SAD MUSIC

0

Then the sun passed over me and went into darkness. I saw the light and comprehended it not. I felt the beckoning of the abyss. The sorrow of damnation tore at my flesh, and yet my cries for mercy renewed me upon the stage of suffering. My tears were dry, and burned my flesh, and I writhed in agony.

Before my eyes flashed my eternity, growing ever distant, like a star zooming away into the horizon, and my soul reaching out to its fading light. And before my eyes, these moments, became a spectacle to me, of my own ignorance, and I felt them magnified and press down upon my being, their revelation casting shadows upon me, their shadows a single drop of a rain in the storm that consumed me, the storm of darkness, the eternal darkness, which seized within itself, the great abomination, a festering wound, an endless upheaval.

Iklan

SARTRE – THE WALL

0

All my life is appearing in front of me, clsoed inside a box. Everything that is inside is unfinished. For a moment I try to judge it. I try to say to myself that it was a beautiful life. But I cant.

Because it is only an unfinished sketch. Acting eternity, I understood nothing.

Sad for the kid, I dont really like this kid. So thin, fear has disfigured him. Before he was handsome, and now even if they let him free. He will never be young again.

I cant have pity, cause pity makes me sick. Death, death disenchanters everything.

I see it all in front of me like a picture, probably it hurts a lot. It is not like an ordinary pain, it is totally different.

I try to understand it, but is seems like a nightmare. I can really imagine it, and then it evades me. Exactly when I reach it, it is not there. I am not, we are not made to think like this. I dont feel nothing, I felt nothing.

Last night, I would give everything to see her once more. Now I dont know if I want to see her. My body is gray. Im the one who will die, I cant take anything from her eyes anymore. Im alone.

In death we are all alone.
He is alive and trembling in the cold.
He is a man that thinks about tomorrow, about a future full of life.

I have to touch myself to know that im alive. Sometimes I feel like fading into nothing. If they would let me go now, in the state iam, nothing would change.

If i have couple of hours, or If I have couple of years left, it is not important anymore. I have lost that sense of immortality.

My friendship with him died last night. Together with my love for Alma, and with wish to hold on to life. No life is worthier than mine!

But you know what? fuck the resistance, fuck the cause, fuck ideals, when you die nothing is important anymore. Nevertheless I could save myself but I dont do it. Strange, why I dont do it?

What a blast, to send all these idiots to run for nothing at all. Tighten your belt, give orders, go you trained monkeys.

I could not resist not to make fun of them, Im going to die anyway.

LUMPEN PROLETARIAT : DARI SAJAK HINGGA CERPEN

0

Secara bahasa, lumpen proletariat dapat diartikan sebagai ‘orang yang berpakaian rombeng, orang jelata dan bawahan’[1].

Sementara itu, Karl Marx menajamkan pengertian lumpenproletariat sebagai “the dangerous class, the social scum that passively rotting mass thrown off by the lowest layers of the old society”,[2]

yakni suatu kelas yang berbahaya, sampah masyarakat, yang tersingkirkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Lumpen sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya ‘kain atau pakaian yang sudah menjadi lusuh’.  atau. Dapat juga secara kasar diartikan sebagai orang miskin (di kota maupun desa), gerombolan perusuh dan orang-orang buangan masyarakat industri. Mereka adalah kaum yang tidak masuk kategori proletar dan borjuis.

Keberadaannya dapat digunakan oleh politisi reaksioner maupun gerakan revolusioner, oleh karena itu posisinya dalam masyarakat tidak kuat. Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang jelas, keinginan untuk memperoleh pekerjaan dan hidup sebagai parasit sosial. Termasuk di dalamnya pencuri, pelacur, bandit, penjahat, penipu, gelandangan, pengangguran (dan calon pengangguran), orang yang dibuang dari industri, dan semua yang tidak masuk klas (declassed or non-class) dan taraf manapun. Kaum ini dipandang sebagai cadangan industri oleh para kapitalis. Setiap saat mereka bisa difungsikan untuk menurunkan posisi tawar buruh terhadap majikannya.

