MITOS

0

Pada mulanya adalah mitos. Lalu lahirlah peradaban. Namun mitos bukan hanya pencipta peradaban. Mitos mengenai apokaliptis tidak hanya ada dalam tradisi kuno tapi juga hadir dalam agama-agama yang masih hidup di abad modern. Logika kosmologinya terdiri dari dua hal sederhana yakni penciptaan dan penghancuran. Itulah sebabnya dalam tradisi kuno dewa-dewa dianggap sebagai pencipta sekaligus penghancur, yang dianggap sudah menjadi haikikat para dewa. Dan instrumen penghancur dianggap sebagai “yang suci”, hal ini menjelaskan mengapa ada dewa air, dewa api, dll. Bangsa Kreta memuja Banteng yang di-asosiasikan pada gempa bumi yang mengguncang pulau Kreta; Nergal, dewa bangsa Sumeria digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan badai. Kitab apokalitik, dalam bahasa Yunani tidak hanya ditafsir sebagai kitab tentang hari Kiamat tapi juga sebagai wahyu. Ada relasi antara penghancuran dan hadirnya wahyu.

Apakah ada kaitan antara aspek destruktif manusia dalam sejarah dengan mitos-mitos yang bersifat apokaliptis? kemungkinan besar iya, karena manusia selalu berupaya menghubungkan apa yang sakral dengan dunia aktual. Ritual “Penghancuran” dikaitkan dengan ritual keabadian, penyucian, pengudusan. pemurnian, pemulihan. dst.

Di hadapan sejarah, mitos apokaliptik dengan lantang mengungkapkan: “Akulah yang awal dan yang akhir”

DISKUSI EINSTEINIAN DENGAN PROFESSORNYA :

1

Malam itu, seusai kuliah, seorang mahasiswa baru saja yang membaca anekdot tentang einstein muda mempermalukan profesor ateis, mencoba mempraktekkannya kepada profesor (mudah-mudahan ateis) yang baru saja selesai mengajar
.

mahasiswa(m): “Profesor, apakah dingin itu ada?”
profesor(p): “tidak”
m:”betul, karena dingin adalah ketiadaan panas”
p: “tunjukkan di mana panas itu”
m: “maaf, saya ga bisa menunjukkan di mana panas itu, tapi kita dapat merasakan keberadaan panas, seperti halnya tuhan”
p: “saya bisa merasakan panas, tapi kok ga bisa merasakan keberadaan tuhan ya?”
sang murid gelagapan, bingung cara menjelaskannya
m: “hmm…baiklah, apakah menurut anda gelap itu ada?”
p: “tentu saja ada”
s: ” maaf, pak profesor salah, yang namanya gelap itu tidak ada. kita tidak bisa mempelajari gelap-”
kata-kata sang mahasiswa terhenti. ia terkejut. tiba-tiba air muka sang profesor berubah. sang profesor tersenyum, tapi senyumannya terasa menyeramkan dan membuat sang murid gelagapan.sang profesor beranjak dari tempatnya, kemudian ia mengunci pintu kelas dan mematikan lampu, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. ruangan menjadi semakin sunyi. yang terdengar cuma suara napas mahasiswa baru yang kini paniknya bukan main.

p: “ini kan gelap”
m: ” ini bukan gelap! tapi ketiadaan cahaya!”

sang profesor tertawa dingin.
sang mahasiswa, menjatuhkan buku-bukunya. ia ingin kabur dari ruangan secepatnya. tapi tubuhnya terasa berat, kakinya seperti dicengkeram oleh tangan yang tidak tampak. tangannya mati rasa. dalam ketakutan yang amat sangat, setengah berteriak,ia melontarkan pertanyaan

m: “a-apakah pro-profesor punya otak?!”
p: ” tentu saja ada, tapi sepertinya pertanyaannya salah”

sang mahasiswa tidak peduli, dan melanjutkan pertanyaannya
m: ” …coba tunjukkan di mana otak anda!”

tiba-tiba lampu menyala. sang profesor, yang kini dalam kondisi kepala terbelah, mencabut otaknya, dan menyodorkannya kepada sang mahasiswa.

