KITAB SUCI DAN MELIHAT TUHAN

0

x : Aku mau lihat Tuhan!
y : Gak mungkin
x : Kenapa?
y : Boro-boro melihat Tuhan Yg Maha Besar, melihat ujung semesta yg besar ini pun kita gak mungkin bisa
x : Lalu, darimana kamu tau tentang Tuhan?
y : Dari kitab suci
x : Jadi, kitab sucimu lebih hebat dari panca indra?
y : Iya, dong. Kitab suciku sempurna dan dapat menjawab semua persoalan
x : Panca indraku bisa melihat penguin, apakah dalam kitab sucimu ada gambaran tentang penguin?
y : Mmm… enggak
x : Berarti, kitab sucimu gak sehebat dan selengkap yg kamu kira

Masing-masing pandangan selalu memiliki argumentasi apologisnya.

MITOS

0

Pada mulanya adalah mitos. Lalu lahirlah peradaban. Namun mitos bukan hanya pencipta peradaban. Mitos mengenai apokaliptis tidak hanya ada dalam tradisi kuno tapi juga hadir dalam agama-agama yang masih hidup di abad modern. Logika kosmologinya terdiri dari dua hal sederhana yakni penciptaan dan penghancuran. Itulah sebabnya dalam tradisi kuno dewa-dewa dianggap sebagai pencipta sekaligus penghancur, yang dianggap sudah menjadi haikikat para dewa. Dan instrumen penghancur dianggap sebagai “yang suci”, hal ini menjelaskan mengapa ada dewa air, dewa api, dll. Bangsa Kreta memuja Banteng yang di-asosiasikan pada gempa bumi yang mengguncang pulau Kreta; Nergal, dewa bangsa Sumeria digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan badai. Kitab apokalitik, dalam bahasa Yunani tidak hanya ditafsir sebagai kitab tentang hari Kiamat tapi juga sebagai wahyu. Ada relasi antara penghancuran dan hadirnya wahyu.

Apakah ada kaitan antara aspek destruktif manusia dalam sejarah dengan mitos-mitos yang bersifat apokaliptis? kemungkinan besar iya, karena manusia selalu berupaya menghubungkan apa yang sakral dengan dunia aktual. Ritual “Penghancuran” dikaitkan dengan ritual keabadian, penyucian, pengudusan. pemurnian, pemulihan. dst.

Di hadapan sejarah, mitos apokaliptik dengan lantang mengungkapkan: “Akulah yang awal dan yang akhir”

DISKUSI EINSTEINIAN DENGAN PROFESSORNYA :

1

Malam itu, seusai kuliah, seorang mahasiswa baru saja yang membaca anekdot tentang einstein muda mempermalukan profesor ateis, mencoba mempraktekkannya kepada profesor (mudah-mudahan ateis) yang baru saja selesai mengajar
.

mahasiswa(m): “Profesor, apakah dingin itu ada?”
profesor(p): “tidak”
m:”betul, karena dingin adalah ketiadaan panas”
p: “tunjukkan di mana panas itu”
m: “maaf, saya ga bisa menunjukkan di mana panas itu, tapi kita dapat merasakan keberadaan panas, seperti halnya tuhan”
p: “saya bisa merasakan panas, tapi kok ga bisa merasakan keberadaan tuhan ya?”
sang murid gelagapan, bingung cara menjelaskannya
m: “hmm…baiklah, apakah menurut anda gelap itu ada?”
p: “tentu saja ada”
s: ” maaf, pak profesor salah, yang namanya gelap itu tidak ada. kita tidak bisa mempelajari gelap-”
kata-kata sang mahasiswa terhenti. ia terkejut. tiba-tiba air muka sang profesor berubah. sang profesor tersenyum, tapi senyumannya terasa menyeramkan dan membuat sang murid gelagapan.sang profesor beranjak dari tempatnya, kemudian ia mengunci pintu kelas dan mematikan lampu, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. ruangan menjadi semakin sunyi. yang terdengar cuma suara napas mahasiswa baru yang kini paniknya bukan main.

p: “ini kan gelap”
m: ” ini bukan gelap! tapi ketiadaan cahaya!”

