CONTENT PORTALS : [MASIH TERUS AKAN DIUPDATE..!!!]

0

[A. Philosophical Thoughts]

Apakah Kita Benar-Benar Bebas
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455624209039335

Freewill VS Determinism
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456080209030751

Sayap – Sayap Gajah :
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458053209034227

Surat Richard Dawkins
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458653609031851 (1)
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458832909030303 (2)

Universe Questioning Itself
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456906209034513

Neil DeGrasse Tyson
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458549809036914 (1)
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458558509037361 (2)

Arti dan Ketiadaan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458081909035344

Cinta, Keyakinan dan Toleransi
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145457010409037676

————————————

B. Sastra

Puisi Bayiku
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458577809038270

Aku Ingin (Puisi)
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456266609035632

Surat Kepada Sang Penguasa
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458004109032332

—————————————-
C. Science

Evolusi Mulut
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458527509035737

Penyebab Kematian
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456478509031887

Ketinggian dan Suhu
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455705909031194

Hominid dan Bipedalism
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456855209032954

————————–
[D. Atheology]

Wajah Toleransi Di Indonesia
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456108209031478

Kekhilafahan dan Ideologi Politik Bagi Mereka yang Tak Bertuhan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456344609037936

OPINI : Kekhilafahan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456351809038123

Feurbach
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458268809033197

Science and Reason
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455687609030764

Alam Semesta Tanpa Tuhan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455674209030462

Humanity, Science, and Religion
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455652909039997

Ateism, Sebuah Kesalahan atau Hak Asasi Manusia
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455636309039620

Pressumtion of Atheism
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458139609037640

Einstein On Science and Religion
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456422009030169

Argument From Design
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458129609037254

Ketakutan Pondasi Agama
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145458102309036209

Menuhankan Logika?
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456810109031655

Agama dan Moral Manusia
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456674509037541

Science and Religion
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456422009030169

Opini : ISIS
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456658109037033

Takut Akan Kematian
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456557009034201

Kehidupan Setelah Kematian
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456535309033550

LIberalism dan Sekularism
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456325009037338

Miskonsepsi Tentang Roh
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456509309032799

Kenapa Harus Science yang Menjadi Patokan:
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456459309031309

Indonesia : Demokrasi Tanpa Toleransi
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456144009032427

Oknum dalam Agama, atau Agama dalam Oknum
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456634709036314

Moralitas, Oknum dan Agama
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456599909035349

———————————-
[E. INSIGHTS]

Barnum Effect
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456776509030639

The Fallacy of Personal Validation
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456751909039967

Opini : Test Keperawanan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456220409034424

Mitos dan Fakta Tentang Keperawanan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456191709033625

Opini Tentang Keperawanan
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456179409033308

Gender, Orientasi Seksual, Jenis Kelamin
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456052109030041 (1)
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145456058009030198 (2)

Kita adalah Anak-Anak Afrika yang Ber-emigrasi
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455997709038586

Mental Illness
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455972809037967

Segitiga Bermuda
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455914209036487

Logical Fallacy
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455850109034859 (1)
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455866109035284 (2)

Feminism dan Sejarahnya Di Indonesia
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455748109032231

Definition of Feminism and It History
http://line.me/R/home/public/post?id=hao1445q&postId=1145455728409031721

Iklan

BARNUM EFFECT

0

f126948fb19914e0caa4b3f46348f93at41de6ca.jpg

Ramalan bintang atau zodiak seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hampir di setiap tabloid dan majalah wanita (dan beberapa tabloid dan majalah pria) menyediakan kolom reguler yang membahas ramalan bintang. Banyak yang sangat percaya, banyak pula yang membacanya sebagai hiburan semata (hanya percaya kalau ramalannya bagus), dan banyak juga yang tidak percaya sama sekali. Bagaimana dengan Anda sendiri?

