KETIKA KEKERASAN MENGATAS NAMAKAN KEAGAMAAN

0

Bumi Indonesia seharusnya menjadi rumah bersama bagi yang tinggal didalamnya. Keberagaman dan kemajemukan yang ada seharusnya dihadapi dan dihidupi, dengan sikap yang dewasa. Setiap orang yang hidup di Indonesia seharusnya mempunyai hak yang sama. Dengan akal budi dan hati nurani yang dimilikinya seharunsya setiap orang bisa bergaul 1 sama lain dalam semangat persaudaraan.

Hak-hak sipil setiap orang di Indonesia seharusnya dan selayaknya dijamin dan dilindungi tanpa memperbolehkan atau membiarkan seorangpun merampas atau menginjak-injak hak hak sipil orang yang lainya . akan tetapi sungguh sangat sulit dipahami, bahwa dibangsa yang majemuk ini seseorang boleh menjadi hakim untuk kelompok yang lain. Seperti kelompok mayoritas boleh menindas kelompok minor, kelompok yang kuat dibiarkan merampas kelompok-kelompok yang lemah.

 Gambar

 Kau secara tegas menolak darwinsm –survival of the fittest, tapi diam diam kau menganutnya. Dan anehnya penindas dan perampas kelomplok lain itu seperti dibiarkan bebas berkeliaran tanpa tersentuh oleh jerat hukum, padahal Negara Indonesia memproklamirkan diriny sebgai Negara yang berlandaskan hukum, berbhineka tungga ika. Dimana semua negaranya djanjikan akan diberikan kedudukan dan hak yang sama dimata hukum. Akan tetapi jaminan, dan perlindungan hukum itu sepertinya tidak berlaku, bagi para pengikut jemaah ahmadiyah, dan syiah sekalipun mereka itupun juga warga Negara di republik ini. Potret hak asasi manusia, dan warga Negara di Indonesia, benar-benar mengalami kesenjangan teks hukum/undang-undang, dengan implementasinya dilapangan undang-undang hukum di Indonesia seperti mengenal pengecualian, hukum dan undang-undang sepertinya belum diabdikan bagi kepentingan dan kesejahteraan seluruh umat manusia dibumi Indonesia.

 Gambar

 Warga dari kelompok yang lemah ini telah kehilangan haknya untuk bisa beribadah dimasjid-masjid mereka sungguh sulit dipahami, oleh akal dan nalar yg normal sekalipun, di Negara yang berlandaskan moral dan hukum keluasaan mengaktualisasikan hak-hak sipil sebagai warga Negara, boleh dibelenggu dan boleh dikurung oleh batasan-batasan peraturan yang tidak jelas dasar hukumnya.

Dilombok di nusa tenggara barat bahkan diskriminasi berlangsung bertahun-tahun lamanya. Tanpa ada upaya dari Negara, untuk memperbaikinya. Puluhan keluarga jemaah ahmadiyah yang telah kehilangan hak Semakin hari, semakin banyak preman bersurban, Agar bisa melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan kegamaan. Manusia-manusia barbar. Yang hanya bisa memercikan kebencian, dan mematik rasa intoleran terhadap sesama manusia.

Mereka semua berbalut surban, agar lolos dari dakwaan. Saya heran dan bingung kenapa kita harus melakukan kekerasan terhadap sesame ketika kita berbeda, apalagi kekerasan dalam intoleransi beragama. Siapa bilang kita berbeda, sementara kita mengeluarkan darah dan air mata yang sama. “dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu berbuat tidak adil – al maidah ayat 8” Bahkan TNI sendiri yang notabenya sebagai perlending hak konstitusi warga Negara, terlibat dalam pembongkaran dan pengerusakan itu sendiri.

Gambar

Punya hak apa anda memberangus suatu kaum, bergerak dengan kebencian sambil teriak “ALLAHU AKBAR” tidak menjadikan tindakan itu benar. Anda harus paham, jangan sampai mereka, yang punya rumah, tapi mereka sendiri tidak diperbolehkan tinggal didalamnya, sekali lagi apa hak anda, apa anda merasa mayoritas sehingga mempunyai hak untuk mengusir mereka ? biarkan mereka disana, karena itu tempat tinggal mereka disana, jangan sembarangan menghapus hak konstitusi dan HAM orang dengan sekedip mata. Atas alasan apa mereka menjadi target tempur yang harus diperangi, atas alasan apa mereka tidak boleh hidup di rumah-rumah mereka sendiri. Apa hanya kerena beda pemahaman dan pemikiran ? ironis sekali. Ini bukan Negara islam, bukan Negara barbar, ini Negara demokrasi.. Mereka telah terusi dari rumahnya sendiri, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah sendiri..

