DAS NICHTS, THROWNNESS/THROWN, DAS SEIN

0

DAS NICHTS :

As for the book Being and Time, Heideggers explores how nothingness functions in the humane. He finds that nothingness, though it may sound otherwise, gives rise to all being in the primordial sense of the word. To explain this I’ll say something about past, present and future. If the past is everything that has been, in such a way that we can look at it and see evidently that it was the case. For example, WWII happened. If the future is everything that can be, in such a way that the past is not necessarily determining that future. For example, WWII is not happening anymore.

Now, if we ask ourselves what happened in between, then we can say that nothingness happened. But, nothing is not something to grasp and then apply, rather it is the most inexplicable term that exists. Nothingness functions independently of the humane, which is not to say that humans function independently of nothingness. It is precisely this nothingness that breaks open what has been the case, so that in the future possibility in its most deep and dense meaning has its true meaning. That is to say that the future would not really [eigentlich] be future, if it is just an extrapolation of the past. If WWII would still be going on. So, nothingness gives being its true meaning, namely it provides the possibility of being as something more that already-the-case. Nothingness therefore is possibility that affirms being, albeit in an abstract manner.


THROWNNESS/THROWN

PPS, adressing the notion of being thrown: the human being as individual has come into existence in a world that he had not influenced before he entered it. In that sense he is thrown in an already-happening world, but: being thrown then, regarding what I said before, also means being-open to possibility. The same put differently, being human means being not-necessarily the product of that world in which you are thrown, and hence it is the most quintessence nature of being human to break open the thrownness [tradition, conflict, war, pain, excessive goods] and transform it into actual-being [eigentlich-sein].

This latter is, then, the expression of a human being that relates to Possibility. This relation is exactly the phenomenological power of Heidegger, for however abstract nothingness and being is, it is only truthfully conceived if understood by a concrete human being. So, nothingness and being are entirely abstract notions that need to be substantiated  by a human being.

Sartre did write Being and Nothingness, but as I already said: Heidegger works further on Kierkegaard, Sartre works further on what has now gotten the name existentialism. It is precisely that term that actually is insufficient if you go back to Kierkegaard, for it has now become one another -ism that distracts from what it really tries to express, namely that in the task of existence, nothing can be grasped while falling into the existential black hole [Sarte]. Which is another way of putting nothingness, namely that everything loses its meaning and not just acts accordingly to the things the -ism prescribes. Or, as Kierkegaard said: Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.


DAS SEIN :

In Existentialist Philosophy, “das Dasein” describes the quality of self-aware existence, i.e. awareness and understanding of his own “Sein” characterizes the quality of “Dasein” of a “Seiende”:

Dasein simply means being there (an entity that exists) while das nicths is the daseins’s antithesis. What is interesting in these simple yet meaningful existential terms is that, das nichts may refer to two potentialities: nothingness or death. Nothingness is void that is, it is empty yet – only potential to exist as being. Example, from void the rocks emerged – same with planets billion years ago. On the other hand, death is the state of nonexistence that dasein’s has lost – dasein’s death has an innate authentic identity for every death of individual is unshareable. Death is different from nothingness since it muat have a recent life.

Example, a person who died without really understanding his being and thus also lost authenticity. The wisdom? There’s only 3 modes of existence in this world: Nothingness (void), Death (nonexistence), Dasein (existence). Which of these modes do you have? Since you are alive, reading this, you are a dasein, a living authentic being capable of experiencing everything in the world. Have you found your ownness?are you authentic? Remember death is dasein’s natural end so seize the moment!

ontic = possessing the character of real rather than phenomenal existence; noumenal.

Iklan

KEKUATAN BURUH DAN TANI MENJADI KEHARUSAN

0

Sudahlah kita ketahui bahwa perjuangan kita berdasarkan pertentangan kasta. Jelasnya kita tidak percaya, bahwa perubahan nasib Buruh akan dapat diperoleh dari kemurahan kaum modal. Dari dalam pertentangan modal dan Buruh lahir lingkaran kekuasaan dibawah pimpinan golongan Buruh yang mendorong dan menjadi tenaga pendorong lahirnya masyarakat baru..

Ketegasan dan kecerdasan golongan Buruh labat laun tumbuh dan sepadan dengan meningkatnya ketegasan dan kecerdasan itu tambahlah pula kekuatan daripada golongan Buruh. Kemenangan-kemenangan dari pihak Buruh. Baik yang kecil maupun yang besar, baik yang insidentil maupun yang prinsipil, semuanya langsung atau tidak langsung adalah hasil daripada kekuatan lingkaran yang berada dibawah pimpinan atau setidak-tidaknya dibawah pengaruh golongan Buruh.

Jelaslah sudah perjuangan kita yang berdasarkan pertentangan kasta wajib didasarkan kepada kekuatan lingkaran yang berada dibawah pimpinan Buruh. Sesuai dengan program kita yang memperkuat persekutuan Revolusioner antara Buruh dan Tani, maka lingkaran yang dimaksud tiada lain persekutuan Revolusioner antara Buruh industry, tani melarat, Buruh Tani dan Buruh Tanah atau dengan singkat persekutuan Buruh dan Tani. Begitulah kemenangan Buruh adalah hasil daripada kekuatan Buruh dan Tani.

Selaras dengan program kita yang mempertahankan dan memperkokoh Kemerdekaan 100% dari pada Republik dan Rakyat Indonesia, sesuai dengan proklamasi 17 Agustus 1945, maka lingkaran yang lebih luas ialah front kemerdekaan Rakyat yang meliputi semua golongan yang demokratis dan progresif, yang benar-benar anti fasisme, imperialism, dll. Begitulah semua kemenangan Buruh yang lebih jauh adalah hasil dari pada kejayaan persekutuan Buruh dan Tani dalam menggalang front kemerdekaan Rakyat ini.

Jelasnya perjuangan kita yang berdasarkan pertentangan kasta bersendi kepada kekuatan pokok ialah Buruh dan Tani. Begitulah kepercayaan kepada kekuatan dan perkembangan yang sehat dikalangan Buruh dan Tani, baik di Indonesia maupun dinegeri-negeri lain harus ada pada kita. Dengan kekuatannya, Buruh dan Tani dibeberapa bagian dunia sudah berhasil merebut kekuasaan diatas daerah besar yang berpenduduk kurang lebih delapan ratus juta.

Juga di Indonesia, dengan kekuatannya, Buruh dan Tani akan memerintah. Apa sebab Buruh dan Tani di Indonesia sekarang belum memerintah? Tiada lain Buruh dan Tani di Indonesia belum cukup kuat. Kuatlah Buruh dan Tani maka menanglah Buruh dan Tani itu. Memang patut diakui ada kekuatan yang belum membawa kemenangan, karena terbukti belum cukup kuat kekuatan itu, tetapi tidak ada kemenangan tanpa kekuatan.


BURUH DAN TANI SEBAGAI ALAT PERJUANGAN KITA, PERJUANGAN BURUH DAN TANI SENDIRI.