Bagi saya pribadi, saya kurang dapat menikmatinya. Saya selalu bertanya-tanya: Bagaimana susunan bintang ketika lahir dianggap dapat menjelaskan garis hidup saya? Apa yang membuat seorang Aquarius memiliki kepribadian yang tenang bagaikan air? Logika apa yang mendasari bahwa seorang dengan zodiak Aquarius lebih cocok dengan seorang Cancer daripada seorang Gemini? Apanya yg “logi” dari “astrologi”? Dan yang tak kalah penting, mengapa banyak orang yang bahkan cukup berpendidikan mempercayai ramalan-ramalan tersebut?

Mungkin beberapa dari Anda pernah diramalkan, seperti menggunakan kartu tarot, golongan darah, tulisan tangan, garis tangan, tanggal ulang tahun dan sejenisnya, lalu Anda merasa kaget dengan ramalan mereka yang sebegitu tepatnya. Tapi tunggu dulu, mungkin itu karena Anda belum mengetahui istilah Efek Barnum (Barnum Effect) atau Efek Forer (Forer Effect). Sebenarnya itu semua hanya membutuhkan manipulasi psikologi

Sebenarnya sebagian besar bentuk ramalan, membaca karakter ataupun sejenisnya adalah manipulasi psikologi. Ya, ini realita bahwa sebagian besar hal tersebut sebenarnya apa yang kita sebut Barnum Effect
Bagi sebagian besar orang, istilah Barnum Effect mungkin masih sangat asing, apalagi Forrer Effect. Sebenarnya apa sih yang dimaksud hal tersebut?

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN EFEK BARNUM (BARNUM EFFECT)?
Efek Barnum atau Efek Forrer adalah manipulasi pikiran berupa kata-kata yang ditunjukan pada seseorang berdasarkan sesuatu (ramalan,horoskop,shio,feng shui,dsb) yang pada dasarnya kata-kata tersebut berlaku pada sebagian besar orang.

Barnum Effect adalah teori yang menyebutkan bahwa semua manusia punya beberapa kesamaan. di teori ini juga disebutkan tentang manipulasi psikologi dimana variabel-variable yang lo kira bersifat khusus, pada kenyataannya ternyata bersifat umum.

kan sering tuh di media-media sosial (terutama Twitter) bertebaran ramalan ramalan zodiak, golongan darah, atau shio dan segala macem. kepikiran ga bahwa apa yang mereka tulis itu sebenarnya berlaku untuk semua manusia? misalnya “Virgo : pribadi yang unik. kadang cepat emosi, tidak suka dibohongi, dan memiliki rasa tanggung jawab.” <- SEMUA ORANG JUGA BEGITU
walaupun kadang ada beberapa ramalan yang mengerucut ke sifat yang lebih spesifik, misalnya “Golongan darah A: pribadi yang ceria, disiplin, dan disukai banyak orang”. itu juga salah satu trik mereka, dalam psikologi disebutnya ‘shotgunning trick’. dimana lo nembak beberapa variabel dengan adjektifa yang cenderung bersifat umum walaupun terlihat khusus. ‘Ceria’: semua orang, dalam beberapa kesempatan pasti pernah senang, thus, membuat mood mereka naik dan itu yang bikin mereka jadi ‘ceria’.

Efek Barnum ini membuat otak kita memikirkan hal di masa lalu yang berkaitan tentang ramalan yang kita baca/dengarkan padahal sebagian besar orang akan mengalaminya. Saat kita telah teringat kejadian itu, akhirnya kita mempercayai ramalan tersebut, padahal kita cuma mengingat kejadian yang telah berlalu, itulah Barnum Effect.

Penjelasan Resminya adalah sebagai berikut :
Efek Barnum atau dikenal juga dengan nama Efek Forer merupakan teori yang berdasar pada observasi Phineas Taylor Barnum bahwa semua manusia memiliki beberapa kesamaan, yang kemudian dibuktikan melalui demonstrasi psikolog Amerika, Bertram R. Forer.
Efek Barnum sendiri merupakan sebuah manipulasi psikologis dimana variabel-variabel yang sebenarnya berlaku secara umum pada setiap orang dimanipulasi dalam cara agar kondisi tersebut terlihat seolah-olah berlaku khusus untuk orang tersebut secara pribadi.

