KITA IALAH ANAK-ANAK AFRIKA YANG BER-EMIGRASI?

0

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

=========================

Foto 1 : Model Out of Africa Migration

Dalam konteks sosial masyarakat Indonesia modern, seringkali kita jumpai istilah “pribumi” yang biasanya mengacu pada identitas orang asli di daerah tertentu. Memang secara umum kita mengenal klasifikasi umum etnis kesukuan lokal Indonesia, misalnya orang Batak itu di Sumetera Utara, orang Sunda itu di Banten dan Jawa Barat, orang Minang di Sumatera Barat, orang Bugis di Sulawesi Selatan, orang Dayak di Kalimantan Tengah dan Barat, dlsb. Namun di sisi lain, istilah “pribumi” ini sendiri juga kerap digunakan sebagai pembeda antar golongan masyarakat yang dianggap sebagai orang/suku/etnis asli Indonesia dengan mereka yang dianggap sebagai “kaum pendatang”.

Dikotomi antar istilah ‘pribumi’ dan ‘pendatang’ ini menjadi polemik tersendiri dalam konteks sosial bermasyarakat di Indonesia. Tapi pernah gak sih lo berpikir siapa sebetulnya orang asli pribumi di Indonesia ini?

Nah, dalam kesempatan ini, gua mau mengupas pertanyaan “Siapakah orang asli pribumi Indonesia” dengan tinjauan sejarah. Dari penjabaran gua di bawah ini, moga-moga kita semua jadi semakin paham konteks ‘pribumi’ dan ‘pendatang’, sekaligus menjawab siapakah orang yang pantas disebut sebagai orang asli pribumi Indonesia, dan siapakah yang sebetulnya ‘hanya’ kaum pendatang. Yuk kita mulai cerita sejarahnya!

Kedatangan 1: Homo erectus
—————-
Jauh sebelum manusia modern homo sapiens) datang ke kepulauan Nusantara, kaum pendatang pertama yang tiba di tanah yang kelak bernama Indonesia ini adalah Homo erectus yang melakukan migrasi panjang dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Kenapa gue bahas kok jauh banget sampai keHomo erectus segala? Karena bisa dibilang, Homo erectus inilah penduduk yang paling lama tinggal tanah Nusantara ini yaitu sekitar 1,5 – 1,7 juta tahun!

Migrasi panjang Homo erectus dari Afrika ke berbagai penjuru dunia memang cukup fenomenal dan sedikit banyak masih keberadaan mereka membentuk ekosistem yang kita kenal sekarang ini. Dari sekian banyak kelompok Homo erectus yang terpencar menuju Eropa, Asia Tengah, India, ada beberapa yang mencoba “nekat” nyusurin garis pantai selatan sampe ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores.

Mungkin ada sebagian yang bingung, gimana caranya erectus bisa nyeberangin laut? Perlu diingat bahwa garis batas daratan dan lautan yang kita kenal sebagai peta dunia modern sekarang itu berbeda dengan keadaan bumi 1-2 juta tahun yang lalu. Sekitar 1-2 juta tahun yang lalu, Pulau Jawa, Sumatera, dll itu belum terpisah alias masih menyatu. Jadi, 1,8 juta tahun yang lalu tuh homo erectus bisa jalan kaki dari Vietnam sampai ke Bali tanpa menyeberangi laut.

Erectus ini kemudian beranak pinak dan nyebar ke seluruh Paparan Sunda Sunda Shelf) termasuk beberapa di antaranya yang nyeberang laut sampai Flores. Jadi bisa dibayangin bahwa Homo Erectus ini udah “ngacak-ngacak” kepulauan Nusantara kita selama 1,5 juta tahun dengan berburu, membuat api, membentuk kelompok-kelompok, berperang, dlsb sampai akhirnya punah kira-kira 100,000 tahun yang lalu.

Kedatangan 2: Homo sapiens gelombang pertama Melanesia)
—————-
Sama seperti erectus, Homo sapiens atau manusia modern juga berasal dari Afrika dan melakukan migrasi besar-besaran ke seluruh penjuru dunia dalam dua gelombang migrasi. Gelombang pertama berlangsung kira-kira 100 ribu tahun yang lalu, sedangkan gelombang kedua berlangsung kira-kira 50-70 ribu tahun yang lalu. Gelombang pertama keluar dari Afrika lewat selat kecil yang misahin Ethiopia dan Yemen, terus lanjut ke India bagian selatan, nyusurin pantai lanjut ke Paparan Sunda sampai ada yang nyeberang dengan perahu ke Paparan Sahul (Papua, Australia).

Manusia modern gelombang pertama yang sampai ke wilayah Nusantara ini berciri Melanosoid(seperti ciri orang Papua dan Aborigin). Dalam periode waktu migrasi ini, daerah kepulauan Nusantara tetap tersambung tapi bukan karena faktor tektonik, melainkan karena pada masa itu, bumi ini sedang menjalani masa jaman es ice age) yang menyebabkan sebagian permukaan laut menyatu menjadi daratan es. Manusia modern gelombang pertama ini akhirnya menempati Nusantara sampai jaman es berakhir (es mencair menjadi lautan yang memisahkan pulau), sehingga terbentuklah Kepulauan Nusantara seperti yang kita kenal sekarang.

