URAPI

0

jesus-annointing.jpg

This is a depiction of the woman who was forgiven much, anointing Jesus’ feet with perfume then drying them with her tears (Luke 7:36-50) by David LaChapelle


Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan urapan itu? Apakah artinya diurapi itu?

Jawaban: Pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di jaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal ini membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan.

Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti “untuk mengolesi atau menggosok dengan minyak” dengan maksud”untuk mentahbiskan pelayanan jabatan atau ibadah.” Juga dipakai kata aleipho, yang berarti “untuk mengurapi.” Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Kel 29:7; Kel 40:9; 2 Raj 9:6; Pkh 9:8; Yak 5:14).

Seseorang diurapi untuk tujuan tertentu – untuk menjadi raja, menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dll. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai “ramuan ajaib.” Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apapun. Hanya Allah yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Allah lakukan.

Arti lainnya untuk kata diurapi adalah “yang terpilih.” Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus, untuk memberitakan Kabar Baik dan membebaskan mereka yang telah ditawan oleh dosa (Luk 4:18-19; Kis 10:38). Setelah Kristus meninggalkan bumi, Dia menganugerahkan karunia Roh Kudus kepada kita (Yoh 14:16).

Semua orang Kristen telah diurapi (1 Yoh 2:20). Mereka dipilih untuk tujuan tertentu, untuk mengerjakan sesuatu bagi Kerajaan Allah. “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Kor 1:21-22).

Iklan

LOVE AND THE OTHER HALF

0

1f349067dc0d9a99f1b86688fd79de95--funny-dresses-pain-quotes.jpg

Mitos Cinta: Satu yang Terbagi Dua oleh Priska Sabrina

Mitos mengenai cinta bahwa manusia merupakan satu pada awalnya merupakan aspek di mana cinta merupakan bagian dari pencarian akan diri –bahkan mungkin, jiwa. Mitos yang bahkan jika ditelusuri dapat dilacak sampai pada kitab suci dan dongeng keagamaan, di mana Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, dapat dikatakan sebagai landasan filosofis dari mitos tersebut.

Plato pun dalam buku Symposium yang tersohor itu, membuka mitos belahan jiwa saat diceritakan bahwa Zeus membelah manusia menjadi dua karena takut akan kekuatan yang didapatkan manusia saat manusia adalah ‘satu’; utuh.

Jatuh cinta kemudian merupakan perjalanan hidup. Perjalanan hidup yang merujuk pada buku bergambar favorit penulis yaitu “The Missing Piece” oleh Shel Silverstein, merupakan upaya mencari ‘pecahan yang hilang’ dari diri kita.

The Missing Piece oleh Shel Silverstein, bagian di mana ‘it’ mencari dan bertemu dengan ‘it’s missing piece’ (pecahannya yang hilang)

Konsekuensi dari mitos tersebut adalah manusia akan selamanya berada dalam kehilangan –dalam keterpisahan akan belahannya. Unifikasi dengan belahan jiwanya kemudian dianggap sebagai keutuhan diri. Erich Fromm menyebutnya sebagai hasrat untuk bersatu atau hasrat untuk menjadi utuh. Dengan demikian, Fromm melihat cinta sebagai suatu yang lebih dari bentuk sublimasi dari hasrat libidinal, tetapi sebaliknya, hasrat libidinal menjadi manifestasi dari kebutuhan akan cinta dan keutuhan.

Hal yang menarik kemudian adalah bahwa mitos ini merupakan mitos yang menjanjikan sebuah bentuk liberasi, kekuatan, dan pemenuhan saat cinta (dalam hal ini belahan jiwa) dapat diperoleh. Kesendirian menjadi suatu hal yang menakutkan. Jomblo adalah suatu kondisi yang hina. Jatuh cinta merupakan suatu yang memberikan warna (bahkan makna) pada perjalanan hidup (jika tidak hidup merupakan perjalanan pencarian cinta). Mitos ini menempatkan cinta sebagai finish line.

Akhir bahagia dari perjalanan hidup yang panjang. Sebuah tujuan hidup. Padahal tujuan itu sendiri, dalam hal ini cinta, merupakan suatu yang tidak (sepenuhnya) dipahami akal rasio manusia.