Dalam A Critique of The German Ideology, Marx menyebutkan bahwa lumpenproletariat tidak memiliki kekuasaan dan tidak terorganisasi. Termasuk di antaranya gelandangan dan pengemis. Bahkan Marx menyebutkan kedua golongan ini secara jelas dalam beberapa tulisannya. Dari definisi yang diberikan pemerintah[3] pun kita tahu bahwa gelandangan tidak bekerja dan oleh karena itu dapat digolongkan ke dalam lumpenproletariat. Sementara pengemis dapat dimasukkan ke dalam lumpenproletariat karena mereka dianggap sebagai klas terbuang yang hanya menjadi golongan yang tersingkirkan.

Dari segi definisi dan sejarah, gelandangan sejak dahulu memiliki potensi revolusioner seperti yang diaplikasikan kaum Marxis[4].

Peneliti-peneliti masyarakat zaman tradisional mengatakan di zaman kerajaan Indonesia, rakyat memberikan dukungan mereka pada raja dengan kaki. Artinya kalau tidak senang dengan pemerintahan raja, maka salah satu cara oposisi yang paling mudah adalah dengan melarikan diri dari lingkungan kekuasaannya[5].

Pengemis pun memiliki potensi revolusioner pasif karena di dalam diri mereka terkandung kecemburuan sosial terhadap kaum berpunya. Jika kecemburuan ini menuju pada kesadaran klas, maka gelandangan dan pengemis membentuk kelompok sosial baru dan dengan begitu dapat menjadi basis persediaan massa untuk mewujudkan revolusi sosialis.

Meskipun begitu, lumpenproletariat dengan ketidakberdayaannya (powerlessnes) tetaplah menjadi modal politis/properti bagi kaum borjuis. Meskipun ada di antara mereka yang mengangkat pemimpin dari golongan mereka untuk menjadi penguasa klas tersebut. Namun, hal ini tidak lantas menafikan penggolongan gelandangan dan pengemis sebagai kaum lumpenproletariat. Posisi mereka sangat dilematis: di satu sisi menginginkan kesetaraan dan perubahan nasib, di sisi lain mereka tidak memiliki pekerjaan yang membuat posisi tawar mereka semakin tinggi. Gelandangan dan pengemis tetaplah lumpen yang tersisihkan dari sistem klas sosial yang dibuat Marx.


Di jalanan pisau adalah kawan
Dan aku tahu benar cara bertahan
Tak usah kau mencemooh melempar cacian
Bukan kau yang memberi aku makan
Aku lahir di tangan bidan
dan ditinggalkan di sudut jalanan
kala sinar matahari belum kelihatan
Tak sekalipun aku minta dilahirkan
Ibu bapak siapa aku tak tahu
Yang kukenal hanya kawan-kawan gelandangan
Ya, mereka yang tinggal di kolong jembatan itu kawanku
Mereka yang mengais-ngais tong sampah kalian
Yang selalu diusir seperti anjing dan dihalau seperti debu
Kepada kami, kalian selalu memicingkan mata seperti memandang kecoa
Dunia kami memang kotor benar dari kaca jendela mobil mewahmu
Tinggal bayar tukang pukul maka kami ‘bersih’ dari lingkungan kalian
Tinggal pasang papan “Pengemis, pemulung, dan gelandangan dilarang masuk!”
ditambah satpam dan anjing penjaga maka sucilah lingkungan perumahan kalian
Prasangka masyarakatmu selalu untuk kami seakan kejahatan memang sah milik kami
Disini kami ditolak, disana kami ditolak
Disini kami diusir, disana kami diusir
Lalu kami disuruh tinggal dimana?
Sementara kalian punya dunia ini sebagai surga
Maka kami harus menerimanya sebagai neraka?
Kami kenal betul kerasnya aspal jalanan
Kami biasa dipukuli dan ditendang sana-sini
Kami tak akan jatuh dan mati hanya karena ini
Mungkin justru kalian yang besok mati di pisau kami


Hidup menjadi semakin tak masuk akal. Sejak setiap inci langkah kaki adalah arah menuju kios-kios ritel pabrik, sejak setiap patriot industri mengendus hidupmu hingga ke meja makan, sejak televisi hanya berbicara tentang bagaimana hidup harus dijalani, sejak pemerintah berbicara tentang keadilan sosial dan kemakmuran nasional dalam bual bebal.