Kehadiran dari para petualang awal ini masih bisa kita lihat pada peradaban manusia modern yang lebih akrab kita kenal dengan kebudayaan berciri Melanesia atau golongan etnis Negrito. Beberapa di antaranya adalah:
• Suku Sentinel, Onge, Jarawa di Kepulauan Andaman,
• Suku Asli, Semang, Sakai di Malaysia,
• Suku Mani di Thailand,
• Suku Aeta, Agta, Ati di Filipina.
• Suku Dani, Bauzi, Asmat, Amungme di Indonesia & Papua Nugini
• Suku Aborigin Australia dan Tasmania
Dari persebaran ini, diduga kuat bahwa hampir seluruh daerah Paparan Sunda dan Sahul (mencakup seluruh wilayah Indonesia) sempat dihuni oleh orang-orang berciri Melanosoid.

Kehidupan orang Melanesia berawal dengan budaya berburu dan mengumpulkan makanan (hunter & gatherer), yang kemudian sebagian besar (kecuali Aborigin Australia) mulai mengenal pertanian, perkebunan, dan peternakan dalam skala kecil. Sayangnya, kebudayaan agrikultur ini tidak berkembang dengan skala luas karena kecenderungan masyarakat Melanesia yang berjumlah kecil dan terpisah jauh dengan suku tetangga lain. Hal ini juga yang menyebabkan orang Melanesia bisa hidup tanpa perlu mengembangkan pertanian dan peternakan dalam skala besar, dan juga tidak ada desakan lingkungan untuk membentuk struktur kemasyarakatan yang kompleks dan sistematis.

Terlepas dari itu, sebetulnya kalo ditanya siapakah orang ‘pribumi’ pertama yang nempatin Kepulauan Nusantara? Jawabannya jelas adalah orang-orang Melanesia. Mereka bahkan diduga kuat sebagai penyebab hilangnya Homo erectus di Paparan Sunda (entah dengan cara pembunuhan maupun perkawinan). Serunya lagi, para arkeolog dan paleontolog juga menduga bahwa manusia modern berciri Melanosoid ini diduga kuat pernah hidup bersama satu pulau dengan human-species lain yang merupakan keturunan dari Homo erectus yaitu Homo floresiensis di Kepulauan Flores.

Gw harap dengan artikel ini, ga ada lagi ungkapan, “ganyang aseng”, “gw itu pribumi, elu bukan”, “cinak bukan pribumi” atau “islam ialah pribumi”, orang yang mengatakan itu, ialah orang yang buta tentang sejarah, PADA DASARNYA KITA SEMUA IALAH ANAK-ANAK DARI AFRIKA YANG BEREMIGRASI. Kita semua ialah pendatang.

Pada hakikatnya, semua manusia yang ada Indonesia itu adalah pendatang.

Jadi ya memang betul bahwa warga keturunan Arab semit), India (dravida, tamil), dan Tionghoa sino-tibetan) di Indonesia adalah pendatang, sebagaimana orang Melayu austronesia) dan Papua melanesia) di Indonesia juga adalah pendatang. Bumi Nusantara dulunya adalah tanah tak bertuan hingga para manusia dari berbagai rumpun kesukuan berdatangan silih berganti dan mengklaim tanah ini adalah milik mereka, kekuasaan jatuh-bangun dari jaman Kerajaan, Hindia Belanda, sampai akhirnya kini menjadi negara Indonesia yang mewarisi keanekaragaman yang luar biasa. Perlu kita ingat bahwa kekayaan budaya yang kita nikmati sekarang ini lahir dari proses asimilasi, menerima perbedaan budaya, menghasilkan budaya campuran, dan akhirnya menjadi identitas bangsa yang baru, bernama Indonesia. Demikianlah pembahasan gua tentang asal-usul kedatangan manusia yang menjadikan keanekaragaman etnis yang sangat kaya di Indonesia, moga-moga bermanfaat dan menambah pengetahuan lo semua!

Sumber :
1. https://www.zenius.net/c/4247/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia
2. http://rstb.royalsocietypublishing.org/content/367/1590/770
3. Credit to : Faisal A

Iklan

Hominid – BIPEDALISM

0

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Istilah hominid digunakan untuk menyebut anggota keluarga Hominidae, yang merupakan keluarga dari manusia – termasuk manusia modern. Hominid termasuk ke dalam keluarga besar (superfamili) Hominoidea yang mencakup kera dan manusia, yang memiliki ciri-ciri seperti manusia. Hominoidea mempunyai tiga keluarga, yaitu Hylobatidae (siamang, kera Asia), Hominidae (manusia dan tipe-tipe fosil yang sejenis), dan Pongidae (gorila, simpanse, dan orangutan) (Barnouw, 1982 : 107). Istilah hominid ini berasal dari bahasa Latin homo yang secara harfiah berarti manusia (Ing. man). Penggunaan istilah hominid ini mengacu kepada kondisi biologis manusia sebagai bagian dari keluarga Hominidae, sementara penyebutan human atau manusia digunakan saat membicarakan manusia dalam konteksnya sebagai makhluk yang sosial dan berbudaya, baik dilihat dari segi perilaku dan segi biologisnya (Nelson & Jurmain, 1979 : 11). Beberapa ahli menggunakan istilah hominid bagi semua leluhur spesies manusia. Menurut mereka, hominid yang pantas disebut human hanyalah yang menunjukkan kecerdasan, moralitas, dan kesadaran mawas-diri yang setingkat dengan kita.