sang profesor tertawa dingin.
sang mahasiswa, menjatuhkan buku-bukunya. ia ingin kabur dari ruangan secepatnya. tapi tubuhnya terasa berat, kakinya seperti dicengkeram oleh tangan yang tidak tampak. tangannya mati rasa. dalam ketakutan yang amat sangat, setengah berteriak,ia melontarkan pertanyaan

m: “a-apakah pro-profesor punya otak?!”
p: ” tentu saja ada, tapi sepertinya pertanyaannya salah”

sang mahasiswa tidak peduli, dan melanjutkan pertanyaannya
m: ” …coba tunjukkan di mana otak anda!”

tiba-tiba lampu menyala. sang profesor, yang kini dalam kondisi kepala terbelah, mencabut otaknya, dan menyodorkannya kepada sang mahasiswa.

p: “ini… ada kok”

mulut mahasiswa baru terbuka. tubuhnya bergetar. matanya memancarkan rasa takut yang amat sangat. kedua tangannya meraih organ tubuh yang berdarah-darah yang ditawarkan oleh sang profesor. sang mahasiswa mencoba melawan tubuhnya sendiri, tapi hasilnya nihil. kini tangannya telah memegang onggokan otak. tidak lebih dari tiga detik kemudian lendir-lendir amis memenuhi mulutnya. otak itu dijejalkan ke tenggorokan oleh tangannya sendiri. tiba-tiba semua menjadi gelap dan kabur. sang mahasiswa kehilangan kesadarannya, tapi tangannya masih tetap bergerak memasukkan gumpalan sel abu2 ke dalam mulutnya, entah sampai berapa lama lagi…

epilog

empat tahun telah berlalu sejak kejadian mengerikan tersebut. sang mahasiswa, lulus dengan ipk sempurna. semua ini berkat otak yang diberikan oleh sang profesor. mantan mahasiswa itu kini menjadi semakin pintar dan kini menyadari kesalahan2 dalam argumen einstein palsu vs profesor ateis yang dulu dibacanya.

di manakah sang profesor itu kini berada? ternyata ia adalah jelmaan siluman teripang bawahan nyi roro kidul yang ditugaskan oleh penguasa laut selatan tersebut untuk membantu orang-orang yang dilanda logical fallacy dan mereka yang mudah termakan hoax

credits : Dd

COCOLOGI DALAM PARDIGM KU :

0

yang hanya ada postdiksi menurutku, bukan prediksi, jadi cara kerjanya ialah : cari temuan baru dalam science lalu bacalah dikitab. Bukankah kalau kitab itu benar, posisinya selalu ada didepan, tidak harus perlu membaca/mencocok-cocokan dengan science untuk perlu dianggap benar.

Sciencepun tidak mengklaim dirinya benar 100%, sementara, apabila science salah, maka kitabpun harus direvisi gitu ? jadi jelaslah cocologi ialah sebuah misconception, 2 hal yang berbeda tidak usah dicampuradukan science dengan iman, iman tidak perlu bukti, abosolut mutak 100% benar, sementara science terbuka dengan segala macam kritik, koreksi, tidak stagnant, selalu mengikuti perkembangan zaman, itulah keunggulan science terhadap bible.

Zaman dulu gereja ortodoks/khatolik itu kuat dalam memegang ajaranya, sehingga Spinoza atau Seperti Galileo galilei, yang diasingkan karena mengungkap kebenaran atau menistakan agama. Galileo dalam karyanya “Matahari Centris” mengatakan, “Matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi sebagai pusat tata surya”. Temuan ini bertentangan dengan bible mengatakan “Bumi adalah pusat tata surya, matahari mengelilingi bumi” (Yoshua 10:12-13), Kitab Kejadian 1:1-18 dikatakan oleh dogmatika sebagai Geosentris. Saya rasa tuhan harus membuat revisi bible yang kedua. Sekarang coba lihat, orang disana-sini melakukan postdiksi (cocologi). Mungkin akibat kejadian gelileo maka orang samawi, belajar dari kesalahan dengan membuat cabang ilmu baru “cocologi”.

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

3

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka dari mana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semesta ada karena gajah kosmik yang bersin, misalnya. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses big bang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.