Setiap kali melangkah meninggalkan rumah, yang tersisa hanyalah kewajiban-kewajiban yang kian hari kehilangan maknanya. Semangatnya kabur bersama libido konsumsi yang meraksasa. Di setiap tikungan, minimarket-minimarket bersolek melebihi pelacur. Belum lagi, sehabis itu semua, tibalah ujung jalan bercerita mengenai supermarket yang payah berbenah diri agar tak terganjal lajunya. Hidup kini hanya tinggal menunggu seseorang datang membawakan label harga berupa chip yang siap dipasangkan pada tengkuk, setelah itu, tinggalah para korporat memilih mana yang akan dipergunakan.

Dan media hanya bisa batuk setiap saat. Berbohong mengenai anarki dan homogenitas. Televisi, sejak perkembangannya merupakan senjata terampuh bagi setiap penguasanya. Dengan dipegangnya industri ini, berarti hampir setengah dari hidup orang yang menyaksikannya menjadi dapat diatur. Ke kiri atau ke kanan. Produk melaju pada durasi yang menjijikkan dengan janji-janji absurd dan tipu yang manis untuk dikecap.

Sebetulnya, tak seorang pun yang tertarik dengan pembahasan tentang pemerintah. Tentang mereka yang mendandani dirinya secantik malaikat dan berperangai lucu seperti bayi. Para pemain akrobat ini berkubang pada dasar lumpur yang mereka sukai. Tak ada yang menyukai mereka selain golongan mereka sendiri. Dan tentara adalah anjing-anjing penjaga yang hanya mengerti satu isyarat. Angguk.

*

Aku kira kau tak akan berangkat, sebab tadi pagi kau memberitahu lewat telepon selulermu bahwa kau sakit. Tulang terasa nyeri akibat encok yang dihajar udara dingin malam tadi. Katamu, hingga tulang kakimu terasa linu. Entah dari mana kau mendapat kekuatan hingga akhirnya berangkat juga. Aku tahu itu dari kawanmu, Lastri.

Lastri bilang, juga melalui telepon seluler, bahwa dia mengkhawatirkan keadaanmu yang bermuka pucat dan tak enak dilihat jika berjalan. Gontai.

Aku cemburu.

Tapi mungkin dengan satu alasan itulah engkau pada akhirnya berangkat juga, padahal engkau mengiyakan ketika aku melarangmu untuk berangkat. Engkau takut. Apa yang kautakutkan? PHK!

Aku memang mengenalmu sebagai buruh pabrik dengan upah bulanan yang tak layak. Kerjamu berdiri lima jam, lalu kau boleh istirahat, makan di kantin pabrik yang makanannya tak menggugah selera. Tapi kau tetap harus makan di sana. Setelah satu jam yang membosankan bernama jam istirahat, kau melanjutkan kerjamu. Berdiri lagi di satu ruangan yang terang oleh lampu neon dengan cahaya yang tak wajar. Dua jam lagi baru kau bisa pulang. Kadang kau melakukannya dari pagi hingga sore hari, kadang siang hingga malam, kadang sedari malam dan kau baru akan pulang ketika para pedagang di pasar mulai menghitung laba-rugi serta datangnya jadwal tidur maling kelas teri.

Engkau sering mengeluh capek, tapi kau bertahan. Aku sering memintamu berhenti, dan sering kita usaikan pembahasan itu dengan bertengkar. Padahal kita hanya pacaran.

“Tulang pada linu semua, Mas. Semalam dingin sekali, encokku kambuh lagi. Mana demamku mulai meninggi. Panas rasanya tubuhku, Mas.” Aku baca lagi pesan pendek pada telepon selulerku. Darimu, kekasihku.

Aku melarangmu untuk pergi ke pabrik, engkau mengiyakan. Tapi Lastri mengirimiku pesan pendek. Katanya kau ada di pabrik. Ah, bandel kau.

Aku tanggalkan kembali seragam kerjaku. Rompi warna jeruk matang, tanda bahwa aku tukang jaga parkiran. Aku berangkat, menungguimu di gerbang pabrik, menontoni dinding-dinding pabrik yang dingin seperti memendam rahasia seribu abad. Diam, kaku dan tanpa kompromi.

Satu jam, dua jam, aku tak perduli. Aku akan menunggumu keluar dari gerbang pabrik bersama ratusan bahkan ribuan buruh pabrik lainnya. Mungkin hanya satu jam lagi, kau akan muncul dengan senyum manismu yang terkadang kecut dihantam panas dan debu. Tidak dari pabrik.