Homo sapiens adalah satu-satunya jenis hominid yang hidup hingga saat ini. Namun, pada masa-masa sebelumnya terdapat pula jenis-jenis hominid lain seperti Australopithecines, yang meskipun bukan merupakan manusia (human being), tetapi memiliki kemiripan yang cukup signifikan dengan manusia apabila dibandingkan dengan kera. Australopithecines hidup di antara Pliosen Akhir dan Pleistosen Awal atau sekitar 4 juta hingga 1 juta tahun yang lalu. Mereka mempunyai postur tubuh yang tegak, namun kapasitas otaknya lebih kecil daripada manusia modern.
—————————————

Perbedaan Hominid dengan Primata

Pertanyaan menyangkut kapan hominid dan pongid (primata lain) itu berubah dan berbeda menghasilkan jawaban yang bermacam-macam. Seorang ahli mengatakan bahwa perubahan ini terjadi kurang dari 8 juta tahun yang lalu, yaitu sekitar 4 juta tahun yang lalu. Ia menyatakan hal ini berdasarkan analisis molekular dari kesamaan dan perbedaan dalam DNA, protein, dan faktor-faktor imun pada gorila, simpanse, dan manusia. Sementara ini Sherwoon L. Washburn dan David A. Hamburg dalam bukunya tahun 1965, menempatkan perubahan ini pada sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 4 juta tahun yang lalu. Washburn percaya bahwa penggunaan perkakas mulai melesat dengan adanya evolusi, sehingga menyebabkan perubahan antara pongid dan hominid. Pertanggalan yang lebih dapat diterima oleh ahli yang lain mengenai perubahan antara pongid dan hominid ini adalah sekitar 20 juta tahun hingga 25 juta tahun yang lalu (Barnouw, 1982 : 114 – 115).

Dalam bukunya Man in The Primitive World, Hoebel (1958 : 35) menyebutkan beberapa hal yang menjadi perbedaan karakteristik pada primata dan hominid. Menurutnya, manusia, sebagai primata yang sudah berkembang sangat tinggi, memiliki karakteristik-karakteristik yang berbeda dari primata lainnya. Karakteristik tersebut antara lain adalah kapasitas otak yang paling besar, rahang yang paling kecil, dan gigi yang paling sedikit.
————–

Bipedalisme

Pembedaan antara hominid dengan hominoid yang lain terjadi saat menyinggung masalah habitat dan juga kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kera lebih mudah menyesuaikan dirinya pada wilayah atau tempat yang bercabang-cabang (baca : pohon), sementara leluhur kita lebih mudah menyesuaikan diri di tempat yang menyentuh tanah (terrestrial) dan mengembangkan bipedalisme. Pada proses bipedalisme, beban untuk bergerak terletak pada kaki, yang mengakibatkan bebasnya tangan untuk membawa benda-benda dan juga menggunakan perkakas. Dalam perkembangannya, hal ini memudahkan hominid berjenis kelamin perempuan untuk menggendong anak-anaknya.

Menurut Richard Leakey, evolusi kemampuan berjalan tegaklah yang membedakan hominid purba dengan kera lain yang sezaman. Hal itu mendasar sifatnya bagi kelanjutan sejarah manusia. Spesies hominid pertama dianggap sudah mempunyai sedikit-banyak ciri bipedalisme, teknologi, dan ukuran otak yang besar. Para antropolog cenderung memandang pentingnya bipedalitas dalam evolusi manusia dengan dua cara yang kemudian menjadi hipotesa atau aliran, yaitu:

1. aliran pertama yang menekankan pentingnya membebaskan anggota tubuh bagian depan untuk bisa membawa barang, dan
2. aliran kedua yang beranggapan bahwa bipedalisme merupakan cara bergerak yang lebih efisien, dan menganggap kemampuan membawa barang hanyalah sebagai hasil sampingan yang kebetulan muncul dari sikap berdiri tegak itu sendiri (Leakey, 2003 : 21).

Bukti yang menunjukkan adanya proses bipedalisme pada hominid awal adalah cetakan kaki yang berusia kurang lebih 3.6 juta tahun yang lalu, yang ditemukan oleh Mary Leakey di Laetoli, Tanzania, Afrika Timur pada tahun 1978. Leakey mengatakan bahwa ia hampir yakin bahwa cetakan ini adalah cetakan kaki dari makhluk yang temasuk hominid, meskipun bentuknya lebih lebar daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia mengatakan juga bahwa kemungkinan makhluk ini berjalan dengan lambat dan memiliki postur tubuh yang tegak (Barnouw, 1982 : 112).

