LIYAN

0

Menjadikan individu/kelompok sebagai “yang lain” (atau “liyan”), a.k.a. “monster”, “yang pantas disingkirkan”, “yang pantas menderita”, “yang pantas mati” , “yang bukan manusia”, adalah salah satu metode disosiasi buat ngeblok empati dan rasa bersalah. Misalnya untuk dijadikan pembenaraan bahwa posisi kita mendukung pembasmian sang “liyan”—dengan kebrutalan diluar batas kemanusiaan pun—bukan sebuah tindakan yang jahat dan salah, bahkan sangat sah untuk dinikmati sebagai bahan orgasme moral.

Terlewat lah pertanyaan-pertanyaan valid soal bagaimana konsep liyan itu lahir, siapa yang menentukan siapa dan apa saja yang termasuk liyan ini, bagaimana orang bisa “jatuh” menjadi liyan, atau gimana struktur masyarakat mendorong orang-orang tertentu untuk jatuh menjadi liyan misal, terlepas dari terpaksa atau tidaknya, toh melawan demi keadilan dasar pun rentan terkena cap “liyan” dari pihak kuasa.

Nyaman saja kita mengamini kebrutalan terhadap pihak liyan ini, kita menganggap bahwa tidak mungkin menjadi liyan, kita adalah normal, kita orang baik yang taat aturan main (terlepas apakah aturannya adil atau tidak). Alasan sistemik-struktural paan sih? Aku miskin tapi moralku suci dan karakterku kuat, buktinya nih aku punya sertifikat antikorupsi, mana mungkin lah aku jatuh jadi liyan yang definisi dan perlakuannya sering ditentukan kuasa. Padahal ya suatu hari kuasa bisa saja me-liyan-kan kamu dan apa yang kamu lakukan, kaget lah kau ketika tahu para liyan ini ternyata nggak jauh beda dengan kau, tembak di tempat? kena deh! xD.

Tentu solusi keras untuk jangka pendek kadang perlu, tapi ketika ini terus-terusan menjadi posisi default seharusnya muncul pertanyaan, apa penentuan dan penanganan “sang liyan” di masyarakatmu ini benar-benar berdiri diatas fondasi yang adil? kenapa konsep liyan bisa ada? perlu sekali kah memaklumkan kebrutalan dan teror demi menyingkirkan sang liyan ini? kepentingan apa sih yang dilindungi disini? Jangan-jangan memang masyarakatmu ini saking gak adilnya sampai perlu memakai topeng koridor hukum demi mempertahankan keuntungan-keuntungan yang didapat oleh beberapa kelompok, keuntungan yang bisa ada berkat struktur yang tidak adil ini.
—–

Jangan-jangan memang masyarakatmu ini saking gak adilnya sampai perlu memakai topeng koridor hukum demi mempertahankan keuntungan-keuntungan yang didapat oleh beberapa kelompok, keuntungan yang bisa ada berkat struktur yang tidak adil ini.

–  Oleh Hanung

PERSONAL MEANING OF FEMINISM

0

MAKNA FEMINISM :

Kesetaraan gender, bukan men are pigs, and women are equal to men. Gw hanya menentang standart ganda.

“Feminism is a collection of movements and ideologies which share common stated aim to difine establish, and defend equal political, economic, cultural, and social rights for women”

Tapi gw lebih seneng, apabila feminism didefine “to promote women independency dari pada gender equality” karena masih debatable kok, misal dibidang professional athlete, seharusnya male dan female ada dalam 1 ring tinju/ufc. Karena biologisny aja udah beda (ini kenapa gw ngomong alam aja /by default udh sexist) alam sexist bukan berarti untuk ditakutkan, sama seperti mother nature doest give a fuck or doest prefer human existence.

Karena feminism yang menuntut equality, menurut saya merupakan hal yang baik, dan menawarkan pov yang baru, saya sebagai alpha male, ckck/kidding tho, Juga butuh gerakan feminism. Misal analogi ttg pemerkosaan terhadap wanita, stop tellin women how to dress/what to wear.

Apakah kalau ada orang yang pamer perhiasan terus dirampok, korbanya yang salah, apa perampoknya, tentu perampoknya yang salah. Karena sexually provokin is not wrong, itu cuma cara untuk menarik potential mate aja, di animal kingdom juga banyak yang melakukan sexual provoke tuk menarik lawan jenisnya/mencari potential mate. Stop victim blaming.

Karena gw juga support persamaan hak female, male (semua org) di pendidikan, kesempatan kerja, ga cuma bagi wanita, tapi bg kelompok-kelompok lain yg di tindas, this is what decent human beings want.

Faktor lainya adalah: karena emansipasi wanita sudah mewakili persamaan hak kaum pria juga.

BAGI MEREKA YANG ACUH TAK ACUH TERHADAP FEMINISM:

No comment, karena mereka punya stance dan argument mereka sendiri. Misal “secara natural alam ini udah sexist, kesalahan patriarki adalah mereka membuat hukum untuk mewajibkan cowo berlaku ini, dan cewe berlaku seperti itu. What a decent human being do adalah mngmbalikan kebebasan dan kecenderungan itu kepada masing-masing pribadi, pasangan, kelompok, tanpa menghilangkan esensi dari being a lady or a gentleman.

