Hukum Termodinamika II dan Evolusi : Part 1

0

[Penjelasan Istilah Sistem Dalam Termodinamika]

1. Open System     :  Bahwa adanya pertukaran materi dan energi
2. Closed System   : Bahwa adanya pertukaran energi tetapi tidak dengan materi
3. Isolated System  : Bahwa tidak adanya pertukaran energi ataupun materi

[Entropi]

Entropi ialah tingkat penyebaran energi di dalam suatu sistem. Sering kali dikasih definisi sebagai derajat ‘kekacauan dalam suatu sistem’.
Sebenarnya entropi itu sedikit lebih absrak dan hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa alam semesta akan meningkat keseragamanya, dalam hal apa? Dalam hal panas, atau transfer ‘heat energy ‘ dimana panas dalam alam semesta akan menyebar hingga keseluruhan bagian di alam semesta memiliki termprature dan tingkatan energi yang sama (dalam prosedur pertukaran panas, panas selalu ditransferkan dari objek/wilayah yang memiliki temprature yang tinggi ke temprature yang lebih rendah, hingga keseimbangan termprature dari kedua objek/wilayah seimbang atau mencapai keseimbangan.

Dengan kata lain, semuanya yang dalam sistem terisolasi/isolated system cenderung menjadi seimbang. Ketika alam semesta telah mencapai titik ‘equilibriumnya’ maka hilanglah semua daya dukung alam semesta untuk mensupport kehidupan dimanapun, atau tidak ada tempat yang ramah bagi kehidupan. : http://bigthink.com/dr-kakus-universe/the-big-freezehttp://www.spaceanswers.com/deep-space/what-is-heat-death/
Atau simpelnya : seiring dengan waktu, sebuah ruang akan menjadi ‘disorder’, menjadi lebih ‘kacau’ (bahwa materi akan terdistribusikan secara rata diseluruh tempat, bukan sebaliknya hanya terkonsentrasi di beberapa tempat saja).

Jadi gini analoginya, semua energi, entah itu dari tubuh kita, atau dari mesin akan dikonversi menjadi energi panas (menghasilkan panas – bekerja menghasilkan panas), dan panas itu akan menyebar secara merata diseluruh alam semesta hingga alam semesta mencapai titik ‘equilibriumnya’. Ketika alam semesta mencapai titik keseimbanganya maka tidak ada aktivitas/gerakan lagi di alam semesta, karena aktivitas ialah dimana energi seharusnya terkonsentrasikan dalam suatu tempat/tidak ada lagi energi yang dapat terkonversi.

—–
Apakah evolusi melanggar hukum termodinamika kedua?

Seperti yang telah kita ketahui bahwa hukum alam tidak bisa dilanggar, salah satunya hukum termodinamika kedua yang menyatakan bahwa kekacuan selalu meningkat, sayangnya beberapa orang berfikir bahwa ini merupakan masalah bagi evolusi yang memfalsifikasi datangnya asal muasal kehidupan secara natural. Tapi pada dasarnya kehidupan mematuhi ‘scientific law’.

Apa sih hukum kedua dari thermodynamics? Itu mengatakan bahwa dalam sebuah ‘isolated system’ bahwa entropy akan cenderung meningkat. Tapi kerasionist suka memutar balikan arti dari hukum termodinamika ini dalam agenda mempromosikan agama dan propaganda mereka, sangat benar-benar kacau, mereka tidak perduli apa itu science sebenarnya tapi mereka hanya memandang science ialah sesuatu bidang yang harusnya mendukung posisi iman mereka, ya bisa dibilang ‘cherry-picking’.

Mereka selalu menyamakan kata ‘entropy’ dengan ‘disorder’, dan mereka bilang ‘disorder’ selalu meningkat seiring waktu, oleh karena itu maka ini membantah evolusi yang menyiratkan bertambahnya kompleksitas/susunan dari organisme entah bagaimana melanggar hukum termodinamika kedua yang menjadikan ‘more order then disorder’. Ini ialah ironi, bagaimana mereka menggunakan science untuk membantah science. Hilarious! Creationists are so funny!

