S.M.A.R.T PLAN

0

Attainable – When you identify goals that are most important to you, you begin to figure out ways you can make them come true. You develop the attitudes, abilities, skills, and financial capacity to reach them. You begin seeing previously overlooked opportunities to bring yourself closer to the achievement of your goals.

You can attain most any goal you set when you plan your steps wisely and establish a time frame that allows you to carry out those steps. Goals that may have seemed far away and out of reach eventually move closer and become attainable, not because your goals shrink, but because you grow and expand to match them. When you list your goals you build your self-image. You see yourself as worthy of these goals, and develop the traits and personality that allow you to possess them.


Realistic– To be realistic, a goal must represent an objective toward which you are both willing and able to work. A goal can be both high and realistic; you are the only one who can decide just how high your goal should be. But be sure that every goal represents substantial progress.

A high goal is frequently easier to reach than a low one because a low goal exerts low motivational force. Some of the hardest jobs you ever accomplished actually seem easy simply because they were a labor of love.


Timely – A goal should be grounded within a time frame. With no time frame tied to it there’s no sense of urgency. If you want to lose 10 lbs, when do you want to lose it by? “Someday” won’t work. But if you anchor it within a timeframe, “by May 1st”, then you’ve set your unconscious mind into motion to begin working on the goal.
Your goal is probably realistic if you truly believe that it can be accomplished. Additional ways to know if your goal is realistic is to determine if you have accomplished anything similar in the past or ask yourself what conditions would have to exist to accomplish this goal.

T can also stand for Tangible – A goal is tangible when you can experience it with one of the senses, that is, taste, touch, smell, sight or hearing.

When your goal is tangible you have a better chance of making it specific and measurable and thus attainable.

EKONOMI DAN KEHIDUPAN – PERMINTAAN DAN PENAWARAN : HASRAT PSIKOLOGIS

0

 

‘SURAT CINTA SEBAGAI MINIATUR EKONOMI dalam perspektif psikoanalisis’

Pertukaran yang berbasis pasar.

Pasar kapitalis, sosialis.

Menulis surat cinta tidak sama dengan menulis surat pada umumnya.

Surat cinta = pertukaran ekonomi pasar (tidak hanya mendapatkan pemahaman surat cinta, tapi mendapatkan pemahaman baru mengenai pertukaran ekonomi berbasis pasar bekerja pada saat kita selesai, berpaling pada kasus-kasus surat cinta).

Pertukaran pasar (medium penjelasan) terhadap surat cinta, kembali ke surat cinta.. lalu masuk ke ekonomi pasar, dan kita akan mendapatkan pemahaman baru tentang pertukaran pasar.

Retroactive = ex post facto

Kebenaran itu tidak ada di depan, tapi dibelakang, dan berlaku sampai masa depan.  

Psikoanaliss bukanlah merupakan suatu perangkat yang dpt kt terapkan ke suatu kasus, kita tidak dapat bertanya kenapa psikoanalisis melihat x, apakah Y d pandang dalam psikonalsisis. Sebaliknya psikonanalisis,  suatu paradigma yang implikasinya dan konsekuensiny yang bisa kita jumpai dikeseharian. Dalam hal ini surat cinta dan ekonomi pasar. Sehingga ketimbang menjelaskan surat cinta dan ekonomi pasar dgn psikoanlisi, tulisan ini justru akan bertanya.. apa konsep atau tema psikoanalisi yang bisa kita pelajari dgn merefleksikan kenyataan kongkrit pada kedua fenomena tersebut.

Surat cinta dalam ekonomi pasar. Maka pertanytaany sama, apa yang kita bisa pelajari dari surat cinta dalam bekerjanya ekonomi pasar.

Surat cinta = sublime, berbeda dengan yang lainya.

Kalau kita berbicara ekonomi = keadaan, ektivitas, upaya org dlm mmnhuhi kbutuhanya. Kalkulasi rasional = ada yg di untungkan, Korbankan, keluarkan.. ada proses pengerobanan, adanya imbalan. Perhitungan ekonomis

Penemuhan kebutuhan, kalkulasi rasional.