Perjuangan kita bersendi kepada kekuatan Buruh dan Tani, artinya Buruh dan Tanilah menjadi kekuatan kita. Tegasnya Buruh dan Tani menjadi alat perjuangan kita. Dikatakan alat dalam perjuangan kita, karena Buruh dan Tani perlu bergerak dan digerakkan, menghantam dan dihantamkan dengan sasaran yang tertentu. Untuk itu harus ada keadaan yang tertentu yang menyebabkan Buruh dan Tani itu bergerak. Untuk itu harus ada langkah-langkah, anjuran-anjuran, pedoman dan sebagainya yang benar-benar dapat mengikat dan menggerakkan perasaan dan semangat yang member arah dan menambah kebangkitan Buruh dan Tani itu.

Pada waktu Buruh dan Tani meluap semangatnya dan berada dalam puncak kesanggupannya, disanalah saatnya kita mempergunakan taktik ofensif dari demonstrasi, pemogokan sampai ke pemindahan kekuasaan ketangan kasta Buruh dan Tani. Sebaliknya di masa kesanggupan Massa Buruh dan Tani sedang surut, disanalah saatnya bagi kita untuk mundur selangkah, mempergunakan taktik defensive menyusun kedalam, mengaji soal dan menyebarkan paham. Kecakapan dalam mempergunakan kedua taktik tersebut pada waktu yang tepat benar-benar menjadi kunci penyusunan kekuatan Buruh dan Tani.

Perjuangan kita bersendi kepada kekuatan Buruh dan Tani, artinya Buruh dan Tanilah menjadi kekuatan kita. Tegasnya Buruh dan Tani menjadi alat perjuangan kita. Untuk dapat memperalat Buruh dan Tani sebagai pengawal perjuangan kita perlulah diatas segalanya adanya sambungan yang erat dengan Massa Buruh dan Tani. Mempertemukan program kita dengan tenaga Buruh dan Tani adalah menjadi keharusan. Semuanya tadi hanya dapat dicapai dengan jalan pergaulan yang sebanyak-banyaknya dengan Massa Buruh dan Tani. Pimpinan Buruh dan Tani yang lebih banyak bergaul dengan borjuis daripada dengan Buruh dan Tani itu sendirinya sebenarnya adalah suatu kepincangan yang patut diawasi. Lebih-lebih pimpinan Buruh dan Tani yang tidak mau bergaul dengan orang pun perlu disinyalir sebagai orang gila, pelamun atau tukang mantra yang tidak berguna. Ke-Massa Buruh dan Tani……………… Kesanalah, ke-Massa kita mesti pergi.


PERGAULAN DENGAN MASSA.

Penyakit berbahaya yang perlu dibasmi dari kalangan kita antara lain ialah penyakit “Revolusioner sendirian”. Kawan yang terjangkit penyakit semacam itu gemar menepuk dada, sudah tahu ini tahu itu, pandai mencela ini mencela itu, memaki kanan-kiri dan sudahlah puas ia berbuat begitu dan anehnya agitasinya tidaklah ditujukan kepada Massa, melainkan kepada kawannya sendiri.

Berjam-jam kawan itu dapat berkongkoh, ngobrol tiada hentinya dan lagi terbatas diantara kawan dewek. Ke-Massa, ialah tidak mau. Sang Revolusioner sendirian menganggap Massa terlalu rendah, bodoh dan amat hina. Bergaul dengan Massa dipandang menurunkan merek, menurunkan derajat. Sang Revolusioner sendirian berpendapat, bahwa member laporan kepada Massa itu adalah percuma, bertukar pikiran dengan Massa adalah sia-sia, karena mustahil Massa yang bodoh itu dapat mengerti keterangan-keterangannya, karena mustahil pula Massa yang goblok itu dapat membantah atau mengoreksi pendiriannya. Begitulah anggapan sang Revolusioner sendirian itu.

Main Revolusioner sendirian itu adalah bertentangan dengan dasar perjuangan kita. Alam pikiran semacam itu mengajak orang bersikap lepas dari pada Massa. Padahal sudahlah diketahui, dengan tiada Massa tiadalah mungkin kita mendapat kekuatan yang mutlak untuk mencapai perubahan nasib golongan Rakyat terbanyak. Kalau ditinjau dalam-dalam penyakit Revolusioner sendirian itu sebenarnya berpangkal pada kaum tengahan dan atasan yang membawa watak kastanya yang “mencurigai” golongan Rakyat terbanyak. Demikianlah kaum Revolusioner sendirian itu kebanyakan (berasal) dari kasta feudal dan borjuis cilik yang dalam prakteknya amat takut kepada pengawasan (control) Massa.

Memang makin dekat orang kepada Massa, makin diawasi (dikontrol) ia oleh Massa, dan sesungguhnya control Massa itu lambat laun atau cepat pasti menelanjangi bulat-bulat permainan pura-pura cinta kepada Massa itu. Massa rela diperalat untuk kepentingan dan kebutuhan Massa itu sendiri, tetapi kesadaran Massa akhirnya pasti dan tentu menghukum tiap-tiap permainan yang memperalat Massa untuk memusuhi Massa itu sendiri.


PENYAKIT MENGEKOR MASSA.

Ada penyakit lain, penyakit itu adalah penyakit “pengekor Massa”. Saking cintanya kepada Massa, saking “flattered” kepada Massa, tak jemu-jemunya kawan kita bergaul dengan Massa sampai tenggelamlah ia kedalam. Kawan tersebut akhirnya menjadi Massa itu sendiri, hilang akal, program, rencana, dll sampai ia sendiri perlu dipimpin, tidaklah lagi memimpin.

Memang dalam ichtiar menyusun kekuatan Massa perlu benar-benar diperhatikan, bahwa mengeratkan diri kepada Massa, bukanlah berarti mengekor kepada exes-exces (pertumbuhan-pertumbuhan yang merusak) daripada penjajahan dan pemerasan dikalangan Massa seperti berjudi, minum, dll dengan alasan “untuk dapat bergaul dan diterima oleh Massa”, untuk persatuan dengan Massa, dll. Alasan semacam itu adalah alasan yang berakibat merusak diri dan merusak pekerjaan.

Dikatakan merusak diri, karena akibat perjudian dan minum itu kesehatan banyak terganggu dan tiada terasalah sudah berlaku pembelokan perhatian dari pekerjaan yang mulia kekesukaan yang merusak.

Dikatakan merusak pekerjaan, karena berjudi dapat menghabiskan uang dan waktu, uang dan waktu yang mestinya dapat dipergunakan untuk kepentingan organisasi. Dalam mabuk rahasia-rahasia perjuangan dapat diocehkan yang sudah barang tentu tidaklah boleh dikatakan menguntungkan organisasi.

Nyatalah sudah melibatkan diri dalam exces-exces (pertumbuhan-pertumbuhan yang merusak) akibat daripada penjajahan dan pemerasan dikalangan Massa seperti berjudi, minum, dll, dengan alasan untuk dapat bergaul dan diterima oleh Massa atau alasan semacam itu adalah langkah yang sesat yang dalam prakteknya merusak perkembangan sususan Massa yang teratur.

Kader dan pimpinan wajib memimpin proses dan harus senantiasa ada hubungan dengan tiap-tiap proses (pertumbuhan) yang sehat dikalangan Massa. Sebaliknya kader dan pimpinan perlu mempergunakan kebijaksanaan yang menghindari exces-exces yang amat merugikan itu.

