SARTRE – THE WALL

0

All my life is appearing in front of me, clsoed inside a box. Everything that is inside is unfinished. For a moment I try to judge it. I try to say to myself that it was a beautiful life. But I cant.

Because it is only an unfinished sketch. Acting eternity, I understood nothing.

Sad for the kid, I dont really like this kid. So thin, fear has disfigured him. Before he was handsome, and now even if they let him free. He will never be young again.

I cant have pity, cause pity makes me sick. Death, death disenchanters everything.

I see it all in front of me like a picture, probably it hurts a lot. It is not like an ordinary pain, it is totally different.

I try to understand it, but is seems like a nightmare. I can really imagine it, and then it evades me. Exactly when I reach it, it is not there. I am not, we are not made to think like this. I dont feel nothing, I felt nothing.

Last night, I would give everything to see her once more. Now I dont know if I want to see her. My body is gray. Im the one who will die, I cant take anything from her eyes anymore. Im alone.

In death we are all alone.
He is alive and trembling in the cold.
He is a man that thinks about tomorrow, about a future full of life.

I have to touch myself to know that im alive. Sometimes I feel like fading into nothing. If they would let me go now, in the state iam, nothing would change.

If i have couple of hours, or If I have couple of years left, it is not important anymore. I have lost that sense of immortality.

My friendship with him died last night. Together with my love for Alma, and with wish to hold on to life. No life is worthier than mine!

But you know what? fuck the resistance, fuck the cause, fuck ideals, when you die nothing is important anymore. Nevertheless I could save myself but I dont do it. Strange, why I dont do it?

What a blast, to send all these idiots to run for nothing at all. Tighten your belt, give orders, go you trained monkeys.

I could not resist not to make fun of them, Im going to die anyway.

Iklan

LUMPEN PROLETARIAT : DARI SAJAK HINGGA CERPEN

0

Secara bahasa, lumpen proletariat dapat diartikan sebagai ‘orang yang berpakaian rombeng, orang jelata dan bawahan’[1].

Sementara itu, Karl Marx menajamkan pengertian lumpenproletariat sebagai “the dangerous class, the social scum that passively rotting mass thrown off by the lowest layers of the old society”,[2]

yakni suatu kelas yang berbahaya, sampah masyarakat, yang tersingkirkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Lumpen sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya ‘kain atau pakaian yang sudah menjadi lusuh’.  atau. Dapat juga secara kasar diartikan sebagai orang miskin (di kota maupun desa), gerombolan perusuh dan orang-orang buangan masyarakat industri. Mereka adalah kaum yang tidak masuk kategori proletar dan borjuis.

Keberadaannya dapat digunakan oleh politisi reaksioner maupun gerakan revolusioner, oleh karena itu posisinya dalam masyarakat tidak kuat. Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang jelas, keinginan untuk memperoleh pekerjaan dan hidup sebagai parasit sosial. Termasuk di dalamnya pencuri, pelacur, bandit, penjahat, penipu, gelandangan, pengangguran (dan calon pengangguran), orang yang dibuang dari industri, dan semua yang tidak masuk klas (declassed or non-class) dan taraf manapun. Kaum ini dipandang sebagai cadangan industri oleh para kapitalis. Setiap saat mereka bisa difungsikan untuk menurunkan posisi tawar buruh terhadap majikannya.

Dalam A Critique of The German Ideology, Marx menyebutkan bahwa lumpenproletariat tidak memiliki kekuasaan dan tidak terorganisasi. Termasuk di antaranya gelandangan dan pengemis. Bahkan Marx menyebutkan kedua golongan ini secara jelas dalam beberapa tulisannya. Dari definisi yang diberikan pemerintah[3] pun kita tahu bahwa gelandangan tidak bekerja dan oleh karena itu dapat digolongkan ke dalam lumpenproletariat. Sementara pengemis dapat dimasukkan ke dalam lumpenproletariat karena mereka dianggap sebagai klas terbuang yang hanya menjadi golongan yang tersingkirkan.

Dari segi definisi dan sejarah, gelandangan sejak dahulu memiliki potensi revolusioner seperti yang diaplikasikan kaum Marxis[4].