Pukul empat lewat sepuluh menit, gerbang pabrik terbuka lebar. Satu, dua, tiga, lima puluhan dan ratusan manusia dengan model dan warna baju yang sama keluar dari lubang senggama industri. Kau tak tampak.

Aku kirimi kau pesan pendek. Di mana?

Aku kirimi Lastri pesan pendek. Di mana?

Aku menemui wajahmu yang sepucat apa yang disampaikan Lastri, engkau ringkih dan seperti tak mampu lagi bekerja.

Tapi adikku perlu sekolah, katamu. Buat apa? kataku dalam hati.

Ibu perlu tambahan biaya biar bisa—paling tidak—makan dengan sedikit layak.

Engkau berjalan, seperti gontai mendekati aku dan motor bututku di seberang jalan. Di gerbang pabrik lain. Engkau tersenyum, dan aku menerjemahkannya dengan, “Mas, kita jalan-jalan dulu, yuk.” Dan aku akan tak setuju, sebab aku membawakanmu jaket, dan kita akan pergi ke klinik atau dokter atau hotel dengan bangsal-bangsal, lorong-lorong serta bau menyengat bahan kimia.

Engkau menyeberang, dan ketika hanya tinggal beberapa langkah engkau hanyut dalam pelukku … Brak!!! Engkau berantakan, terbang dan mendarat di hadapanku. Mobil berplat merah yang menabrakmu berlari sekuat tenaga dikejar beberapa motor karyawan pabrik. Temanmu. Aku termangu, engkau tak bergerak, tak bernafas, tak hidup.

Tak ada darah, yang hanya ada  sekrup, kabel, monitor, lampu … 

Daftar Pustaka

Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial. (1984). Jakarta: Penerbit LP3ES.

Marx, K. (1932). A Critique of The German Ideology. Progress Publishers.

Marx, K., & Engels, F. (1959). Manifesto of The Communist Party. Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing.

Suparlan, D. P. (1984). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan dan Yayasan Obor Indonesia.

[1] Stirner dalam Lumpenproletariat, http://www.marxists.org/glossary/terms/l/u.htm

[2] Karl Marx dan Frederick Engels, Manifesto of the Communist Party, Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing, 1959.

[3] Lihat PP nomor 31 tahun 1980. Elizabethan Poor Law tahun 1601 yang menjadi cikal bakal undang-undang kesejahteraan sosial pun tidak memberi ruang bagi kedua golongan ini.

[4] Seperti Mao Zedong yang memobilisir kaum petani dan gelandangan dalam revolusi di Cina. Marx sendiri tidak menyetujui turut sertanya kaum lumpenproletariat dalam revolusi.

[5] Onghokham dalam Gelandangan Sepanjang Zaman, Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984. Pada zaman dahulu, definisi gelandangan masih netral, yakni diartikan sebagaimana pengembara/pengelana.

Romance De luna – luna – luna

0

The moon came to the forge
wearing her bustle of nards.
The child stares and stares at her;
the child keeps staring on.
In the agitated air the moon moves her arms revealing lubricious and pure
her breasts, tin and hard.
Run away, moon, moon, moon!
If the gypsies find where we are
white necklaces and rings
they’ll make of your heart.
Little boy, let me dance,
for when the gypsies come,
on the anvil they’ll find you
with your little eyes shut.
Run away, moon, moon, moon;
already I hear a horse.
Little boy, let me be, don’t step
on my whiteness of starch.

Beating the drum of the plains
the horseman approached,
and inside the forge
the child’s eyes are closed

Through the olive grove they came, gypsies half bronze and half dream,
their heads lifted up high,
eyes closed as in sleep.

How the owl is singing,
from its tree, how it hoots!
With a child by the hand
through the sky goes the moon.

Inside the forge
the gypsies cry and scream.
The air keeps on in vigil.
The air its vigil keeps

THE GREATEST OF THREE

0

Though I speak
with the tongue of angels,

If I have not love,
I am become as hollow brass.
Though I have the gift of prophecy,
And understand all mysteries.
And all knowledge…
And though I have enough faith
To move the mightiest mountains,

If I have not love,
I am nothing.

Love is patient.
Love is kind.
It bears all things.
It hopes all things.
Love never fails.

For prophecies shall fail,
Tongues shall cease,
Knowledge shall wither away.

For prophecies shall fail,
Tongues shall cease,
Knowledge shall wither away.

And now shall abide…
Faith, hope, and love.
But the greatest of these three
Is love.