Pasar = suatu ruang atrificial, pembeli, penjual bertemu kegiatan keonomi.. jual beli, saat pembeli dan penjual bertemu barang dan komoditas, alat tukar.

Pasar = penting, lalu lintas informasi, siapa A, siapa B.. barang ini harganya brp, gunanya apa.

Pasar = bebas, stp org di dalamnya bisa mempertimbangkan/kalkulasi rencana ekonomya (pelaku, komoditas, alat tukar, informasi)

Gw permukaan air yang tenang, tapi deep down below im shaking profoundly, anomali yang dari seolah-olah normal.

Pengalaman membeli susu kaleng. Bagaimana elu bisa tahu bahwa produk tersebut ialah produk yang benar-benar elu butuhkan. Mengimani pasar.

Sprite : aku tahu apa yang ku mau. Nein, ada tidak tahu apa yang anda mau.

Pasar = kita harus mengimani spg, dan copywriter sang produk.

Semakin kamu bertanya, semakin anda tidak bahagia.. So jadi percaya saja. Gw tidak tahu bagaimana itu d proses, kok harganya beda jauh. Pokoya percaya saja. Ditundukan dalam rezim tukar dalam dengan medium..

 Percaya kepada merek. Dan informasi yang tertera.

Saya kira subjective, saya butuh laptop = objective.

Menurut gue ini bernilai = tapi engga menurut elu.

Pesanya sampai, tidak ada distorsi.. sayangnya gw ga tahu pasti.

Subjek menjadi galau, baper, ketidak tentuan.. apa yang ia mau dari ku, apa yang kamu mau dari ku.. apakah ku baginya.

Surat cinta ialah pesan dan makna sekaligus objek dari cinta itu. Menulis surat cinta, menjalin hubungan dengan mayat.  Pesanya sampai, dia mengerti.. apa ada feedback? Ketidakpastian, ketidak-menentuan.. pertanyaanya apa yg aku mau, apa yang dia mau, apa yang ia mau dari aku.. siapa aku untuknya.

Apa elu menginkan gue serupa dengan elu? Apa elu tulus? Tulus itu elu terima adanya kenyataan-kenyataan liar.

Pasar ada, saya tidak bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri. Saya butuh orang lain untuk itu. Cinta salah satunya.

Mereka berterima-kasih kepada proletar-proletar.. menyereap kehidupan, intelektual, emosi, kreativitas, death labour = gw punya kehdiupan.

Gw terpikat terhadap benda itu tapi gw engga mempertanyakan itu lagi = fetish

Fetishme komoditas. Harga beda, ya diem aja. Gw menjangkarkan pada sebuah belief, bahwa normal benda ada harganya.

Secara biologis gue hidup.. 9 to 5, get a life.. pharse-pharse apa artinya life dalam get a life.. bukankah orang itu hidup.. tapi ada hidup yang lebih hidup pada umumnya, life menjadi something yang excessive, excessiveness ini dimunculkan dari mana?

Sex itu excessive.. sex manual. Position, elu harus melakukan ini, itu, untuk dapat makna dari sex itu sendiri. Kalau engga maka elu belum pernah benar-benar ngesex.

Mati, mati bukan hanya mati.. tapi ada mati yang lebih excessive, beranak dalam kubur, kuburanya ada uler.

Dimensi exessive : tekno capitalism = kehidupan, apalah artinya hidup ada org yg bunuh diri. Dia memprovide itu.

Hidup itu something yang excessive. Ga pasti.. ini yang diisi oleh marketing, motivator, mitors.

Manusiawi – cinta kasih, cinta kasih itu  batasanya apa? Aldof hitler juga bilang cinta.

“And I can fight only for something that I love, love only what I respect, and respect only what I at least know.”
Adolf Hitler

Traumatisasi, itu terjadi di hari ini.. elu mendramatisir kisah masa lalu.. elu yang buat itu. Ada org yang trauma dikhianati, ada orang yang tidak trauma dikhianati.. ada orang yang trauma dikhianati, jadi ada orang yang trauma akibat/dengan cinta.. ada yang engga trauma tentang/terhadap cinta. Walaupun sama-sama dikhianati.. itu kan yang buat elu sendiri.