Ada sebuah ide yang selalu digunakan banyak orang yang anti evolusi untuk membuktikan membantah) ‘biological evolution’ itu tidak mungkin. Yaitu ide yang mencoba mempertentangkan hukum termodinamika II dengan evolusi. Bagaimana pun ide tersebut berasal dari ‘a flawed understanding’ mengenai hukum termodinamika II, faktanya teori evolusi tidaklah bertentangan dengan hukum-hukum fisika yang ada (read: Hukum termodinamika II).
Bagaimanapun juga hukum termodinamika II tidak mencegah adanya keteraturan ‘order’ di suatu bagian wilayah dari sistem yang terutup selama ada suatu bagian/wilayah lain dari sistem tersebut yang ‘disordered’. Disorder > order = sesuai dengan hukum termodinamika II bahwa entropi selalu meningkat seiring waktu.

Contohnya ada banyak dari kejadian sehari-hari kita yang membuktikan bahwa mungkin kok untuk membuat ‘order’ keteraturan, misalnya bahwa ada orang yang menebang beberapa pohon, membentuk menjadi tiang kayu, dan membangun rumah dari bahan baku pohon-pohon tersebut. Tetapi kan dalam proses pengkerjaanya seorang tersebut telah mengeluarkan panas, dari tubuhnya, mesin, aktivitas kegiatanya yang mana panas akan meningkat seiring meningkatnya entropi dari keseluruhan alam semesta.

Bayangkan ada 2 batttery yang menyimpang energi, itu tidak harus battery tapi bisa juga medium apapun yang dapat  menyimpan energi, hukum kedua termodinamika menyatakan kapanpun elu melakukan transfer energi dari suatu sistem ke sistem lainya, elu tidak akan mendapatkan 100 % efficiency, ketika elu mencharge battery A dari battery B, elu tidak mendapatkan full efficiency. Nah lalu kemana sisa energynya pergi, itu lepas menuju kesekeliling, ini juga menjadi alasan kenapa ketika elu mencharge HP, itu akan menjadi panas karena energi terlepas (tidak efficient).

Ketika energi lepas-terbuang-hilang itu akan menjadi sulit untuk digunakan, dan ketika tidak ada energi yang dapat dikonvert menjadi susuatu energi yang dapat digunakan maka itu akan menjadikan ‘state of equilibrium’. Jadi pada ‘isolated system’ dimana elu punya energi yang sedang ditransferkan dari sekeliling elu, elu akan tetap kehilangan energi sebagai panas dan ini akan menjadikan entropi meningkat. Dalam suatu sistem ketika energi dapat disimpan/tidak digunakan maka entropy akan rendah, sebaliknya apabila energi yang disimpan sedikit maka banyak yang dilepaskan menjadi ‘useless heat’ yang menyebabkan entropi meningkat. Dalam sistem terisolasi dimana tidak adanya intervensi dari sistem lainya akan menyebabkan entropi meningkat.

Atau contoh lain, misalnya coba bayangkan ketka cucah berubah dan di luar menjadi dingin, udara dingin memiliki entropi yang sedikit daripada udara hangat pada umumnya, dan itu terhitung sebagai ‘ordered’ karena molekul-molekul tidaklah bergesekan satu sama lain atau tidak bergerak cepat ke sekitar dan cenderung tenang – terkumpul di beberapa tempat. Itu menyiratkan bahwa entropi di tempat kita local place) cenderung ‘more ordered’ – turun, tetapi selama ditemani peningkatan entropi ditempat lain, maka hukum termodinamika II tidaklah terlanggar. Dengan kata lain untuk hal tertentu, entropi memang bisa menurun (semakin teratur). Tapi ini bukan tanpa pengorbanan. Untuk menurunkan entropi diperlukan energy. Dan bumi yang memiliki kehidupan yang memiliki entropi relatif rendah ini berkat energi dari matahari.

Tapi kalo dilihat lagi dari grand schemenya seluruh jagat raya, entropi memang akan terus meningkat. Keteraturan akan berubah menjadi ketidak-teraturan.

Itu ialah gambaran umum bahwa alam memungkinkan ‘generating order out of disorder’ di area lokal – tempat tertentu tanpa melanggar hukum termodinamika II, dan itulah hal yang sama yang terjadi pada teori evolusi – abiogenesis.