Singkatnya, Efek Barnum adalah kecenderungan dimana orang-orang mengatakan suatu ramalan kepribadian mereka tepat, yang pada kenyataannya kepribadian tersebut tidaklah spesifik dan dapat diterapkan ke semua orang.

Hal ini didukung dengan demonstrasi yang dilakukan oleh R. Forer terhadap 39 muridnya.

[EKSPERIMENT BERTRAM R. FORER]
Pada tahun 1984, ia memberitahukan murid-muridnya bahwa mereka akan mendapatkan analisis kepribadian berdasar pada hasil tes dan mereka akan mengatakan seberapa akurat hal tersebut dalam rentang 0-5. Yang tidak diketahui murid-muridnya adalah masing-masing dari mereka mendapatkan analisis yang sama, yakni:

1. Anda merasa perlu untuk disukai dan dikagumi orang lain, tapi pada saat yang sama Anda juga cenderung kritis terhadap diri Anda.
2. Anda mempunyai kapasitas besar terpendam yang sebenarnya bisa Anda kerahkan demi kesuksesan Anda
3. Meski Anda memililiki sisi lemah dalam kepribadian, tapi Anda biasanya berhasil untuk mengkompensasinya
4. Dari luar Anda terlihat sebagai seseorang yang berdisiplin dan percaya diri, namun di dalam Anda adalah seorang yang was-was dan tidak percaya diri
5. Terkadang Anda memiliki keraguan serius apakah Anda sudah membuat keputusan atau sudah bertindak benar atau tidak
6. Dalam kapasitas tertentu, Anda lebih memilih sesuatu yang berbeda dan merasa gusar dengan kekangan dan pembatasan
7. Anda merasa bangga menjadi seorang pemikir independen dan tidak pernah menerima pernyataan orang lain tanpa alasan yang memuaskan
8. Anda juga menilai tidak bijaksana jika terlalu jujur dalam mengungkapkan diri terhadap orang lain
9. Terkadang Anda adalah seorang agresif, ramah dan sosial, ada pula kalanya tertutup, waspada dan pendiam
10. Terkadang apa yang Anda inginkan tidak begitu realistis
11. Merasa aman dan nyaman adalah sebuah tujuan utama Anda

Apakah setelah Anda membaca ini, Anda merasa ini seperti diri Anda? Ya, ini karena pernyataan di atas adalah pernyataan yang dapat diimplementasikan ke semua orang.
ketika lo baca pernyataan itu untuk yang kedua kalinya, lo juga pasti berpikir bahwa pernyataan pernyataan itu bisa di implementasikan ke semua orang.
Setelah dibaca, sang professor meminta agar setiap orang memberi penilaian dengan parameter:

1- Sama sekali tidak mencerminkan saya.
2- Tidak mencerminkan saya.
3- Sedikit -banyaknya mencerminkan.
4- Mencerminkan saya.
5- Sepenuhnya mencerminkan saya.

Hasilnya mencengangkan; sang professor memperoleh angka rata-rata 4.26. Mayoritas anketor menyatakan bahwa kriteria tersebut secara spesifik mencerminkan kepribadiannya. Pada penelitian serupa yang dilakukan setelah Forrer dengan jumlah peserta dan ruang penelitian yang lebih luas, angka rata-rata yang didapat adalah 4.20.