Eksploitasi = jam kerja, bukan hasil kerja. Adanya kesepakatan.

Kesejahteraan melihatnya dari duid.. kwkw eksploitasi mau dikemanain bung..

ADDICTION

0

That when a rat is a put in an antique cage all along with two water bottles, one normal and one drugged it gets addicted to the drugged water and eventually dies of malnutrition. The experiment was seen as a proof that drugs are uncontrollable and it laid the foundation for 40 years of drug policy with strict laws rehab centers that focused on withdrawal and a massive war on drugs making it clear that drugs are bad.

What most people don’t know is that in the same decade another scientist Professor Bruce Alexander thought it was obivious that lonely rats in boring cages would choose drugs over water so he put them in a rat park, a lush cage  with friend and everything a rat could want while stil having free acess to drugs, surprisingly his rats chose not to use the drugs. The researcher even took the study one step further and had the rats use drugs for 57 days in the lonely cage untill they become heavily addicted and then placed them in the rat park astonishingly the rats gradually reduced their drug use until they stopped using them altogether and live the rest of their lives drug-free.

Experiments like these happen to humans all the time, one example is in hospitals where heavily injured patients are given medical form of heroin, this heroin much stronger than the heroin used in the street. Despite months of use, these medical users just stop when they go home to a life where they are surrounded by a loving family. The same drug used for the same length of time turn street users who alone and unhappy into desperate addicts. The rat park experiments did not show that chemical addictions don’t exist but it showed that they are not the only thing that matters in drug abuse, maybe a person’s access to a functioning social life and a lush cage are even more important than continuing the war on drugs mission of making drugs unavailable and penalizing the users.

What causes, say, heroin addiction? This is a really stupid question, right? Its obvious; we all know it; heroin causes heroin addiction. Heres how it works: if you use heroin for 20 days, by day 21,.

Your body would physically crave the drug ferociously because there are chemical hooks in the drug. Thats what addiction means. But theres a catch. Almost everything we think we know about addiction is wrong. If you, for example, break your hip, youll be taken to a hospital and youll be given loads of diamorphine for weeks or even months. Diamorphine is heroin. Its, in fact, much stronger heroin than any addict can get on the street because its not contaminated by all the stuff drug dealers dilute it with. There are people near you being given loads of deluxe heroin in s right now.

The experiment is simple: you take a rat and put it in a cage with two water bottles. One is just water, the other is water laced with heroin or cocaine. Almost every time you run this experiment, the rat will become obsessed with the drugged water and keep coming back for more and more, until it kills itself.

But in the 1970s, bruce alexander, a professor of psychology, noticed something odd about this experiment: the rat is put in the cage all alone. It has nothing to do but take the drugs. What would happen, he wondered, if we tried this differently? So he built Rat Park, which is basically heaven for rats;.

Its a lush cage where the rats would have colored balls, tunnels to scamper down, plenty of friends to play with, and they could have loads of sex everything a rat about town could want. And they would have the drugged water and the normal water bottles. But heres the fascinating thing: in Rat Park, rats hardly ever use the drugged water none of them ever use it compulsively, none of them ever overdose.

But maybe this is a quirk of rats, right? Well, helpfully there was a human experiment along the same lines: The Vietnam War. 20% of American troops in Vietnam were using a lot of heroin. People back home were really panicked, because they thought there would be hundreds of thousands of junkies on the streets of the United States when the war was over. But a study followed the soldiers home and found something striking: They didn’t go to rehab, they didn’t even go into withdrawal. 95% of them just stopped after they got home. If you believe the old theory of addiction, that makes no sense. But if you believe Professor Alexander’s theory, it makes perfect sense. Because if you’re put into a horrific jungle in a foreign country where you don’t want to be, and you could be forced to kill or die at any moment, doing heroin is a great way to spend your time. But if you go back to your nice home with your friends and your family, it’s the equivalent of being taken out of that first cage and put into a human Rat Park.