Sebenarnya bukanlah tempat judi, minum, dll, itulah yang patut dijadikan medan pertemuan antara kader, pimpinan dan Massa, melainkan diladang, dipabrik, dirapat-rapat, di gerdu-gerdu, dijalan dan lain-lain lapangan, dimana Massa berkumpul dan dikumpulkan itu disanalah kader pimpinan dan Massa dapat bertemu dan diketemukan.


PERJUANGAN REVOLUSIONER.

Perjuangan kita menuntut perbaikan dan perobahan nasib Buruh dan Tani. Begitulah Buruh dan Tani menjadi dan dijadikan alat perjuangan untuk kepentingan dan kebutuhan Buruh dan Tani itu sendiri. Begitulah Buruh dan Tani harus tahu dan harus diberitahu sasaran daripada perjuangan Buruh dan Tani. Demikian disamping melayani sehari-hari kebutuhan-kebutuhan yang langsung, perlulah diperbanyak penjelasan mengenai azas tujuan dan program kita.

Pendeknya pendidikan yang meningkatkan kecerdasan kasta tidak boleh diabaikan. Lewat pendidikan ini dari dalam pergolakan perjuangan mencari sesuap nasi perlu diperhatikan adanya pertumbuhan tenaga-tenaga yang memang bersungguh hati menuntut perbaikan dan perobahan nasib. Tenaga-tenaga tersebut perlu ditingkatkan, hingga benar-benar dapat bangkit menjadi kader dan pimpinan yang bertanggung-jawab penuh terhadap kehormatan dan kemajuan kasta Buruh dan Tani. Tenaga-tenaga tersebut perlu ditingkatkan menjadi Revolusioner.

Yang dimaksud dengan Revolusioner tiada lain ialah kawan yang sehari-harinya memikirkan kemajuan susunan Buruh dan Tani dengan tiada menghitung untung-rugi untuk diri pribadi sendiri, orang yang memang benar-benar hidup untuk kemajuan Revolusioner.

Baiklah Revolusioner ini kita Indonesiakan dengan mempergunakan gelar pejuang Revolusioner. Hidup pejuang Revolusioner semata-mata untuk kasta Buruh dan Tani dan pejuang Revolusionerpun hidup dari Buruh dan Tani itu.

Jumlah pejuang Revolusioner dalam Sarekat dapatlah dijadikan ukuran kekuatan daripada Sarekat itu. Dan penghargaan daripada Buruh dan Tani terhadap organisasinya serta para pejuang Revolusioner patut dijadikan ukuran kesadaran daripada Buruh dan Tani itu.

Dengan tiada memikirkan lebih jauh kebanyakan orang lalu mudah mempermaklumkan diri sebagai pejuang Revolusioner. Entah karena apa, entah sekedar untuk berlagak, entah karena sengaja untuk menipu, pokoknya banyak orang mempermaklumkan diri sebagai pejuang Revolusioner. Tetapi banyak orang-orang yang berlagak Revolusioner itu dalam praktek gerak langkahnya tiada ubahnya seperti kerupuk kesiram hujan.

Orang-orang potongan kerupuk kesiram hujan inilah yang sebenarnya banyak merusak kepercayaan Buruh dan Tani terhadap organisasinya. Sampah masyarakat inilah prakteknya yang memberatkan beban para pejuang Revolusioner.

Curiganya Buruh dan Tani terhadap orang yang baru menyatakan kesanggupan memang pada tempatnya. Begitulah dibutuhkan ketabahan dan keuletan daripada tenaga-tenaga Revolusioner. Dan ditengah-tengah kelemahan organisasi itu kadang-kadang tampak kesedihan dalam Sarekat, bahwa penghargaan majikan terhadap Buruhnya yang jauh daripada sempurna itu kerap-kali terbukti masih jauh lebih baik daripada penghargaan Buruh terhadap kader dan pimpinan yang memang benar-benar bersungguh hati bekerja sebagai pejuang Revolusioner.

Dengan ini kita patut belajar bersama untuk mengadakan perbedaan antara kawan-kawan yang benar-benar berjuang dengan kesungguhan hati dan orang-orang yang memandang perjuangan tiada kurang dan tiada lebih daripada olah raga belaka.

Bukalah pintu Sarekat selebar-lebarnya selebar-lebarnya bagi para pejuang Revolusioner dan pandanglah diatas segala sarekat itu sebagai tambang yang berisi calon-calon pejuang Revolusioner.

Undanglah pejuang-pejuang Revolusioner dan bukalah kesempatan-kesempatan bagi calon-calon pejuang Revolusioner untuk meningkat menjadi pejuang Revolusioner. Dan disamping mengerahkan pejuang-pejuang Revolusioner itu hendaklah organisasi pun memerlukan menjaga kesehatan dan keselamatan para pejuang Revolusioner itu. Hargailah para pejuang Revolusioner.

MENGUNDANG PEJUANG-PEJUANG REVOLUSIONER.

Memimpin sarekat-sarekat Massa, seperti sarekat Buruh, sarekat Tani, dll tiadalah boleh ditafsirkan sebagai mata pencaharian. Memimpin sarekat-sarekat tiadalah lain daripada perjuangan. Uang saku yang diperoleh dari sarekat-sarekat bagi pejuang Revolusioner bukanlah kemewahan yang menjadi tuntutan, melainkan suatu pemulihan tenaga sebagai keharusan agar ke-esokan harinya dapatlah meneruskan tugas perjuangan.

Begitulah memimpin sarekat itu tiadalah boleh bersikat seperti pegawai yang amat menghitung tenaganya. Ringan tenaga menjadi sifat yang utama bagi pejuang Revolusioner. Dan sesungguhnya hanya pejuang Revolusioner yang dapat memimpin sarekat Buruh, sarekat Tani dan sebagainya dengan baik.

Menurut kenyataannya Indonesia masih kekurangan pejuang-pejuang Revolusioner. Maka menjadi tugas yang penting bagi para pejuang Revolusioner yang sudah berhasil memegang pimpinan sarekat ialah menggali calon-calon pejuang Revolusioner dari dalam sarekat. Tingkatkanlah lebih lanjut anggota-anggota biasa yang memang menunjukkan bukti kemauan dan kegiatan. Bukalah kesempatan bagi mereka. Didiklah mereka itu. Memandang tiap-tiap pertumbuhan tenaga-tenaga baru sebagai saingan (konkuren) sungguh tidak pada tempatnya. Sambutlah tenaga-tenaga yang bagus itu sebagai tambahan tenaga dan pimpinan kasta Buruh dan Tani.

Buanglah penyakit jago-jagoan yang hendak memborong pengaruh dan semua kegiatan. Hargailah Buruh dan Tani sebagai manusia. Buruh dan Tani bukanlah gragal**. Buruh dan Tani bukanlah alas jalan. Buanglah “penyakit anemer gragal” yang mahir memerintahkan orang menumpuk gragal dalam meteran.

Gragal dalam meteran tetap menjadi meteran itu. Bila belum lagi ada yang mengangkut. Tetapi tidaklah demikian keadaan Buruh dan Tani. Buruh dan Tani adalah manusia. Buruh dan Tani berurat dan berdaging manusia. Buruh dan Tani mempunyai perasaan dan pikiran. Bajinganlah mereka yang bersikap jago-jagoan yang menggragalkan Buruh dan Tani itu.