Pernyataan tersebut menarik perhatian banyak orang karena ditulis dengan ungkapan yang menyentuh kepribadian setiap orang. Deskripsi semacam ini dalam logika bahasa disebut tautologis. Sebuah pengulangan pernyataan yang tidak memberikan informasi berarti apa-apa karena mengandung seluruh kemungkinan. Sama seperti pernyataan “Hari ini mungkin hujan dan mungkin tidak”. Dengan memanfaatkan ego narsisme dan keinginan tampil beda pada setiap orang, pernyataan ini mampu meyakinkan kekhususan sebuah kondisi yang sebenarnya umum.
jadi, masih percaya ramalan?
SEANDAINYA kalian percaya zodiak cuma buat have fun aja, yaa oke fine. wajar. emang asyik baca zodiak, apalagi baca zodiak gebetan, trus di sama-samain gitu biar cocok ke kita haha!! (mbloo mblo). gue juga suka excited baca sesuatu kaya “Aries cocoknya sama bla bla” hahaha

TAPI jika lo bener-bener orang yang Percaya-Ramalan-Garis-Keras, dan rela ngelakuin hal-hal yang ditulis di ramalan misalnya “jika kamu berani menghadapi bahaya maka sesuatu yang hebat akan kamu dapati”, “loncat dari lantai 20 sekarang” well, you should probably do it then..

“How could you possibly believe that the sun’s apparent position relative to arbitrarily define constellation at the time of your birth, somehow affect your personality?”

DEMOCRACY TO CAPITALISM

0

“Democracy” under capitalism is mob chaos for the masses where there is constant division and bickering where the people have no real power at all and the interests of working people are totally neglected, and where all real power is held by a tiny ruling class of rich capitalist tyrants.

No matter the form of government under capitalism, whether it is fascism, libertarian, “social democracy,” or anything else, there is a total dictatorship by a few capitalists, so remains the most oppressive system of tyranny possible, only negligibly less tyrannical than an absolutist monarchy. Democracy with socialism is the full mobilization of the working people as the force for power in society–where the people have a true voice and a true influence on all that happens in society, and where all policy is put into place by the mass-mobilization of the working people uniting together to work for the common good.

Democracy in socialism has no begging to rich people for scraps for the working class, and there is no need to constantly fight to preserve less and less basic rights, like under any capitalist fake “democracy,”.

Since these rights are guaranteed in practice from the start, and preserved by the socialist system of true democracy. Democracy in socialism is not a fake facade like under capitalism, where only a tiny few really rule, but the true expression of the whole people expressing their voices, interests, and energy. Democracy in socialism is not the chaotic competition of selfish interests, like under the “jungle warfare” of capitalism, but is a dialogue pursuing the mutual common good of all–where all people genuinely selflessly purse the interests of others, serving others above themselves, and where there is no social divisiveness or hatred between various “categories” of people who are divided and induced into conflict against each other under capitalism.

Capitalist “democracy” requires division and violence, and we always see racism, xenophobia, religious sectarianism, and other social conflicts and violence under capitalist “democracy,” but such social diseases are always healed by socialism, and socialist society has social harmony, with no such racial, ethnic, nationalist, religious, etc. conflicts. Following the “free market” of capitalism is the way to crushing tyranny. Following Marxism-Leninism and building socialism is the way to liberation and for the masses to truly have a democratic voice and democratic, real power in society.

Teach Marxism-Leninism to the working masses so they can pursue liberation, their real interests, and have actual democratic power over society once they have achieved socialism! Thank you, Comrade Ceausescu for liberating and empowering the people of Romania and for teaching us about the tyrannical false “democracy” of capitalism versus the true power to the People achieved by the real democracy only possible in socialist society! ☭

Socialism is indispensable to democracy

– International Marxist

Schopenhauer dan Kematian

0

Pada 22 Februari 1788 di Danzig, Polandia, seorang ibu melahirkan, dan kemudian menamai anak yang dilahirkannya Arthur Schopenhauer. Anak yang hidup di era ‘idealisme Hegelian’ ini nantinya bakal dikenal sebagai seorang filsuf yang pesimistik. Mengapa demikian? Karena bagi anak tersebut, kehidupan tak lain adalah suatu bentuk penyiksaan diri, hasrat yang membelenggu dan tak pernah terpuaskan. Menurutnya, manusia akan terus-menerus mengikat dirinya pada keduniawian yang menurut mereka adalah kebahagiaan, padahal apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan tersebut tak lebih dari sekadar ilusi semata. Atas dasar inilah kiranya mereka mengembel-embeli filsuf satu ini dengan sebutan pesimistis.