Hal yang kemudian penting untuk disorot adalah betapa asingnya ‘cinta’ sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mendefinisikannya. Kutipan oleh Sigmund Freud pada pembuka tulisan ini pun menjadi salah satunya. Seakan berusaha menundukkan kealienan dari cinta untuk mendapatkan kepastian akannya. Tetapi pun, cinta nampaknya tetaplah suatu yang alien. Judith Butler, seorang filsuf teori queer dari Amerika Serikat bahkan menulis esei dengan klaim bahwa cinta akan selamanya alien, tidak terpahami, dan diragukan.

Pertanyaan seperti:

Apakah dia mencintaiku?

Apakah perasaan ini cinta?

Apakah dia sudah tak lagi mencintaiku?

Mungkinkah coklat ini merupakan ungkapan cintanya? dan lain sebagainya itu akan terus kita utarakan. Terus menerus cinta kita ragukan. Bahkan saat ‘missing piece’ telah ditemukan, telah mengisi, tetapi tidak menghentikan keraguan tersebut.

Hal yang membuat seakan apakah cinta akan diperoleh pada akhir kehidupan ini tidaklah penting, yang penting adalah the journey itself.

Jika terus menerus cinta akan menghancurkan ‘kepastian’ akan cinta yang telah untuk dapat berpikir filosifis dalam dan mengenai cinta, kenapa kita harus selalu dalam proses yang dapat dikatakan menyakitkan itu? Apa pentingnya kemudian untuk kita berpikir filosofis dalam dan mengenai cinta jika toh cinta akan terus membuat kita berada dalam keraguan –dalam gelap?

Hal tersebut yang kemudian membuat cinta, sebagai apapun dia, akan selalu mengganggu –atau lebih tepatnya mengusik—pijakan akan apa yang kita pahami dan tidak mengenai dunia. Terus menerus menempatkan kita pada posisi tersesat pada jalan yang semula kita yakini kepastiannya. Hal yang uniknya, proses yang tampaknya memberikan rasa sensasi ‘hidup’ saat cinta kemudian akan selalu dicari secara aktif (bahkan dinanti secara pasif)

Dan ‘jatuh cinta’ merupakan suatu yang terus didambakan. Candu akan ke-‘hidup’-an, ketika ‘hidup’ akan terus menerus diusik dan dipastikan pada saat jatuh cinta. Mungkin di situ lah mengapa cinta selalu berusaha untuk dipahami, terus diragukan. Semata untuk dapat memberikan kepastian yang sifatnya sementara, agar dapat merasakan rasa pasti yang layaknya candu.

“Jangan takut jatuh cinta! Jangan tutup dirimu!” adalah narasi yang sering muncul. Atau edisi Hari Valentine-nya adalah

“Jangan khawatir! Kalau nanti berakhir dengan patah hati, ada coklat untuk menutupi luka di hatimu!”

Live your life filled with love!”

‘I love to you thus means: I do not take you for a direct object, nor for an indirect object by revolving around you. It is, rather, around myself that I have to revolve in order to maintain the to you thanks to the return to me. Not with my pray – you have become mine – but with the intention of respecting my nature, my history, my intentionality, while also respecting yours. Hence, I do not return to me by way of : I wonder if I am loved. That would result from an introverted intentionality, going toward the other so as to return ruminating, sadly and endlessly, over solipsistic questions in a sort of cultural cannibalism.’ p.110


Strategy Three:  Speak/Listen with body and breath:

I’ll say more about this in my next post, because Irigaray only briefly touches on this concept in I love to you.  She argues that feminine subjectivity is essentially embodied, primarily through the breath.  We we must take time to listen and acknowledge ‘space’ in the conversation because it is far from an empty pause.

‘To love to you and, in this “to,” provide space for thought, for thought of you, of me, of us, of what brings us together and distances us, of the distance that enables us to become, of the spacing necessary for coming together, of the transubstantiation of energy, of the oeuvre…  The to you comes through breath trying to make itself speech.’ p.149

In summary, to speak in love is to speak as one whole person to other whole person or persons (plural), maintaining a constant openness to both person and knowledge.  It means we resist the utilitarian pull to use others for what they can do or be for us, continually redirecting our attention away from what we know to what we don’t know and away from ourselves to the Other.  It’s in this most general application of Irigaray’s work that I am comfortable.  I think if we push the gender categories into a universal and mutually exclusive binary we lose too much.  Irigaray is striving for a loving freedom in communication, a noble goal I am very happy to endorse.