Terpaksa disini dipakai perkataan yang kasar untuk mensinyalir para buaya-buaya dalam sarekat yang main-main jago-jagoan seolah-olah nasib perjuangan Buruh dan Tani itu sudah berada dalam sakunya. Sungguh tiadalah perkataan yang lebih halus daripada bajingan itu, bila yang dimaksud itu tidaklah lain daripada bangsat yang mempermainkan Buruh dan Tani.

Cobalah dipikirkan. Dalam keadaan biasa sengaja di haling-halangi kemajuan tenaga-tenaga baru menambah kecerdasan dan kecakapannya berjuang. Dalam keadaan biasa tiap-tiap pertumbuhan tenaga dipandang sebagai bahaya yang mungkin menjatuhkan kedudukannya, setidak-tidaknya mengurangi pengaruh, padahal si bangsat, bajingan yang kurang ajar itu sendiri mengetahui, bahwa ia tidak mampu menyelesaikan pergolakan Buruh dan Tani dengan tenaga seorang diri. Dan anehnya dalam keadaan ruwet si bangsat bajingan yang kurang ajar yang gemar main jago-jagoan itu tidaklah malu-malu berteriak “kurang tenaga, bantulah kawan, bantulah kawan”. Sungguh samber geledek orang semacam itu.

Kawan-kawan, marilah kita bersama menyusun kata sepakat untuk mengusir penyakit-penyakit jago-jagoan itu dari kalangan sarekat. Kembalilah kepada tugas kita yang penting untuk menambah jumlah pejuang-pejuang Revolusioner dengan memandang sarekat itu sebagai tambang yang berisi calon-calon pejuang Revolusioner. Calon-calon pejuang Revolusioner dari dalam sarekat.

Bersikaplah lapang. Pandanglah semua kawan-kawan sarekat sebagai kawan yang sederajat. Bersikaplah lapang pandanglah semua kawan-kawan sarekat sebagai manusia yang sederajat. Hampirilah mereka itu dengan segenap kasih dan kesungguhan hatimu. Dan sambutlah tiap-tiap pertumbuhan tenaga baru sebagai tambahan tenaga bagi Buruh yang dengan sendirinya memperkuat kedudukan Buruh dan Tani serta sarekatnya. Undanglah tenaga-tenaga pejuang Revolusioner sebanyak-banyaknya.


PENGARUH DAN KELANJUTANNYA.

Ada kawan yang mengira, bahwa bila sekali berpengaruh ialah tetap akan berpengaruh. Anggapan begitu adalah anggapan yang salah. Ketahuilah bahwa pengaruh itu adalah buah kegiatan yang dirasa dan dimengerti oleh Buruh dan Tani.

Dimana kegiatan tersebut mulai berhenti, disanalah pula berhenti perkembangan pengaruh itu. Memang patut diakui, bahwa lambatlah pengaruh itu meresap dikalangan Massa, tetapi lambatlah pula hilang pengaruh itu dari kalangan Massa.

Begitulah untuk mendapatkan pengaruh terlebih dahulu harus ada kegiatan, tetapi ada kalanya Massa masih terpikat kepada pengaruh akibat kegiatan yang lalu, tetapi dimana kegiatan sekarang sudah mulai merugikan Buruh dan Tani, maka pengaruh yang masih ada itu hanya bersifat sementara.

Pengaruh dan kegiatan tidaklah dapat dipisahkan. Ingin tetap berpengaruh adalah memang suatu hajat yang patut dihargakan, tetapi ingin tetap berpengaruh dengan tiada memajukan kegiatan selalu adalah menipu diri. Berjuanglah dengan segenap kejujuran, kecerdasan dan kesungguhan hatimu, dengan sendirinya pengaruh yang sudah diperoleh itu pasti dan tentu tetap ada padamu.

Keadaan kian hari kian meningkat. Begitulah perlu kita melayani keadaan itu dengan cara dan alat yang meningkat pula. Persoalan baru banyak tumbuh. Begitulah dengan tiada kerajinan belajar, sekali lagi belajar, tentulah tidak mungkin bagi kita untuk memelihara pengaruh itu. Kegiatan semata-mata tidaklah cukup. Dibutuhkan kegiatan organisasi dan kerajinan belajar.

Demikian pula sebaliknya, sekarang tidak berpengaruh bukanlah berarti kalau tetap tidak akan berpengaruh. Kegiatan organisasi dan kerajinan belajar, suatu ketika pasti dan tentu melairkan pengaruh itu. Mungkin sepintas lalu belum ada kesempatan yang membuka perkembangan pengaruh itu, tetapi suatu ketika dimana yang dikenal sebagai yang berpengaruh terbukti sudahlah tidak lagi cakap dan mulai melanggar dasar kepentingan dan kebutuhan Buruh dan Tani, disanalah pengaruh lama mulai surut dan mulai pasanglah pengaruh baru.

Memang ada perjuangan yang tiada berpengaruh dikalangan Buruh dan Tani, tetapi tidak ada pengaruh dikalangan Buruh dan Tani dengan tiada perjuangan yang berdasarkan kepentingan dan kebutuhan kasta Buruh dan Tani.

Bila sampai sekarang ditanah air kita masih ada perjuangan yang merugikan Buruh dan Tani, pengaruh semacam itu hanya merupakan pengaruh sementara. Diatas segala janganlah pejuang-pejuang Revolusioner kena gertak pengaruh-pengaruh yang hanya bersifat sementara itu.


DISAMPING KETEGASAN DAN KECERDASAN DIBUTUHKAN KEULETAN.

Tiada kawan pejuang Revolusioner dengan Partai dan sarekat-sarekatnya pasti menempuh jalan yang bertingkat dibawah ini:

1.Menyusun program jangka panjang dan jangka pendek.
2.Menarik perhatian.
3.Mendapatkan pengaruh.
4.Mempunyai kekuatan.
5.Memperoleh kemenangan yang terakhir.

Biasanya kawan kita sampai di titik ke 2 sudahlah mulai bimbang. Serangan, tuduhan, makian, pujian, pembalasan dan sebagainya yang amat bercampur mulai didengar dan menimpa dirinya.

Agaknya kawan mulai bimbang. Keraguan kawan itu tidaklah dapat dibenarkan. Adanya serangan, makian, pujian, pembelaan dan sebagainya patutlah disambut dengan dada terbuka. Semuanya itu membuktikan, bahwa kawan kita sudahlah tidak dianggap sepi. Semuanya itu membuktikan bahwa kawan kita mulai menjadi peranan yang tidak boleh diabaikan. Itulah perhatian yang dibutuhkan. Dengan tiada perhatian tiadalah diperoleh kesempatan untuk menunjukkan siapa dan apa kita, siapa dan apa partai dan sarekat-sarekat kita. Perhatian tersebut adalah medan kesempatan tersebut dengan keraguan. Pejuang Revolusioner patut terjun dalam medan kesempatan dengan gembira dan bersemangat menangkis serangan satu demi satu, membongkar makian serta tuduhan dengan pengertian dan bukti, meninjau pujian dan menghimpun pembelaan.

Itulah pejuang Revolusioner dan diatas segala pejuang Revolusioner tidak cukup puas dan dipuaskan dengan maklumat-maklumat dan tutur pembelaan yang jitu dan tepat, tetapi pejuang Revolusioner dengan penuh kegiatan mengawinkan maklumat dan tuntutan pembelaannya itu langsung dengan kepentingan dan kebutuhan Buruh dan Tani dalam susunan persekutuan Buruh dan Tani, karena memang maklumat dan tuntutan pembelaan pejuang Revolusioner bukanlah pembelaan perseorangan, melainkan pembelaan kasta, pembelaan Buruh dan Tani. Begitulah ketegasan dan kecerdasan sebagai pandu kegiatan masih perlu dikawal dengan keuletan.