 Sedangkan menurut kitab suci alquran, siapa yang sesat, siapa yang berada dalam petunjuknya, hanya tuhanlah yang maha mengetahui “yakni sesungguhnya tuhan engaku, hanya dialah yang lebih mengetahui, siapa yang sesungguhnya sesat dari jalanya, dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang berada didalam pentunjuk – al haaj : ayat 17” . sudah sedemikian jauhkah negeri ini mengalami perubahan, sehingga hukum dan undang – undang dapat dikalahkan oleh kehendak sekelompok orang, yang mengatakan dirinya kaum beragama (red:gerakan umat islam). Sudah sedemikan jauhkan majelis ulama indonesia memiliki hak dan kewenangan sehingga mereka berani merampas hak tuhanya dalam hal menentukan siapa yang sesat dan siapa yang tidak sesat, siapa yang muslim dan siapa yang bukan muslim. Semoga tuhan memberikan kekuatan kepada para pemimpin bangsa ini, di dalam penegakan hukum dan keadilan.

WE ARE GOING TO DIE

0

12 Mei 2014 pukul 20:12

 

We are going to die, and that makes us the lucky ones. Most people are never going to die because they are never going to be born.

The potential people who could have been here in my place but who will in fact never see the light of day and outnumber the sand grains of Arabia or sahara, maybe in the beach.

 

 

Certainly those unborn ghosts include greater poets than Keats, Poe, Mark Twain, scientists greater than Newton. We know this because the set of possible people allowed by our DNA so massively exceeds or outnumber the set of actual people. In the teeth of these stupefying odds it is you and I, in our ordinariness, that are here.

 

 

We live on a planet that is all but perfect for our kind of life: not too warm and not too cold, basking in kindly sunshine, softly watered; a gently spinning, green and gold harvest festival of a planet.

Yes, and alas, there are deserts and slums; there is starvation and racking misery to be found.

But take a look at the competition.

Compared with most planets this is paradise, and parts of earth are still paradise by any standards.

What are the odds that a planet picked at random would have these complaisant properties?

Even the most optimistic calculation would put it at less than one in a million.

 

 

Imagine a spaceship full of sleeping explorers, deep-frozen would-be colonists of some distant world. Perhaps the ship is on a forlorn mission to save the species before an unstoppable comet, like the one that killed the dinosaurs, hits the home planet.

The voyagers go into the deep-freeze soberly reckoning the odds against their spaceship’s ever chancing upon a planet friendly to life.

If one in a million planets is suitable at best, and it takes centuries to travel from each star to the next, the spaceship is pathetically unlikely to find a tolerable, let alone safe, haven for its sleeping cargo.

 

But imagine that the ship’s robot pilot turns out to be unthinkably lucky.

After millions of years the ship does find a planet capable of sustaining life: a planet of equable temperature, bathed in warm starshine, refreshed by oxygen and water.

The passengers, Rip van Winkles, wake stumbling into the light.

After a million years of sleep, here is a whole new fertile globe, a lush planet of warm pastures, sparkling streams and waterfalls, a world bountiful with creatures, darting through alien green felicity.

Our travellers walk entranced, stupefied, unable to believe their unaccustomed senses or their luck.

 

 

the story asks for too much luck; it would never happen. And yet, isn’t that what has happened to each one of us?

We have woken after hundreds of millions of years asleep, defying astronomical odds.

Admittedly we didn’t arrive by spaceship, we arrived by being born, and we didn’t burst conscious into the world but accumulated awareness gradually through babyhood. The fact that we slowly apprehend our world, rather than suddenly discover it, should not subtract from its wonder.

 

 

After sleeping through a hundred million centuries we have finally opened our eyes on a sumptuous planet, sparkling with colour, bountiful with life. Within decades we must close our eyes again.