‘I am listening to you not on the basis of what I know, I feel, I already am, nor in terms of what the world and language already are, thus in a formalistic manner, so to speak.  I am listening to you rather as the revelation of a truth that has yet to manifest itself – yours and that of the world revealed through and by you.  I give you a silence in which your future – and perhaps my own, but with you and not as you and without you – may emerge and lay its foundation.  This is not a hostile or restrictive silence.  It is openness that nothing or no one occupies, or preoccupies – no language, no world, no God.

This silence is space-time offered to you with no a priori, no pre-established truth or ritual.  To you it constitutes an overture, to the other who is not and never will be mine.  It is a silence made possible by the fact that neither I  nor you are everything, that each of us is limited, marked by the negative, non-hierarchically different.  A silence that is the primary gesture of I love to you.  Without it, the “to,” such as I understand it, is impossible.’  p.117

Relasi dalam pengertian “satu” ialah relasi yang mengedepankan Oneness, dengan hak prerogatif, dominasi dan solipsisme dari Laki-laki. Bagi laki-laki, the other (yaitu perempuan) ialah mirror (cermin) yang pasif. Perempuan hanya meniru (doubling and miming). Perempuan ditujukkan untuk mereproduksi kesamaan (sameness), selama berabad-abad menjadi ‘yang diliyankan’ (the other). Sedang, relasi dalam pengertian “dua” merupakan relasi yang memiliki sifat indifférente. Irigaray memainkan arti kata indifférente (Prancis). Pertama, indifférente berarti sesuatu yang “cacat/memiliki kelemahan”, maskulin melihat perbedaan perempuan sebagai yang ironis. Kedua, indifférente berarti “nondifferent”, tidak berbeda satu sama lain. Permainan bahasa yang dilakukan Irigaray sebenarnya  ingin mengatakan bahwa relasi perempuan dan laki-laki selama ini didominasi oleh satu model saja yaitu sudut pandang laki-laki.

‘Kamu (Laki-laki)/Aku (perempuan) kemudian menjadi 2, yang dibedakan dari sisi luar (outside) dan dalam (inside). Dari sisi luar, kamu (laki-laki) mencoba untuk menyesuaikan dengan aturan, mengasingkan diri sendiri, melebur dengan apapun yang dihadapi, meniru apa pun yang didekatmu. Menjauh dari diri sendiri dan aku (perempuan). Mengasumsikan satu model yang dominan, yang menjadi penguasa dari yang lain. Dari sisi dalam, ada inner self yang ingin dipertahankan. Silent, white (kiasan untuk lambang kesucian) dan virginal  ialah tuntutan laki-laki terhadap perempuan. Ketika mengikuti permainan ini kita (perempuan dan laki-laki) akan teralienasi dari diri kita sendiri.

Bagaimana kami (perempuan) dapat bicara sehingga bisa keluar dari kungkungan, pola, pembedaan dan oposisi: perawan/tidak perawan, murni/tidak murni, innocent/knowing? Bagaimana bisa membebasakan diri dari kategori-kategori mereka (laki-laki)?

 

PERSPEKTIF SUAR BUADAYA – AGAMBEN

0

Menerima Roh Kudus untuk Hidup Dalam Kefanaan (Profanitas).

Untuk mengartikulasikan cara hidup yang dipimpin Roh Kudus, kita bisa menelisik ide pemikir politik radikal Giorgio Agamben. Dalam bukunya yang berjudul Profanations(2007), Agamben mengatakan bahwa kekuatan dari penindasan di sepanjang sejarah terjadi karena agama membelenggu umat manusia melalui produksi ruang-ruang sakral dari ruang publik yang fana[5]. Agama (religere ) yang secara etimotologis artinya mengikat dan menyatukan dalam praktik politiknya telah mengingkari jati dirinya[6] .

Adanya ruang sakral bagi Agamben adalah cara agama untuk membajak kesadaran manusia agar menerima hadirnya sekat-sekat kehidupan di ruang material (yang memisahkan mana yang agung dan yang hina) sebagai keniscayaan.

Logika dari ruang sakral dapat dipahami sebagai berikut: yang   sakral (sacrare, dalama bahasa Latin berarti memisahkan, mengeksklusikan) mengandaikan akses-akses kepada ruang, informasi, kekuasaan secara terberi sudah ditentukan batas-batasnya oleh kekuatan ilahi. Semua upaya untuk menjelaskannya apalagi menggesernya, dianggap sebagai kekurangajaran yang pasti mengundang kutukan atas siapapun yang berani menjamahnya .