BEBAN RUMAH TANGGA DAN PERJUANGAN.

Banyak kawan keuletannya terganggu karena keadaan rumah-tangganya. Rumah kurang belanja, kurang ini kurang itu. Sampai disini tahu sama tahulah. Tetapi sayangnya tidaklah sampai disini berhenti wabah kekurangan itu.

Kepayahan rumah tangga ini lambat laun menjadi dan dijadikan alasan untuk mengurangkan kegiatan dalam perjuangan, malahan berangsur-angsur kekurangan tersebut disyahkan sebagai alasan untuk meninggalkan perjuangan, pertama dengan istilah sementara untuk selanjutnya dengan diam-diam sementara itu disulap menjadi selama-lamanya.

Padahal kita sama-sama tahu, bahwa kita sebagai orang tiada kurang dan tiada lebih daripada bagian-bagian kecil dari satu kasta yang mempunyai kodrat bergerak diatas dasar kepentingan dan kebutuhan kasta.

Dapatkah kiranya rumah tangga pribadi Buruh dipisahkan dari pada perjuangan Buruh? Kalau rumah tangga pribadi Buruh dapat dipisahkan daripada perjuangan kasta Buruh, dapatkah kiranya rumah tangga pribadi Buruh beroleh ketentraman dan kemuliaan dengan tiada perjuangan kasta Buruh?

Manakah yang sebenarnya menjadi pangkal kekacauan rumah tangga pribadi Buruh, pemerasan modal ataukah perjuangan Buruh? Kalau perjuangan kasta Buruh dipandang sebagai penambah kekacauan rumah-tangga pribadi yang sudah kacau itu, maka bolehkah hapusnya perjuangan Buruh itu dipandang sebagai pertahanan atau tambahan ketentraman rumah tangga pribadi Buruh?

Patutkah kita berdiri dengan melihat dan mengupas kepincangan dunia dengan tiada kesanggupan untuk merobah dunia yang sudah jelas kepincangannya itu? Masyarakat kita bergerak dengan arah yang tertentu dan masyarakat bergerak sebagai hasil pertentangan alam dan masyarakat dan dalam masyarakat sendiri.

Sepanjang jalan pertentangan, masyarakat bergerak dari persaudaraan kuno kepersaudaraan modern. Memang undang kemajuan berdasarkan pertentangan. Patut direnungkan pula, bahwa makin besar kekuatan produksi bukanlah bukanlah makin kurang pemerasan yang dilakukan oleh kapitalis, melainkan makin ganaslah ia, karena tambahlah pula nilai lebih, karya yang tidak dibayar itu, malahan makin keraslah tekanan modal untuk mendesak Buruh kegaris permukaan hidup yang serendah-rendahnya. Tetapi semuanya itu ada batasnya, adapun batas yang jelas adalah teriakan Buruh “sampai disini tuan, janganlah lebih lanjut”.

Tidak salah bila dikatakan, bahwa kapitalis melahirkan pahlawan anti kapitalis dan bahwa kapitalisme menggali kuburnya sendiri.

Sesungguhnya pemerasan modal ialah sumber kekacauan dan kekurangan dalam rumah tangga (pribadi) Buruh. Kekacauan dan kekurangan dalam rumah-tangga yang menjadi kenyataan yang umum dikalangan kasta Buruh menjadi sumber sebab berkobarnya perjuangan kasta Buruh.

Dihadapan Buruh hanya terbentang jalan pengorbanan yang bersimpang dua, kekanan Buruh berkorban untuk kasta kapitalis (melahirkan anak dan nilai lebih untuk kapitalis) dan ke kiri ialah berkorban untuk kastanya sendiri, kasta Buruh (bersama anaknya berjuang kearah masyarakat baru). Lain jalan daripada jalan pengorbanan itu tidaklah ada. Dan memang dunia ini hanya bagi mereka yang sanggup berkorban.

Kita berjuang kearah masyarakat baru, bila kapitalis banyak bersemboyan “rugi dimuka, untung dibelakang”, maka pejuang bersemboyan “berat dan payah bagi kita sekarang, tetapi senang dan bahagia bagi anak cucu kita yang akan datang”. Maka kekurangan dan kepahitan serta kekecewaan dalam perjuangan bagi pejuang bukanlah sebab dan tidak akan dijadikan sebab untuk mengundurkan diri dari perjuangan. Kekurangan, kepahitan dan kekecewaan dalam perjuangan bagi pejuang semata-mata menjadi bahan untuk dikaji, ditempuh dan diatasi bersama.

Dalam ikhtiar bersama untuk mengatasi kekurangan, kepahitan dan kekecewaan dalam perjuangan ini lambat laun pasti dan lahir rasa setia kawan (solidariteir) antara kawan-kawan sepaham dan sekasta yang sudah tentu melahirkan kekuatan yang sedikit banyak dapat meringankan beban rumah tangga pribadi yang tiada berpisah dan memang tidak dapat dipisah-pisahkan daripada perjuangan itu.


CINTA DAN PERJUANGAN.

Selagi bujang orang mengeluh karena tiada mempunyai kawan hidup, tetapi setelah beroleh kawan hidup kemudian ada lagu baru yang menyatakan asmara sial, payah, tidak bebas dan lain-lain. Sampai disini tahu sama tahulah, tetapi sayangnya semuanya ini dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab, tanggung-jawab dalam perjuangan.

Patut diinsyafi bahwa Buruh itu bukan batu, Buruh itu ialah manusia biasa yang sudah barang tentu tiada bebas dari kebutuhan hidup. Dan birahi adalah satu diantara kebutuhan hidup yang banyak itu.

Kebiasaan orang memuaskan nafsu birahi dengan kekasihnya adalah sama biasanya dengan kebiasaan orang menghapuskan dahaga dengan air segelas atau minuman lain. Dikatakan biasa, karena itulah menjadi kebiasaan semua orang dalam keadaan sehat. Dikatakan biasa karena itulah menjadi keharusan dan syarat manusia yang waras. Anehnya hal biasa ini kerap-kali dibikin luar biasa, seolah-olah manusia dapat membuang birahi itu.

Hal biasa dibikin luar biasa, diluar-biasakan begitu rupa sampai dipandang cukup kuat sebagai alasan untuk mengurangkan, kalau tidak menghilangkan tanggung jawab dalam perjuangan. Banyak suara yang kita dengar seperti dibawah ini:

“Bila aku belum berumah tangga, tentulah aku lebih akrif. Sayangnya aku sudah berumah tangga, jadi maklumlah bila aku tidak bisa bergerak lagi”.

Padahal dalam hati kecilnya kawan pengeluh itu sendiri mengerti, bahwa adanya ia berumah tangga itu, tiadalah lain karena ia tidaklah sanggup terus hidup sebagai bujangan. Nyatalah menanggung beban bujangan tidaklah ia tahan dan perkawinan ditempuh sebagai pembebasan dari nasib bujang. Kemudian dirasa, bahwa madu perkawinanpun berisi empedu yang perlu pula ditanggung kepahitannya. Nasib sang bujang pahit dibuang, nasib rumah tangga pahit datang. Dilamunkan kembali masa selagi bujang, tetapi kembali bujang kawan pengeluh itupun tak sanggup, karena sesunggunya ia sudah terlanjut sayang kepada anak istri/suami.