p: “ini… ada kok”

mulut mahasiswa baru terbuka. tubuhnya bergetar. matanya memancarkan rasa takut yang amat sangat. kedua tangannya meraih organ tubuh yang berdarah-darah yang ditawarkan oleh sang profesor. sang mahasiswa mencoba melawan tubuhnya sendiri, tapi hasilnya nihil. kini tangannya telah memegang onggokan otak. tidak lebih dari tiga detik kemudian lendir-lendir amis memenuhi mulutnya. otak itu dijejalkan ke tenggorokan oleh tangannya sendiri. tiba-tiba semua menjadi gelap dan kabur. sang mahasiswa kehilangan kesadarannya, tapi tangannya masih tetap bergerak memasukkan gumpalan sel abu2 ke dalam mulutnya, entah sampai berapa lama lagi…

epilog

empat tahun telah berlalu sejak kejadian mengerikan tersebut. sang mahasiswa, lulus dengan ipk sempurna. semua ini berkat otak yang diberikan oleh sang profesor. mantan mahasiswa itu kini menjadi semakin pintar dan kini menyadari kesalahan2 dalam argumen einstein palsu vs profesor ateis yang dulu dibacanya.

di manakah sang profesor itu kini berada? ternyata ia adalah jelmaan siluman teripang bawahan nyi roro kidul yang ditugaskan oleh penguasa laut selatan tersebut untuk membantu orang-orang yang dilanda logical fallacy dan mereka yang mudah termakan hoax

credits : Dd

COCOLOGI DALAM PARDIGM KU :

0

yang hanya ada postdiksi menurutku, bukan prediksi, jadi cara kerjanya ialah : cari temuan baru dalam science lalu bacalah dikitab. Bukankah kalau kitab itu benar, posisinya selalu ada didepan, tidak harus perlu membaca/mencocok-cocokan dengan science untuk perlu dianggap benar.

Sciencepun tidak mengklaim dirinya benar 100%, sementara, apabila science salah, maka kitabpun harus direvisi gitu ? jadi jelaslah cocologi ialah sebuah misconception, 2 hal yang berbeda tidak usah dicampuradukan science dengan iman, iman tidak perlu bukti, abosolut mutak 100% benar, sementara science terbuka dengan segala macam kritik, koreksi, tidak stagnant, selalu mengikuti perkembangan zaman, itulah keunggulan science terhadap bible.

Zaman dulu gereja ortodoks/khatolik itu kuat dalam memegang ajaranya, sehingga Spinoza atau Seperti Galileo galilei, yang diasingkan karena mengungkap kebenaran atau menistakan agama. Galileo dalam karyanya “Matahari Centris” mengatakan, “Matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi sebagai pusat tata surya”. Temuan ini bertentangan dengan bible mengatakan “Bumi adalah pusat tata surya, matahari mengelilingi bumi” (Yoshua 10:12-13), Kitab Kejadian 1:1-18 dikatakan oleh dogmatika sebagai Geosentris. Saya rasa tuhan harus membuat revisi bible yang kedua. Sekarang coba lihat, orang disana-sini melakukan postdiksi (cocologi). Mungkin akibat kejadian gelileo maka orang samawi, belajar dari kesalahan dengan membuat cabang ilmu baru “cocologi”.

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

3

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka dari mana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semesta ada karena gajah kosmik yang bersin, misalnya. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses big bang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.

TUHAN, ANGIN DAN RASA SAKIT

0

Analogis “Antara Angin dan Tuhan” 

– Berdasarkan Kedua sisi
Tuhan dirasakan oleh emosi, ini subjektif. Sama subjektifnya dengan ketika saya merasakan sinterklas benar-benar mencintai saya dengan hadiah-hadiah natalnya. Orang lain tidak merasakan hal ini karena ini subjektif, hanya saya saja. Angin dirasakan oleh indera. Ini objektif. Siapapun yang punya indera peraba bisa merasakan sepoi-sepoi. Siapapun yang punya indera penglihatan bisa melihat tornado. Siapapun yang punya indera pendengaran bisa mendengar hembusan angin.

