KERAMAHAN

0

Keramahan sejati hanya bisa ada kalau kita secara total membuka pintu rumah atau batas negara kita kepada siapapun tanpa syarat apapun. Namun, apakah itu mungkin?
Alasan kita membuka pintu bagi orang lain adalah karena kita berharap bahwa hal itu memungkinkan orang yang datang memperoleh kesempatan untuk hidup secara lebih baik, lebih aman atau lebih adil.

Keramahan kita didasarkan pada pertimbangan tersebut. Namun, kalau kita membuka pintu untuk siapa saja yang hendak datang, itu berarti kita juga membuka kemungkinan bagi masuknya orang-orang yang tidak hanya membahayakan atau mengancam hidup kita, tetapi juga berpotensi merusakkan hidup mereka yang mencari perlindungan pada kita.

Keterbukaan tanpa syarat yang kita tunjukkan atas nama keramah- tamahan, justru mendatangkan kecemasan pada mereka yang datang dan kita yang menerima. Tujuan kita tidak tercapai ketika berusaha mewujudkan keramahan secara murni. Kita justru tidak menjadi ramah dengan menjadi ramah.

Secara praktis, untuk menjamin tujuan keramahan, yakni memberikan peluang hidup yang lebih baik, aman dan adil bagi mereka yang tidak mendapatkannya di negeri asalnya, kita perlu memasang kriteria.

Kita perlu mencegah masuknya kelompok orang yang berpotensi menghancurkan kita dan orang lain. Namun, justru ketika kita memasang kriteria dan membuat pilihan, kita tidak lagi bisa disebut ramah, sebab kita sudah memilah. Kita membuat diskriminasi, menentukan siapa yang pantas untuk masuk dan siapa yang tidak. Kita berhenti menjadi ramah, ketika berusaha menjadi ramah bagi kelompok orang tertentu.

PANCASILA TIDAK ANTI KOMUNIS

0

Terlepas sepakat atau tidaknya kita terhadap pandangan politik PKI (tidak semua tokoh kiri sepakat dengan PKI, di era PKI masih eksis pun ada partai-partai kiri lain yang tidak sehaluan dengan PKI, seperti PSI dan Partai Murba), wawancara ini menunjukan bahwa paradigma Pancasila sebagai ideologi tunggal di Indonesia tidak ada sebelum Orde Baru berkuasa.

http://historia.id/modern/wawancara-dn-aidit-pki-menentang-pemretelan-terhadap-pancasila

Related: Video orasi Soekarno mengenai Pancasila dan komunisme.

GOING TO NOW’HERE’

0

So you want to know all about me? Who
Iam? I picked up the brush and canvas, then painted the face.

The face that tend to focus on the unpleasant aspects of their past, to those experiences that cause us to cringe, cry and hide.

You see? What made me despise the man in the mirror

Those hurts and failures make us want to hide our heads, all the while hoping that no one else has noticed or will notice them.

Enough to transform that man, turn him to into a stranger.

So you want to hear the whole story? Why I swerved.

Off the high road, hard left to nowhere.

Recklessly.

Indifferent to those coughing my dust.

I Picked up speed.
When there is no limits, no top end.
It is just a high velocity rush.
To the madness, the real one.

For some of us, however it is not enough just to remember those experiences. Many of us tend to hyper focus on the negative aspects of those experiences to exclusion of all else. We allow those negative experiences to overshadow any good that we have done.

LIBERTARIANISME

0

Mumpung lagi membahas libertarianisme hari ini, mari bicara sedikit mengenai pengantar singkat libertarianisme.

Hal yang penting untuk diketahui, setidaknya untuk kami, adalah bahwa istilah ‘libertarianisme’ merupakan istilah yang dicuri dari kalangan sosialis anti-otoritarian. Istilah ‘libertarianisme’ muncul sebagai sinonim dari ‘anarkisme’ ketika publikasi anarkis dilarang di Perancis pada era 1890an.

Hingga era 1970an, istilah ‘libertarianisme’ digunakan secara luas untuk merujuk kepada ideologi kiri anti-otoritarian e.g. sosialis-libertarian, komunis-libertarian, Marxis-libertarian, etc., sebelum akhirnya istilah tersebut dicuri oleh kaum kapitalis laissez-faire di Amerika Serikat yang mengadvokasi minimalisasi peran negara/pemerintah dan memaksimalkan peran pasar bebas.

Tentu saja, ideologi “libertarianisme”-kanan macam ini bukanlah ideologi yang monolitik. Akan tetapi, kesemua bentuk “libertarianisme”-kanan menjunjung prinsip-prinsip yang sama: properti privat, pasar bebas, non-interventionism, non-agression principle, perlawanan terhadap sebagian besar atau seluruh peran negara.

Figur-figur penting “libertarian”-kanan di antaranya: Friedrich Hayek, Milton Friedman, Murray Rothbard (pencetus “anarko”-kapitalisme), Ayn Rand (pencetus Obyektivisme), dsb.

 

JAHATNYA KAPITALISME

0

It is SO diabolical!!!

http://borgenproject.org/cost-to-end-world-hunger/

http://pontiactribune.com/2015/03/bill-gates-could-end-world-hunger/

https://www.nationalpriorities.org/campaigns/military-spending-united-states/

http://www.pgpf.org/chart-archive/0053_defense-comparison

https://www.jacobinmag.com/2015/08/peter-singer-charity-effective-altruism

http://www.worldsocialism.org/spgb/socialist-standard/1990s/1996/no-1097-january-1996/where-charity-begins-why-it-should-end