Peneliti-peneliti masyarakat zaman tradisional mengatakan di zaman kerajaan Indonesia, rakyat memberikan dukungan mereka pada raja dengan kaki. Artinya kalau tidak senang dengan pemerintahan raja, maka salah satu cara oposisi yang paling mudah adalah dengan melarikan diri dari lingkungan kekuasaannya[5].

Pengemis pun memiliki potensi revolusioner pasif karena di dalam diri mereka terkandung kecemburuan sosial terhadap kaum berpunya. Jika kecemburuan ini menuju pada kesadaran klas, maka gelandangan dan pengemis membentuk kelompok sosial baru dan dengan begitu dapat menjadi basis persediaan massa untuk mewujudkan revolusi sosialis.

Meskipun begitu, lumpenproletariat dengan ketidakberdayaannya (powerlessnes) tetaplah menjadi modal politis/properti bagi kaum borjuis. Meskipun ada di antara mereka yang mengangkat pemimpin dari golongan mereka untuk menjadi penguasa klas tersebut. Namun, hal ini tidak lantas menafikan penggolongan gelandangan dan pengemis sebagai kaum lumpenproletariat. Posisi mereka sangat dilematis: di satu sisi menginginkan kesetaraan dan perubahan nasib, di sisi lain mereka tidak memiliki pekerjaan yang membuat posisi tawar mereka semakin tinggi. Gelandangan dan pengemis tetaplah lumpen yang tersisihkan dari sistem klas sosial yang dibuat Marx.


Di jalanan pisau adalah kawan
Dan aku tahu benar cara bertahan
Tak usah kau mencemooh melempar cacian
Bukan kau yang memberi aku makan
Aku lahir di tangan bidan
dan ditinggalkan di sudut jalanan
kala sinar matahari belum kelihatan
Tak sekalipun aku minta dilahirkan
Ibu bapak siapa aku tak tahu
Yang kukenal hanya kawan-kawan gelandangan
Ya, mereka yang tinggal di kolong jembatan itu kawanku
Mereka yang mengais-ngais tong sampah kalian
Yang selalu diusir seperti anjing dan dihalau seperti debu
Kepada kami, kalian selalu memicingkan mata seperti memandang kecoa
Dunia kami memang kotor benar dari kaca jendela mobil mewahmu
Tinggal bayar tukang pukul maka kami ‘bersih’ dari lingkungan kalian
Tinggal pasang papan “Pengemis, pemulung, dan gelandangan dilarang masuk!”
ditambah satpam dan anjing penjaga maka sucilah lingkungan perumahan kalian
Prasangka masyarakatmu selalu untuk kami seakan kejahatan memang sah milik kami
Disini kami ditolak, disana kami ditolak
Disini kami diusir, disana kami diusir
Lalu kami disuruh tinggal dimana?
Sementara kalian punya dunia ini sebagai surga
Maka kami harus menerimanya sebagai neraka?
Kami kenal betul kerasnya aspal jalanan
Kami biasa dipukuli dan ditendang sana-sini
Kami tak akan jatuh dan mati hanya karena ini
Mungkin justru kalian yang besok mati di pisau kami


Hidup menjadi semakin tak masuk akal. Sejak setiap inci langkah kaki adalah arah menuju kios-kios ritel pabrik, sejak setiap patriot industri mengendus hidupmu hingga ke meja makan, sejak televisi hanya berbicara tentang bagaimana hidup harus dijalani, sejak pemerintah berbicara tentang keadilan sosial dan kemakmuran nasional dalam bual bebal.

Setiap kali melangkah meninggalkan rumah, yang tersisa hanyalah kewajiban-kewajiban yang kian hari kehilangan maknanya. Semangatnya kabur bersama libido konsumsi yang meraksasa. Di setiap tikungan, minimarket-minimarket bersolek melebihi pelacur. Belum lagi, sehabis itu semua, tibalah ujung jalan bercerita mengenai supermarket yang payah berbenah diri agar tak terganjal lajunya. Hidup kini hanya tinggal menunggu seseorang datang membawakan label harga berupa chip yang siap dipasangkan pada tengkuk, setelah itu, tinggalah para korporat memilih mana yang akan dipergunakan.