Menempuh perjuangan dengan hidup tiadalah tahankawan pengeluh itu. Menempuh perjuangan dengan anak istri/suami kawan pengeluh tidaklah sanggup pisah dengan anak istri/suami untuk meringankan bebansi pengeluh tidak sampai hati. Masih perlukah kiranya kita melayani orang yang serba tidak sanggup itu? Masih perlukah kiranya kita menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk menarik-narik orang yang sudah mempermaklumkan diri sebagai orang yang tidak berdaya itu?

Wahai kawan marilah kita bersahaja, marilah kita berbuat sebagai manusia biasa. Marilah kita belajar berterus terang. Janganlah menipu kawan, janganlah pula menipu diri. Soal birahi adalah soal biasa. Kita manusia. Kita sama-sama mengerti. Suatu ketika dalam hidup kita, kita pasti mengalami tingkat itu. Kasih sayang kepada kawan yang akhirnya bercampur birahi dan percampuran yang lazim disebut sebagai cinta.

Cinta……………………. Sambutlah cinta itu secara biasa dan sudahlah menjadi hak-mu sepanjang kodratmu sebagai manusia itu untuk menempuh jalan cinta itu. Dan camkanlah, bahwa Sarekat Buruh itu ialah sarekatnya Buruh, sarekatnya manusia biasa. Ketauhilah pula bahwa Partai kasta Buruh itupun partainya Buruh, Partainya manusia biasa.

Demikianlah Sarekat Buruh bukanlah sarekatnya para bujang, Partai kasta Buruh pun bukannya partainya jejaka dan perawan semata-mata. Sarekat Buruh dan Partai kasta Buruh ialah alat dan tempat perjuangan kasta Buruh, alat dan tempat golongan manusia biasa yang sudah barang tentu berkeluarga juga. Dan memang sesungguhnya keluarga Buruh tiada berpisah daripada perjuangan kasta Buruh tidaklah pula boleh dan tidaklah dapat dipisahkan daripada perjuangan kasta Buruh. Panggilan rumah tangga pribadi adalah sebagian daripada panggilan kasta. Dan cinta kawan kepada kekasihnya adalah sebagian pula dari cinta kawan kepada kastanya. Rumah tangga dan birahi patut diselaraskan dengan perjuangan kasta sesuai dengan pribadi masing-masing.

Memang suatu kepahitan bagi kasta Buruh dalam masyarakat kapitalis ini, bahwa birahi masih mengakibatkan beban, beban yang tiada dapat dihindari oleh manusia dewasa yang berbadan sehat dan berotak waras. Bagi kawan-kawan yang insyaf, yang paham bahwa masyarakat baru itu tidaklah jatuh dari atas langit, melainkan lahir daridalam masyarakat sekarang tentulah mengerti, bahwa perjuangan kearah masyarakat baru tidaklah bebas dari siksaan masyarakat sekarang.

Kesanggupan, keuletan dan kecakapan dalam menempuh jalan kearah masyarakat baru ditengah samudra kepahitan dan siksaan masyarakat sekarang dengan berlaku tetap sebagai manusia, justu menjadi nilai pejuang, kader dan pimpinan Buruh dan Tani. Diatas segalanya janganlah menyendiri. Janganlah pula mengira, bahwa kamu seorang diri, berundinglah bersama kawan, bekerja dan atasilah kesulitan bersama kawan. Pasti dapat diringankan beban cinta itu. Sesungguhnya soalnya bukanlah melepaskan cinta itu daripada perjuangan, melainkan soalnya adalah merapatkan cinta tersebut dengan perjuangan. Berbuatlah biasa. Karena kamu manusia biasa, kamulah berjuang. Perjuangan adalah biasa dan juga di medan perjuangan ada tempat yang layak bagi cinta itu.

Pendeknya bila saudara merasa lebih banyak dapat mengabdikan diri kepada Buruh dan Tani dengan tiada ber-istri/suami, maka janganlah ragu, tempuhlah itu, sementara janganlah berkeluarga dan berjuanglah baik-baik. Bila saudara merasa tidak mungkin beroleh ketentraman pribadi dengan tiada ber-istri/suami, maka janganlah bimbang, carilah kawan hidup, berkeluargalah dan selamat berjuang.

Tegasnya, ringkaskanlah persoalan dunia ini dalam pengabdian kepada Buruh dan Tani. Ada kalanya Buruh dan Tani lebih beruntung bila saudara berkeluarga, ada kalanya pula Buruh dan Tani beroleh faedan lebih banyak dari tenaga saudara bila saudara tidak berkeluarga. Demikianlah barang siapa memang benar-benar berjuang sebenarnya ialah berkewajiban mengatur pribadinya hingga dapat membawa faedah yang sebesar-besarnya terhadap Buruh dan Tani. Itulah berjuang!


ALASAN YANG DICARI.

Dalam pertentangan antara modal dan Buruh kita berjuang dipihak Buruh. Memangnya kalau ada yang beranya tentulah kita jawab begitu. Tidaklah diantara kita yang akan berkata, bahwa ia berdiri dipihak modal. Semuanya tentu bilang bahwa ia berada di pihak Buruh dan memang berjuang untuk kepentingan dan kebutuhan Buruh. Namun prakteknya tidaklah semua orang yang berteriak “hidup Buruh” itu benar-benar berjuang untuk kepentingan dan kebutuhan Buruh. Pengalaman kita disarekat-sarekat banyaklah membuktikan kepincangan-kepincangan itu. Untuk mempermudah gambaran baiklah contoh disusun dalam bentuk soal Tanya jawab antara anggota yang kita beri nama SONTOLOYO dan anggota lain dengan gelar HARAPAN. Kedua-duanya menjadi pengurus sarekat di satu tempat.

SONTOLOYO: “Bung hendaklah diusahakan agar saya dapat kembali diterima bekerja. Keadaan pribadiku amat morat-marit. Sebagai /buruh non-aktif saya berhak lebih dulu mendapat tempat dari pada yang lain. Dengan meninggalnya Achmad, pabrik kabarnya mencari penggantinya. Bung sendiri tahu, bahwa saya sendiri memiliki kecakapan yang dibutuhkan. Saya rasa tidaklah begitu sukar untuk mengusulkan saya sebagai pengganti Achmad itu”.

HARAPAN: “Sebenarnya saya ini amat segan mengusulkan barang sesuatu mengenai diri bung itu. Sudah berapa kali bung tidak mau datang di rapat. Padahal kalau bung mau banyaklah pula yang perlu dikerjakan dalam Sarekat kita”.

SONTOLOYO: “Jangan marah bung. Bagaimana saya mesti memikirkan soal-soal organisasi kalau keadaan rumah tangga sendiri amat morat-marit. Sudah berapa bulan saya tidak mempunyai mata percaharian. Pokoknya masih pusinglah aku bung”.

HARAPAN: “Jadi bung nanti sudah dapat kembali bekerja, dapatkah kiranya saudara menunjukkan kegiatan saudara dalam sarekat kita?”.