Disisi lain ada orang yang mengatakan bahwa kita yang berasal dari bakteri telah melanggar hukum termodinamika II : “Teori evolusi menyatakan bahwa atom-atom dan molekul-molekul tidak hidup yang tak teratur dan tersebar, sejalan dengan waktu menyatu dengan spontan dalam urutan dan rencana tertentu membentuk molekul-molekul kompleks seperti protein, DNA dan RNA. Molekul-molekul ini lambat laun kemudian menghasilkan jutaan spesies makhluk hidup, bahkan dengan struktur yang lebih kompleks lagi. Menurut teori evolusi, pada kondisi normal, proses yang menghasilkan struktur yang lebih terencana, lebih teratur, lebih kompleks dan lebih terorganisir ini terbentuk dengan sendirinya pada tiap tahapnya dalam kondisi alamiah. Proses yang disebut alami ini jelas bertentangan dengan Hukum Termodinamika II – Entropi.

TAPI ‘complexity in living organisme’ disatu sisi menaikan ‘amount of order’. Contohnya amino acids akan tersusun/berubah menjadi polupeptide yang mana jauh lebih besar serta lebih kompleks secara protein. TAPI disisi lainya ‘living organisme’ juga menaikan ‘disorder’, misal organisme kompleks mengambil suatu energi dari sekitarnya seperti menyerap sinar matahari yang nyatanya menguras hidrogen dan helium matahari.

Bagaimana dengan bumi, mari kita ‘flashback’ mengenai argument kerasionist yang menyatakan bahwa hewan terlah berevolusi menjadi struktur yang lebih kompleks, tapi ini melawan hukum kedua termodinamika karena terkesan lebih menjadi ‘ordered’ which supposed to be more ‘disordered’, nah disini kita memakai analogi bahwa ‘living organism’ di bumi sebenarnya ialah medium penyimpanan energi, ‘living organism’ menyimpan energi dari matahari. Itu akan membuat suatu pelanggaran terhadap hukum termodinamika kedua APABILA energi yang makhluk hidup dapat dari matahari entah bagaimana lebih besar atau menjadi seimbang dari energi yang dikeluarkan matahari terhadap kita (high efficiency). Tapi kan engga, lebih banyak sinar matahari yang terubuang sia-sia yang kita tidak dapat manfaatkan atau contoh lainya tumbuhan menyerap sinar matahari, rusa memakan tumbuhan, ini seperti analogi transfer energi pada battery, kita tidak bisa mendapatkan ‘high efficiency’, begitu juga yang terjadi pada evolusi yang mengarah ke kompleksitas, itu tidak akan melanggar hukum termodinamika kedua selama ‘ADANYA ENERGI YANG TERBUANG’.

– Slave

Sambungan : http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1147736251809030862

SIAPA MANUSIA PERTAMA DI BUMI?

0

Jika ada yang bisa disebut sebagai manusia pertama, maka itu adalah kelompok spesies Homo sapiens pertama.

Pertama, tentang spesies. Spesies adalah satu pengelompokan organisme yang anggota-anggotanya bisa saling kawin dan menghasilkan keturunan fertil. Kuda dan keledai adalah spesies yang bebeda karena, sekalipun jika kuda kawin dengan keledai menghasilkan keturunan berupa bagal, keturunannya tidak fertil, alias steril. Bagal tidak bisa berketurunan baik kalau kawin dengan kuda, keledai, atau sesama bagal.

Kemudian, tentang spesiasi atau proses terjadinya spesies baru yang terbedakan dari spesies nenek moyangnya. Proses berubahnya mahluk hidup terjadi karena adanya mutasi gen yang terwariskan. Mutasi atau perubahan ini biasanya tidak besar dan drastis atau tiba-tiba dan sekaligus, tetapi kecil-kecil dan berangsur-angsur. Setelah sekian lama, dalam jutaan tahun, sekelompok organisme yang membawa akumulasi perubahan kecil-kecil itu telah menghasilkan organisme yang signifikan perbedaannya. Sedemikian berbedanya sehingga tidak bisa lagi menghasilkan keturunan fertil dengan spesies ‘asal-usul’ atau spesies ‘baru’ lainnya yang berevolusi bersama dari nenek-moyang yang sama tetapi berevolusi menuju ke arah yang lain.

Kalau agak bingung, spesiasi itu misalnya, ini contoh yang agak kasar: dinosaurus, sebagian keturunannya perlahan berubah menjadi biawak, sementara sebagian lagi berevolusi menjadi kutilang. Karena kutilang sudah sedemikian berubahnya, ia tidak bisa lagi kawin dengan dinosaurus dan menghasilkan keturunan yang fertil. Begitu pula kutilang adalah spesies yang berbeda dengan biawak, karena walaupun sama-sama keturunan dinosaurus, mereka berdua tidak bisa kawin dan menghasilkan keturunan yang fertil.