Isn’t it a noble, an enlightened way of spending our brief time in the sun, to work at understanding the universe and how we have come to wake up in it? This is how I answer when I am asked — as I am surprisingly often — why I bother to get up in the mornings. To put it the other way round, isn’t it sad to go to your grave without ever wondering why you were born? Who, with such a thought, would not spring from bed, eager to resume discovering the world and rejoicing to be a part of it?

 

 

It is no accident that our kind of life finds itself on a planet whose temperature, rainfall and everything else are exactly right. If the planet were suitable for another kind of life, it is that other kind of life that would have evolved here. But we as individuals are still hugely blessed. Privileged, and not just privileged to enjoy our planet.

More, we are granted the opportunity to understand why our eyes are open, and why they see what they do, in the short time before they close for ever.

 

 

NOTE :

Rip van winkle : http://www.howstuffworks.com/rip-van-winkle-story.htm

FAIRY-LAND

0

Dim vales- and shadowy floods-

And cloudy-looking woods,

Whose forms we can’t discover

For the tears that drip all over!

 

Huge moons there wax and wane-

Again- again- again-

 

Every moment of the night-

Forever changing places-

And they put out the star-light

With the breath from their pale faces.

 

About twelve by the moon-dial,

One more filmy than the rest

(A kind which, upon trial, They have found to be the best)

 

Comes down- still down- and down,

With its centre on the crown

Of a mountain’s eminence,

While its wide circumference

In easy drapery falls

Over hamlets, over halls,

 

Wherever they may be-

O’er the strange woods- o’er the sea-

Over spirits on the wing-

Over every drowsy thing-

 

And buries them up quite

In a labyrinth of light-

And then, how deep!- O, deep!

Is the passion of their sleep.

 

In the morning they arise,

And their moony covering

Is soaring in the skies,

 

With the tempests as they toss,

Like- almost anything Or a yellow Albatross.

 

They use that moon no more

For the same end as before-

Videlicet, a tent-

Which I think extravagant:

Its atomies, however,

Into a shower dissever,

 

Of which those butterflies

Of Earth, who seek the skies,

And so come down again,

(Never-contented things!)

Have brought a specimen

Upon their quivering wings.

CINTA, KEYAKINAN, KERAGUAN, & TOLERANSI

0

Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali.

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang. Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali ? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri

Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik

Sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa Tuhan tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu bertanya, tentang Dia. saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dian tak akan mau dibekukan

Saya pikir, agama-agama yang ada sebagai aturan-aturan sekarang ini adalah untuk orang-orang awam yang kurang berpikir atau yang telah merasa selesai dalam berpikir.

Bagi kita, teis dan atheis bisa berkumpul. Muslim dan Kristen bisa bercanda. Artis dan atlet bisa bergurau. Kafirin dan Mutaqqin bisa bermesraan. Tapi pluralis dan antipluralis tidak bisa bertemu

Manusia memang lebih sering tak jujur pada tuhannya. Seolah-olah ia begitu jauh, jauh, jauh, dan tak terjangkau. Seolah-olah ia adalah tuhan yang tuan, dan kita hanya hamba sahaya yang wajib menjaganya dari angkara murka. Pernahkah bertanya, atau merasa, bahwa ia—tuhan, barangkali jengah, dan bosan, mendengar puji-pujian kolektif yang diucapkan dalam koloni? Pernahkah bertanya, adakah cinta kita pada tuhan kita, bukan hanya berasal dari sebuah kewajiban? Atau rasa takut semata?

Aku ingin bahwa orang-orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan yang utuh (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat

“FASISME BARU”

0

21 April 2014 pukul 0:55

Ketika seorang anak kecil menulis surat kepada tuhan..

Curhatan seorang anak tentang kegelisahan hatinya, tentang persahabatanya..

Persahabatan yang berbeda, karena dipisahkan oleh agama..

dan ini semua tentang toleransi terhadap sesama..

 

Tuhan aku lagi sedih..

Aku sedang menrindukan teman baiku..

Namanya Sammy..

Kami suka berbagi bekal..

Bekalku dan bekal makanya untuku..

 

Kini dia tak bisa bersekolah lagi..

Katanya.. Dia diusir dari kampung kami..

Katanya.. Dia dari keluarga kafir..