Dan media hanya bisa batuk setiap saat. Berbohong mengenai anarki dan homogenitas. Televisi, sejak perkembangannya merupakan senjata terampuh bagi setiap penguasanya. Dengan dipegangnya industri ini, berarti hampir setengah dari hidup orang yang menyaksikannya menjadi dapat diatur. Ke kiri atau ke kanan. Produk melaju pada durasi yang menjijikkan dengan janji-janji absurd dan tipu yang manis untuk dikecap.

Sebetulnya, tak seorang pun yang tertarik dengan pembahasan tentang pemerintah. Tentang mereka yang mendandani dirinya secantik malaikat dan berperangai lucu seperti bayi. Para pemain akrobat ini berkubang pada dasar lumpur yang mereka sukai. Tak ada yang menyukai mereka selain golongan mereka sendiri. Dan tentara adalah anjing-anjing penjaga yang hanya mengerti satu isyarat. Angguk.

*

Aku kira kau tak akan berangkat, sebab tadi pagi kau memberitahu lewat telepon selulermu bahwa kau sakit. Tulang terasa nyeri akibat encok yang dihajar udara dingin malam tadi. Katamu, hingga tulang kakimu terasa linu. Entah dari mana kau mendapat kekuatan hingga akhirnya berangkat juga. Aku tahu itu dari kawanmu, Lastri.

Lastri bilang, juga melalui telepon seluler, bahwa dia mengkhawatirkan keadaanmu yang bermuka pucat dan tak enak dilihat jika berjalan. Gontai.

Aku cemburu.

Tapi mungkin dengan satu alasan itulah engkau pada akhirnya berangkat juga, padahal engkau mengiyakan ketika aku melarangmu untuk berangkat. Engkau takut. Apa yang kautakutkan? PHK!

Aku memang mengenalmu sebagai buruh pabrik dengan upah bulanan yang tak layak. Kerjamu berdiri lima jam, lalu kau boleh istirahat, makan di kantin pabrik yang makanannya tak menggugah selera. Tapi kau tetap harus makan di sana. Setelah satu jam yang membosankan bernama jam istirahat, kau melanjutkan kerjamu. Berdiri lagi di satu ruangan yang terang oleh lampu neon dengan cahaya yang tak wajar. Dua jam lagi baru kau bisa pulang. Kadang kau melakukannya dari pagi hingga sore hari, kadang siang hingga malam, kadang sedari malam dan kau baru akan pulang ketika para pedagang di pasar mulai menghitung laba-rugi serta datangnya jadwal tidur maling kelas teri.

Engkau sering mengeluh capek, tapi kau bertahan. Aku sering memintamu berhenti, dan sering kita usaikan pembahasan itu dengan bertengkar. Padahal kita hanya pacaran.

“Tulang pada linu semua, Mas. Semalam dingin sekali, encokku kambuh lagi. Mana demamku mulai meninggi. Panas rasanya tubuhku, Mas.” Aku baca lagi pesan pendek pada telepon selulerku. Darimu, kekasihku.

Aku melarangmu untuk pergi ke pabrik, engkau mengiyakan. Tapi Lastri mengirimiku pesan pendek. Katanya kau ada di pabrik. Ah, bandel kau.

Aku tanggalkan kembali seragam kerjaku. Rompi warna jeruk matang, tanda bahwa aku tukang jaga parkiran. Aku berangkat, menungguimu di gerbang pabrik, menontoni dinding-dinding pabrik yang dingin seperti memendam rahasia seribu abad. Diam, kaku dan tanpa kompromi.

Satu jam, dua jam, aku tak perduli. Aku akan menunggumu keluar dari gerbang pabrik bersama ratusan bahkan ribuan buruh pabrik lainnya. Mungkin hanya satu jam lagi, kau akan muncul dengan senyum manismu yang terkadang kecut dihantam panas dan debu. Tidak dari pabrik.

Pukul empat lewat sepuluh menit, gerbang pabrik terbuka lebar. Satu, dua, tiga, lima puluhan dan ratusan manusia dengan model dan warna baju yang sama keluar dari lubang senggama industri. Kau tak tampak.

Aku kirimi kau pesan pendek. Di mana?