Tiga kunci yang membedakan bipedalisme antara manusia dan simpanse, adalah
1. ketidakmampuan simpanse untuk memanjangkan sendi lututnya untuk menghasilkan kaki yang lurus,
2. keharusan untuk mengusahakan kekuatan pada ototnya untuk menyokong tubuhnya sendiri, dan
3. kebiasaan menekuk tubuh membuat tidak adanya layangan kaki pada tanah saat melangkah.
—————-

Hominid Awal

Hominid-hominid awal kemungkinan tidak mempunyai wilayah berkelana yang teratur dan berpola, namun mereka hidup berpindah-pindah, sesuai dengan kesempatan untuk mendapatkan makanan. Unit sosial dasar dipusatkan kepada seorang ibu atau perempuan, dan mungkin sudah terdapat kebebasan untuk memilih dalam kaitannya dengan hubungan seksual. Mereka juga kemungkinan sudah membangun sarang (nest), menggunakan perkakas dan benda lain (Pilbeam, 1970 : 84-85).

Oreopithecus bambolii adalah fosil primata yang diidentifikasikan oleh beberapa ahli sebagai hominid, meskipun ternyata bukan. O. bambalii yang ditemukan di wilayah Italia ini kemungkinan berasal dari masa Miosen, sekitar 13 juta tahun yang lalu. Dengan banyaknya perbedaan yang dimilikinya untuk dikategorikan sebagai hominid, pada akhirnya O. bambalii dimasukkan ke dalam keluarga hominoid (Barnouw, 1982 : 115).

Ramapithecus (yang kemudian berganti nama menjadi Sivapithecus) mewakili tahap awal perubahan pada hominid, dilihat dari susunan geliginya. Fosilnya ditemukan oleh G. Edward Lewis pada tahun 1934 di Bukit Siwalik, di sebelah barat laut India. Berdasarkan pengamatannya, Lewis menyimpulkan bahwa fosil ini memiliki ciri-ciri yang lebih menyerupai manusia dibandingkan menyerupai kera, sehingga ia juga menyimpulkan lebih lanjut bahwa fosil ini adalah jenis pongid yang berkembang, ataupun jenis awal hominid (Pilbeam, 1970 : 102).

Tahun 1924, Northern Lime Company sedang mengadakan penambangan di dekat kota Taung, Afrika Selatan, saat mereka menemukan fosil-fosil yang kemudian dikirimkan kepada Professor Raymond Dart di Universitas Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam bukunya, Asal Usul Manusia, Richard Leakey (2003: 25-26) menuliskan bahwa fosil ini terdiri dari bagian batok kepala, wajah, rahang bawah, dan rongga otak. Kepala bocah Taung ini memiliki banyak ciri kera, yaitu otaknya yang kecil, dan rahang yang menonjol. Sementara, Dart juga mengenali adanya ciri manusia pada tengkorak ini, seperti rahang yang tidak begitu menonjol seperti rahang kera, geraham yang rata, dan taring yang kecil. Petunjuk penting yang menjadi kunci dari segala ciri adalah letak foramen magnum pada fosil ini, yang menunjukkan bahwa fosil ini tadinya adalah kera yang bipedal. Hal ini ditunjukkan oleh letak foramen magnum-nya yang berada di tengah. Fosil bocah Taung (Ing. Taung baby) ini memiliki kapasitas otak sebesar 405 cc, dan dapat pula diperkirakan kapasitas otaknya jika ia dewasa, yaitu 440 cc.

Fosil-fosil yang berkaitan dengan keberadaan hominid awal kebanyakan ditemukan di wilayah Afrika Selatan (Makapansgat, Sterkfontein, Kromdraai, dan Taung) dan Afrika Timur (Danau Omo, Olduvai Gorge, Laetolil, Kanapoi, dan Hadar). Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai teori mengenai tempat di mana asal-usul manusia dimulai.

EVOLUSI MULUT (BAGAIMANA MULUT PERTAMA TERBENTUK) :

0

a0114477565cb6bb93592563254efa75t3efdade.jpg
==========

Proses pembentukan mulut bisa disebut juga dengan “gastrulasi”, ga cuma mulut, pembentukan rahim juga disebut gastrulasi, atau pelipatan sel, dan disitulah awal mulai proses terbentuk mulut dan sistem pencernaan (oral) secara general
Disamping mulut ialah hasil evolusi. Sebelum organ mulut ada, makannanya ya udah ada lah. Tapi lama kelamaan, tubuh hewan tersebut mengalami adaptasi di bagian pencernaan, sehingga Ia lebih bisa mencerna yang kompleks. Kebutuhan tersebut dipenuhi dengan adanya organ mulut sederhana, yang beradaptasi dari kebutuhan tersebut.

“To survive”. Adaptasi dengan adanya organ mulut menyebabkan kemampuan survive organisme meningkat.
Mulut sudah ada cukup lama. Kemungkinan besar, muncul pertama kali pada makhluk laut sejenis moluska. atau terbentuk saat era kejayaan ikan pada awalnya hanya lubang sederhana seperti ubur-ubur, flatworm dll. Sebelum punya mulut, ada banyak cara melakukan makan. Misalnya lewat difsui sel membrane.