It’s not the chemicals, it’s your cage. We need to think about addiction differently. Human beings have an innate need to bond and connect. When we are happy and healthy, we will bond with the people around us. But when we can’t because we’re traumatized, isolated, or beaten down by life, we will bond with something that gives us some sense of relief. It might be endlessly checking a smartphone, it might be pornography, video games, Reddit, gambling, or it might be cocaine. But we will bond with something because that is our human nature. The path out of unhealthy bonds is to form healthy bonds, to be connected to people you want to be present with. Addiction is just one symptom of the crisis of disconnection that’s happening all around us. We all feel it.

The War on Drugs we’ve been fighting for almost a century now has made everything worse. Instead of helping people heal and getting their life together, we have cast them out from society, we have made it harder for them to get jobs and become stable, we take benefits and support away from them if we catch them with drugs, we throw them in prison cells, which are literally cages, we put people who are not well in a situation which makes them feel worse and hate them for not recovering. For too long, we’ve talked only about individual recovery from addiction. But we need now to talk about social recovery. Because something has gone wrong with us as a group. We have to build a society that looks a lot more like Rat Park and a lot less like those isolated cages. We are going to have to change the unnatural way we live and rediscover each other. The opposite of addiction is not sobriety; the opposite of addiction is connection.

 

PARETO PRINCIPLE

0

Pernahkah anda mendengar hukum pareto? Atau anda pernah mendengar prinsip bisnis 80/20? Prinsip bisnis ini sangat penting untuk anda ketahui

Hukum pareto ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli ekonomi dari Italia yang bernama Vilfredo Pareto (lahir 15 juli 1848 di Prancis dan meninggal 19 agustus 1923 di Lausanne, Switzerland.) Pada tahun 1906 dia menemukan bahwa 80% tanah dan kekayaan di Italia dikuasai oleh 20% populasi yang ada atay yang menemukan bahwa orang-orang di lingkungannya, secara alamiah terbagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok “Penting yang sedikit” yang berisi 20 persen orang teratas dalam bidang keuangan serta pengaruh dan kelompok “sepele yang banyak” yang berisi 80 persen orang terendah..

Pada tahun 1937, Dr. Joeseph M. Juran, seorang ahli management dari Amarika yang terkenal dengan sebutan the father of quality, mengkaji ulang teori tersebut dan mempublikasikannya sehingga terkenal sebagai teori Pareto principle seperti sekarang ini (teori ini juga dikenal dengan nama 20-80 principle.)

Prinsip 80/20 atau yang lebih dikenal dengan Prinsip Pareto, adalah salah satu prinsip paling penting bagi manajemen waktu dan produktifitas..

Prinsip Pareto ditemukan oleh Vilfredo Pareto, seorang Ekonom terkenal Italia,

Terdapat banyak tafsir dari teori ini dan kita tidak bisa membuatnya berlaku untuk semua yang akan kita lakukan, tetapi beberapa fakta dibawah ini menarik untuk kita diskusikan:

  • Apabila anda seorang F & B Manager, coba lihat daftar menu restoran yang ada dan lihat menu yang paling laku dan disenangi pelanggan anda. Secara rata-rata saya dapat mengatakan bahwa dari semua menu yang ada. hanya 20% dari daftar tersebut yang sering terjual. Dan 20% menu yang sering terjual tersebut saya yakin pasti akan menyumbangkan 80% dari total pendapatan di restoran anda.
  • Sekarang coba kita lihat market share kita. Hampir bisa dipastikan bahwa total revenue yang dihasilkan oleh 20% dari total customer yang ada.
  • Ada banyak aktifitas promosi yang sering kita lakukan: apakah flier, billboard advertising, koran, radio, dan sebagainya. Cobalah untuk membuat statistik darimana tamu anda mendapatkan informasi mengenai promosi tersebut, dan saya sangat yakin bahwa 80% dari tamu tersebut akan menunjuk kepada satu atau dua aktifitas advertising anda yang apabila kita bandingkan hanya mewakili 20% dari semua aktifitas yang ada
  • Begitu juga yang terjadi di dalam website traffic. Seringkali kita dapati di dalam web traffic log kita hanya sedikit dari banyak keyword yang ada yang memberikan kontribusi di dalam share trafic kita.
  • Kalau anda seorang FO Manager, akan menarik apabila kita membuat statistik terhadap asal dari tamu yang ada: seringkali kita temuin bahwa kurang lebih 80% dari tamu yang ada hanya berasal dari satu daerah atau negara saja. Tetapi ini tidak berlaku untuk semua hal misalnya segmentasi dan yang lainnya.
  • Apabila anda seorang F&B Manager, coba lihat Hukum pareto ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli ekonomi dari Italia yang bernama Vilfredo Pareto (lahir 15 juli, 1848 di prancis  – meninggal 19 agustus, , 1923 di Lausanne, Switzerland). Pada tahun 1906 dia menemukan bahwa 80% tanah dan kekayaan di Italia dikuasai oleh 20% populasi yang ada.  Pada tahun 1937, Dr. Joeseph M. Juran seorang ahli management dari Amarika yang terkenal dengan sebutan a father of quality, mengkaji ulang teori tersebut dan mempublikasikan sehingga terkenal sebaga  teori Pareto principle seperti sekarang ini,  yang juga biasa diistilahkn dengan 20-80 principle