Aku kirimi Lastri pesan pendek. Di mana?

Aku menemui wajahmu yang sepucat apa yang disampaikan Lastri, engkau ringkih dan seperti tak mampu lagi bekerja.

Tapi adikku perlu sekolah, katamu. Buat apa? kataku dalam hati.

Ibu perlu tambahan biaya biar bisa—paling tidak—makan dengan sedikit layak.

Engkau berjalan, seperti gontai mendekati aku dan motor bututku di seberang jalan. Di gerbang pabrik lain. Engkau tersenyum, dan aku menerjemahkannya dengan, “Mas, kita jalan-jalan dulu, yuk.” Dan aku akan tak setuju, sebab aku membawakanmu jaket, dan kita akan pergi ke klinik atau dokter atau hotel dengan bangsal-bangsal, lorong-lorong serta bau menyengat bahan kimia.

Engkau menyeberang, dan ketika hanya tinggal beberapa langkah engkau hanyut dalam pelukku … Brak!!! Engkau berantakan, terbang dan mendarat di hadapanku. Mobil berplat merah yang menabrakmu berlari sekuat tenaga dikejar beberapa motor karyawan pabrik. Temanmu. Aku termangu, engkau tak bergerak, tak bernafas, tak hidup.

Tak ada darah, yang hanya ada  sekrup, kabel, monitor, lampu … 

Daftar Pustaka

Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial. (1984). Jakarta: Penerbit LP3ES.

Marx, K. (1932). A Critique of The German Ideology. Progress Publishers.

Marx, K., & Engels, F. (1959). Manifesto of The Communist Party. Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing.

Suparlan, D. P. (1984). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan dan Yayasan Obor Indonesia.

[1] Stirner dalam Lumpenproletariat, http://www.marxists.org/glossary/terms/l/u.htm

[2] Karl Marx dan Frederick Engels, Manifesto of the Communist Party, Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing, 1959.

[3] Lihat PP nomor 31 tahun 1980. Elizabethan Poor Law tahun 1601 yang menjadi cikal bakal undang-undang kesejahteraan sosial pun tidak memberi ruang bagi kedua golongan ini.

[4] Seperti Mao Zedong yang memobilisir kaum petani dan gelandangan dalam revolusi di Cina. Marx sendiri tidak menyetujui turut sertanya kaum lumpenproletariat dalam revolusi.

[5] Onghokham dalam Gelandangan Sepanjang Zaman, Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984. Pada zaman dahulu, definisi gelandangan masih netral, yakni diartikan sebagaimana pengembara/pengelana.

YOUR FUTURE

0

Your future is not defined by those who left, you shouldn’t have to wait for anyone or plan your future around someone who left in hopes they could come back.

Your future is not tied to the ones who don’t care about having you in their future, it’s not tied to anyone who leaves and expects to come back and find you.

Your future is not tied to the ones who couldn’t love you or the ones who didn’t believe in you, it’s not tied to the ones who told you that you can’t do certain things or follow your dreams, it’s not tied to the people who wanted you to settle for a life you didn’t enjoy.


Your future is not tied to the ones who fooled you, the ones who made promises they couldn’t keep, the ones who kicked you when you were down, the ones who pretended to be your friends because they needed something from you. Your future is not tied to anyone who betrayed you or anyone who took your love and kindness for granted.

You don’t have anything to prove to these people, you don’t have to work so hard to prove them wrong and you don’t have to consider them anymore when making a decision. Their opinions don’t matter, their criticism will no longer be heard and what they think of you shouldn’t bother you because they’ll never see you for who you are and they’ll never see you as someone capable of doing great things because they’re only interested in seeing themselves, they’re too busy focusing on their own greatness to realize yours.
Your future is not tied to anyone who doesn’t think you’re great or someone who is not afraid of losing you. Your future is not tied to people who belittle you or make you feel small, it’s not tied to people who forget you. Your future is not tied to people who make you feel like you’re not good enough.


Because the people in your life make all the difference; in your confidence, in your energy, in your determination, in your willpower, in your self-love and in how you see the world and the future. So don’t pick people who make you fear the future or attract the same toxic patterns of the past, don’t pick people who are waiting for the first sign of trouble to leave, don’t pick people who find excuses to leave instead of reasons to stay.


