Bapak dan Ibu Guru Ekonomi, Homo Oeconomicus itu Sudah Mati

0

homo-economicus-cartoon-noting-left-to-buy-1024x724

Pelajaran yang satu ini hampir selalu dibuka dengan paparan yang sama tentang definisi dan arti katanya.

Bapak dan Ibu guru mata pelajaran ekonomi di seluruh negara (dan dunia?) akan membacakan rumusan definisi ekonomi yang senada di manapun.

Seperti membacakan rapal mantra yang tak boleh berubah sedikitpun susunannya, agar kesaktian ghaibnya terjaga. “Ekonomi,…”, jelas Bapak dan Ibu Guru,

“Berasal dari bahasa Yunani oikos dan nomos, yang artinya ilmu tentang mengelola rumah tangga. Dan pelaku kegiatan ekonomi disebut sebagai homo economicus. Siapakah ia? Homo economicus itu berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri dengan menggunakan prinsip mencapai kepuasan sebesar-besarnya dengan pengorbanan/ongkos yang sekecil-kecilnya. Itulah ekonomi.”

Tentu saja bagi anak didik mereka yang masih belia di bangku sekolah menengah, penjelasan itu sudah cukup banyak untuk dihapalkan karena sudah pasti urusan definisi-definsi begini bakal muncul di soal ujian nanti. “Coba jelaskan arti dari kata ekonomi” atau yang seperti itulah.

Rumusan definisi ini jadi wajib untuk dihapalkan, ditempelkan ke dalam memori. Soal benar tidaknya atau makna lebih dalamnya tidaklah terlalu penting. Soal apakah kemudian mereka akan meyakininya sebagai sebuah kebenaran yang nanti akan menjadi pegangan dalam kehidupan mereka ketika menjadi pengusaha, pejabat, menteri atau bahkan ada yang menjadi presiden…tidaklah perlu dirisaukan. Yang penting hapalannya akurat.

Untung saja tidak ada (atau jarang sekali) murid yang terlalu kritis soal ini, yang bisa saja bertanya begini:

“Jika homo oeconomicus itu benar adanya, bagaimana dengan dokter-dokter sukarela yang bersedia datang ke Somalia untuk membantu anak-anak orang lain yang kelaparan? Siapa mereka yang mau meninggalkan kantor rumah sakitnya yang ber-AC dan datang ke daerah panas dan terancam tertembak mati begitu?”

“Jika homo oeconomicus itu harus memilih antara mengantar ibu mertua (ibunya orang lain) ke rumah sakit dengan acara reunian teman sekolah, mengapa kita hampir pasti memilih yang pertama meski itu tidak memberikan kesenangan pesta bagi kita?”

“Jika homo oeconomicus itu menjelaskan manusia, maka siapakah Bunda Teresa, Mahatma Gandhi dan Au Sang Suu Kyi itu? Bukankah mereka mengorbankan kenyamanan hidupnya, berpuasa berbulan-bulan, hidup serba kekurangan demi untuk menolong dan memperjuangkan nasib orang lain yang mereka tidak kenal?”

Jenis manusia homo oeconomicus sudah pasti tidak bisa menjelaskan fenomena itu, karena ia adalah jenis manusia yang paling egois yang hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Maximizing his/her own utilities. Di dalam ruang petimbangannya tidak pernah ada orang lain, nasib orang lain ataupun kesengsaraan orang lain.

Yang ada di dalam kepalanya cuma aku..aku dan aku. Lho? Jadi kita-kita ini, manusia, bukan homo oeconomicus donk? Ya memang bukan. Kita ini manusia yang punya kemampuan lebih dari sekedar “makhluk pencari kepuasan diri yang egois”, ataupun “makhluq pengumpul kekayaan”, ataupun “makhluk untung-rugi”.

Kita manusia mampu untuk berempati, merasakan penderitaan orang lain dan kemudian kita punya kemauan untuk menolong mereka. Kita manusia mampu untuk berkorban, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jiwa kita sekaligus untuk memperjuangkan kepentingan yang ada di luar diri kita sendiri. Kita rela mati untuk sebuah kemerdekaan, meski kita sendiri tidak bisa menikmatinya nanti. Kita manusia juga mampu untuk bergaul, bersosial, berinteraksi, bersahabat, bersaudara. Dan semua itu membuktikan kemampuan kita sebagai manusia dalam arti seluas-luasnya.

Manusia memang bukan homo oeconomicus, dan banyak pemikir sudah menyimpulkan itu. Sebagaimana kritisi seorang filsuf Karel Kosik (1926-2003):

“Di luar sistem kapitalis, homo oeconomicus adalah fiksi…Homo oeconomicus tidak lahir dari pertanyaan ‘siapakah manusia itu?’, tetapi dari pertanyaan ‘jenis manusia seperti apa agar sistem relasi ekonomi bisa berfungsi sebagai mekanisme?”

Kita manusia jauh lebih dalam, lebih luas, lebih melingkupi…daripada hanya sekedar sebagai homo oeconomicus.

Kita adalah homo reciprocus (bisa menghargai orang lain dan membalas kebaikan), juga homo politikus, juga homo sociologicus, homo religiosus, homo socioeconomicus. Kita dalah manusia yang bisa mencintai, manusia yang bermusik, manusia bekerja, manusia berfikir, manusia penulis, manusia bijak, dan seterusnya. Betapa kita manusia adalah makhluq dengan identitas yang sangat multidimensi. Dan semua dimensi itupun belumlah cukup untuk merumuskan kemanusiaan kita.

Jadi, Bapak dan Ibu Guru…..mari kita mulai mengajar ekonomi dengan sebuah awalan yang baru. Dengan gambaran yang lebih lengkap tentang sifat pelaku ekonomi yang adalah seorang manusia.

Manusia yang lebih lengkap, manusia seutuhnya. Mudah-mudahan dengan begitu kita akan menanamkan ke dalam benak anak didik kita, bahwa berekonomi itu juga harus berempati, memikirkan kepentingan orang banyak, memikirkan kelangsungan kelestarian alam di luar diri kita, mampu berkorban demi untuk kemuliaan nasib orang lain. Dan mari kita sudahi pengajaran ekonomi tentang homo oeconomicus, karena homo oeconomicus memang sudah mati!