Kembali ke pertanyaan, siapakah kelompok spesies Homo sapiens pertama?

Kelompok Homo sapiens pertama adalah keturunan Nakalipithecus yang hidup 16 juta tahun yang lalu. Dari satu spesies tersebut, sebagian berevolusi menjadi gorila, sebagian lagi menjadi simpanse, bonobo, dan sebagian menurunkan genus Homo (dengan beberapa spesies). Spesies tertua dari genus Homo, yang sejauh ini sudah dipelajari fosilnya adalah Homo habilis yang hidup kurang lebih 2,5 juta tahun yang lalu. Genus homo ini juga terus berevolusi dan mengalami proses spesiasi menjadi spesies-spesies Homo lainnya. Dalam genus Homo tersebut, spesies Homo erectus kemudian menurunkan Homo sapiens, kira-kira 400.000 tahun yang lalu.

Jadi, (kelompok) manusia pertama adalah kelompok Homo sapiens pertama, yang hidup 400.000 tahun yang lalu, dan yang telah mengalami spesiasi dari ‘induk’ dan ‘sepupu’nya sehingga tidak bisa lagi saling kawin mawin dengan ‘induk’ dan ‘sepupu’nya dan menghasilkan keturunan fertil.

Dari sudut pandang teori evolusi, pertanyaan siapakah manusia pertama sebetulnya adalah pertanyaan: bagaimana proses munculnya spesies Homo sapiens.

there was no first man and first women in evolution

Jika berminat, sila kunjungi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_evolution

SPERMA TIDAK AKAN TERSESAT SAMPAI KAPANPUN..!!!

0

kenapa sperma bisa menemukan ovum secara akurat dan tidak tersesat? (yang jelas bukan karena adanya tuhan yang menyuruhnya)

============================================

Sperma bisa ketemu sel telur, mayoritasnya karena proses kimiawi, semuanya merupakan fenomena alami, pada sperma ada binding protein yang namanya izumol, dan pada permukaan sel telur ada protein reseptor yang disebut folr4, sekarang diberi nama Juno
sperma tahu ke mana arahnya karena mereka bisa mendeteksi dimana kandungan sinyal kimiawi yang dikeluarkan sama ovumnya

Namanya kemotaksis/chemotaxis sperma, proses dimana sel sperma mengikuti stimulus kimiawi yang dikeluarkan oleh sel telur, sampai sperma menemukan sel telur tersebut, sisanya diatur oleh protein pengikat izumol dan protein reseptor juno, dalam perkembangannya, kemotaksis ini digunakan sebagai mekanisme kritis dalam perkembangan, termasuk pergerakan sperma menuju ovum, dan migrasi neuron atau sel-sel darah putih tertentu
” .. sperm cells (spermatozoa) follow a concentration gradient of a chemoattractant secreted from the oocyte and thereby reach the oocyte.”

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sperm_chemotaxis
Nah, oosit ini sudah mengsekresikan bahan kimia, semakin dekat dengan oosit, semakin ‘kuat’ sinyal dari bahan kimia ini. Sperma mengikuti bahan kimia ini. Analoginya seperti anjing pelacak lah, dia mengendus bau, ketika baunya semakin kuat maka apa yang dia cari sudah semakin dekat. In short karena adanya chemoattractant ini sperma bisa mencari ovum.

chemotaxis: jadi si sperma mengikuti molekul yang dikeluarkan oleh ovum :
ada 2 jenis chemo-attractant (bahan kimia yang membuat sperma tertarik: satunya dari oocyte (tapi masih belum diketahui) dan dari progesterone) thermotaxis: adanya perbedaan suhu antara uterus dan oviduct secara tidak langsun mengarahkan sperma ke oviduct sehingga semakin dekat dengan ovumnya