Menurut Agamben, proses pensakralan artefak kebudayaan itu sebenarnya tidak berakar pada dimensi kualitatif ontologis apalagi ilahiah dari barang-barang itu sendiri.[7] Proses pensakralan justru terjadi ketika ada entitas (tanah, ternak, hasil bumi, produk kebudayaan) yang diasingkan dari kegunaan awalnya untuk kemudian diapropriasi dan diberi makna yang baru oleh sekelompok elite untuk mengokohkan dominasi dan penghisapannya atas umat![8]

Sebagai contoh, bagi banyak orang kristen perjuangan politik untuk penghapusan kelas adalah hal yang tidak kompatibel dengan akidah agama kristen. Mengapa? Karena kelas dianggap sebagai sesuatu yang adikodrati. Secara serampangan kutipan kitab Amsal 10:22 (“Tuhanlah yang menjadikan orang kaya dan miskin, susah payah bekerja tidak menambahi apapun”), menjadi justifikasi: Kelas terbentuk tanpa penjelasan dan dianggap berasal dari ketetapan Allah yang mutlak. Ini adalah ruang sakral! Dan jelas ruang sakral ini tentu dibentuk untuk melindungi status quo.

Agamben mengatakan bahwa secara simetris tatanan masyarakat ekonomi kapitalis yang sering dianggap sekuler rupanya meniru agama dalam pembentukan ruang sakral[9]. Sekularisme tidak membubarkan ruang sakral. Sekularisme hanya menggeser Tuhan yang personal kepada pasar yang impersonal[10].

Tanpa disadari hari ini, ada banyak ruang sakral yang dibangun dimana-mana. Orang-orang yang sudah bekerja habis-habisan dan menghabiskan ratusan jam tiap tahunnya di commuter line dari Maja ke tanah Abang setiap hari, bisa saja tidak pernah sekalipun berpikir tentang kemungkinan memiliki rumah di wilayah DKI Jakarta.

Boro-boro merencanakan punya rumah di Jakarta, memimpikannya pun sudah tidak berani! Ide tentang adanya kemungkinan memilik rumah yang terjangkau bagi para pekerja di Jakarta dianggap asing, bahkan terdengar muluk di telinga kebanyakan orang. Kenapa? Karena ide habitasi yang beradab bagi warga kota ada di ruang sakral! Seolah-olah kemungkinan ada pemukiman yang manusiawi bagi kelas pekerja diselubungi awan tebal misteri. Misteri yang hanya bisa dipahami oleh para santo-santa developer dan birokrat ibukota.

Agamben oleh karena itu menawarkan cara untuk membongkar kebuntuan ini didalam apa yang disebutnya dengan profanasi (pemfanaan). Agamben memakai pendekatan negasi radikal rasul Paulus pada pengalaman hidup yang seolah-oleh terberi [11].

dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli, pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” (1 Korintus 7:29-31).

Bagi Agamben, nasehat Paulus ini adalah sebentuk profanasi. Di dalam profanasi semua realitas pengalaman hidup maupun tatanan yang dianggap terberi dipertanyakan kembali agar dapat terjelaskan genealoginya. Misalnya, penjelasan tentang mengapa ada begitu banyak masalah agraria di Indonesia Timur perlu diprofanasi dengan stop sekadar mendoakannya dalam pokok doa syafaat di kebaktian hari Minggu dan mulai mencari tahu kenapa ada penindasan dan ketidakadilan yang menimpa saudara-saudari kita di sana dengan analisa sosial politik yang empirik, ketimbang memuja secara buta jargon NKRI harga mati tanpa tahu duduk perkaranya.

Profanasi juga dapat dipraktikkan ketika kita memfanakan jargon kebhinekaan yang ramai hari-hari ini. Mungkin bukan pada lilin yang dibakar atau pada lagu puja-puji nostalgia kepada ibu pertiwi kita menemukan jalan keluar dari berbagai kasus persekusi belakangan ini, tapi pada kesadaran bahwa kita perlu diagnosa yang lebih material dan menyejarah untuk membaca realitas kita?