Don’t pick people who won’t make your future brighter, only pick those who are not afraid of the dark and know how to find the light. Pick the ones you can count on because you will need the right kind of people around you when you’re down. Pick the ones who love you enough to stay no matter how difficult you are and how diffcult your journey will be. Pick the brave ones, the ones who are only scared of losing you.

DANIAR

0

Cahaya kuning senja yang semakin lama menjingga menyiram jalanan, meyiram segenap perasaan yang ta berhenti sejenak dari upacara kehidupan.

Cahaya itu beranjak lalu melesat-lesat, membias dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin, wajah wanita yang membelakangi cahaya, tapi tidak terlalu meyilaukan sehingga bisa ditatap, tapi aku ta ingin menatap mu seperti keindahan yang segera hilang, semcam kebahagiaan. Wajah itu juga memantul dari genangan air disekitarnya, genangan air yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja. Aku tak akan lupa saat-saat pertama kali aku menatapmu. Kau sedang berdiri di sana, dalam remang senja langit yang kemerah-merahan, senja menjadi begitu sendu dan mengharu begitu indah. Segala pesona senja yang akan membuat kita jatuh cinta terlalu mudah.

Perlahan aku melihat ke langit jingga yang menaungi wajah kebahagiaan diriku. Kamu menoreh ke-atas dan melihat layang-layang dilangit bertarung dalam kekelaman jingga yang memudar. Sebelum jingga menghilang, saat jingga semakin mengungu aku harus menyatakanya padamu.

Kau duduk sebentar di bangku taman kota itu, aku melihatmu, aku duduk di sudut berseberangan dengan wajahmu. Seolah-olah aku menulis surat cinta terhadapmu, surat yang kutulis di bawah cahay senja yang merah temaram, di sini, di tempat aku memikirkan dirimu.

‘wanita tercinta tanpa bernama, apakah kau melihat ke arah yang sama? Memandangi senja yang menyelimuti kota yang perlahan-lahan merubahnya menjadi malam.

Kutulis surat ini kepadamu disana perlahan-lahan, bukan tangan yang bergerak di atas kertas melainkan hati yang menterjemahkan dirinya ke dalam tinta, aku harap kata-kata ini merungkuh dirimu’

Aku berhenti menulis sejenak, ku lihat langit disekitar semakin menggelap, seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut, perlahan-lahan menjauh, tapi itu tidaklah sepenting dengan wanita tanpa nama itu. Aku melanjutkan gerakan pena ditanganku.

‘wahai wanita tanpa namaku, apakah suasana ini indah bagi kita berdua, bisakah kita tinggal abadi, seperti daun melayang tertiup angin yang kita tidak tahu lagi ada dimana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita’

‘aku berharap kita tinggal di sebuah ruang dalam semesta yang dimana waktu tak tercatat, kau dan aku berbisik dalam kegelapan, kita saling menyentuh, saling merasa.’ Aku kembali berhenti menulis senjenak.

Kemudian Aku melihat sekitar bahwa cahaya keremangan berubah menjadi kegelapan, bola matahari tenggelam dicakrawala, jauh – jauh diluar kota. Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat. Kini kekelaman tinggal di kota, kota yang riang menjadi temaram, ditemani oleh kegenitan cahaya listrik yang kemudian berkeredap riang di antara kelam, menghabiskan hari-hari yang terulang ke-sekian.

‘wanita tanpa nama, aku ingin membangun dunia kita sendiri. Wanita tanpa nama jangan tinggalkan aku dalam kesunyinan dan kedinginan dalam pekat malam ini, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dari kelam ke kelam, kita arungi waktu bersama’

‘aku ragu mendekatimu, aku pesimis bahwa kau akan menerima perasaaanku, bahwa kau ta tertarik secara fisik terhadap diriku, aku yang peduli terhadap dirimu dan kau yang tak pernah memandangku bahkan tidak berfikiran untuk perduli terhadap orang asing seperti diriku’

‘apakah harusnya aku tidak perduli dengan semua ini, terhadap serbuk-serbuk perasaan yang tersisa untukmu, aku takut bahwa serbuk-serbuk perasaan itu dihempaskan oleh kata-kata mu, bagiakan lenyap hilang ditiup angin, bertebaran berantakan bercampur baur dengan debu yang berterbangan’

Ah sudahlah, aku beranjak dan menapaki langkahku ke arahmu berharap bahwa aku akan mengenali serbuk-serbuk perasaan itu kembali jika arah angin kembali menuju ke arah kita. Perasaan – perasaan yang seolah olah membuat kita berkata ‘aku seperti pernah berada disini, pada suatu hari, pada suatu masa, entah kapan, dari masa lalu ataukah masa depan’.