SONTOLOYO: “Tentu saja bung. Pokoknya asal dapat kembali bekerja”.
Diperjuangkan oleh Sarekat kita hingga benar-benar Sontoloyo dapat kembali masuk pabrik, tetapi setelah bekerja beberapa bulan lamanya tiadalah pula tampak kegiatan yang dijanjikan itu. Kalau ada Buruh Tanya ini dan itu, maka selalulah dijawab: “pergilah saja saudara ke Harapan. Saya lagi repot”.

Tegoran dari pengurus beberapa kali pun tidak membawa faedah yang nyata. Akhirnya Sontoloyo ditarik kemuka Dewan Buruh untuk mempertanggung-jawabkan keteledorannya.

SONTOLOYO: “Majikan menghalang-halangi percobaan saya untuk ikut serta aktif dalam Sarekat Buruh”.

Diuruslah kemudian perkara Sontoloyo ini dengan pihak majikan dan setelah dilakukan perundingan pihak majikan, akhirnya Sontoloyo mendapatkan dispensasi (kelonggaran) untuk menyumbangkan tenaganya dalam Sarekat Buruh dengan tidak usah kehilangan hak-haknya sebagai Buruh.

Anehnya setelah mendapat dispensasi ragulah Sontoloyo itu untuk mempergunakan dispensasi yang sudah diperoleh itu. Inisiatif (ichtiar) untuk bergerak dengan mempergunakan dispensasi tersebut tidaklah tampak.

Apa sebab? Sontoloyo sesungguhnya terlampau sayang kepada dirinya, kurang tebal keinsyafannya untuk menyumbangkan tenaganya bagi kepentingan dan kebutuhan golongan Rakyat terbanyak. Sontoloyo dalam hati kecilnya menimbang, bahwa dalam prakteknya mempergunakan dispensasi itu dapat berakibat:

Sontoloyo kurang, kalau tidak mau kehilangan kesempatan untuk over-werk yang berarti dengan sendirinya kekurangan kalau tidak kehilangan uang lembur.
Sontoloyo terpaksa bekerja untuk Sarekat sampai jauh malam tiada uang lembur.
Sontoloyo kurang kalau tidak kehilangan kesempatan untuk mencari nama baik dihadapan majikan, sehingga kurang kalau tidak kehilangan bahan mutlak yang dapat dijadikan syarat istimewa untuk kenaikan upah dan tingkatnya.
Sontoloyo terpaksa tampil kemuka untuk memimpin perlawanan anti modal yang lambat laun ada kemungkinan jatuh dibenci oleh majikan.

Melihat keragu-raguan Sontoloyo jengkellah Harapan. Akhirnya dengan menghapus dada Harapan berkata: “kalau memang saudara Sontoloyo tiada sempat atau segan-segan mempergunakan dispensasi yang sudah diperoleh itu, maka baiklah tenaga disumbangkan kepada Sarekat Buruh pada waktu habis bekerja”.

SONTOLOYO: “Habis bekerja saya sudah cape”.

Sebelum mempunyai mata pencaharian selalulah orang mengeluh “keadaan pribadi morat-marit” dan kesedihan tersebut dipakai sebagai alasan untuk menghindari tugas kewajiban organisasi. Sesudah mendapatkan mata pencaharian orang memperdagangkan lagu cape, sebagai alasan untuk menjauhi tugas perjuangan. Keganjilan ini patut dicatat sebagai penyakit. Baiklah penyakit ini kita sebut penyakit Sontoloyo. Penyakit Sontoloyo perlu diberantas.

Memang persetujuan belumlah berarti pembelaan. Pejuang Reolusioner tidak hanya memuaskan orang dengan persetujuan, tetapi pejuang Revolusioner pun bersedia penuh untuk membela persetujuannya. Pejuang tidaklah mencari-cari alasan semata-mata untuk memuaskan orang dengan tutur kesanggupan, melainkan pejuang wajib selalu membuktikan kesanggupan tersebut dalam praktek.

Kepada kawan-kawan yang terjangkit penyakit Sotoloyo sungguh perlu diperingatkan, bahwa lahirnya masyarakat baru bukanlah dari atas langit. Masyarakat baru lahirnya dari dalam masyarakat sekarang, dari dalam pertentangan yang ada dalam masyarakat sekarang. Barang siapa benar-benar hendak mempercepat datangnya masyarakat baru ialah tentu harus insyaf, bahwa ia perlu terjun dalam pertentangan masyarakat sekarang dengan penuh ketegasan dan ialah harus insyaf pula, bahwa tiada mungkin bebas dan membebaskan diri dari kepahitan dan kepincangan masyarakat sekarang. Pejuang harus cukup memiliki ketabahan, menempuh masa perobahan yang pasti datang.

=====================================================
Catatan:
*Ibnu Parna: anggota Comite Pusat ACOMMA
**Gragal: batu yang diinjak-injak

 

Bangkitnya PKI Setelah Madiun

0

Setelah terpuruk akibat peristiwa di Madiun, PKI seakan telah menghilang, namun pada tahun 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno.
 
Aidit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada 1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959.
 
Pada Agustus 1951, PKI memimpin serangkaian pemogokan militan, yang diikuti oleh tindakan-tindakan tegas terhadap PKI di Medan dan Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali bergerak di bawah tanah untuk sementara waktu. Pada Pemilu 1955, PKI menempati tempat ke empat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.
 
Pada 3 Desember 1957, serikat-serikat buruh yang pada umumnya berada di bawah pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing. Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.
 
Pada Februari 1958 terjadi sebuah upaya koreksi terhadap kebijakan Sukarno yang mulai condong ke timur di kalangan militer dan politik sayap kanan. Mereka juga menuntut agar pemerintah pusat konsisten dalam melaksanakan UUDS 1950, selain itu pembagian hasil bumi yang tidak merata antara pusar dan daerah menjadi pemicu.
 
Gerakan yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi, mengumumkan pada 15 Februari 1958 telah terbentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintahan yang disebut revolusioner ini segera menangkapi ribuan kader PKI di wilayah-wilayah yang berada di bawah kontrol mereka. PKI mendukung upaya-upaya Soekarno untuk memadamkan gerakan ini, termasuk pemberlakuan Undang-Undang Darurat. Gerakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan.
 
Pada 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri memberi angin pada komunis dalam sambutannya.
 
Pada 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. PKI membalasnya dengan menanggapi konsep Nasakom secara positif, dan melihatnya sebagai sebuah front bersatu yang multi-kelas.
 
Dengan berkembangnya dukungan dan keanggotaan yang mencapai 3 juta orang pada 1965, PKI menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan Himpunan Sardjana Indonesia (HSI). Menurut perkiraan seluruh anggota partai dan organisasi-organisasi yang berada di bawah payungnya mungkin mencapai seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.
 
Pada Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah. Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat. Pada bulan April 1962, PKI menyelenggarakan kongres partainya. Pada 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia dan Filipina terlibat dalam pembahasan tentang pertikaian wilayah dan kemungkinan tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo, sebuah gagasan yang dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal.
 
PKI menolak gagasan pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan menyeberang masuk ke Malaysia dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran dengan pasukan-pasukan Inggris dan Australia. Sebagian kelompok berhasil mencapai Malaysia lalu bergabung dalam perjuangan di sana. Namun demikian kebanyakan dari mereka ditangkap begitu tiba.
 