Karena proses evolusi dan seleksi alam, kemotaksis bukan cuma milik sperma dan ovum, tapi merupakan pergerakan setiap organisme baik bersel satu ataupun multiseluler, dengan respon terhadap rangsangan kimiawi
sel somatik, bakteri, dan organisme sejenis melakukan pergerakan mereka tergantung pada bahan kimia tertentu di lingkungan, ini sudah dikembangkan sejak jaman organisme yang ada hanya protosel saja, digunakan untuk menemukan makanan, atau lari dari racun, ini disebut kemotaksis positif, dan kemotaksis negative

mekanisme ini sudah dikembangkan selama milyaran tahun, dan diadopsi oleh seluruh mahkluk hidup, termasuk tumbuhan, dan hewan, dan tentunya mamalia juga

EVOLUSI MULUT (BAGAIMANA MULUT PERTAMA TERBENTUK) :

0

Proses pembentukan mulut bisa disebut juga dengan “gastrulasi”, atau disitulah awal mulai terbentuk mulut dan sistem pencernaan secara general
Disamping mulut ialah hasil evolusi. Sebelum organ mulut ada, makannanya ya udah ada lah. Tapi lama kelamaan, tubuh hewan tersebut mengalami adaptasi di bagian pencernaan, sehingga Ia lebih bisa mencerna yang kompleks. Kebutuhan tersebut dipenuhi dengan adanya organ mulut sederhana, yang beradaptasi dari kebutuhan tersebut.

“To survive”. Adaptasi dengan adanya organ mulut menyebabkan kemampuan survive organisme meningkat.
Mulut sudah ada cukup lama. Kemungkinan besar, muncul pertama kali pada makhluk laut sejenis moluska. atau terbentuk saat era kejayaan ikan pada awalnya hanya lubang sederhana seperti ubur-ubur, flatworm dll. Sebelum punya mulut, ada banyak cara melakukan makan. Misalnya lewat difsui sel membrane.

Organisme multiseluler ada yang punya mulut, ada yang gak punya mulut dan ada yang punya proto-mulut (lubang sederhana). Organisme multiseluler sederhana yang belum mempunyai mulut, mereka makan pake proses endositosis. Mulut sederhana itu dimiliki organisme multiseluler kayak flatworm, dst.

Ga semua makhluk punya mulut. Tumbuhan ga punya. Bakteri, virus, jamur juga ga punya. untuk mmperoleh nutrisi tiap-tiap organisme mengembangkan cara yg bervariasi, tidak smua memiliki mulut, tumbuhan, hewan spon, virus masing-masing mengembangkan cara yang berbeda untuk memperoleh nutrisi.

Buat makhluk yang punya, mulut memang berfungsi untuk mempermudah masuknya makanan ke dalam saluran pencernaan. Tentunya adalah hasil dari evolusi. Pertama muncul cuma lubang sederhana, kemudian muncul proto-gigi berupa jaringan tulang lunak, kemudian barulah muncul mulut lengkap.

Untuk lebih jelasnya saya pakai GEOLOGIC TIME SCALE. Yang pertama ada eon Hadean, waktu kejadian: sekitar 4,6 billion years ago (saya singkat jadi BYA). Pada eon ini, bumi masih berbentuk sekumpulan gas-gas, belum ada atmosfir, belum ada air, dan belum ada kehidupan. Kemudian eon Archaezoikum, kisaran waktu: 3,8-2,5 bya; akibat dari gas-gas yg memadat dan menumbruk satu sama lain, terbentuklah semacam batuan simple; gunung berapi mulai terbentuk sehingga aktivitas vulkanik mulai banyak; terbentuk daratan yg disebut protocontinental; atmosfir juga sudah terbentuk namun kekurangan oksigen; air mulai ada, adanya air dibumi ini karena bumi ditabrak meteor dan komet yang ekor belakang komet atau meteor (saya lupa) itu terdiri dari bongkahan es, bongkahan es ini nabrak bumi, mencair, dan menghangatkan suhu bumi, serta pemacu terbentuknya batuan sederhana dan atmosfir; mikroorganisme sederhana ditemukan pada eon ini, yaitu sekelompok bakteri yang disebut stromatolit; kenapa bisa ada bakteri? Ada beberapa kemungkinan, tp silahkan googling sendiri untuk lebih jelasnya: terbentuknya protein sederhana penyusun sel akibat bersatunya nitrogen, fosfor, dsb oleh bantuan petir; teori kosmik: karena meteor dan komet yg nabrak bumi tadi juga membawa materi dna dari angkasa; dan masih ada beberapa teori lain.

Kemudian eon proterozoikum. Kisaran waktu: 2,5 bya-542 mya. Terjadi pembentukan daratan continental; atmosfir kaya oksigen; terbentuk mikroorganisme eukaryot sebagai hasil evolusi mikroorganisme prokaryot, dan bersifat herbivora; terjadi glasiasi (glaciation) pertama atau ICE AGE karena suhu bumi yg terus mendingin akibat dari kenaikan drastis kadar oksigen di atmosfir. Stromatolit dideskribsikan oleh charles walcott awal 1990. Nah Stromatolit ini merupakan OLDEST KNOWN ORGANISM. dia ga punya mulut, tapi bisa memproduksi zat organik sebagai bahan makanannya sendiri.

Stromatolit paling tua ditemukan di batuan di afrika selatan. Kemudian eon phanerozoikum. Sekitar 542-251 mya. Terbagi menjadi era paleozoikum, era mesozoikum, dan era kenozoikum. Era paleozoikum terbagi menjadi periode cambrian, ordovician, silurian, devonian. Di era ini, terjadi: pembentukan gunung dan pegunungn yg lebih intensif; ditemukan fosil hewan dengan tubuh lunak, skeleton dan shells. Nah era ini mulailah terbentuk mulut sebagai alat BANTU memasukkan makanan ke dalam tubuh. Makhluk hidup uniseluler atau satu sel memasukkan bahan makanannya lewat membran atau selaput sel nya, yang memiliki banyak pori-pori atau lubang, sehingga fungsinya mirip dengan mulut, namun proses memasukkannya melalui proses DIFUSI yaitu perpindahan zat terlarut dari larutan hipertonik ke larutan hipotonik (googling googling). Makhluk hidup multiseluler atau banyak sel pertama yg punya MULUT SEDERHANA yaitu porifera(googling ya) berupa lubang lubang juga.

Nahhh kemudian terjadi evolusi dari organisme se simple itu menjadi (langsung contohnya saja ya, dan silahkan google image kalau mau liat kenampakannya ) koral-terumbu karang, sponge-genus Hynoceras; cacing-flatworm; Brachiopoda-Chonetes; mollusca-gastropoda-cumicumi; echinodermata-lili laut; vertebrata-ikan hardshell contoh dari genus Arthrodires yang punya tameng aneh; dan seterusnya…… dari organisme tersebut, mulut yang terbentuk mulai kompleks karena: persaingan untuk mendapatkan makanan; tipe nutrisi si organisme karnivor(pemakan daging) atau herbivor(pemakan tumbuhan, dan biji)…

Selanjutnya saya ingin menjelaskan tentang mutasi evolusi bekerja, itu ibarat suatu orang tua (organisme),terus pada generasi pertama (anaknya) mempunyai cekungan, jadinya ukuran luas membran yang bisa menyerap makanan bertambah. Lalu pada generasi kedua (cucunya) mempunyai cekungan yang lebih dalam, generasi organism tersebut terus berlanjut sampai organisme yang punya lobang sederhana. Kemudian, di sekitar lobang terebut muncul alat-alat yang membantu makanan lebih mudah masuk ke dalam lobang tadi. alat ini, makin lama makin rapi dan bagus. Muncullan gigi, rahang, dll, ini yang dinamakan Mutasi.

P.S : Cekungannya nggak seberapa. mungkin dalamnya cuman beberapa milimeter.

Source : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22804777

HOMINID – BIPEDALISM

0

Hominid

Istilah hominid digunakan untuk menyebut anggota keluarga Hominidae, yang merupakan keluarga dari manusia – termasuk manusia modern. Hominid termasuk ke dalam keluarga besar (superfamili) Hominoidea yang mencakup kera dan manusia, yang memiliki ciri-ciri seperti manusia. Hominoidea mempunyai tiga keluarga, yaitu Hylobatidae (siamang, kera Asia), Hominidae (manusia dan tipe-tipe fosil yang sejenis), dan Pongidae (gorila, simpanse, dan orangutan) (Barnouw, 1982 : 107). Istilah hominid ini berasal dari bahasa Latin homo yang secara harfiah berarti manusia (Ing. man). Penggunaan istilah hominid ini mengacu kepada kondisi biologis manusia sebagai bagian dari keluarga Hominidae, sementara penyebutan human atau manusia digunakan saat membicarakan manusia dalam konteksnya sebagai makhluk yang sosial dan berbudaya, baik dilihat dari segi perilaku dan segi biologisnya (Nelson & Jurmain, 1979 : 11). Beberapa ahli menggunakan istilah hominid bagi semua leluhur spesies manusia. Menurut mereka, hominid yang pantas disebut human hanyalah yang menunjukkan kecerdasan, moralitas, dan kesadaran mawas-diri yang setingkat dengan kita.

Homo sapiens adalah satu-satunya jenis hominid yang hidup hingga saat ini. Namun, pada masa-masa sebelumnya terdapat pula jenis-jenis hominid lain seperti Australopithecines, yang meskipun bukan merupakan manusia (human being), tetapi memiliki kemiripan yang cukup signifikan dengan manusia apabila dibandingkan dengan kera. Australopithecines hidup di antara Pliosen Akhir dan Pleistosen Awal atau sekitar 4 juta hingga 1 juta tahun yang lalu. Mereka mempunyai postur tubuh yang tegak, namun kapasitas otaknya lebih kecil daripada manusia modern.
—————————————

Perbedaan Hominid dengan Primata

Pertanyaan menyangkut kapan hominid dan pongid (primata lain) itu berubah dan berbeda menghasilkan jawaban yang bermacam-macam. Seorang ahli mengatakan bahwa perubahan ini terjadi kurang dari 8 juta tahun yang lalu, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Ia menyatakan hal ini berdasarkan analisis molekular dari kesamaan dan perbedaan dalam DNA, protein, dan faktor-faktor imun pada gorila, simpanse, dan manusia. Sementara ini Sherwoon L. Washburn dan David A. Hamburg dalam bukunya tahun 1965, menempatkan perubahan ini pada sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 4 juta tahun yang lalu. Washburn percaya bahwa penggunaan perkakas mulai melesat dengan adanya evolusi, sehingga menyebabkan perubahan antara pongid dan hominid. Pertanggalan yang lebih dapat diterima oleh ahli yang lain mengenai perubahan antara pongid dan hominid ini adalah sekitar 20 juta tahun hingga 25 juta tahun yang lalu (Barnouw, 1982 : 114 – 115).

Dalam bukunya Man in The Primitive World, Hoebel (1958 : 35) menyebutkan beberapa hal yang menjadi perbedaan karakteristik pada primata dan hominid. Menurutnya, manusia, sebagai primata yang sudah berkembang sangat tinggi, memiliki karakteristik-karakteristik yang berbeda dari primata lainnya. Karakteristik tersebut antara lain adalah kapasitas otak yang paling besar, rahang yang paling kecil, dan gigi yang paling sedikit.
————–

Bipedalisme

Pembedaan antara hominid dengan hominoid yang lain terjadi saat menyinggung masalah habitat dan juga kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kera lebih mudah menyesuaikan dirinya pada wilayah atau tempat yang bercabang-cabang (baca : pohon), sementara leluhur kita lebih mudah menyesuaikan diri di tempat yang menyentuh tanah (terrestrial) dan mengembangkan bipedalisme. Pada proses bipedalisme, beban untuk bergerak terletak pada kaki, yang mengakibatkan bebasnya tangan untuk membawa benda-benda dan juga menggunakan perkakas. Dalam perkembangannya, hal ini memudahkan hominid berjenis kelamin perempuan untuk menggendong anak-anaknya.

Menurut Richard Leakey, evolusi kemampuan berjalan tegaklah yang membedakan hominid purba dengan kera lain yang sezaman. Hal itu mendasar sifatnya bagi kelanjutan sejarah manusia. Spesies hominid pertama dianggap sudah mempunyai sedikit-banyak ciri bipedalisme, teknologi, dan ukuran otak yang besar. Para antropolog cenderung memandang pentingnya bipedalitas dalam evolusi manusia dengan dua cara yang kemudian menjadi hipotesa atau aliran, yaitu:

1. aliran pertama yang menekankan pentingnya membebaskan anggota tubuh bagian depan untuk bisa membawa barang, dan
2. aliran kedua yang beranggapan bahwa bipedalisme merupakan cara bergerak yang lebih efisien, dan menganggap kemampuan membawa barang hanyalah sebagai hasil sampingan yang kebetulan muncul dari sikap berdiri tegak itu sendiri (Leakey, 2003 : 21).