Namun demikian teori ini tidak bisa diartikan hanya secara harfiah saja misalnya, 80% pekerjaan hanya dilakukan oleh 20% karyawan (meskipun kadang benar.) Kalau kita yakini teori ini dengan membabi buta akan berpengaruh kepada kinerja yang ada.

Di dalam hal ini saya lebih senang melihat dari sudut pandang menguntungkan di dalam cara kita bekerja saja. Karena didalam banyak aplikasi management, hukum pareto ini sering kali digunakan dan biasanya berhasil. Pada teori six sigma misalnya, hukum pareto ini merupakan kata kunci dari aktifitas yang ada. Misalnya ketika kita membuat daftar sepuluh aktifitas yang perlu dilakukan untuk meningkatkan quality control, maka kita hanya memakai dua yang terpenting dari sepuluh daftar aktifitas tersebut.

Menempatkan hukum pareto semestinya kita lakukan sebagai sebuah trigger atas aktifitas yang ada, sehingga nantinya kita akan mendpatkan sebuah metodologi yang lebih mengerucut. Menurut hemat saya prinsip pareto ini sangat berguna untuk mempersempit masalah dan menemukan ide-ide kreatifnya.

Satu hal yang saya pelajari dari aktifitas management dengan menempatkan teori pareto ini secara benar adalah bahwa tidak cukup hanya to do things right, tetapi harus ada pula keyakinan bahwa apa yang kita lakukan adalah doing the right things. Pareto’s Principle seharusnya menjadi sebuah “Alert” bagi kita untuk selalu fokus didalam menginvestasikan 80% waktu dan energi kita, hanya kepada 20% dari daftar pekerjaan yang sangat penting dari semua aktifitas yang ada. Pada setiap kesempatan saya selalu sampaikan untuk tidak hanya work hard, tetapi juga work smart, dan di dalam tulisan ini boleh saya tambahkan untuk bekerja pada hal-hal yang penting saja (the right things.)

paretochart1

Di kemudian hari, Vilfredo Pareto menemukan ternyata prinsip 80/20 ini berlaku pada seluruh kegiatan ekonomi dan kehidupan..

20 persen dari pekerjaan kita menentukan 80 persen dari hasil yang kita peroleh..

20 persen pelanggan kita menentukan 80 persen dari total penjualan Kita..

20 persen produk kita menentukan 80 persen dari total Keuntungan Kita..

Berdasarkan Prinsip Pareto ini, bisa kita simpulkan bahwa dari 10 pekerjaan yang harus kita kerjakan, ada 2 pekerjaan yang nilainya lima bahkan sepuluh kali lipat atau lebih dibandingkan 8 pekerjaan yang lain..

Pada 20 persen pekerjaan terpenting itulah, kita harus memusatkan tenaga dan pikiran kita..

Bukan pada 80 persen yang tidak penting..

Bagaimana mengapikasikannya dalam dunia usaha ?

Bagi pelaku usaha, berikut ini ada dua cara, bagaimana cara mengaplikasikan ke usaha:

Pertama bagi pelaku retail, mereka mempunyai banyak produk yang dijual di tokonya. Secara umum untuk retailer, dari Prinsip Pareto, bahwa 20% jenis produk yang dijual, menyumbang 80% total penjualan yang terjadi.