BAGI MEREKA YANG MENENTANGNYA:

Kurasa feminist itu baik, kecuali yang sudah jadi fanatic, karena semua bentuk fanatic pasti tidak baik (equality yes, feminazi/radfem no)

Ini stated at first point. “Feminism is a collection of…..aim to define…”

Menurut gw gerakan feminism udah masuk Implementasian HAM. Atau membela HAM itu sendiri.

“All human beings are born free and equal in dignity and rights, they are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood” – article 1 of UN universal declaration of human rights

MY POINT OF VIEW TO LGBTQIA PEOPLE:

Menurut gw lgbtqia itu involuntary acts, dan mereka tidak bisa memilih dan menghindari orientasi seksualnya, termasuk para bisex, mungkin para bisex ini termasuk fluid sexual orientation.

Dan mereka yang homosex, simpelny ga dapat/bisa memilih orientasi seksualnya, sama seperti elu “gw juga ga mau jadi hetero”. Nah itu refers ke argument gay gene.

Tapi gw lebih suka argument yang melegalitaskan same marriage atau legalisasi lgbtqia ini bukan seharusnya dari gay gene, tetapi dari kesadaran kita yang harus menjunjung tinggi hak kemanusiaan, HAM.

Mendukung hak sesorang tuk menikah dalam persetujuan kedua belah pihak “independently consent” seharusnya berlangsung tnp diskriminasi dan cemoohan. Lagi pula itu tidak merugikan orang lain.

Intinya gene homosex ini diturunkan bisa nyala mati, sifat ini hampir mirip dengan carrier/pembawa sifat, tapi bedanya carrier menurun langsung, dan epi-mark (epigenetic) mnurun secara tidak langsung (melongkapi beberapa generasi, bahkan bisa mendadak muncul).

Kalau seseorang homosex  menikahi wanita kerena tekanan agama, maka cucu, cicitnya ada probabilitas untuk bisa menjadi homosex.. tapi epimark bisa rusak, fungsi epimark untuk melindungi janin laki-laki dari feminisasi, melindungi orgn kelamin, identitas seks, orientasi seks atau melindungi janin perempuan dr maskulinitas/ in short epimark jg mengatur kadar testoteron tinggi. Kadang kalanya epi-mark rusak.

Jangan heran kalau pasangan hetero melahirkan lgbtqia..tak kurang dari 1500 spesies hewan di muka bumi punya prilaku homoseks.

Ex :pinguin, lumba-lumba, bison, angsa, jerapah, simpanse.. tapi ada juga yang bilang bahwa itu kelainan.

Entah mereka ini buta science atau anti HAM dan toleransi, mungkin blind faith, yang imanya menyerukan seperti ini seharusnya, bukan seperti itu, just samina wato na. Manut aja,  “herden moral”. Ya sama kaya orang yang percaya pendaratan manusia di bulan hoax, dan percaya adanya adam hawa.

Walaupun dibawain bukti-bukti dari 3 laboratorium, semua buku dari 4 perspustakaan, atau bukti dari 5 museum, tetapi tetap saja pendapatnya tidak berubah.

RADFEM? – PENGHAPUSAN GENDER?

0

william femini masculinity

Menurut gw konyol sih, karena elu ga bisa menghapuskan gender traits, elu hanya dapat menggantinya dengan kata yang lain, misal masculinity jadi XYX, lalu femininity jadi YXY. Bahwa itu semua bagian dari tata bahasa.

Gue sendiri sampe sekarang bingung yg dimaksud toxic masculinity itu apakah:


1. All masculinity is toxic … (tapi kalo begitu berarti ini redundant, kaya bilang “nasi putih”).


2. Ada masculinity yg toxic, ada yg gak. Makanya disebut toxic masculinity. Gue lebih prefer ini. Dan kalo loe tanya semua feminis yg loe kenal, jawaban mereka mungkin jg gak bakal seragam tentang definisi tersebut.

Kaya misalnya loe hemat, tapi pov orang lain liat loe pelit. Loe confident, tapi di mata orang loe bossy. Loe pengen sharing semua yg loe tau dan pengen denger apa kata orang-orang lain, tapi di mata orang loe itu smart-ass.

Check your privilege? How about I tell myself to check my privilege first. Mungkin sebelum jargon-jargon atau ayat-ayat tersebut gue lempar ke orang lain, gimana kalo gue lempar ke diri sendiri.

Conversation kaya gitu buat gue sehat sih. Laki dan perempuan idealnya ada di camp yg sama, saling dukung. Bukannya malah saling tuding who did it first or who did it worse. Tapi yah itu ngomongin individuality yah. Walaupun tentu ada korelasinya sama sistem-sistem yang dikritisi tapi bukan sistem-sistem itu sendiri, cuma tip of iceberg aja.

Tapi sudut pandang laki-laki, yg dimaksud toxic femininity bisa jadi toxic itu kecenderungan perempuan memanfaatkan laki-laki dari segi finansial karena harusnya yang maskulin yang provide.