Terlepas dari segala penilaian terhadapnya, Schopenhauer sejatinya mempunyai pemikiran yang menarik dan patut ditelaah lebih lanjut. Terlebih, ia juga dikenal sebagai rival Hegel yang mempunyai hegemoni kuat pada zamannya. Kendati Schopenhauer semasa hidupnya kalah saing dari rivalnya tersebut, setidaknya, pemikirannya berpengaruh kuat pada muridnya, Nietzsche, seorang yang dalam sejarah filsafat barat mempunyai pengaruh kuat pada pemikir-pemikir setelahnya. Bahkan Nietzsche dianggap sebagai pembuka jalan dari zaman modern ke zaman post-modern. Dengan demikian, secara tidak langsung, Schopenhauer mempunyai peran signifikan dalam atmosfer pemikiran postmodern lewat ‘muridnya’ tersebut.

Selain Nietzsche, ada nama-nama lain yang cukup kuat terpengaruh oleh Schopenhauer, seperti Richard Wagner, Thomas Manndan Herman Hesse. Kendati ketiga nama tersebut bukan termasuk dalam jajaran nama filsuf, setidaknya, Schopenhauer berhasil memberikan warisan pemikiran tidak hanya pada bidang filsafat saja, melainkan merambah ke bidang sastra dan musik.  Bahkan dua nama yang terakhir disebut berhasil menggondol penghargaan bergengsi di bidang sastra, yaitu nobel.

/1/

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai kematian dalam pemikiran Schopenhauer, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita memahami bagaimana ia memandang realitas. Karena dalam pergumulan filosofis, bagaimana seorang filsuf memandang realitas menjadi hal yang fundamental, atau dalam istilah filosofis, ontologis. Maka dari itu, tulisan ini akan sedikit memaparkan bagaimana pijakan ontologis Schopenhauer.

Kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

/2/

Schopenhauer, bukanlah seorang pemikir yang independen, artinya ia juga terpengaruh oleh pemikir-pemikir yang mendahuluinya, yaitu Immnanuel Kant, Plato, dan Buddha. Pemikiran ketiga tokoh tersebut berhasil dielaborasikan dengan apik oleh Schopenhauer. Nampak pemikiran Kant begitu mencolok pada pandangan metafisis Schopenhauer, Pemikiran Plato terlihat pada pandangannya perihal seni, sedangkan pemikiran a la buddhisme nampak pada bagaimana ia menanggapi kehidupan (baca: moralitas).

Kant, pemikir kondang yang berhasil membuat revolusi tanpa tumpasan darah, mempunyai gagasan bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama ia sebut dengan fenomena (appereance thing), tataran yang sanggup dijangkau oleh rasio manusia. Sedangkan yang kedua ialah noumena (the thing-in-itself), pada tataran ini rasio manusia tidak sanggup untuk menjangkau. Kant berpendapat bahwa sesuatu yang dapat dijangkau oleh rasio manusia (fenomena) hanyalah apa yang ada dalam ruang dan waktu, sesuatu yang bersifat experiencible, atau apa yang dapat dipersepsi langsung melalui indra.

Bagaimana dengan Schopenhauer? ia mengadopsi gagasan Kant perihal dua bagian itu dengan sedikit modifikasi. Polanya tetap sama antara noumena dan fenomena. Pada tataran fenomena, Schopenhauer menyetujui, seperti halnya Kant, bahwasanya keberadaan objek material bertopang pada ruang dan waktu. Dalam ruang waktu juga terdapat kausalitas. Akan tetapi, Schopenhauer tidak memandang seperti halnya para realis pada tataran ini, ia justru beranggapan bahwa objek material tidak akan eksis sejauh tidak ada interaksi antara subjek dan objek—hal ini sangat bertentangan dengan kaum realis.