Organisme multiseluler ada yang punya mulut, ada yang gak punya mulut dan ada yang punya proto-mulut (lubang sederhana). Organisme multiseluler sederhana yang belum mempunyai mulut, mereka makan pake proses endositosis. Mulut sederhana itu dimiliki organisme multiseluler kayak flatworm, dst.
Ga semua makhluk punya mulut. Tumbuhan ga punya. Bakteri, virus, jamur juga ga punya. untuk mmperoleh nutrisi tiap-tiap organisme mengembangkan cara yg bervariasi, tidak smua memiliki mulut, tumbuhan, hewan spon, virus masing-masing mengembangkan cara yang berbeda untuk memperoleh nutrisi.

Buat makhluk yang punya, mulut memang berfungsi untuk mempermudah masuknya makanan ke dalam saluran pencernaan. Tentunya adalah hasil dari evolusi. Pertama muncul cuma lubang sederhana, kemudian muncul proto-gigi berupa jaringan tulang lunak, kemudian barulah muncul mulut lengkap.

Untuk lebih jelasnya saya pakai GEOLOGIC TIME SCALE. Yang pertama ada eon Hadean, waktu kejadian: sekitar 4,6 billion years ago (saya singkat jadi BYA). Pada eon ini, bumi masih berbentuk sekumpulan gas-gas, belum ada atmosfir, belum ada air, dan belum ada kehidupan. Kemudian eon Archaezoikum, kisaran waktu: 3,8-2,5 bya; akibat dari gas-gas yg memadat dan menumbruk satu sama lain, terbentuklah semacam batuan simple; gunung berapi mulai terbentuk sehingga aktivitas vulkanik mulai banyak; terbentuk daratan yg disebut protocontinental; atmosfir juga sudah terbentuk namun kekurangan oksigen; air mulai ada, adanya air dibumi ini karena bumi ditabrak meteor dan komet yang ekor belakang komet atau meteor (saya lupa) itu terdiri dari bongkahan es, bongkahan es ini nabrak bumi, mencair, dan menghangatkan suhu bumi, serta pemacu terbentuknya batuan sederhana dan atmosfir; mikroorganisme sederhana ditemukan pada eon ini, yaitu sekelompok bakteri yang disebut stromatolit; kenapa bisa ada bakteri? Ada beberapa kemungkinan, tp silahkan googling sendiri untuk lebih jelasnya: terbentuknya protein sederhana penyusun sel akibat bersatunya nitrogen, fosfor, dsb oleh bantuan petir; teori kosmik: karena meteor dan komet yg nabrak bumi tadi juga membawa materi dna dari angkasa; dan masih ada beberapa teori lain.

Kemudian eon proterozoikum. Kisaran waktu: 2,5 bya-542 mya. Terjadi pembentukan daratan continental; atmosfir kaya oksigen; terbentuk mikroorganisme eukaryot sebagai hasil evolusi mikroorganisme prokaryot, dan bersifat herbivora; terjadi glasiasi (glaciation) pertama atau ICE AGE karena suhu bumi yg terus mendingin akibat dari kenaikan drastis kadar oksigen di atmosfir. Stromatolit dideskribsikan oleh charles walcott awal 1990. Nah Stromatolit ini merupakan OLDEST KNOWN ORGANISM. dia ga punya mulut, tapi bisa memproduksi zat organik sebagai bahan makanannya sendiri.

Stromatolit paling tua ditemukan di batuan di afrika selatan. Kemudian eon phanerozoikum. Sekitar 542-251 mya. Terbagi menjadi era paleozoikum, era mesozoikum, dan era kenozoikum. Era paleozoikum terbagi menjadi periode cambrian, ordovician, silurian, devonian. Di era ini, terjadi: pembentukan gunung dan pegunungn yg lebih intensif; ditemukan fosil hewan dengan tubuh lunak, skeleton dan shells. Nah era ini mulailah terbentuk mulut sebagai alat BANTU memasukkan makanan ke dalam tubuh. Makhluk hidup uniseluler atau satu sel memasukkan bahan makanannya lewat membran atau selaput sel nya, yang memiliki banyak pori-pori atau lubang, sehingga fungsinya mirip dengan mulut, namun proses memasukkannya melalui proses DIFUSI yaitu perpindahan zat terlarut dari larutan hipertonik ke larutan hipotonik (googling googling). Makhluk hidup multiseluler atau banyak sel pertama yg punya MULUT SEDERHANA yaitu porifera(googling ya) berupa lubang lubang juga.

Nahhh kemudian terjadi evolusi dari organisme se simple itu menjadi (langsung contohnya saja ya, dan silahkan google image kalau mau liat kenampakannya ) koral-terumbu karang, sponge-genus Hynoceras; cacing-flatworm; Brachiopoda-Chonetes; mollusca-gastropoda-cumicumi; echinodermata-lili laut; vertebrata-ikan hardshell contoh dari genus Arthrodires yang punya tameng aneh; dan seterusnya…… dari organisme tersebut, mulut yang terbentuk mulai kompleks karena: persaingan untuk mendapatkan makanan; tipe nutrisi si organisme karnivor(pemakan daging) atau herbivor(pemakan tumbuhan, dan biji)…

Selanjutnya saya ingin menjelaskan tentang mutasi evolusi bekerja, itu ibarat suatu orang tua (organisme),terus pada generasi pertama (anaknya) mempunyai cekungan, jadinya ukuran luas membran yang bisa menyerap makanan bertambah. Lalu pada generasi kedua (cucunya) mempunyai cekungan yang lebih dalam, generasi organism tersebut terus berlanjut sampai organisme yang punya lobang sederhana. Kemudian, di sekitar lobang terebut muncul alat-alat yang membantu makanan lebih mudah masuk ke dalam lobang tadi. alat ini, makin lama makin rapi dan bagus. Muncullan gigi, rahang, dll, ini yang dinamakan Mutasi.