Gerejanya dibakar ramai-ramai..

Karena gerejanya dibangun ditengah-tengah permukiman kaum muslimin.

 

Padahal.. Dia baik sekali, Mengapa TUHAN.. ?

Kini ia tinggal dipenampungan bersama keluarga dan sanak saudaranya..

Neneknya yang meninggal disana, tak diperbolehkan dikubur dikampung kami..

Entah dibawa kemana..

Mengapa TUHAN ?

 

Tuhan katanya kamu maha baik, mengapa kamu tega membiarkan itu terjadi.. ?

Jawab aku tuhan.. ? 

Mengapa.. ?

 

PESAN DARI KAMI YANG TERASINGKAN.. 

 

Berilah kami tempat, Tuan Penguasa..

di mana saja di wilayah kota religius ini..

di pinggiran kota, di bantaran-bantaran kali..

di pembuangan-pembuangan sampah..

di tempat-tempat yang dianggap paling angker..

banyak setannya sekalipun..

atau di pekuburan-pekuburan..

yang penting kami dapat keluar dari penampungan..

hidup normal..

menghirup udara kebebasan..

dan kemerdekaan..

seorang anak kecil memimpin doa jemaat gereja, ketika proses eksekusi pembongkaran terjadi.

“kau berikan kasih dan suka cita tuhan, supaya gereja kami tidak jadi dibongkar tuhan, terimakasih tuhan, kami berdoa, semua berucap syukur.. Amienn..”

atau jika telah dianggap menodai agama..

telah melanggar Undang-undang di negeri ini..

sebagaimana selama ini diancamkan..

jebloskanlah kami, Tuan Penguasa..

ke dalam bui..

Kami seluruh warga pengungsi..

laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak..

lahir batin, ikhlas dibui tanpa proses hukum sekalipun..

 

atau..

jika sama sekali tidak ada tempat bagi kami..

di bui tidak ada tempat bagi kami..

di pembuangan sampah tidak ada..

di pekuburan-pekuburan juga tidak ada..

maka galikanlah bagi kami, Tuan Penguasa..

kuburan..

kami seluruh warga pengungsi..

laki-laki, perempuan, tua, muda, maupun anak-anak..

siap dan ikhlas dikubur hidup-hidup..

biarlah kami menempati ruang bernama neraka jahannam..

akibat kesesatan kami..

seperti yang dituduhkan kepada kami..

 

———————————————————————————–

Kita harus resah ketika sesuatu bernama agama yang sejatinya menyejukkan pemeluk maupun orang lain yang bersentuhan dengannya, tiba-tiba menjadi monster menakutkan yang bisa menggilas siapapun yang dianggap berbeda atau menyimpang..

Diskriminasi, konflik, dan kekerasan adalah bagian dari keseharian kita dan hanya sepintas lalu muncul dalam pemberitaan media, namun bagi korban yang mengalaminya, kasus-kasus tersebut membawa dampak yang sangat panjang..

Perlakuan yang diterima warga Ahmadiyah Lombok, Mataram, menimbulkan rasa putus asa bagi mereka, karena bertahun-tahun selama 1998-2009 hidup di pengungsian tanpa jaminan dari negara, membuat mereka mengirimkan surat kepada Walikota Mataram pada 2009, untuk dibunuh saja daripada hidup tanpa kepastian..

 

Apa yang dialami warga Ahmadiyah di pengungsian bukan hanya kehilangan hak untuk menempati tanah dan rumahnya sendiri, menggarap ladangnya sendiri, namun juga kehilangan beberapa hak mendasar mereka yang bahkan sudah dijamin secara tegas oleh konstitusi; hak atas pendidikan, kesehatan, pelayanan, dan bahkan hak politik mereka juga dikebiri, termasuk tidak berhak memilih dalam pemilu, karena sulit bagi mereka untuk mendapatkan KTP di pengungsian.

 

Saya mengharapkan Indonesia TANPA DISKRIMINASI..

Ini hanyalah sekedar cara baru beropini yang menyentuh hati..

Melalui puisi..

Semoga dengan membaca ini akan mengembalikan hati kita pada tempatnya, untuk bersikap toleran, simpati, menjadikan manusia sebagai manusia dan Tuhan sebagai Tuhan..