Aku sampai di depan wajahmu, aku merasakan cinta. Aku tak mengerti kenapa, memang ada saat-saat diamana kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa bergerak dan menjelma.

‘hi, naufal’ sambil menawarkan jabat tangan

‘Daniar’ dia berkata.

Lampu – lampu kendaraan disekitar kita membentuk untaian cahaya putih dan cahaya merah yang panjang, Wajah penjual kopi bermunculan dan mereka menawarkan ke setiap orang-orang yang duduk di bangku-bangku taman itu.

Aku memesan kopi, dan aku akan mengenang wakut dalam gelas kopi itu yang akan mendingin sebelum embun pagi tiba.

Kita saling bertanya satu sama lain, tentang siapa diriku, siapa dirimu. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya? Kau mencertiakan pahit, getir dan perjuangan hidupmu, begitu juga diriku. Begitu banyak kabar dari jauh, tentang orang-orang yang kita termui, yang mengabarkan tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran dan kita begitu sibuk dengan perasaan kita sendiri – tapi apalah salahnya? Kadang aku berfikir tentang betapa hidup itu fana, sepotong riwayat di tengah miliaran tahun semesta.

Kita berdua saling bercerita, seperti dua orang di belantara peristiwa, bertanya-tanya tentang apakah kita masih punya arti, dalam ukuran tahun cahaya? 😥 dalam sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu.

Aku ingin percakapan kita utuh, ah sepertinya tak pernah untuh dan ta pernah selesai, dan tak pernah menjadi lengkap. Namum siapa yang menuntut semua ini harus sempurna?

Aku gagal menyatakan perasaanku sebelum senja temaram. Tekatku berubah untuk menyatakan perasaan sebelum aku kehilangan malam. Atau seharusnya aku tahu bahwa semua ini tidak bisa menjadi apa-apa, tak perlu menjadi apa-apa. Aku sudah senang meski hanya saling memandang, dan tak perlu menengok segala penyesalan sebelum pertemuan.

Tak ada yang bisa disalahkan, tak perlu harus bertanya, kenapa harus jadi begini. Aku bertanya tentang apakah kita harus memanjakan perasaan? Atau memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri, membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan? Tapi apakah kamu bersedia menjadi teman hidupku dan hidup bersama-sama denganku?

Sudah terlalu seringku mendengar tentang seorang yang manti sendirian di kamar, kesepian, tanpa teman, membusuk perlahan-lahan, aku tak mau seperti itu, atau jangan-jangan aku akan mati seperti itu.

Kita berbincang dan kemudian aku menyembunyikan perasaan bahwa kamulah orang yang akan selalu kurindukan dan kucemaskan dan aku ialah seorang yang menyandarkan kehidupanya pada perasaan, dan perasaan itu ialah kamu.

Bintang mengintip dilangit yang bersih disaat kamu menyapukan lipstik kebibir. Perasaan ragu dan perbuatan dungu yang berharap kau pun tahu. Perasaan yang merubah menjadi gelap menghitam, langit berubah menjadi muram, gerimis pun melintas setelah senja, aku ta tahu masikah aku akan bertemu ‘malamku’. Dalam jejak senyap malam, langkahku mendekat diselimuti hujan, aku mencinta dalam sedu sendan yang tak bertanya. Apakah masih disebut cinta apabila tidak terdapat kebahagiaan padanya?

Kita semua memang akan menjadi tua Dan, tapi siapakah yang akan merasa kehilangan? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Dan, percayalah kita, kamu dan aku akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba selamanya. Aku menulis ini untuk mu, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang untuk selama-lamanya.