Pengalaman hidup dipimpin Roh Kudus bagi orang kristen hari ini, tidak boleh kurang dari membongkar kesakralan-kesakralan yang mengasingkan manusia. Mengapa? “Karena dimana ada Roh Allah di sana ada kemerdekaan “(2 Korintus 3:17).***

https://indoprogress.com/2017/06/pentakosta-dan-profanitas-hidup-dipenuhi-roh-kudus-menurut-agamben/

Pemikiran Giorgio Agamben

0

1505697890_kolom-pakar.jpg

The big underlying question presented in the text is why modern democratic states turn into totalitarian states?

Before we get to all that though we have to outline the primary concepts in a government document at the foundation of a government’s theory is harmless to understand this condition we first have to understand the distinction between bias and zooey.

Bias he describes as political life this is just legitimized social life.

Life in society which for the Greeks meant political life.

Zowie he describes his bare life meaning animal life in ancient Greece every citizen had these two separate qualities,

Pertama: his political life as defined by his existence in society

Kedua: and his bare life given by God and therefore sacred and defined by the fact that he was an animal which must sleep eat, etc.

Interestingly at that time domestic life as having no political function was regarded as bare life.

Our Zooey as they called us women children and the senile would all be Zoe as they had no political life, no bias.

The bias – Zoe distinction is very like the mind-body distinction. I my mind controllig my body?

am I my body experiencing my mind?

A homer Sacre in Roman society was someone who in punishment was exiled from society and was therefore allowed to be killed by Anolon.

But not to be sacrificed in an irreligious way, what this meant was he was expelled from the world of men his palace was removed and he was left with chil,  sowwy, bear life, animal life.

But homo sacra is not the same thing as bear life.

Sacra is someone who has been forcibly reduced to bear life just to keep these two concepts separate.

The sacra and Homer sacra is a bit confusing.

Sacred does not mean to be protected on the grounds, that it is religious and therefore somehow precious.

It simply means belonging to the class of things that is outside society and so sacrifice also belongs to this sphere it is a simple inside outside included, excluded dichotomy that puts them together.

On the outside this is his included in the form of exclusion thing, that it keeps talking about this outside element the order.

According to Levi Strauss always exists in societies. It is a constant and manifests in the sacred, priests, Hermits etc and the sacrificial in both cases.

It serves as an overflow valve for society to allow for the system’s mobility things must be cast out and moved around to relieve pressure, there must be a place for loss to keep the system open, like the missing square on one of those picture puzzle games.

Moving back to the kill ability of Houma sacra who decides, who can be legally killed to solve them. This is literally the definition of sovereignty the right to kill the age of monarchies the king was sovereign this put him at the head of society his sovereignty was legitimized by God.

This will put God over the king in society, accept that as God is sacred.

He is part of the other class of things and so outside the structure it is the classic triangle social structure.

The king is the subject and all others are objects together they are a home.

After the Declaration of Independence every man became equal it’s made all the objects equal subjects, the triangle becomes a centerless system where each part facilitates the operation of other parts the sovereignty is shattered and dispersed among the constituents of the system.

But sovereignty the right to kill remains only it is not given by God and it is a collective rather than individual responsibility, all are one and the same this is the nation and to biology.

Biology says a common and Foucault is the emergence of modernity according to them biology is a totalitarian ideology, in its very nature this is for two main reasons firstly because of the way that it measures life extreme.

Examples being eugenics and genetics but life support systems and health care screenings are the same thing, it reduces people to their animal qualities the beastial ization of man as he says it is so clinical and objective secondly.

Because it introduces the concept of the norm and therefore the abnormal those reintroducing our reform alighting the inside-outside economy in the way it measures life it reduces people to objects.

Their life Zoe but the nation state designates its citizens as subjects by us political this is where the two concepts become confused and combined with the onset of biology bias and Zoe are combined.

Bias and Zoe, subject and object so in the modern nation-state the subject is defined as an object within the system a biological object.

Bear life with political rights.

Zoe with the rights of bias.

This is the paradoxical nature of the position the nation only being a manifestation of all of its parts sees itself in terms of this paradox as well.

Their life with political rights it conceives of itself as made of the bodies of its citizens it defines itself by its population rather than territory, suddenly the state has a huge stake in the physical life of its constituents it’s very identity is the bear life of its citizens.

It’s bear life it is now responsible for the health of its citizens this is biopolitics, political control over bear life which necessarily means the political control of death.