Sayangnya entah kenapa orang religius tidak bisa membedakan kedua hal ini (emosi dan inderawi), padahal sudah diajarkan di sekolah.
yang kedua, dari bukti.Tuhan tidak bisa dibuktikan ada, tapi angin bisa. Kecepatan angin bisa diukur. Udara bisa buat mengembangkan balon udara dan menerbangkan pesawat. Singkat kata, ada definisi dan ukuran yang jelas untuk angin dan udara.
Kalau mau dibedah per komponen juga bisa. Udara bisa didinginkan sampai -200 derajat celsius, kita akan bisa MELIHAT oksigen sebagai cairan biru muda.

Tuhan?
Kesimpulannya, ini miskonsepsi umum tentang ateisme, atheis tidak percaya tuhan BUKAN karena tuhan tidak terlihat, tapi karena tidak terbukti atau tidak memiliki bukti empiris.

lalu aktivitas perasaan bisa diamati, bukan hal gaib ukur aja aktivitas otak dan perubahan hormon orang yg sedang merasakan cinta, itulah cinta.. Kombinasi hormon dan aktivitas otak itulah bukti cinta.. Gak ada yang gaib tentang cinta kecuali bagi orang yang belum tau bahwa aktivitas otak itu ternyata bisa diukur dengan alat.. Seringkali kurang pengetahuan menyebabkan orang dengan gampangnya apa-apa dilabeli “fenomena gaib”…

Untuk mengukur sesuatu yg objektif, tidak hanya mengandalkan “harus bisa dilihat”, tidak juga hanya mengandalkan “harus bisa dideteksi indera”, tapi juga bisa dideteksi dengan alat bantu.. Kalo dengan semuanya tidak terdeteksi, barulah tidak bisa dibuktikan secara objektif.. 🙂

Dapat diobservasi belum tentu dapat dilihat kasat mata. Aktivitas otak pun dapat diamati (bahkan respons otak terhadap stimulus yang menyebabkan rasa sakit) dengan bantuan berbagai macam alat, misalnya fMRI. Tidak perlu lagi membelah otak. Bagian otak yang merespons rasa sakit ada di gambar berikut:http://www.technologyreview.com/news/425417/an-objective-way-to-measure-pain/

Di sisi lain, penglihatan juga tidak selalu dapat dipercaya. Halusinasi disebabkan oleh banyak hal. Skizofrenia, misalnya, adalah salah satu penyebab yang sangat umum.

Ada daftar di bawah—
http://en.wikipedia.org/wiki/Hallucination#Cause
lu anak kedokteran? pernah denger CT Scan?
sekarang apa lu pernah liat lubang pantat lu sendiri? belum? apakah berarti lu gak punya lubang pantat? LOL
angin bisa diukur dengan cara lain, bahkan bisa keliatan kalau anginnya berkumpul dan besar kayak angin puyuh.
lalu tuhan mana nih yang dimaksud? tuhan yahweh? ahura mazda? allah?
dan kesalahan besar kalau kamu mencoba nyamain tuhan sama angin, karena itu sama aja bilang kalau tuhan = kentut.
Angin itu real walaupun tidak terlihat secara visual, bisa diukut, bisa dimanipulasi dan dimanfaatkan bisa dipelajari, bisa menyebabkan erosi, bisa menjadi badai, bisa dijadikan sumber energi, bisa dipelajari polanya, dll..
http://en.wikipedia.org/wiki/Wind
Sedangkan tuhan itu subjective berdasarkan yg merasakannya atau doktrin yang masuk ke otaknya, yang tidak lebih dari konsep imajiner.

Ada bnyak tuhan, databasenya ada disini :
http://www.godchecker.com/
Anda bisa merasakan berbagai macam tuhan yg ada sesuai selera anda..

— Standar jawaban : Tuhan Vs angin.

1. Kita bisa melihat udara memiliki efek.
2. Kita dapat melakukan analisis kimia untuk melihat apa yang terkandung dalam udara dan dalam jumlah berapa.
3. Kita bisa mengukur kekuatan (tekanan) yang diberikan oleh udara.
4. Kita bisa dan telah membentuk model prediksi untuk udara dan dampaknya pada lingkungan kita. Ini diuji positif
5. Kita bisa melihat udara dengan mengurangi suhu…

Analogi angin tuh Failed.. Angin bisa dirasakan, bila angin berkumpul bisa berupa badai, tornado, puting beliung dan itu semua bisa dilihat dan dirasakan.. Lagian angin juga bisa di ukur.. Tuhan? Coba buktikan..

Untuk mengantisipasi pertanyaan lanjutan dari anda: sakit tidak punya kualitas berat, warna,panjang, tinggi, lebar, dsb.
jangan menggunakan metrik yang salah untuk mengukur objek. gunakan metrik yang tepat. tidak semua benda punya kualitas berat/massa(pendidikan, kebahagiaan, dst), warna(sakit, panas, tabrakan,dst), dll.
untuk lebih jelas tentang pengukuran, akan ada mata kuliah Pengukuran 3 sks di fakultas MIPA.

manusia tidak hanya memiliki indera penglihatan. Ini berarti bahwa suatu benda tidak mesti dapat dilihat untuk dapat diakui ada. Angin dapat dilihat melalui efeknya pada dedaunan, melalui rasa dingin di kulit, dst.Alat seperti anenometer bahkan dapat mengukur kecepatan angin dengan akurat.

Tentang angin cukup di sini. Penjawab yang lain harap tidak perlu melayani debat kusir. Silakan post thread baru untuk pertanyaan baru.
Ada banyak hal didunia ini yang dapat dibuktikan eksis tanpa harus melibatkan perspektif visual, Angin, Asin, Gerah ,Akal dll, tapi mereka ini bukan sosok yang personal dan Maha Bisa,

Saya bertanya punya pengalaman bertemu Tuhan..??
saya hanya kembali ke “Pengalaman Hidup”
Kasihan. Di saat manusia sudah menguasai aerodinamika lebih dari 1 abad terakhir, ada yang masih gak tahu apa itu angin di 2012. Saya turut berduka terhadap kegagalan pendidikan anda.
…keberadaan sesuatu itu tidak harus bisa dilihat menggunakan mata, ada banyak macam pembuktian, manusia memiliki beberapa indera selain mata, seperti:

– angin, ia ada bukan karena bisa dilihat, namun ia ada karena bisa dirasakan, bisa diukur kecepatannya dengan alat yg disebut anemometer- kentut, ia ada bukan karena bisa dilihat, namun ia ada karena bisa dibaui, bisa didengar (kalau yg bersuara).- suara, ia ada bukan karena bisa dilihat, namun ia ada karena bisa didengar, bisa diukur.

Nah ketiga hal diatas tentu bukan hayalan/imaginasi/ngibul hanya karena tidak bisa dilihat wujudnya, sama seperti elektron, elektron memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun ia bisa dideteksi dengan alat/cara yang lain, keberadaan elektron dapat dideteksi melalui eksperimen sinar katode, dan beberapa eksperimen lainnya, yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif serta dapat difalsifikasi, inilah yg dapat dijadikan bukti bahwa elektron itu ada, dan menjadi salah satu partikel dasar penyusun atom di alam semesta ini.

Dunia sudah menguasai aerodinamika (kalo gak tau, ini ilmu yang mempelajari pergerakan udara), punya barometer (kalo gak tau, ini alat pengukur tekanan udara), bisa memisah-misah unsur bahkan sampe gas mulia. Eh anda masih ribut “bisa lihat udara?”
Lampu neon itu isinya udara, bisa nyala kan? Matahari itu helium, bisa kelihatan kan?

Tidak juga. Tidak melihat bukan berarti tidak dapat diobservasi. Udara tak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan.

Tuhan tak ada, maka tak dapat dirasakan.
Seorang ateis bukan tidak percaya karena tidak melihat/merasakan. Banyak hal yang kita tidak bisa lihat/rasakan tapi nyatanya ada karena terbukti ada, seperti gelombang radio.

Anda harus pahami bahwa teori ilmiah itu artinya SUDAH TERBUKTI. Sekalipun anda tidak percaya gravitasi, anda bisa membuktikannya bahkan menghitungnya, dan hasilnya bisa diprediksi.