P.S : Cekungannya nggak seberapa. mungkin dalamnya cuman beberapa milimeter.

Source : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22804777

TAKSONOMI

0

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Taksonomi (Klasifikasi biologi) adalah bidang biologi yang berkaitan dengan nomenklatur, identifikasi, dan klasifikasi organisme.

Taksonomis bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, penamaan, dan mengelompokkan semua spesies yang berbeda.

Sistematika adalah disiplin biologi yang secara eksplisit meneliti variasi alam dan hubungan organisme, yang termasuk di dalamnya meliputi bidang taksonomi.

Sistematika juga berkaitan dengan hubungan berbagai kelompok organisme, seorang systematicists berusaha untuk membangun sistem klasifikasi alam yang mencerminkan hubungan evolusi.

Klasifikasi organisme dapat dibagi menjadi tiga sistem utama:

1. Phenetics
Phenetics, juga dikenal sebagai taksonomi numerik, diusulkan oleh Sokal dan Sneath pada tahun 1950. Meskipun taksonomi modern sangat sedikit saat ini menggunakan phenetics, metode Sokal dan Sneath jelas merevolusi taksonomi dengan memperkenalkan algoritma numerik.

Phenetics mengklasifikasikan organisme berdasarkan kesamaan mereka secara keseluruhan.

Pertama, karakteristik yang berbeda dari sebuah kelompok organisme diukur. Pengukuran ini kemudian digunakan untuk menghitung koefisien kesamaan antara semua pasangan dari organisme. Kesamaan koefisien adalah angka antara 0 dan 1, dimana 1 menunjukkan identitas absolut, dan 0 menunjukkan perbedaan mutlak. Akhirnya, koefisien kesamaan digunakan untuk mengembangkan sistem klasifikasi. (LIHAT GAMBAR PERTAMA DIATAS)

———-

Perbandingan karakteristik atau ciri-ciri struktur) dari organisme dengan memberikan nomor atau menghitung jumlah kesamaan atau perbedaan antara organisme yang berbeda. Hasilnya adalah diagram bercabang Dendogram), data di atas menunjukkan beberapa karakteristik buah ditugaskan + untuk persamaan, dan – untuk perbedaan.

Jika kita kelompokkan semua persamaan similarity) antara dua buah sebagai nomor, kita kemudian dapat menggunakan ini untuk membangun sebuah Phenogram, (LIHAT GAMBAR KEDUA DIATAS) :

=========

2. Cladistics
Cladistics adalah metode yang mengklasifikasikan organisme berdasarkan urutan di mana garis evolusi yang berbeda bercabang dari satu sama lain. Ini pertama kali diusulkan pada tahun 1950 oleh Willi Hennig, seorang entomologi Jerman. Selanjutnya, banyak ilmuwan lain telah membuat metode asli Hennig lebih praktis dengan mengembangkan berbagai algoritma numerik cladistic, cladistics saat ini merupakan metode yang paling banyak digunakan sebagai cara klasifikasi.

Cladistics menentukan urutan cabang evolusi berdasarkan karakteristik yang sama, tidak menggunakan berbagi karakteristik primitif sebagai dasar untuk klasifikasi, karena ini bisa hilang atau diubah melalui jalur evolusi. Untuk menentukan suatu karakter yang primitif, klasifikasi cladistic umumnya bergantung pada satu atau lebih outgroups, dengan hipotesa satu spesies menjadi nenek moyang primitif dari semua organisme yang diteliti.

Sebuah contoh menggambarkan perbedaan antara karakterristik yang diperoleh bersama dan berbagi karakteristik primitif bersama berasal dalam klasifikasi cladistic. Nenek moyang mamalia umum dari manusia, kucing, dan anjing laut memiliki lima digit pada setiap tangan dan kaki. Dengan demikian, kehadiran lima digit merupakan karakteristik primitif bersama dan cladistics tidak memisahkan manusia dan kucing, yang memiliki lima digit di tangan mereka dan kaki, dari anjing laut, yang memiliki sirip dan bukan angka yang berbeda.

Sebaliknya, cladistics mengklasifikasikan anjing laut dan kucing dalam urutan carnivora, berdasarkan karakteristik tertentu diperoleh bersama tentang carnivora, dan manusia dalam urutan Primata, berdasarkan karakteristik berasal lain dari Primata.

Penting untuk dicatat bahwa klasifikasi cladistic tidak didasarkan pada jumlah perubahan evolusioner setelah percabangan off garis evolusi. Sebagai contoh, meskipun simpanse dan orangutan tampak lebih mirip satu sama lain dari pada keduanya terhadap manusia, tempat klasifikasi cladistic manusia dan simpanse bersama-sama karena mereka berbagi nenek moyang lebih awal yang sama daripada simpanse dan orangutan.