Frontal politics biology designates the other two the introduction of the norm it also sanctions the killing of the other as it reduces people to bear life with the state given right of bias political.

Life so just like Homer Sakura if you remove the citizenship of an individual or if they in fact have no citizenship, they’re only bare life and therefore can be killed without committing a crime.

This is why in Nazi Germany it was of absolute importance for the Jews to be stripped of citizenship before they could be killed the state defined by the bare life that constitutes it sought to purge the abnormal from its body biology gives democratic states.

The opportunity to create a homo sacer position within us if the abnormal the excluded part which is still included in the system is expelled it can be placed outside the law the device used by States to expel people to reduce them to bare life is the state of exception prisoners in Guantanamo Bay.

We’re in a state of exception refugees and asylum seekers are often in this state of exception this is commonly employed in such instances as denial of voting rights to prisoners the enforced life support of coma patients and the death penalty.

The concentration camps syndrome modern history in Germany South Africa America and many other states are physical places which exist in a state of exception, the state of exception is simply constituted when the sovereign acts beyond the law the government sees the whole modern nation-state as in a permanent state of exception.

Rather that the implementation of the state of exception is a normal thing that modern states do this means a citizens political life.

His bias the only thing that protects him from being killed, exploited are denied a refuge is only given with the understanding that it can be removed.

If he is placed in a state of exception so essentially, all your rights can be taken away.

You do not have the right to have rights you are merely allowed to have rights, because biology makes the state focus on itself and its citizens as bare life then if you happen to suddenly be perceived as a threat to its bare life.

Even if you are a citizen your expulsion abuse our execution can be legalized and justified as modern democracy has this inherent totalitarian control over life and death.

It is a totalitarian system a camp rarely as extreme or as brazen as Nazi Germany but fully capable of becoming so it is in this way that the modern democratic nation-state supposed to deliver equal rights to man as in the foundation of its design the ability to deprive those very rights for a Gambon the power to become a totalitarian state makes you a totalitarian state.

I recently saw the Film by Bresson “Au Hasard Balthazar” and Agambens book came to mind. The film is about a donkey which we see the life of bios from a zoe view basically. But it turns out that in this society people are living a life with no political intentions and throughout people are mistreated by each other because they are all equals and reduced to zoe. Its barbarism basically. What they do to the donkey they do on each other. But they do not kill the donkey because of his nature the donkey becomes kind of not sacraficable but killable without punishment. In the last scene the donkey dies in a field of sheep which they leave the corpse and in death he is excluded from the middle of the sheep. Is it possible that Bresson foretook Agambens work 1966? Or am I overinterpreting things?

As I understand it, “bios” means qualified life. Bios politkos means political life. Homo sacer is situated “in between” – a site which is the zone of indistinction and between bios _ and zoe. I have not read anything from Agamben which defined the function of homo sacer and the space this individual occupies as “releasing pressure” like the space in the puzzle does and don’t really feel this is the point of Homo Sacer as a text. I also think that he did not mean biology is totalitarianism as you have stated.


Negara dan Produksi Manusia Telanjang: Membaca HAM melalui Giorgio Agamben

Bagaimana dan prasyarat apa saja yang menjadi garis batas antara satu negara dapat disebut sebagai demokratis atau otoritarianisme?

Lalu apa akibat dari pergeseran batas tersebut?

Kemudian dan barangkali yang paling penting, apa arti “manusia” beserta sederet hak-haknya dalam kewajibanya untuk dilindungi oleh negara? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang menghantui kehidupan manusia modern dalam kaitanya dengan hubungan rakyat vis a vis negara. Karena yang dipertanyakan adalah syarat dasar negara, maka mau tidak mau kedaulatan juga dipertanyakan pula disini.

Kepada siapa dan bagaimana negara menegaskan kedaulatanya. Permasalahan tersebut akan kita coba untuk baca melalui perspektif Giorgio Agamben, seorang filsuf Italia.

Kenapa Agamben? Pembacaan Agamben menawarkan analisa khusus terhadap dua hal;

  1. Kedudukan negara demokratis-modern dan
  2. Bagaimana ia bereaksi terhadap hak asasi manusia.

Dua hal penting dalam pembicaraan mengenai HAM terutama belakangan ini.