Lalu jika eksistensi suatu objek material diukur dari adanya subjek yang menginteraksi, bagaimana jika ada seseorang—katakanlah Si A dengan Si B—Jika Si A melihat meja di dalam ruangan berbentuk kotak sedangkan Si B tidak pernah melihat meja berbentuk kotak melainkan bundar, bukankah ini menjadi problematis? Ternyata Schopenhauer sudah memikirkan hal ini di dalam disertasinya yang berjudul The Fourfold Root. Perihal problematika antara Si A dan Si B, Schopenhauer menjawabnya dengan argument ‘prinsip individuasi’ (principium individuationis). Prinsip ini memandang problematika yang dialami antara Si A dan Si B hanyalah permasalahan bagian ruang dan waktu. Di mana Si A dan Si B sejatinya tidaklah keliru, hanya saja pengalaman mereka yang terbatas. Artinya, Si A dan Si B terrestriksi oleh ruang dan waktu, misal Si A melihat meja kotak dalam ruangan di Kota X dan Si B melihatnya di Kota Y.

Sedangkan mengenai noumena, jika Kant mengatakan bahwa Tuhan, jiwa, dan substansi yang ada pada tataran ini,—atau dalam istilah Kant, ‘sesuatu yang ada pada dirinya sendiri’, ada juga yang mengatakan kalau Kant juga menyebutnya dengan x, atau sesuatu yang tidak diketahui—Schopenhauer  menyebutnya sebagai kehendak. Kehendak ini yang dinamakan oleh Schopenhauer sebagai apa-yang-ada-dalam-dirinya (The Thing in-itself). Kendati konsep kehendak ini sukar untuk dipahami, bukan berarti tidak dapat dijelaskan sama sekali. Kehendak dapat memanifestasikan dirinya dalam fenomena lewat simtom-simtom. Melalui pendekatan terhadap manifestasinya tersebutlah kehendak dapat sedikit terjelaskan. Schopenhauer menyebutnya dengan sebutan manifestasi kehendak untuk hidup (The Will to-live). Disinilah dasar argumentasi Schopenhauer mengenai penderitaan. Schopenhauer mengatakan bahwa penderitaan berasal dari adanya interaksi antara kehendak (subjek) dengan objek material dalam ruang dan waktu.

Lebih lanjut, pembahasan kehendak tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai relasi jiwa-tubuh. Hal itu dikarenakan Schopenhauer tidak memandang relasi jiwa-tubuh dengan membedakan keduanya, melainkan keduanya sama. Jika Descartes beranggapan bahwa jiwa dan tubuh itu dua subtansi yang berbeda, lain halnya dengan Schopenhauer, ia memandang keduanya sebagai kesatuan. Atau dengan kata lain Schopenhauer menolak dualitas jiwa-tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh sebagai kehendak. Jadi, ketika tubuh melakukan suatu pergerakan, itu tak lain adalah manifestasi dari kehendak untuk hidup.

Jika Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap: kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke keadaan asalinya (true nature). Dalam keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).

Lalu apa kaitannya semua itu dengan kematian? Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa kehendak untuk hidup itulah yang menyebabkan lahirnya penderitaan menurut Schopenhauer. Atas dasar itu, ia menawarkan dua pilihan, yakni mengafirmasi kehendak atau menegasikannya. Bila memilih afirmasi kehendak, maka kita akan (semakin) menderita. Lalu apakah kalau memilih menegasikan kehendak kita tidak akan menderita? setidaknya, jika kita memilih menegasikan kehendak, kita bisa meminimalisir penderitaan—menimalisir di sini bukan berarti meniadakan penderitaan. Dari situ, muncullah pertanyaan: apakah tidak ada jalan untuk mengakhiri penderitaan? secara singkat Schopenhauer menjawabnya ‘ada’, yaitu kematian. Jika kematian menjadi akhir dari penderitaan yang mengungkung manusia selama ini, mengapa tidak bunuh diri saja? bukankah bunuh diri merupakan suatu jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan?

