas2, dan alat2 masak yang sama.

Gua nggak “bantuin” bini ngurusin anak, karena anak dia anak gua juga. Jadi ayah yang baik adalah tugas gua.

Gua nggak “bantuin” bini nyuci, jemur, nyetrika, atau ngelipat baju, karena pakaian gua juga di situ.

Gua bukan pembantu. Gua adalah bagian dari rumah tangga ini. Soal terima kasih, gua tanya, kapan dia berterima kasih setelah bininya bersihin rumah, nyuci baju, ganti seprei, mandiin bayi mereka, ganti popok di tengah malam, masak, belanja di pasar, dan lain-lain. Bukan sekedar, “Makasih ya”, tapi, “Kamu hebat, honey, pengabdianmu sungguh tulus dan murni, kamu layak dapat bintang”.

Terlihat aneh? Kayak orang sinting? Waktu loe sekali dua kali ngepel lantai, loe berharap penghargaan setinggi langit?

Mungkin karena budaya macho bilang bahwa ngerjain itu semua adalah tugas istri.

Mungkin karena di masa kecilnya dia nggak pernah ngangkat satu jari pun, karena pembantunya (atau hanya ibunya) yang ngerjain itu semua.

Berlakulah sebagai partner sejati, bukan hanya tamu yang numpang makan, minum, tidur, dan berak di rumah.

Perubahan sejati di budaya kita berawal dari rumah masing2. Ajarkan anak2 kita partnership sejati!

*Notes: Tulisan ini diplagiat à la Afi dari postingan asli berbahasa Inggris. Terjemahan oleh Niko W.

PROCRUSTEAN METHOD

0

PRUCREATEAN.jpg

 

Elu ngerti procrustes method yang dimana diangkat dari kisah mitologi yunani, yang diceritakan dia suka menginvite pengembara ke rumahnya (attica, greece). Lalu menyambutnya dengan ramah, memberi ia makan, lalu memberi ia kamar dan tempat tidur untuk bermalam dan beristirahat.

Sebenarnya procrustes memiliki ‘twisted mind’ ia mau pengembara yang beristirahat di tempat tidur yang disediakan cocok untuk sang pengembara dengan proporsi tubuhnya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.

Cara dia untuk membuat si traveller fit in, ialah apabila elu terlalu tinggi, elu akan dipenggal bagian tubuh elu, apabila elu terlalu pendek maka elu akan di renggangkan mungkin dengan alat rack. Itu juga alasan kenapa dia mendapatkan pseudonym ‘procrustes’ yang artinya ‘the stretcher’.

Tanpa kita sadari, kita terkadang menggunakan metode ini ‘procrustean method’. yang seharusnya dimana kita membua tempat tidur ini cocok untuk sang traveller malah sebaliknya. Kita renggangkan dan kita potong-potong orang-orang yang ga fit terhadap tempat tidur itu.

Contoh :
Kita terkadang pernah memaksa murid-murid kita, in order to have straight As in our unbelievably flawed education, yang seharusnya kita menerapkan standard/model kurikulum yang cocok untuk masing-masing siswa kita.

Ada juga yang sampai stress, elu pikir fidget spinner untuk apa kalau bukan mengatasi kebosanan, gejala ADHD, dalam kelas. 10 tahun duduk di kelas, nilai academicnya gitu-gitu aja, lalu orang salah satu orang tuanya bilang ‘mah kayanya kita harus otak-atik brain chemistry anak kita deh, nilainya mengkhawatirkan untuk masa depanya.’

yang procrustes method juga mengarah ke perspective or has side effects :

1. Modifying human to statisfy technology
2. Blaming reality for not fitting in an economic model
3. Inventing diseases to sell drugs
4. Defining intellegence as what can be tested in a classroom
5. Convicing people that employment is not slavery

Sometimes we are not only put things in a wrong box we also change the wrong variable, because our limitation of understanding and observation, we constantly simplify and leaving important factors out of the equation.

Analoginya seperti elu solving puzzle tapi dengan cara memotong bagian dari keping-keping puzzle itu sendiri, daripada elu cari ‘a right place to put them’. They will take damage for sure, but it will fit eventually. Dari kejauhan mah orang ga tahu dan ga sadar bahwa itu keping puzzle yang salah dan sedikit rusak. Tapi mereka sadar bahwa ‘the bigger picture wont be right and it seems more likely as atrocious form.’

Kaya ibarat elu ditipu oleh konsultan/advisors yang bilang.. “Kamu harus nyetir uber to put the food on the table for your family and for living”. Ini menurut gw self delusion! Challange yourself delusions!

*If you work (and stay forever or until retirement age) for money, then it is slavery but if you work, because you love to work or your work, never minding the salary, then it’s freedom and happiness. Slaves are never happy with their lives or maybe simply put it this way. Slaves = No Complete Freedom (or has temporary freedom).

**Here is another aphorism for you. “Those who do not think that employment is systemic slavery are either blind or employed.”