Klasifikasi tersebut mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, namun, taksonomi cladistic akan berpendapat bahwa klasifikasi tersebut harus dianggap sebagai titik awal untuk studi perbandingan berikutnya. Studi banding tersebut dapat berusaha untuk menemukan mengapa morfologi manusia berevolusi begitu pesat, relatif terhadap simpanse dan orangutan. (LIHAR GAMBAR KETIGA DI ATAS)

Dalam contoh Cladogram ini, kita dapat mendefinisikan perbedaan halus: autapomorphic: (berarti berhubungan hanya untuk satu organisme) Dalam diagram, struktur 5 sampai 9 adalah autapomorphic ke Kadal, dan synapomorphic: (artinya struktur apomorphic bersama oleh dua atau lebih organisme).

Dalam diagram di atas, struktur 13 (sirip jari/rays fin) yang synapomorphic baik Hiu dan Salmon. Plesiomorphic: Struktur 3 dan 4 plesiomorphic ke Salmon dan Kadal, tetapi tidak hiu.

Symplesiomorphic ialah makna struktur plesiomorphic yang digunakan bersama: misalnya struktur 1 dan 2 adalah symplesiomorphic ke Hiu dan nenek moyang Salmon dan Kadal.

=======
3. Phylogenetic (Evolusi taksonomi)
Evolusi taksonomi dapat dianggap sebagai campuran phenetics dan cladistics. Ini mengklasifikasikan sebagian organisme sesuai dengan pola evolusi yang bercabang dan sebagian menurut kesamaan morfologi serta hubungan kekerabatan secara keseluruhan. Taksonomi evolusi pada dasarnya adalah metode yang digunakan oleh ahli taksonomi evolusi awal dan juga disebut taksonomi klasik. (LIHAT GAMBAR KE-EMPAT DIATAS)

Sifat Phylograms dan cladograms berarti kita memahami lebih banyak dari teori evolusi, kita dapat mengubah dendrograms, dengan cara mengubah cabang terhubung dan panjang dari cabang tersebut.
http://youtu.be/ln7u-HblF8Y

Dalam klasifikasi biologi terdapat istilah-istilah yang dipakai, sebagai berikut:

#. Life atau kehidupan biota : merupakan karakteristik yang membedakan objek yang memiliki sinyal dan proses self-sustaining biologi dari yang tidak, baik karena fungsi-fungsi tersebut telah berhenti kematianvatau karena tidak berfungsi dan diklasifikasikan sebagai benda mati.

——-
1. Domain (superregnum, atau superkingdom) adalah peringkat tertinggi taksonomi organisme, lebih tinggi dari kerajaan kingdom).

Menurut sistem tiga domain dari Carl Woese, yang diperkenalkan pada tahun 1990, Pohon Kehidupan terdiri dari tiga domain: Archaea, Bakteri dan Eukarya.

Ada beberapa klasifikasi alternatif kehidupan yang lain:
1a. Sistem dua domain, sistem dengan pengelompokan tingkat atas dari Prokaryota atau Monera) dan Eukaryota.

1b. Sistem enam domain dengan pengelompokan atas tingkat Eubacteria, Archaeobacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.

1c. Sistem tiga domain (Eubacteria, Archaea, Eukarya) dengan lima supergroup di Eukarya
Kingdom atau kerajaan (Latin: regnum) adalah peringkat taksonomi, yang bisa berupa peringkat tertinggi atau dalam sistem tiga-domain yang lebih baru, berada pada peringkat di bawah domain. Kerajaan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang disebut filum (dalam ilmu hewan) atau divisi dalam botani (ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan)
—-
Saat ini, buku teks dari Amerika Serikat menggunakan sistem enam kerajaan (Animalia, Plantae, Fungi, Protista, Archaea, Bakteri), sedangkan Inggris, Australia dan Amerika Latin buku teks mungkin menguraikan lima kerajaan (Animalia, Plantae, Fungi, Protista, dan Prokaryota atau Monera).


2. Filum adalah peringkat taksonomi di bawah Kerajaan dan di atas kelas. Filum setara dengan divisi dalam istilah botani, di dalam kingdom Animalia hewan filum berisi sekitar empat puluh. Filum yang dapat didefinisikan dalam dua cara: sebagai kelompok organisme dengan tingkat tertentu kesamaan morfologi atau perkembangan (definisi phenetic), atau kelompok organisme dengan tingkat tertentu keterkaitan evolusioner (definisi phylogenetic)


3.Kelas (Latin: classis) adalah peringkat taksonomi seperti peringkat lainnya; kehidupan, domain, kerajaan, filum, dan order. Selain peringkat yang sudah disebutkan, ada pilihan peringkat yang lebih rendah yang ditandai dengan awalan sub:subclass

Unit taksonomi, sebuah takson jamak dalam peringkat itu. Dalam kasus yang plural classes.
Order / urutan Latin: ordo) adalah:
1. Peringkat taksonomi yang digunakan dalam klasifikasi organisme. Peringkat terkenal lainnya adalah kehidupan, domain, kerajaan, filum, kelas, keluarga, genus, dan spesies, dengan pas ketertiban di antara kelas dan keluarga. Sebuah peringkat yang lebih tinggi segera, superorder, dapat ditambahkan secara langsung di atas order, sedangkan suborder akan menjadi peringkat lebih rendah.