‘In essence, the agenda of feminism is against the interests of men as a class. Or at least it should be. Even though nowadays certain forms of feminism (e.g. 3rd wave feminism, lipstick feminism, etc) have lost the radical/political root of it.’

‘Sure, men have their own problem within the current patriarchal system, namely the “toxic” masculinity (even though calling it ‘toxic masculinity’ implies that masculinity can be non-toxic) which hinders men from being emotional, sensitive, outspoken about their feelings, etc. It is a valid problem that needs to be addressed’


‘Sekali lagi gw menyayangkan tulisan-tulisan begitu sih, karena implikasinya bakal terjadi polarisasi antara male-female yg padahal sama-sama anti patriarchy / gender inequality.

Orang (cowo khususnya) gak bakal lagi give a shit terhadap slogan “feminism = gender equality”.

Padahal dengan meyakinkan cowo bahwa feminism bakal bawa benefit gak hanya bagi cewe tapi juga bagi cowo lah, feminism bakal dapat banyak support dari berbagai pihak, bahkan dari kelompok-kelompok religious selama ngak terlalu conservative banget.

Toxic masculinity itu narasi 3rd wave feminism. Padahal urgensi perjuangan gender equality di indonesia masih jauh dari standar narasi 2nd wave. Terlalu kecepatan kalau mau masturbasi pake buzzword macam itu di indonesia

Male-feminist:


>Mereka gak milih lahir sebagai cowo
>Mereka gak milih hidup di era dimana patriarchy masih ketal dan dapat keuntungan (walau kerugian juga banyak) dari itu sbg cowo
>Mau maju di barisan depan support feminism
>Sering kena ledek dari sesama cowo lain sebagai cuck, beta, nu-male dsb
>Maybe deepdown ngerasa bersalah sbg cowo atas system patriarchy, padahal yg “nyiptain” system itu udah mati embuh dari berapa ribu tahun lalu? tapi you know right, konsep “dosa turunan”…

PANCASILA TIDAK ANTI KOMUNIS

0

Terlepas sepakat atau tidaknya kita terhadap pandangan politik PKI (tidak semua tokoh kiri sepakat dengan PKI, di era PKI masih eksis pun ada partai-partai kiri lain yang tidak sehaluan dengan PKI, seperti PSI dan Partai Murba), wawancara ini menunjukan bahwa paradigma Pancasila sebagai ideologi tunggal di Indonesia tidak ada sebelum Orde Baru berkuasa.

http://historia.id/modern/wawancara-dn-aidit-pki-menentang-pemretelan-terhadap-pancasila

Related: Video orasi Soekarno mengenai Pancasila dan komunisme.

The 7 Kinds Of Love And How They Can Help You Define Yours (According To The Ancient Greeks)

0

As we struggle to define love, the ancient Greeks seemed to have no problem at all defining multiple kinds of love.

I think we all go through each stage at one point, but if you want a better definition of the kind of love you give or the kind of love you seek, here are the seven kinds of love according to the ancient Greeks.

1. Eros: Love of the body 

Eros was the Greek God of love and sexual desire. He was shooting golden arrows into the hearts of both mortals and immortals without warning. The Greeks feared that kind of love the most because it was dangerous and could get them into the most trouble. Eros is defined as divine beauty or lust. Eros is mainly based on sexual attraction and it is where the term “erotica” came from.

2. Philia: Love of the mind 

Also know as brotherly love, Philia represents the sincere and platonic love. The kind of love you have for your brother or a really good friend. It was more valuable and more cherished than Eros. Philia exists when people share the same values and dispositions with someone and the feelings are reciprocated.

3. Ludus: Playful love

Ludus is the flirtatious and teasing kind of love, the love mostly accompanied by dancing or laughter. It’s the child-like and fun kind of love. If you think about it; this generation loves Ludus more than anything else.

4. Pragma: Longstanding love

The everlasting love between a married couple which develops over a long period of time. Pragma was the highest form of love; the true commitment that comes from understanding, compromise and tolerance. It is pragmatic this is why it is referred to as “standing in love” rather than “falling in love” because it grows over time and requires profound understanding between lovers who have been together for many years.

5. Agape: Love of the soul

It is the selfless kind of love, the love for humanity. It is the closest to unconditional love. The love you give without expecting anything in return reflected in all charitable acts. It is the compassionate love that makes us sympathize with, help and connect to people we don’t know. The world needs more Agape.

6. Philautia: Love of the self

The ancient Greeks divided Philautia into two kinds: There is one that is pure selfish and seeks pleasure, fame, and wealth often leading to narcissism and there is another  healthy kind of love we give ourselves. Philautia is essential for any relationship, we can only love others if we truly love ourselves and we can only care for others if we truly care for ourselves.

7. Storge: Love of the child

This is the love parents naturally feel for their children. It’s based on natural feelings and effortless love. Storge is the love that knows forgiveness, acceptance and sacrifice. It is the one that makes you feel secure, comfortable and safe.

Defining love can help us discover which kind we need to give more of and which kind we want to receive. If we incorporate Eros, Ludus & Pragma into our relationships and Agape, Philia and Storge into our lives, we will reach Philautia and live a happier life.