Bukti yang menunjukkan adanya proses bipedalisme pada hominid awal adalah cetakan kaki yang berusia kurang lebih 3.6 juta tahun yang lalu, yang ditemukan oleh Mary Leakey di Laetoli, Tanzania, Afrika Timur pada tahun 1978. Leakey mengatakan bahwa ia hampir yakin bahwa cetakan ini adalah cetakan kaki dari makhluk yang temasuk hominid, meskipun bentuknya lebih lebar daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia mengatakan juga bahwa kemungkinan makhluk ini berjalan dengan lambat dan memiliki postur tubuh yang tegak (Barnouw, 1982 : 112).

Tiga kunci yang membedakan bipedalisme antara manusia dan simpanse, adalah
1. ketidakmampuan simpanse untuk memanjangkan sendi lututnya untuk menghasilkan kaki yang lurus,
2. keharusan untuk mengusahakan kekuatan pada ototnya untuk menyokong tubuhnya sendiri, dan
3. kebiasaan menekuk tubuh membuat tidak adanya layangan kaki pada tanah saat melangkah.
—————-

Hominid Awal

Hominid-hominid awal kemungkinan tidak mempunyai wilayah berkelana yang teratur dan berpola, namun mereka hidup berpindah-pindah, sesuai dengan kesempatan untuk mendapatkan makanan. Unit sosial dasar dipusatkan kepada seorang ibu atau perempuan, dan mungkin sudah terdapat kebebasan untuk memilih dalam kaitannya dengan hubungan seksual. Mereka juga kemungkinan sudah membangun sarang (nest), menggunakan perkakas dan benda lain (Pilbeam, 1970 : 84-85).

Oreopithecus bambolii adalah fosil primata yang diidentifikasikan oleh beberapa ahli sebagai hominid, meskipun ternyata bukan. O. bambalii yang ditemukan di wilayah Italia ini kemungkinan berasal dari masa Miosen, sekitar 13 juta tahun yang lalu. Dengan banyaknya perbedaan yang dimilikinya untuk dikategorikan sebagai hominid, pada akhirnya O. bambalii dimasukkan ke dalam keluarga hominoid (Barnouw, 1982 : 115).

Ramapithecus (yang kemudian berganti nama menjadi Sivapithecus) mewakili tahap awal perubahan pada hominid, dilihat dari susunan geliginya. Fosilnya ditemukan oleh G. Edward Lewis pada tahun 1934 di Bukit Siwalik, di sebelah barat laut India. Berdasarkan pengamatannya, Lewis menyimpulkan bahwa fosil ini memiliki ciri-ciri yang lebih menyerupai manusia dibandingkan menyerupai kera, sehingga ia juga menyimpulkan lebih lanjut bahwa fosil ini adalah jenis pongid yang berkembang, ataupun jenis awal hominid (Pilbeam, 1970 : 102).

Tahun 1924, Northern Lime Company sedang mengadakan penambangan di dekat kota Taung, Afrika Selatan, saat mereka menemukan fosil-fosil yang kemudian dikirimkan kepada Professor Raymond Dart di Universitas Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam bukunya, Asal Usul Manusia, Richard Leakey (2003: 25-26) menuliskan bahwa fosil ini terdiri dari bagian batok kepala, wajah, rahang bawah, dan rongga otak. Kepala bocah Taung ini memiliki banyak ciri kera, yaitu otaknya yang kecil, dan rahang yang menonjol. Sementara, Dart juga mengenali adanya ciri manusia pada tengkorak ini, seperti rahang yang tidak begitu menonjol seperti rahang kera, geraham yang rata, dan taring yang kecil. Petunjuk penting yang menjadi kunci dari segala ciri adalah letak foramen magnum pada fosil ini, yang menunjukkan bahwa fosil ini tadinya adalah kera yang bipedal. Hal ini ditunjukkan oleh letak foramen magnum-nya yang berada di tengah. Fosil bocah Taung (Ing. Taung baby) ini memiliki kapasitas otak sebesar 405 cc, dan dapat pula diperkirakan kapasitas otaknya jika ia dewasa, yaitu 440 cc.

Fosil-fosil yang berkaitan dengan keberadaan hominid awal kebanyakan ditemukan di wilayah Afrika Selatan (Makapansgat, Sterkfontein, Kromdraai, dan Taung) dan Afrika Timur (Danau Omo, Olduvai Gorge, Laetolil, Kanapoi, dan Hadar). Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai teori mengenai tempat di mana asal-usul manusia dimulai.