Kenapa anda tidak percaya Doraemon itu ada? Ini alasan yang sama kenapa ateis tidak percaya Tuhan itu ada.
“yang saya tangkap di sini ateis itu lebih menginginkan “wujud fisik” dari Tuhan ya…”
bukan melulu wujud fisik, namun bukti yg valid dan obyektif, suara, energi, cahaya, atmosfer, ozon, sinar kosmik, gelombang elektromagnet, itu gak berwujud fisik, namun bisa diukur, bisa dibuktikan keberadaannya secara obyektif, maka mereka semua itu ada, nah kalo tuhan? apa bukti obyektifnya?

Keberadaan gaya magnet, listrik, elektron, proton, dan neutron bisa dibuktikan keberadaannya.. Setidaknya ada dampak yang bisa diamati dari keberadaan gaya magnet, listrik, elektron, proton, dan neutron..

Logika :

premis 1 : manusia bernafas dengan paru-paru
premis 2 : gue manusia?

gue bernafas dengan paru2?
sebenernya agak dongok gak sih kalo nanya “lu punya paru2 ga?”
kalo cuma karena gak bisa dilihat sih, banyak hal yg gak bisa dilihat, tp bisa dibuktikan keberadaannya secara obyektif.. Kita punya kurang lebih 13 indra untuk mendeteksi keberadaan sesuatu.. belum lagi alat ukur lain yg dibuat oleh manusia..
tuhan, tidak bisa dibuktikan keberadaannya secara obyektif, menggunakan semua indra dan alat2 ukur yang ada..(iman bukan alat ukur loh.. itu sih subyektif)masalah kepercayaan awal sblm ateis ya pada beda2.. ada yg dari islam, kristen, dankawankawan.. ada jg yg emang dr kecil beruntung gak pernah dicekokin agama sama ortunya.. hanya diajarkan cara berpikir kritis dan moralitas.. *iri*
Perasaan itu umbrella term. Sebetulnya yang diwakili oleh kata perasaan itu salah duanya adalah: emosi dan inderawi.

Cinta bisa dibuktikan keberadaannya dengan mengukur perubahan hormonal, dan aktifitas otak, ia merupakan reaksi kimiawi.. itu logis dan dapat dijelaskan..untuk bisa dianggap ada, gak perlu berwujud (alias dapat dilihat) yang penting bisa diukur/dideteksi secara obyektif..

Perasaan yang namanya emosi itu jatuhnya di feel, bukan sense. Jadi ya memang tidak pernah dirasakan oleh indera.

Cinta itu banyak perasaan jadi satu. Euforia, jingkrak-jingkrak, itu karena dopamine pada otak. Ini perasaan yang sama dengan saat anda konsumsi cocaine. Deg-degan terus, itu karena sebetulnya kita grogi atau takut (takut salah, takut kehilangan, takut gagal pdkt). Ini ditrigger oleh adrenalin. yang bikin seneng, nyaman, itu serotonin. Lucunya bila dites kadar serotonin orang yang jatuh cinta sama OCD, kadarnya sama.

Jadi kalo anda orang OCD, lagi panjat tebing sambil konsumsi cocaine, anda bakal merasakan “cinta”.

Gas oksigen, nitrogen, sinar X, gelombang radio, elektron, itu semua adalah benda-benda gaib? Berarti memang kita punya perbedaan definisi. Masalahnya bukan soal percaya/tidak percaya, dan masih jauh lagi dari epistemologi atau ontologi. Kita bahas bahasa dan definisi aja sebelum lanjut 🙂

Dapat diobservasi tidak sama dengan dapat dilihat. Kita tidak dapat melihat musik, mendengar warna, dan sebagainya. Sederhananya, oksigen, angin, suara, masing-masing dapat diobservasi dengan metode tertentu (pikirkan gauge/alat pengukur di tangki elpiji/scuba diving). Tidak begitu dengan Tuhan. Yang kami butuhkan untuk percaya hanya bukti yang obyektif. Untuk mendapatkan bukti, sesuatu harus pertama-tama dapat diobservasi.