Salah satu hal yang sangat aneh yang dilakukan PKI adalah dengan diusulkannya Angkatan ke-5 yang terdiri dari buruh dan petani, kemungkinan besar PKI ingin mempunyai semacam militer partai seperti Partai Komunis Cina dan Nazi dengan SS nya. Hal inilah yang membuat TNI AD merasa khawatir takut adanya penyelewengan senjata yang dilakukan PKI dengan “tentaranya”.

LATAR BELAKANG SOSIALISME DAN KOMUNISME

0

KOM

Sosialisme merupakan suatu paham yang menghendaki segala sesuatu itu harus diatur bersama, dikerjakan bersama, dan hasilnya pun harus dinikmati bersama pula. Dengan cara itu, tidak terjadi satu pihak sangat berlebihan dan di lain pihak sangat kekurangan. Dengan begitu lahirlah semboyan sama rata sama rasa. Istilah sosialisme baru pertama kali dipakai pada tahun 1827 dalam majalah perkoperasian oleh Robert Owen.

Gerakan sosial muncul secara serentak dalam bentuk revolusi sosial sebagai reaksi terhadap kepincangan sosial-ekonomi di kota-kota besar akibat Revolusi Agraria dan Revolusi Industri. Pada masa itu, golongan pengusaha, pemilik pabrik, dan para pedagang hidup makmur, tetapi kaum buruh yang bekerja di pabrik-pabrik atau pertambangan sangat menderita karena upah buruh sangat rendah. Oleh karena itu, di kota-kota besar sering terjadi kejahatan.

Keadaan demikian menimbulkan kritik-kritik yang tajam terhadap sistem ekonomi kapitalis yang berdasarkan paham liberal. Kritik-kritik tajam itu dilontarkan oleh golongan yang menganut paham sosialis. Sosialisme mula-mula muncul di Prancis sebagai reaksi terhadap paham liberal. Sosialisme kemudian menjalar ke Inggris dan akhirnya dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels (bangsa Yahudi–Jerman). Hasil pemikiran kedua tokoh itu dituangkan ke dalam buku yang berjudul Das Kapital. Ajaran Karl Marx kemudian terkenal dengan nama Marxisme atau Wetenschppelijk Sosialisme (sosialisme yang bersifat ilmu pengetahuan).

Karl Marx selanjutnya menyebut ajarannya itu sebagai komunisme dan pengikutnya disebut komunis. Istilah komunisme sendiri sebenarnya bukan ciptaan Karl Marx, melainkan ciptaan sosialis Prancis, Cabet. Kata komunis itu berasal dari bahasa Latin communio yang artinya kepunyaan bersama. Kepunyaan bersama ini didasarkan atas penghasilan yang disebabkan oleh tenaga dan menghapuskan hak milik perseorangan. Kata io juga dapat diartikan sama rasa, sama rata, tanpa kuasa.

HEXAGON IN NATURE

0

hexagon.jpg

Is nature a mathematician?

Patterns and geometry are everywhere. But nature seems to have a particular thing for the number 6. Beehives. Rocks. Marine skeletons. Insect eyes.

It could just be a mathematical coincidence. Or could there be some pattern beneath the pattern, why nature arrives at this geometry? We’re going to figure that out…

A bubble is just some volume of gas, surrounded by liquid. It can be surrounded by a LOT of liquid, like in champagne, or just a thin layer, like in soap bubbles. So why do these bubbles have any shape at all?

Liquid molecules are happier wrapped up on the inside, where attraction is balanced, than they are at the edge. This pushes liquids to adopt shapes with the least surface. In zero g, this attraction pulls water into round blobs.

Same with droplets on leaves or a spider’s web. Inside thin soap films, attraction between soap molecules shrinks the bubble until the pull of surface tension is balanced by the air pressure pushing out.

It’s physics! Physics is great, but mathematics is truly the universal language.

Bubbles are round because if you want to enclose the maximum volume with the least surface area, a sphere is the most efficient shape. Yeah. That’s another way of putting it.

What’s cool is if we deform that bubble, the pull of surface tension always evens back out, to the minimal surface shape. This even works when soap films are stretched between complex boundaries, they always cover an area using the least amount of material. That’s why German architect Frei Otto used soap films to model ideal roof shapes for his exotic constructions.

Now let’s see what happens when we start to pack bubbles together. A sphere is a three-dimensional shape, but when when we pack bubbles in a single layer, we really only have to look at the cross-section: a circle. Rigid circles of equal diameter can cover, at most, 90% of the area on a plane, but luckily bubbles aren’t rigid.

Let’s pretend for a moment these bubbles were free to choose any shape they wanted. If we want to Bubbles are round because if you want to enclose the maximum volume with the least surface area, a sphere is the most efficient shape. A plane with cells of equal size and *no* wasted area, we only have three regular polygons to choose from: triangles, squares, or hexagons.

So which is best? We can test this with actual bubbles. Two equal-sized bubbles? A flat intersection. Three, and we get walls meeting at 120˚. But when we add a fourth… instead of a square intersection, the bubbles will always rearrange themselves so their intersections are 120˚, the same angle that defines a hexagon. If the goal is to minimize the perimeter for a given area, it turns out that hexagonal packing beats triangles and squares.

In other words, more filling with fewer edges. In the late 19th century, Belgian physicist Joseph Plateau calculated that junctions of 120˚ are also the most mechanically stable arrangement, where the forces on the films are all in balance. That’s why bubble rafts form hexagon patterns.

Not only does it minimize the perimeter, the pull of surface tension in each direction is most mechanically stable. So let’s review: The air inside a bubble wants to fill the most area possible. But there’s a force, surface tension, that wants to minimize the perimeter.

And when bubbles join up, the best balance of fewer edges and mechanical stability is hexagonal packing. Is this enough to explain some of the six-sided patterns we see in nature?

Basalt columns like Giant’s Causeway, Devil’s Postpile, and the Plains of Catan form from slowly cooling lava. Cooling pulls the rock to fill less space, just like surface tension pulls on a soap film. Cracks form to release tension, to reach mechanical stability, and more energy is released per crack if they meet at 120˚. Sounds pretty close to the bubbles.

The forces are different, but it’s using similar math to solve a similar problem. What about the facets of insect’s eye? Here, instead of a physical force, like in the bubble or the rock, evolution is the driver. Maximum light-sensing area? That’s good for the insect, but so is minimizing the amount of cell material around the edges. Just like the bubbles, the best shapes are hexagons. What’s even cooler, if you look down at the bottom of each facet?? There’s a cluster of four cone cells, packed just like bubbles are. Bubbles can even help explain honeycomb.

It would be nice to imagine number-crunching bees, experimenting with triangles and squares and realizing hexagons are most efficient balance of wax to area… but with a brain the size of a poppy seed? They’re no mathematicians. It turns out honeybees make round wax cells at first. And as the wax is softened by heat from busy bees, it’s pulled by surface tension into stable hexagonal shapes. Just like our bubbles. You can even recreate this with a bundle of plastic straws and a little heat.

So is nature a mathematician? Some scientists might say nature loves efficiency. Or maybe that nature seeks out the lowest energy. And some people might say nature follows the rules of mathematics. However you look at it, nature definitely has a way of using simple rules to create elegant solutions.

hexagon.jpg