Sedangkan 80% produk sisanya menyumbangkan 20% total penjualan.

Bagaimana cara meningkatkannya? apabila Anda retailer, olah data penjualan Anda, urutkan jenis produk yang terjual paling besar sampai dengan yang paling kecil (bisa berdasarkan kuantitas produk maupun rupiah). Kemudian ambil 20% jenis produk dari teratas bandingkan dengan total penjualannya, apakah 80%.

Setelah diketahui jenis produk apa saja yang 20% teratas, Anda sebagai retailer, pasti tidak mau kehilangan penjualan. Sehingga cara meningkatkan penjualan tersebut, pastikan jenis produk-produk tersebut selalu ada, jangan sampai out of stock.

Kedua bagi pelaku usaha yang mempunyai sedikit jenis produk dan banyak pelanggan tetap, biasanya usaha yang bergerak dibidang jasa, atau usaha manufakturyang mempunyai jenis produk sedikit.

Urutkan penjualan Anda mulai dari yang tertinggi s/d terbawah terhadap pelanggan-pelanggan tetap Anda (klien ataudistributor), pengurutan tersebut bisa dilakukan berdasarkan dari jumlah transaksi atau dari total besar penjualan. Dari hasil urutan tersebut, ambil 20% teratas, apakah benar dari data 20% tersebut, menyumbang 80% penjualan Anda.

Kemudian dari pola data tersebut, dari 20% pelanggan teratas Anda, berikan pelayanan yang memuaskan, agar pelanggan Anda tidak berpaling ke kompetitor, selain itu dengan level kepuasan yang tinggi, pelanggan bisa melakukan order lebih banyak lagi yang bisa menaikkan penjualan Anda.

Sebenarnya Prinsip Pareto ini bisa digunakan, bisa berdasarkan total penjualan; total quantity penjualan; total jumlah transaksi; total margin per produk; dan sebagainya. Anda sebagai pelaku usaha bisa lebih kreatif lagi dalam penggunaannya, tentunya dengan panduan buku-buku atau ahli yang Ada, agar penggunakan prinsip ini tidak melenceng dari tujuan dasarnya.

Bila prinsip Pareto ini terus Kita terapkan dalam menjalani kehidupan Kita sehari-hari, niscaya kita akan masuk kelompok prestisius “Penting yang sedikit” yang berisi 20 persen orang teratas dalam segala bidang kehidupan Kita..

SCATOLOPHILIA

0

Individuals who derive sexual pleasure from making obscene phone calls are called scatolophiliacs or scatolophiles. Scatolophila is similar to exhibitionism because it is a form of sexual assault intended to shock the victim and the aggressor often masturbates to the experience or to memories of it. Scatolophiles may use persuasive manipulation or frightening threats to keep the victim on the phone. Scatolophilia has decreased in frequency over the past years due to the increasing use of phone technologies such as caller ID, call blocking and phone conversation recorders.

The Victim’s Dilemma

Many victims stay on the phone line because they are afraid that the caller will assault them physically if they do not comply. They may also be worried that the caller may even be outside their house looking in. Being verbally abused is an incredibly traumatic event. However, scatolophiles are rarely physically close their victims at the time of the phone call even if they claim to be and make threats. Receiving unwanted obscene phone calls makes the victim feel unsafe and may cause permanent emotional damage. Many victims may become afraid to answer the phone or to be alone in their own house.

Examples of Scatolophilia

Isolated instances of scatolophilia still persist even with phone technology. Most instances of scatolophilia involve a man calling and verbally abusing household members of a private residence. The caller may make reference to sexual activities and fantasies and later masturbate to the expressions of shock, fear and dismay.

Many modern scatolophiles use manipulative persuasive techniques. For example, in 2000 in Sweden a scatolophile posed as a sexology researcher and asked child subjects sexual questions over the phone. Coercive techniques can especially be observed in string of about 60 abusive phone calls from 1995 to 2004. In these phone calls, a man posing as a police officer forced food service workers to perform sexual acts on each other. The caller forced supervisors to victimize employees with behaviors ranging from spanks to strip searches to oral sex.