/3/

Dalam esainya yang berjudul on the doctrine of the indestructibility of our true nature, Schopenhauer menjawab pertanyaan di atas. Bertolak dari pemikiran Epicurus, yang mengatakan bahwa hidup tak lain hanya numpang eksis semata di dalam ruang dan waktu, Schopenhauer membombardir konsepsi yang demikian (bunuh diri sebagai jalan pintas). Menurutnya, kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

Lebih lanjut, kematian menjadi pembebas manusia dari belenggu fenomena karena seseorang hidup di dalam ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat kausalitas. Kausalitas inilah yang menyebabkan kehendak untuk hidup terus-menerus memaksa memanifestasikan diri—di paragraf-paragraf sebelumnya sudah dijelaskan bahwasanya kehendak yang menginteraksi objek material melahirkan penderitaan. Sejauh objek material hanya berada di dalam ruang dan waktu, maka ketika seseorang mati, disitulah penderitaan berakhir, kehendak sudah tidak bisa lagi menginteraksi objek material.

Bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Tak hanya itu, jika Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap: kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke keadaan asalinya (true nature). Dalam keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).

Sedangkan perihal bunuh diri, pernah ada seorang sastrawan Jepang bernama Akutagawa menyindir Schopenhauer dengan mengatakan: “hanya Schopenhauer di antara kaum pesimistis yang tidak melakukan bunuh diri, malahan ia sibuk dengan gerakan spiritual yang ia bangun”. Ucapan itu ada benarnya, karena Schopenhauer tidak pernah menawarkan bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan. Karena menurutnya, bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Kesimpulan

Kematian adalah akhir dari penderitaan manusia. Dengan terputusnya hubungan yang terjalin antara kehendak dan objek material yang berada dalam ruang dan waktu, maka terputuslah penderitaan. Akan tetapi, bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri penderitaan, karena bunuh diri adalah suatu ketertundukkan kepada kehendak, bukan sebaliknya menundukkan kehendak.


Referensi Bacaan

Janaway, C. (2002). Schopenhauer: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.

Schopenhauer, A. (1949). Philosophy of Arthur Schopenhauer. New York: Tudor Publishing CO.

URAPI

0

jesus-annointing.jpg

This is a depiction of the woman who was forgiven much, anointing Jesus’ feet with perfume then drying them with her tears (Luke 7:36-50) by David LaChapelle


Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan urapan itu? Apakah artinya diurapi itu?

Jawaban: Pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di jaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal ini membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan.

Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti “untuk mengolesi atau menggosok dengan minyak” dengan maksud”untuk mentahbiskan pelayanan jabatan atau ibadah.” Juga dipakai kata aleipho, yang berarti “untuk mengurapi.” Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Kel 29:7; Kel 40:9; 2 Raj 9:6; Pkh 9:8; Yak 5:14).

Seseorang diurapi untuk tujuan tertentu – untuk menjadi raja, menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dll. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai “ramuan ajaib.” Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apapun. Hanya Allah yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Allah lakukan.

Arti lainnya untuk kata diurapi adalah “yang terpilih.” Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus, untuk memberitakan Kabar Baik dan membebaskan mereka yang telah ditawan oleh dosa (Luk 4:18-19; Kis 10:38). Setelah Kristus meninggalkan bumi, Dia menganugerahkan karunia Roh Kudus kepada kita (Yoh 14:16).

Semua orang Kristen telah diurapi (1 Yoh 2:20). Mereka dipilih untuk tujuan tertentu, untuk mengerjakan sesuatu bagi Kerajaan Allah. “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Kor 1:21-22).