2. Sebuah taksonomi unit (sebuah takson) dalam peringkat itu. Dalam kasus yang plural orders (Latin ordines).

Keluarga (Latin: familia) adalah:
1. Peringkat taksonomi. Peringkat terkenal lainnya adalah kehidupan, domain, kerajaan, filum, kelas, ketertiban, genus, dan spesies.

dengan pas keluarga antara ketertiban dan genus. Adapun barisan terkenal lainnya, dari peringkat terdekat yang lebih rendah, ditandai dengan awalan sub-: subfamili (Latin: subfamilia).

2. Unit taksonomi (sebuah takson) dalam peringkat itu. Dalam kasus yang plural families (Latin familiae).

Genus (jamak: genera) merupakan peringkat taksonomi tingkat rendah yang digunakan dalam klasifikasi organisme hidup dan fosil.

Spesies adalah salah satu unit dasar klasifikasi biologi dan peringkat taksonomi.

Sebuah spesies sering didefinisikan sebagai kelompok organisme yang mampu kawin dan menghasilkan keturunan yang subur. Sementara dalam banyak kasus definisi tersebut cukup memadai, untuk lebih tepatnya beberapa ukuran untuk membedakan sering digunakan, seperti kesamaan DNA, morfologi atau niche ekologi. Kehadiran ciri-ciri lokal yang spesifik diadaptasi lebih lanjut dapat membagi spesies ke dalam sub

[Super-fast evolving fish splitting into two species in same lake]

0

5f6d93c5bdba4377c4791b10187e6809t4175457.jpg
=======================================

Undoubtedly, evolution is always happening. Regardless people believe it or not..

Beberapa sebelumnya berpikir hal ini mustahil – Tapi populasi ikan “stickleback” yang berkembang biak di sungai yang sama memecah menjadi dua spesies yang terpisah, terjadi dihadapan mata dalam proses kecepatan yang cukup pesat.

Namun sejak saat itu, ikan membelah menjadi dua jenis yang terpisah: satu yang hidup di danau utama (digambarkan di atas kiri, atas perempuan, dan dibawah laki-laki dalam warna pemuliaan), dan lainnya yang hidup di sungai yang mengalir ke dalamnya (dikanan atas).
————-

Some thought it was impossible. But a population of stickleback fish that breed in the same streams is splitting into two separate species before our eyes, and at rapid speeds.

Three-spine sticklebacks were introduced to Lake Constance in Switzerland around 150 years ago – a blink of an eye in evolutionary terms. But since then, the fish have begun splitting into two separate types: one that lives in the main lake (pictured above left, female top, male in breeding colours below), and another that lives in the streams that flow into it (above right).

The main lake dwellers are bigger, with longer spines and tougher armour. In theory, these differences could be due to lifestyle rather than evolution – perhaps lake fish survive longer and grow larger.

But David Marques of the University of Bern and colleagues have found that there are already clear genetic differences between the two types. “We could be glimpsing the beginnings of two species,” he says.

What makes this finding extraordinary is that both types of fish breed in the same streams at the same time of year. They have been interbreeding all along, and still do, yet they are splitting into two genetically and physically different types.

[Splitting apart]
This kind of speciation, known as sympatry, was once thought to be extremely unlikely, says Chris Bird of Texas A&M University Corpus Christi, who studies how organisms are evolving by analysing their genomes. The conventional view is that speciation almost always requires two populations to be physically separated to prevent interbreeding, for example, living on different sides of a mountain, or on different islands in an archipelago.

This is because when animals mate, a process called recombination mixes up gene variants, meaning the genes of a mother and a father will be shuffled together in future generations. As long as interbreeding continues, it’s unlikely that two groups with distinctly different genetic traits will arise.

But Marques’ team found that the genetic differences between the two fish types are concentrated on the parts of chromosomes that are less likely to undergo recombination. As a result, the sets of gene variants that give the two types their distinct characteristics are less likely to get split up.

[Rapid change]
We cannot know for sure that the Lake Constance sticklebacks will continue evolving until they become two non-interbreeding species, says Marques. But evidence for sympatric speciation is growing, from mole rats in Israel to palms on Lord Howe Island, Australia, leading some evolutionary biologists, including Bird, to think it could be surprisingly common.

There is another case where sympatric speciation seems to be occurring nearly as fast as in the sticklebacks, Bird points out: apple maggots evolved from hawthorn maggots within two centuries of apples being introduced to North America.

As for the speed of the sticklebacks’ separation, there are now innumerable other examples of recent evolution that show how fast it can happen, from cancers becoming resistant to drugs and bedbugs becoming resistant to pesticides, to fish getting smaller to avoid becoming our dinner. It’s possible that such rapid evolution may even be the norm, rather than the exception.

Sumber:
Journal reference: PLOS Genetics, DOI: 10.1371/journal.pgen.1005887
https://www.newscientist.com/article/2079118-super-fast-evolving-fish-splitting-into-two-species-in-same-lake/