Paradoks Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia, dalam artianya baik secara yuridis maupun sosiologis, tidak dapat
dipisahkan dari satu hal, yaitu kedaulatan. Meskipun dikatakan bahwa hak asasi tersebut bersifat inheren atau melekat pada manusia itu sendiri, namun pada kenyataanya, pernyataan tersebut tidak dapat menjelaskan “hak untuk memiliki hak” yang baik dalam konteks tanggung jawab dari implementasinya, sedikit banyak menggantungkan dirinya pada kedaulatan negara.

Disini kemudian akan nampak, bagaimana kedaulatan menunjukkan wajahnya yang mendua; disatu sisi, negara memiliki kewajiban penuh untuk menjamin hak-hak sementara disisi lain, atas nama penjagaan hak tersebut, ia juga berhak dan melegitimasi dirinya sebagai leviathan, entah baik dengan atau tanpa instrumen yuridis merampas hak. Inilah yang dikatakan oleh Agamben, bahwa kedaulatan dalam waktu yang bersamaan adalah diluar sekaligus didalam kerangka yuridis.

Dua wajah kedaulatan tersebut hanya dapat dilihat dari situasi-batasnya, situasi dimana atas nama keadaan genting yang memaksa, peraturan maupun konstitusi dapat dikesampingkan dalam diskresi penuh pemegang kedaulatan, inilah yang disebut oleh Schmitt sebagai state of exception.

Melalui state of exception, aturan perundangan, konstitusi, semua tertunda dalam
kewenangan penuh seorang yang menegaskan dirinya, sebagaimana dikatakan Schmitt yangsekaligus titik berangkat dari Agamben, Souvereignity is one who decide state of exception.

Biopolitik adalah sebuah konsep yang terdapat pada banyak dimensi ilmu sosial, termasuk pada studi pembangunan. Konsep ini dikembangkan secara lebih luas oleh Giorgio Agamben, seorang filsuf Italia yang percaya bahwa biopolitik merupakan unsur intrinsik dalam analisa mengenai kedaulatan (sovereignty) dan peran yang dimilikinya dalam mengatur apa yang mengkonstitusikan sebuah keadaan pengecualian (state of exception).

Kedaulatan, menurut Agamben, merupakan sebuah perusahaan biopolitik yang mengontrol disiplin-disiplin di mana kekuatan kedaulatan dapat menegakkan dominasinya melalui hukum yang berlaku.

Kondisi ini memungkinkan terciptanya keadaan pengecualian di mana hukum tidak dapat dijalankan yang memungkinkan kekuatan kedaulatan untuk menegakkan perannya dengan cara yang paling kejam, termasuk membunuh semua yang ingin dieliminasi tanpa melanggar hukum yang berlaku. Keadaan pengecualian ini digambarkan Agamben sebagai ―bare life

Di mana kehidupan masyarakat direduksi serendah mungkin sehingga mereka –yang disebut Homo Sacer oleh Agamben— berada dalam impunitas dan hak-hak yang dimilikinya hilang. Bahkan mereka dapat disiksa dan dibunuh tanpa melanggar hukum.


DELUZE

0

“If you’re trapped in the dream of the Other, you’re fucked.”
Gilles Deleuze


“It is not the slumber of reason that engenders monsters, but vigilant and insomniac rationality.”
Gilles Deleuze, Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia


“The shadow escapes from the body like an animal we had been sheltering.”
Gilles Deleuze, Francis Bacon: The Logic of Sensation


“The self is only a threshold, a door, a becoming between two multiplicities”
Gilles Deleuze, A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia


“To become imperceptible oneself, to have dismantled love in order to become capable of loving. To have dismantled one’s self in order finally to be alone and meet the true double at the other end of the line. A clandestine passenger on a motionless voyage. To become like everybody else; but this, precisely, is a becoming only for one who knows how to be nobody, to no longer be anybody. To paint oneself gray on gray.”
Gilles Deleuze, A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia


“Language is not made to be believed but to be obeyed, and to compel obedience newspapers, news, proceed by redundancy, in that they tell us what we ‘must’ think, retain, expect, etc. language is neither informational nor communicational. It is not the communication of information but something quite different: the transmission of order-words, either from one statement to another or within each statement, insofar as each statement accomplishes an act and the act is accomplished in the statement”
Gilles Deleuze, A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia


“In truth, Freud sees nothing and understands nothing.”
Gilles Deleuze, A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia