DEMOKRASI ALA JONRU

0

Pagi ini ketika membuka Facebook, saya tergelitik dengan sebuah postingan bernuansa SARA yang ditulis oleh Jonru Ginting, seorang mantan wartawan kompas yang kini aktif menulis berbagai buku, dan aktif membela PKS (kadang secara membabi buta), entah beliau salah satu kadernya atau bukan.

Saya biasanya malas menanggapi sebuah tulisan yang saya anggap konyol, namun berhubung Pak Jonru ini cukup dikenal oleh masyarakat, punya banyak pengikut, maka saya merasa wajib untuk memberikan sanggahan jika ada tulisannya yang saya anggap tidak sesuai. Bukan semata-mata untuk mengoreksi atau mengubah pandangan beliau (yang saya yakin sangat sulit karena dilihat dari usianya), melainkan agar pengikutnya itu tidak ikut terjebak dalam pemikiran yang sesat.

Berikut adalah kutipan status yang ingin saya tanggapi kali ini:

Catatan: saya menggunakan fitur embed status, jika status tidak muncul di halaman ini, silahkan klik link berikut.

Oke, sebelumnya saya perlu tegaskan bahwa saya bukan orang yang anti diskusi masalah SARA, saya biasa melakukannya dan saya kerap melakukan kritik dan mengungkapkan ketidaksukaan secara terbuka pada ajaran agama tertentu, jadi poin terakhir saya setuju, tapi tidak dengan soal bagaimana memandang demokrasi.

Kesalahan terbesar dari pemikiran Pak Jonru terlihat dari kalimat:

Dalam demokrasi, seharusnya mayoritaslah yang memimpin.

Sungguh lucu kalimat ini, dengan logika seperti itu maka kita bisa mengatakan bahwa untuk masyarakat yang mayoritas penduduknya bodoh, maka pemimpinnya juga harus bodoh, untuk masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah perempuan, maka perempuan lah yang harus memimpin, untuk masyarakat yang mayoritas miskin maka pemimpinnya harus miskin. Artinya kita selama ini telah salah memilih pemimpin.

Saya punya pandangan yang berbeda, bagi saya:

Dalam demokrasi, pemimpin yang terpilih bukan mewakili siapa masyarakatnya melainkan apa yang diinginkan oleh masyarakatnya

Dalam artian sekalipun masyarakatnya bodoh, namun jika mereka menginginkan pemimpin yang cerdas maka kemungkinan untuk orang yang cerdas terpilih sebagai pemimpin semakin besar, begitu juga dengan agama, sekalipun masyarakatnya mayoritas muslim namun jika mereka menginginkan figur yang tegas, cerdas, sederhana, dan pluralis, maka tokoh dengan figur itulah yang akan menjadi pemimpin, entah tokoh itu seorang muslim atau tidak, bukan menjadi soal.

Kemudian saya juga tergelitik dengan pernyataan bahwa di Bali, gubernurnya seharusnya adalah seorang Hindu, begitu juga presiden di India, sedang di Jakarta gubernurnya adalah seorang muslim karena penduduk di Jakarta mayoritas muslim.

Nah, saya pikir Pak Jonru kurang mempelajari sejarah. Saya orang Bali, saya tahu betul bali pernah diperintah oleh seorang gubernur yang beragama Islam, yaitu Soekarmen, begitu juga dengan Kapolda Bali yang pernah beberapa kali dipimpin oleh non Hindu seperti Burhanidin Andi yang seorang muslim, dan Kapolda Bali sekarang yaitu Benny Mokalu yang beragama Katolik (lebih minoritas lagi di Bali), tapi tidak ada masalah, karena kami paham bahwa mereka dipilih berdasarkan kapasitasnya.

Hal serupa terjadi di  India yang beberapa kali dipimpin oleh seorang presiden muslim seperti Zakir HussainMohammad Hidayatullah, dan Abdul Kalam, yang sekalipun mendapat banyak kecaman dari masyarakat Hindu tapi toh beliau dipertahankan sesuai konstitusi. Ini lah yang seharusnya dilakukan oleh sebuah negara, tidak takut diancam oleh kelompok agama yang radikal dan tetap mempertahankan keputusan selama tidak bertentangan dengan konstitusi, sebagaimana Jakarta yang mempertahankan Lurah Susan dan Gubernur Henk Ngantung yang beragama Katolik setelah dikecam beberapa kelompok masyarakat.

Jadi apa yang ditulis oleh Pak Jonru bukan hanya memberikan pendidikan politik yang buruk, tapi juga berusaha menyesatkan masyarakat dengan informasi yang salah. Parahnya lagi, beliau yang mengajak untuk diskusi terbuka (seperti yang ditulis di akhir statusnya) ternyata tidak melakukan hal tersebut. Pak Jonru yang saya tahu suka melakukan blokir, akun facebook saya sudah diblokir hanya karena menulis tanggapan mengenai PKS, begitu juga dengan beberapa teman saya yang mendapat laporan yang sama, mereka diblokir setelah mengkritik tulisan beliau. Itu sebabnya saya menulis disini dan berharap beliau membacanya.

PERADABAN SUKU INKA – PERANG CAJAMARCA

1

PERADABAN : SUKU INKA
Peradaban Inka bermula dari sebuah suku kecil di daerah Cuzco saat Sapa Inka pertama, Manco Capac mendirikan pemukiman Kishawn Cuzco sekitar tahun 1200. Pada perkembangannya, keturunan dari Manco Capac berhasil mengembangkan wilayah kekuasaan dan menyerap masyarakat di sekitar Pegunungan Andes untuk bahu-membahu membangun Imperium Inka. Ekspansi besar bangsa Inka dilakukan pada tahun 1442 saat pemimpin Inka, Pachautec mendirikan Kekaisaran Inka (Tawantinsuyu) yang pada akhirnya menjadi kekaisaran terbesar di Benua Amerika sebelum era kedatangan Columbus.Kekaisaran Inka terpecah saat terjadi perang saudara untuk memutuskan siapa yang akan menjadi Inka Hanan dan siapa yang akan menjadi Inka Hurin. Perang saudara masing-masing dipimpin oleh dua bersaudara, Huascar dan Atahualpa. Di saat yang sama pada tahun 1526, penjelajah Spanyol bernama Fransisco Pizarro Gonzalez mencapai wilayah Inka setelah sebelumnya mengeksplorasi wilayah Panama. Kedatangan Pizarro mendapatkan momentum yang tepat untuk segera menguasai sebagian wilayah Inka yang kaya akan emas dengan cara diplomasi dan tipu muslihat.

Pada tahun 1529, Pizarro kembali ke Spanyol untuk meminta persetujuan demi menguasai wilayah Inka dan menjadi raja di sana. Permintaanya dikabulkan oleh Raja Spanyol dan dia kembali ke Inka. Saat Pizarro kembali ke Inka, hubungan Spanyol dengan Atahualpa sedang membaik. Di saat bersamaan, muncul wabah penyakit cacar di Amerika Tengah yang menewaskan banyak orang dan melemahkan Kekaisaran Inka yang masih terpecah dua, Huascar dan Atahualpa. Keadaan tersebut dimanfaatkan Spanyol untuk menyebarkan ajaran Kristen kepada masyarakat Inka dengan dalih, penyakit cacar tersebut didatangkan Tuhan Kristen untuk membinasakan populasi Inka atas hukuman akibat penyembahan berhala yang dilakukan dalam ritual-ritual adat Inka.

Pada dasarnya, penaklukan Pizarro atas wilayah Inka lebih mengedepankan diplomasi dan tipu muslihat. Ini dibuktikan dengan kekuatan Pizarro yang hanya mengandalkan 180 tentara, 27 kuda, dan 1 meriam. Jalan tersebut diambil demi menghindari konfrontasi potensial yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan eksistensi Spanyol di Inka. Menurut sejarah, pertempuran pertama kali yang dilakukan Pizarro adalah ketika pasukan Pizarro menyerang kelompok suku Puna di daerah Guayaquil, Ekuador. Penyerangan yang dinamakan Pertempuran Puna berhasil mengalahkan penduduk lokal dengan kerugian kecil di pihak Spanyol. Setelah itu Pizarro membangun kota Piura pada bulan Juli 1532, sebagai awal penaklukan atas Inka.

Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Pizarro mengirim Hernando de Soto untuk menjelajahi pedalaman Inka. Di saat yang sama, Pizarro mendapat undangan dari Atahualpa sebagai perayaan atas keberhasilannya mengalahkan saudaranya, Huascar. Atahualpa berserta 80.000 tentara yang lelah setelah berperang, beristirahat di Cajamarca untuk menunggu rombongan Pizarro yang juga hendak pergi ke istana.

Saat rombongan Pizarro tiba di Cajamarca, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dengan pasukan Atahualpa. Di tengah-tengah pesta, Pizarro membujuk Atahualpa untuk masuk agama Kristen. Sebuah legenda menceritakan bahwa Atahualpa diberi Alkitab oleh Pizarro dan melemparnya ke lantai. Penghinaan yang dilakukan Atahualpa membuat Pizarro marah. Rombongan Pizarro yang bersenjata lengkap menyerang 80.000 tentara Inka yang hanya bersenjatakan pedang. Dalam satu jam, rombongan Pizarro menembaki 5.000 pasukan Inka hingga tewas. Kelelahan akibat perang sebelumnya melawan Huascar, membuat pasukan Inka yang tersisa tercerai-berai dan ditangkapnya Atahualpa.

Setelah peristiwa di Cajamarca, pasukan Inka melakukan perundingan dengan Pizarro untuk membebaskan Atahualpa. Pihak Pizarro memberikan syarat berupa emas yang jumlahnya harus bisa mengisi ruang tahanan tempat Atahualpa dipenjara. Pasukan Inka memenuhi tebusan tersebut dengan memberikan emas sebanyak yang disyaratkan, namun Pizarro menolak untuk membebaskan Atahualpa. Saat Atahualpa dipenjara, tentara Spanyol memburu Huascar dan berhasil membunuhnya. Setelah membunuh Huascar, pihak Spanyol menghukum mati Atahualpa pada 29 Agustus 1533, setelah sebelumnya dipaksa masuk agama Kristen. Setelah itu Spanyol mengangkat saudara dari Atahualpa, Manco Yupanqui sebagai pemimpin Kaisar Inka sekaligus sekutu utama Spanyol. Yupanqui didesak untuk menumpas pemberontakan yang dipelopori pasukan Inka yang masih setia terhadap Atahualpa.

Sementara itu, rekan Pizarro bernama Diego de Almagro mencoba mengklaim Cuzco untuk dirinya sendiri yang akhirnya menimbulkan perseteruan hebat antara Pizarro dan Almagro. Keadaan terebut kemudian dimanfaatkan Yupanqui untuk kembai menguasai Cuzco pada 1536, namun gagal setelah Spanyol merebutnya kembali. Merasa dikhianati, Pizarro memburu Yupanqui hingga terdesak ke Pegunungan Vilcabamba, Peru, tempat dia dan penerusnya memerintah selama 36 tahun. Pada tahun 1572, Spanyol berhasil menemukan tempat persembunyian Inka terakhir yang dipimpin oleh putra Yupanqui, Tupac Amaru yang kemudian ditangkap dan dibunuh. Meninggalnya Tupac Amaru dianggap para ahli sebagai titik berakhirnya Kekaisaran Inka.

BIOGRAPHY : FRANSISCO PIZARRO
Si buta huruf orang Spanyol, Fransisco Pizarro ini lahir sekitar tahun 1475 di kota Trujillo, Spanyol. Biar buta huruf, dialah orang yang menaklukkan kerajaan Inca di Peru. Seperti halnya Hernando Cortes yang banyak sekali kemiripan dengannya, Pizarro mendarat di Dunia Baru mencari kemasyhuran dan adu nasib. Dari tahun 1502 sampai 1509 Pizarro tinggal di Hispaniola, kepulauan Karibia, di daerah yang kini termasuk Republik Dominika dan Haiti. Tahun 1513 dia menjadi anggota ekspedisi di bawah pimpinan Vasco Nunez de Balboa, yang menemukan Samudera Atlantik. Tahun 1519 dia menetap di Panama. Dari tahun 1522, tatkala Pizarro menginjak umur empat puluh tujuh tahun, tahulah dia bahwa sebuah kerajaan Inca dari seorang penjelajah Spanyol Pascual de Andagoya yang pernah mengunjunginya. Pizarro, didorong oleh ilham penaklukan Mexico oleh Hernando Cortes, bertekad menaklukkan Kerajaan Inca.
Percobaan pertamanya tahun 1524-1525 mengalami kegagalan dan dua kapalnya terpaksa putar haluan sebelum menjamah Peru. Percobaan keduanya tahun 1526-1528 dia berhasil menjejakkan kaki di pantai Peru dan memboyong pulang emas, llamas, dan orang-orang Indian.
Tahun 1528 dia kembali ke Spanyol. Di sana, tahun berikutnya, Raja Charles V memberi kuasa kepadanya menaklukkan Peru buat kepentingan Spanyol dan memperlengkapinya dengan dana dan segala yang perlu buat ekspedisi itu. Pizarro balik ke Panama dan mempersiapkan ekspedisi. Ekspedisi itu berlayar dari Panama tahun 1531. Waktu itu umur Pizarro sudah masuk lima puluh lima tahun. Kekuatan yang terhimpun dalam ekspedisi itu kurang dari 200 orang sedangkan kerajaan Inca yang akan ditaklukkannya berpenduduk tidak kurang dari enam juta orang!
Pizarro mendarat di Peru tahun berikutnya. Bulan September 1532, hanya dengan membawa 177 orang dan 62 kuda, dia menyerbu masuk daratan. Dengan pasukan yang begitu kecil Pizarro mendaki pegunungan Andes yang menjulang tinggi dengan tujuan kota Cajamarca, kedudukan penguasa Inca-Atahualpa –yang punya kekuatan 14.000 prajurit. Tentara “liliput” Pizarro sampai di Cajamarca bulan Nopember tanggal 15 tahun 1532. Tahun berikutnya, atas permintaan Pizarro, Atahualpa meninggalkan sejumlah besar tentaranya dan hanya dengan dikawal oleh sekitar 5.000 pengikut setianya yang tak bersenjata. datang berunding dengan Pizarro.
Tingkah laku Pizarro membingungkan meskipun selayaknya Atahualpa sudah bisa menangkap gelagatnya. Terhitung sejak orang-orang Spanyol itu menginjakkan kaki di pantai, mereka tanpa tedeng aling-aling sudah menunjukkan maksud jahatnya dan kekasarannya. Oleh sebab itu hampir tak masuk akal apa sebab Atahualpa mengijinkan pasukan Pizarro mendekati Cajamarca tanpa hambatan. Kalau saja orang-orang Indian melabrak Pizarro di jalan jalan sempit lereng gunung yang sudah pasti pasukan kuda Pizarro tak punya daya, pastilah mereka dengan mudah membabat habis orang-orang Spanyol. Sikap Atahualpa sesudah Pizarro sampai di Cajamarca juga amat mengherankan. Menghampiri pasukan yang jelas-jelas ganas sementara dia sendiri tak bersenjata, betul-betul suatu tindakan gegabah dan tolol. Misteri ini makin menjadi-jadi mengingat taktik kebiasaan orang Inca adalah melakukan serangan mendadak.
Pizarro karuan saja tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Dia perintahkan pasukannya melabrak Atahualpa berikut pengawalnya yang tak bersenjata samasekali. Pertempuran –atau lebih tepatnya penjagalan–berlangsung hanya sekitar setengah jam saja. Tak seorang serdadu Spanyol pun terbunuh. Yang terluka justru Pizarro sendiri yang tergores sedikit akibat dia melindungi Atahualpa yang dapat ditangkapnya hidup-hidup.
Strategi Pizarro berjalan sempurna. Kerajaan Inca punya sistem struktur terpusat, semua kekuasaan terpancar dari Inca atau Kaisar yang dianggap sebagai setengah dewa. Dengan tertangkapnya Inca sebagai tawanan, orang-orang Indian tak berdaya menahan serbuan Spanyol. Dengan harapan bisa kiranya memperoleh kemerdekaan kembali, Atahualpa membayar Pizarro sejumlah besar emas serta perak yang harganya mungkin lebih dari $28 juta. Tetapi, hanya dalam beberapa bulan kemudian dia dihukum mati oleh Pizarro. Bulan November tahun 1533, setahun sesudah Atahualpa tertangkap, pasukan Pizarro masuk Cuzco, ibukota Inca, tanpa pertempuran sedikit pun. Di sana, Pizarro mengangkat seorang raja boneka. Tahun 1535 dia menemukan kota Lima yang jadi ibukota Peru.
Tahun 1536, raja Inca boneka melarikan diri dan memimpin pemberontakan melawan Spanyol terkepung di Lima dan Cuzco. Sesudah itu Spanyol berusaha keras memulihkan pengawasannya atas seluruh negeri di tahun berikutnya, tetapi baru tahun 1572 pemberontakan betul-betul bisa tertumpas. Sesudah itu matilah Pizarro.
Kemerosotan bintang Pizarro mulai tampak ketika orang-orang Spanyol baku hantam sesamanya. Salah seorang teman dekat Pizarro, Diego de Almargo, memberontak di tahun 1537 menuntut Pizarro tidak membagi adil barang rampasan. Almargo ditangkap dan dihukum mati. Tetapi, kematian ini tidaklah menyelesaikan soal. Isyu-isyu tentang ini menyebar terus sehingga di tahun 1541 kelompok pendukung Almargo menyerbu istana Pizarro di Lima dan membunuh pemimpin itu yang usianya sudah enam puluh lima tahun, hanya delapan tahun sejak dia menduduki Cuzco dengan kemenangan gemilang.
Fransisco Pizarro seorang pemberani, percaya kepada diri sendiri, dan kaku. Diukur dari mentalnya, dia seorang beragama, dikabarkan Pizarro tatkala sekarat melukis gambar salib dengan darahnya dan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah “Yesus”. Sebaliknya, dia pun serakah bukan main, kejam, ambisius, dan licik; mungkin penakluk Spanyol yang paling brutal.
Tetapi, kekasaran Pizarro janganlah menutup mata atas kesuksesannya di bidang militer. Ketika tahun 1967 Israel peroleh kemenangan dramatis atas Arab yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding Israel sendiri dan persenjataannya pun lebih lengkap, banyak orang terbengong-bengong. Kemenangan itu betul mengesankan. Tetapi, sejarah penuh dengan kisah kemenangan militer oleh pasukan kecil menghadapi pasukan yang iauh lebih besar. Napoleon dan Alexander Yang Agung berulang kali memenangkan pertempuran melawan musuh yang berlipat lebih besar jumlahnya. Orang-orang Mongol di bawah penakluk Jengis Khan mampu menaklukkan Cina, negeri yang berpenduduk tiga puluh kali lebih besar dari bangsa Mongol.
Tetapi, Pizarro menaklukkan sebuah kerajaan yang berpenduduk lebih dari enam juta hanya dengan pasukan 180 prajurit memang benar-benar suatu kejadian mencengangkan dalam sejarah. Apa yang diperbuatnya itu lebih hebat dari Cortes yang dengan 800 prajurit menaklukkan negeri yang berpenduduk sekitar lima juta. Bahkan, mungkinkah Jengis Khan atau Alexander Yang Agung mengungguli Pizarro? Saya ragu, karena mereka tidak punya kenekadan melakukan penaklukan gila-gilaan seperti itu.
Tetapi, tentu orang bisa saja bertanya: bukankah Spanyol punya senjata api yang membantu keunggulan taktiknya? Sama sekali tidak. Arquebuses, senjata api primitif masa itu yang cuma punya daya tembak jarak pendek dan memerlukan banyak waktu mengisi mesiunya. Kendati memang menimbulkan suara yang menakutkan, sebenarnya senjata macam begitu masih kalah ampuh ketimbang panah yang bagus. Pada suatu saat tatkala Pizarro menerobos masuk Cajamarca, cuma tiga prajuritnya yang genggam senjata api arquebuses dan tak lebih dari dua puluh punya busur berikut anak panahnya. Umumnya orang-orang Indian terbunuh dengan senjata konvensional seperti pedang dan tombak. Selain cuma memiliki sedikit kuda dan senjata api, jelas sekali orang-orang Spanyol melibatkan diri dalam konflik dalam posisi yang secara militer amat tidak menguntungkan. Adalah kepemimpinan dan tekad baja dan bukannya senjata yang menjadi faktor utama kemenangan Spanyol. Tentu saja, nasib baik memang berpihak pada Pizarro tetapi seperti kata pepatah “Keberuntungan senantiasa berada pada pihak yang berani.”
Fransisco Pizarro dikecam oleh beberapa penulis tak ubahnya sebagai seorang jagal yang beringas. Andaikata toh begitu, dia termasuk sedikit dari jagal-jagal yang punya pengaruh dalam sejarah. Kerajaan yang ditumbangkannya menguasai daerah seluas Peru dan Ecuador sekarang, begitu juga separoh dari bagian utara Chili dan sebagian Bolivia. Penduduknya sedikit lebih banyak dari sisa penduduk seluruh Amerika Selatan digabung jadi satu. Sebagai akibat penaklukan Pizarro agama dan kebudayaan Spanyol tertanam di seluruh daerah. Lebih jauh dari itu, sesudah jatuhnya kerajaan Inca, tak satu pun bagian Amerika Selatan lain yang mampu bertahan terhadap penaklukan bangsa Eropa. Berjuta-juta bangsa Indian masih berdiam di Amerika Selatan, tetapi di sebagian besar benua itu orang-orang Indian tak pernah lagi bisa pegang peranan politik. Bahasa Eropa, agamanya, kebudayaannya, tetap dominan.
Cortes dan Pizarro, masing-masing cuma memimpin pasukan kecil, berhasil dengan cepat menumbangkan kerajaan Aztec dan Inca. Peristiwa ini membikin banyak orang memperhitungkan bahwa penaklukan Mexico dan Peru oleh orang-orang Eropa tak bisa dicegah lagi. Kenyataannya, kerajaan Aztec tak punya kesempatan mempertahankan kemerdekaannya. Letak kedudukan (dekat Teluk Mexico dan tak berjauhan dari Kuba) terbuka buat penyerangan bangsa Eropa. Bahkan andaikata pun Aztec berhasil memukul pasukan Cortes yang kecil itu, tentara Spanyol dalam jumlah yang lebih besar pasti segera akan datang menyusul.
Kerajaan Inca, di lain pihak, punya posisi bertahan yang lebih menguntungkan. Satu-satunya perbatasan samudera hanyalah Pasifik yang lebih sulit dimasuki ketimbang Atlantik. Inca punya tentara berjumlah besar, berpenduduk banyak dan terorganisir rapi. Lebih dari itu medan Peru tak rata dan bergunung-gunung, dan di banyak bagian dunia, kekuatan kolonial Eropa biasanya menghadapi kesulitan menaklukkan daerah pegunungan. Bahkan di akhir abad ke-19 sewaktu persenjataan Eropa jauh lebih maju dibanding yang mereka miliki di abad ke-16, percobaan Italia menaklukkan Ethiopia tidak berhasil. Hal serupa menimpa juga Inggris yang nyaris menghadapi kesulitan tak habis-habisnya menghadapi suku-suku di pegunungan barat laut perbatasan India. Dan orang-orang Eropa tak pernah mampu menjajah negeri berpegunungan seperti Nepal, Afganistan dan Iran. Kalau saja penaklukan Pizarro gagal, dan kalau saja orang Inca punya sedikit pengetahuan tentang persenjataan dan taktik orang Eropa, mereka akan mampu melawan kekuatan Eropa yang datang belakangan. Sedangkan dalam keadaan seperti begitu, Spanyol memerlukan waktu tiga puluh enam tahun menumpas pemberontakan orang Indian di tahun 1536, kendati orang Indian cuma memiliki sedikit senjata api dan tak pemah sanggup menghimpun lebih dari pasukan-pasukan kecil sebelum penaklukan Pizarro. Spanyol akan dapat menaklukkan Kerajaan Inca bahkan tanpa Pizarro sekalipun, tetapi perkiraan itu tampaknya jauh dari pasti.
Jadi Pizarro ditempatkan sedikit lebih tinggi daripada Cortes dalam daftar urutan buku ini. Cortes mendorong lajunya sejarah, Pizarro mungkin sekali mengubah jalan arusnya.
PERANG CAJAMERCA

Perang-perang dengan perbandingan pasukan yang sangat timpang cukup banyak terjadi dalam sejarah, dan hampir semua pasukan yang jumlahnya lebih kecil mengalami kekalahan. Namun sejarah mencatat bahwa pernah ada sedikitnya satu kali di mana pertempuran berjumlah tidak imbang namun pasukan yang lebih kecil jumlahnya berhasil memenangkan pertempuran, yaitu The Battle of Cajamarca. Pertempuran yang berlangsung di Cajamarca, Peru, pada tanggal 16 November, 1532 ini merupakan titik tolak sejarah Amerika Selatan yang paling penting, yaitu dominasi kekuatan Eropa (Spanyol) dari tangan penduduk asli setempat. Pasukan Spanyol dipimpin oleh Marques Qonquistador Francisco Pizarro Gonzales, yang lebih dikenal dengan nama Pizarro dengan kekuatan 106 infantri dan 62 pasukan berkuda. Sedangkan Amerika Selatan (dalam hal ini merupakan Kekaisaran Inca) dipimpin langsung oleh Sapa Inca (kaisar) Atahualpa, dengan pasukan berjumlah 7000 orang infantri.

Pertempuran ini berlangsung selama satu hari penuh dengan hasil yang bisa membuat orang terheran-heran. Atahualpa sendiri ditangkap dan dijadikan tawanan, 2000 pasukan Inca tewas dan 5000 lainnya tunggang-langgang. Dari pasukan Pizarro hanya 5 orang tewas dan dua lainnya terluka. Bagaimana hal ini bisa terjadi, akan kita bahas bersama melalui dua sudut pandang, yaitu penyebab jangka pendek dan penyebab jangka panjang.

PENYEBAB JANGKA PENDEK

Kekalahan Atahualpa dan 7000 pasukan Inca nya terjadi karena beberapa hal, antara lain penggunaan strategi perang, penggunaan teknologi perang, serta kondisi politik yang sedang terjadi di kekaisaran Inca.

Kekaisaran Inca merupakan salah satu kekaisaran terbesar di dunia dari segi luas wilayah dan populasi penduduk, mencakup sebagian besar wilayah utara dan tengah Amerika Selatan, dengan total populasi mencapai belasan juta penduduk pada jaman keemasannya. Dengan potensi sumber daya manusia sebesar itu, tidak sulit bagi kekisaran untuk merekrut prajurit dan kemudian merebut daerah sekitar yang belum masuk ke kekaisaran. Jumlah prajurit yang akhirnya berlipat ganda menjadikan Kekaisaran Inca menjadi satu-satunya kekuatan militer terbesar di benua tersebut, tanpa ada suku-suku pemberontak manapun yang bisa menandinginya.

Kekaisaran Inca mengalami masa keemasanya dalam masa kepemimpinan Sapa Inca Tupac Inca pada abad ke 15 CE. Pada masa ini, Inca menjadi benar-benar satu-satunya kekaisaran yang berdiri di seluruh benua Amerika, setelah Kaisar Aztec, Moctezuma II berhasil ditumbangkan oleh Hernan Cortes. Semenanjung Panama yang menyempit di antara kedua belah kekaisaran membuat keduanya tidak pernah berkonflik dalam sejarahnya. Karena tidak menemui saingan yang berarti dalam segi peperangan, Inca hanya mengandalkan jumlah prajurit yang maha banyak demi menindas suku-suku yang berada di sekitarnya untuk kemudian tunduk. Hal ini lama-kelamaan menyebabkan bangsa ini tidak memerlukan adanya strategi perang khusus, penguatan senjata menjadi lebih kuat, serta membuat kendaraan serta artileri dalam peperangan, semua hanya diandalkan oleh jumlah prajurit yang tidak terbatas.

Ketika bangsa Inca akhirnya bertemu dengan sekelompok manusia pirang bertubuh putih bersenjata berkilauan, mereka hanya melihat bahwa orang-orang putih tersebut hanya berjumlah sedikit sehingga mereka tidak merasa gentar dalam menghadapinya. Ketika diajak oleh Pizarro untuk melakukan perundingan di sebuah bangunan di tengah-tengah Lapangan Cajamarca, Atahualpa serta-merta menuruti ajakan tersebut dan membawa 7000 ribu pasukannya untuk menghadapi jika akhirnya perundingan tersebut berujung brutal. Atahualpa datang dengan tandu bertahtakan emas murni dengan bulu-bulu mewah yang dipanggul oleh para pengawalnya. Sesampainya di tempat tersebut, Atahualpa hanya menemukan seorang saja, yaitu Pendeta Vincente de Valverde yang mengajukan anjuran bagi Atahualpa untuk menganut Kristen dan mengimani Yesus Kristus, serta tunduk pada kekuasaan Kaisar Romawi Suci saat itu, Charles V. Lebih lanjut de Valverde menyodorkan Kitab Suci kepada Atahualpa. Atahualpa sendiri lalu membanting Kitab Suci tersebut. De Valverde akhirnya meneriakan kata “Santiago!!” yang diikuti seluruh prajurit berkuda Spanyol dipimpin langsung oleh Pizarro yang tadinya bersembunyi entah di mana. Atahualpa dan pasukannya yang tidak pernah mengenal strategi ambush dan tidak pernah melihat kuda sepanjang hidupnya, kontan langsung tunggang langgang tanpa menimbulkan perlawanan berarti, hingga Pizarro menculik Atahualpa dan membunuh sebanyak-banyaknya pasukan Inca yang melarikan diri. Death toll: 2000 orang tewas dari pihak Inca!

Ketidaktahuan bangsa Inca terhadap strategi perang apapun selain mengandalkan jumlah dan membabi-buta menyerang ke depan menimbulkan kerugian yang sangat besar, yaitu penurunan moral bagi seluruh pasukan. Mengapa akhirnya banyak sekali kematian yang diderita pasukan sangat banyak, dapat ditentukan oleh penggunaan alat-alat militer serta kendaraan perang yang TIDAK dimiliki oleh bangsa Inca. Bangsa Inca sama sekali tidak mengenal besi. Logam yang mereka kenal hanyalah emas dan perak, dan kedua logam ini bisa dipatahkan dengan mudah oleh kayu. Oleh karena itu mereka hanya bersenjatakan Obsidian tanpa adanya perlindungan tubuh yang berarti untuk mengurangi kerusakan tubuh yang karena senjata.

Bangsa Eropa sudah lama mengenal besi dan menggunakannya dalam berbagai kepentingan membuat mereka sudah sangat siap menggunakan senjata-senjata yang maju seperti Broadsword, Longsword, perisai, panah mata besi, crossbow, armor sebadan, dan lain sebagainya, sehingga kehancuran yang ditimbulkan mereka terhadap pasukan Inca yang tidak memiliki pertahanan tubuh yang baik sangatlah maksimal. Dan, yang paling menakutkan adalah sepasukan Arquebusier, yang bersenjatakan arquebus, yaitu senapan kuno yang hanya bisa diisi satu peluru dan kemudian bergantian dengan orang di belakangnya.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk diperhatikan adalah penggunaan kendaraan perang. Eropa sudah mengenal kuda sejak jaman perunggu, dan akhirnya setelah berganti-ganti fungsi, akhirnya menjadi kendaraan perang yang tidak tertandingi (kuda hanya bisa dikalahkan oleh unta, yang teriakan, ukuran, serta baunya membuat kuda menjauh). Sedangkan pasukan Atahualpa hanya bermodalkan kaki (bahkan ada yang harus bersusah-payah menandu sang Kaisar). Secara umum, ada dua macam kuda yang digunakan dalam peperangan, Light Cavalry dan Heavy Cavalry. Light cavalry biasa digunakan untuk scouting dan pengejaran serta tanpa dipasang baju besi yang berat, sedangkan heavy cavalry berfungsi untuk meluluh-lantakkan pertahanan lawan dengan kekuatan charge nya, dengan dilengkapi pertahanan tubuh lengkap. Pizarro adalah seorang Conquistador, yang biasanya mengepalai sepasukan berkuda yang dilengkapi armor penuh, sehingga termasuk ke dalam kategori heavy cavalry. Dapat dibayangkan bagaimana daya hancur yang dilakukan pasukan kuda Pizarro dalam menembus pertahanan pasukan Inca.

Faktor politik selebihnya memegang peranan yang tidak kalah pentingnya. Pada saat kekuasaan Atahualpa, Kekaisaran Inca sedang dilanda perang saudara. Kaisar sebelumnya, Huayna Capac, ayah Atahualpa, terjangkit smallpox yang akhirnya menyebabkan dirinya tewas. Tahta dan daerah kekuasaan akhirnya menjadi rebutan Atahualpa dengan saudara kandungnya, Huascar, yang sebenarnya merupakan putera mahkota dari kekaisaran. Setelah baru saja mengalahkan Huascar, di perjalanan pulang Atahualpa beserta 80.000 pasukannya bertemu dengan Pizarro. Ketika ia belum sempat untuk melakukan reformasi kabinet dan pasukan di Cusco (ibukota Inca), ia harus langsung menghadapi sekumpulan orang yang ia anggap aneh berbicara bahasa aneh (spanyol) serta memantra-mantrakan bahasa yang lebih aneh lagi (latin). Pertempuran di Cajamarca memang fatal akibatnya untuk Atahualpa, namun ada kemungkinan ia bisa kembali merebut kekuasaannya apabila keseluruhan Inca berada di bawah komandonya tanpa ada masalah sebelumnya.

AFTER EFFECT KEKALAHAN SUKU INCA

Kekalahan pasukan Inca pada pertempuran di Cajamarca dan akhirnya menyerah total pada kekuasaan Spanyol memperlihatkan bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan alam sekitar. Manusia diasumsikan memiliki tingkat kreativitas dan kecerdasan yang kurang lebih identik pada setiap suku bangsa. Yang membedakan hanyalah lingkungan tempat masing-masing bangsa tinggal. Dengan kecerdasan yang ada, manusia mampu untuk mengolah lingkungan alamnya untuk kemudian bisa survive dalam melangsungkan keturunannya. Eropa dan Amerika merupakan dua daerah yang benar-benar terpisah secara fisik. Satu-satunya saat keduanya bertemu adalah ketika es menutupi Selat Bering pada akhir Jaman Es. Pada saat itu lah, menurut para ahli, terjadinya eksodus manusia untuk pertama kali dan terakhir kalinya hingga abad 2 CE, dari Dunia Lama ke Dunia Baru. Terpisahnya kedua benua tersebut secara fisik menyebabkan terputusnya informasi dan transfer pengetahuan dan sumber daya alam yang dapat diolah.

Hal yang penting pertama adalah ketiadaan sumber makanan yang mampu memberikan protein dan kalori yang cukup bagi mayoritas penduduk Native America. Sebelum masa Columbus, hanya ada tiga tempat di seluruh benua Amerika yang mampu menghasilkan makanannya sendiri yang akhirnya mampu untuk berubah menjadi kebudayaan yang kompleks, yaitu daerah Andes di selatan, Semenanjung Yucatan di bagian tengah, serta bagian tenggara dari apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat. Daerah lain tidak cukup kuat untuk menyediakan makanan bagi masyarakatnya, karena ketiadaan sumber makanan seperti benih tanaman dan hewan ternak.

Mengenai hewan ternak, benua Amerika sebenarnya memiliki banyak sekali mamalia besar pada jaman sebelum Jaman Es, namun secara tiba-tiba, pada akhir Kala Pleistocene seluruh mamalia tersebut punah (atau dipunahkan) dari muka bumi. Hanya sedikit sumber daya mamalia besar yang tersedia, yang akhirnya pilihan yang paling sesuai untuk bisa didomestikasi adalah Llama. Mamalia lainnya yang tersisa sangat buas untuk bisa di dijinakkan, seperti American Buffalo.

Llama adalah binatang sebesar keledai yang tidak memiliki kekuatan sebesar kuda, susunya juga tidak bisa diminum seperti sapi, dan persediaannya cukup terbatas hanya di sekitar dataran tinggi Andes. Eropa memiliki sedikitnya 13 jenis hewan yang telah terdomestikasi dari 72 kandidat, sedangkan Amerika hanya memiliki satu spesies yang berhasil di domestikasi dari 24 kandidat.

Selain untuk sumber makanan primer, hewan ternak juga efektif untuk membantu pertanian serta transport. Ketiadaan hewan ternak untuk membantu pertanian membuat penduduk Amerika harus bercocok tanam dengan tenaganya sendiri, serta menyebabkan lahan garapan tidak bisa dibangun dalam area yang sangta luas, karena akan memakan banyak tenaga. Selain itu, pupuk hasil kotoran tanaman juga tidak mereka miliki, sehingga tanah lebih susah subur dan usaha yang dilakukan akan semakin besar.

Keuntungan lainnya dari domestikasi mamalia besar adalah untuk transport. Kuda dan sapi sudah lama sekali dikenal oleh bangsa Eropa dan Asia (karena kedua benua ini sebenarnya ada dalam satu daratan besar yang sama, maka lebih lanjut akan disebut sebaga Eurasia). oleh karena itu penduduknya dapat dengan mudah berpindah tempat dalam jumlah yang besar membawa produk-produk lokal sehingga memungkinkan terjadinya perpindahan informasi dari satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang cukup singkat.

Mengenai kuda, penduduk Eurasia sebenarnya berupaya untuk menjadikan kuda sebagai hewan serbaguna, bisa diambil daging dan susunya, untuk transport, serta membantu pertanian. Namun yang terakhir akhirnya tidak terlalu efektif karena untuk membajak kuda tergolong mamalia yang cepat hingga yang ada hasilnya adalah menghancurkan ladang itu sendiri, hingga akhirnya ditemukan collar untuk kuda agar bisa dikendalikan dengan kecepatan yang sangat rendah namun tidak membuat kuda tersebut tercekik. Kuda juga merupakan kendaraan perang yang tidak dapat ditandingi oleh kendaraan apapun hingga jaman revolusi industri. Oleh karena itu pasukan kavaleri Pizarro dapat dengan mudah melibas pasukan berkaki Inca karena daya terjang dan kecepatan kuda yang sangat besar untuk bisa melindas dan melontarkan pasukan Inca, serta mengejar sisanya.

Hal lainnya yang menarik tentang domestikasi hewan adalah ekses yang ditimbulkan yaitu penyebaran kuman penyakit yang sangat cepat menyebar dan menjadi pembunuh Homo sapiens terbesar sepanjang sejarah, antara lain virus smallpox, virus malaria, bakteri tifus, leptospirosis, serta virus influenza. Kuman-kuman tersebut sejatinya adalah sel-sel fagosit yang biasa hidup di kalangan hewan, terutama bovine (sapii, domba, dll). Karena manusia akhirnya memilih untuk hidup bersama kuman-kuman tersebut, perpindahan kuman tersebut ke badan manusia tidak dapat dihindari, sehingga menyebabkan kematian yang terkadang berubah menjadi wabah (pada akhir abad pertengahan bakteri Yersinia pestis (plague) membunuh 33% orang eropa hanya dalam hitungan bulan, suatu peristiwa yang dikenal dengan sebutan Black Death atau Bubonic Plague). Influenza, smallpox, dan plague menjadi yang teratas dari segi angka kematian yang disebabkan oleh mereka. Penderitaan umat manusia ini akhirnya dapat berakhir ditandai dengan ditemukannya penicillin oleh Alexander Flemming, yang membuat angka kematian manusia karena kuman menular menurun drastis.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa orang-orang Eurasia akhirnya bisa survive jikalau berabad-abad selalu hidup berdampingan dengan kuman? Jawabannya adalah gen kita berhasil untuk mengubah susunannya menjadi lebih imun terhadap kuman. Jika kakek kita dan abangnya terkena smallpox dan hanya beliau yang survive, sedangkan abangnya tidak, kemungkinan besar gen yang beliu turunkan ke ayah/ibu kita lalu ke kita merupakan gen yang memproduksi lebih banyak antibodi (atau memproduksi antibodi yang lebih kuat) dalam menangkal serangan virus smallpox. Orang-orang Eropa survive dengan cara ini. Bermilenia lamanya mereka rentan dari serangan kuman-kuman yang selalu silih berganti menyerang mereka, terutama sejak Jalur Sutera menjadi ramai dan banyak sekali terjadi perpindahan orang, barang, serta hewan ternak yang terjadi di sepanjang Asia dan Eropa, dari Dataran Cina hingga Andalusia. Ratusan juta penduduk Eurasia telah menjadi korban serangan kuman sepanjang sejarah, namun tidak semuanya tewas dan tidak berketurunan. Bagi mereka yang selamat dan berhasil memiliki keturunan, gen mereka yang dengan antibodi lebih kuat dibandingkan mereka yang tewas akan diturunkan kepada keturunannya sehingga akhirnya setelah keturunan tertentu, mereka kebal terhadap kuman tersebut.

Native American, tidak memiliki pengetahuan sedikit pun tentang hewan-hewan ternak, kuman yang dibawanya, serta penyakit yang diakibatkannya, sehingga ketika pemukim dari Eropa pertama kali datang pada abad 15 mereka serta-merta berada pada tingkat kerentanan tertinggi dalam hal terjangkit oleh penyakit-penyakit tersebut. Hal ini juga disebabkan karena gen leluhur mereka telah berpisah jauh dengan gen leluhur orang Eropa, sebelum leluhur mutual mereka tersebut berhasil mendomestikasi satu binatang pun. Walhasil mereka menjadi generasi pertama yang pertama kali berhadapan dengan kuman tersebut, sebelum gen mereka mampu untuk membentuk antibodi yang cukup kuat untuk menangkal serangan “asing” tersebut.

Dalam hitungan tahun, kuman-kuman tersebut berhasil membunuh ribuan bahkan jutaan Native American. Marquis Conquistador Francisco Pizarro Gonzales, datang dengan pasukannya pada saat yang tepat. Pemukim dari Eropa sudah tinggal di selatan Panama beberapa tahun lebih dahulu sebelum kedatangan Pizarro, dan beberapa tahun setelah kedatangan Cortes. Pemukim tersebut membawa serta ternak dan biji-bijian agar mereka bisa hidup sesuai dengan kebiasaan mereka di Eropa. Secara tidak sengaja mereka juga “mengajak” tikus-tikus Eropa untuk naik ke kapalnya dan ikut bermukim di Amerika. Kuman dari ternak serta kuman tikus adalah bahan pokok utama dari bermulainya wabah. Wabah-wabah inilah yang menyebabkan Huayna Capac, Kaisar Inca pada waktu itu tewas beserta ribuan penduduk Inca lainnya, sehingga menyebabkan kekacauan politis yang terjadi di kekaisaran akibat dari kekosongan tahta serta perebutan tahta tersebut oleh kedua anak Huayna Capac, Atahualpa dan Huascar. Oleh karena itu kekaisaran Inca yang sedang dirundung perang saudara dengan sangat mudah dikalahkan oleh pasukan Pizarro.

Faktor makanan terhadap kuda dan faktor makanan terhadap kuman sudah dijelaskan pada bagian di atas, selanjutnya penulis akan berusaha menceritakan bagaimana faktor makanan dapat mengakibatkan perbedaan sistem politik dan teknologi yang dimiliki oleh orang-orang Eurasia dan Native American. Ketika manusia masih mendapatkan makanan dengan cara memburu dan mengumpul, amat sangat susah untuk menyimpan makanan tersebut dalam jumlah yang banyak karena makanan-makanan tersebut cepat sekali membusuk, serta sumber makanan sekitar pemukiman pemburu tersebut lama-kelamaan akan habis dan memaksa para pemukim untuk berpindah tempat mencari pusat sumber makanan baru. Dengan kondisi seperti itu, manusia juga sulit untuk memiliki banyak anak karena mereka memastikan bahwa anak-anak mereka tidak menjadi beban ketika mereka harus berpindah tempat. Alat tukar seperti uang juga belum terlalu dibutuhkan karena kebutuhan manusia hanya sekitar pemuasan lapar dan hausnya, tanpa ada kebutuhan untuk barang-barang yang lebih mewah.

Keadaan seperti ini berubah ketika manusia mulai menemukan biji-bijian yang bisa ditanam kembali. Hal ini memungkinkan mereka untuk menetap di suatu tempat (yang biasanya subur) dan membangun peradaban baru. Oleh karena itu mereka akan dengan sendirinya menemukan bahwa makanan yang mereka dapatkan menjadi sangat banyak dan mengharuskan mereka menyimpan makanan pada suatu tempat. Lebih lanjut, mereka akan merasa perlu untuk menunjuk salah seorang di antara mereka untuk menjaga persediaan makanan tersebut. Orang terpilih tersebut lama-kelamaan memutuskan untuk tidak menjaga tempat penyimpanan itu sendirian dan memutuskan untuk menyewa beberapa orang kuat lainnya. Terbentuklah pasukan awal dalam sejarah manusia. Peran penajga penyimpanan tersebut makin lama makin dianggap penting oleh masyarakat sekitarnya demi kesejahteraan mereka, sehingga mereka menyebut orang tersebut sebagai pemimpin mereka.

Begitulah kira-kira awal terbentuknya sistem kemasyarakatan tersentral dengan pemimpin (yang akhirnya berkembang menjadi raja). Sistem ini akhirnya menjadikan kekuasaan raja menjadi mutlak dan dengan pandangan superstitious yang lazim pada masyarakat kuno akhirnya menjadikan agama atau kepercayaan sebagai legitimasi terhadap kekuasaan suatu raja tersebut. Mereka memerintahkan para pendeta penjaga kuil dan tempat penyimpanan makanan untuk menjadikan kekuasaannya absolut, menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Oke, memang pada akhirnya kedua kebudayaan, Inca maupun Eropa mampu untuk membentuk kekaisaran yang sama-sama hebat dan mencakup wilayah yang sangat luas (Pada jaman Pizarro, Spanyol berada dalam bendera Kekaisaran Romawi Suci yang wilayahnya meliputi seluruh Eropa Barat). Namun ada perbedaan yang sangat kentara di antara keduanya. Inca tidak memiliki pesaing yang berpotensi untuk menandingi kekuasaannya. Kekaisaran terdekat dengan Inca adalah Kekaisaran Aztec, namun kedua kekaisaran tidak pernah saling bertemu karena dipisahkan oleh semenanjung Panama yang menyempit, serta tidak tersedianya alat angkut yang pantas untuk membantu mobilisasi orang dan barang antar kedua daerah. Hal ini menyebabkan kedua kekaisaran tidak pernah berkompetisi untuk menjadi yang terkuat di seluruh Amerika. Mengapa hanya kedua kekaisaran ini saja yang bisa berkembang menjadi kekuatan terbesar di daerahnya disebabkan oleh hanya di pusat kedua kekuatan inilah pertanian bisa dilakukan dalam skala yang besar.

Eurasia, sebaliknya, memiliki pusat penghasil makanan yang tersebar. Yang paling terkenal diantaranya adalah daerah Bulan Sabit Subur, Delta Sungai Nil, Lembah Sungai Indus, Lembah Sungai Kuning, Garis Pantai Yunani, serta Timbuktu. Daerah-daerah ini pada akhirnya berkembang menjadi kekaisaran tersendiri, Babylonia, Dinasti-dinasti Mesir, Maurya, Dinasti-dinasti Cina, Polis-polis Yunani, dan Mali. Melalui ramainya perdagangan yang melibatkan hingga seluruh daerah di sepanjang Jalur Sutera, banyak daerah-daerah yang tadinya tidak berkembang mengembangkan sistem pemerintahannya sendiri. Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Sub-sahara Barat, Mongolia, Arabia, Turki, adalah contoh-contoh dari daerah yang berkembang belakangan, hasil dari kemajuan perdagangan dan teknologi pengembangan sumber makanan yang akhirnya membentuk kekaisaran sendiri. Daerah-daerah ini terletak sangat berdekatan satu dan lainnya, sehingga menyebabkan masing-masing harus memperkuat dirinya agar tidak kalah saing (dan akhirnya dikuasai) dengan tetangganya. Mereka menyempurnakan teknologi pangan mereka agar bisa mencukupi kebutuhan seluruh warganya, bahkan mengekspornya sebagai komoditas. Mereka juga memperkuat persenjataan serta memperbanyak prajurit untuk bisa mempertahankan wilayahnya, serta untuk mengembangkan wilayahnya apabila kebutuhan lahan masayarakatnya tidak lagi tercukupi.

Persaingan yang ketat dan sering berujung kepada konflik senjata inilah yang selama bermilenia lamanya dihadapi oleh masyarakat Eurasia. Mereka saling mengalahkan satu sama lain untuk bisa menjadi yang terkuat dan akhirnya menguasai lahan yang paling besar. Teknologi terus ditingkatkan untuk mendukung ambisi tersebut. Masing-masing wilayah saling berlomba untuk menguasai teknologi yang paling efisien untuk membuat daerah mereka menjadi yang paling kuat dan kaya. Salah satu imbas dari perlombaan ini adalah perlombaan bangsa-bangsa Eropa untuk mengambil keuntungan dari wilayah timur yang tidak diketahui, yaitu India. Cristoforo Colombo (Christopher Columbus), pelaut dari Italia yang mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui rute tercepat untuk mencapai India dan mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah (harga Jalur Sutera saat itu amat sangat mahal). Ia pada awalnya menawarkan idenya kepada Raja Portugis, namun tidak tertarik. Ia juga tidak sekali menawarkan kepada Raja Ferdinand dari Aragon yang saat itu menjadi penguasa Spanyol, sebelum akhirnya diterima dan dimodali pelayaran dengan tiga kapal besar agar bisa mencapai “India”.

Fenomena seperti ini tidak terjadi di mana pun di Amerika saat itu. Inca merasa tidak memiliki saingan sehingga ia tidak dengan gencar meriset teknologi yang lebih baik untuk survive dan berkembang. Inca tidak memiliki kebutuhan untuk mencapai India karena di sana tidak terjadi perdagangan ketat antar daerah yang menyebabkan harga bahan makanan melambung tinggi. Inca juga merupakan daerah dengan massa tanah yang cukup besar tanpa harus melewati samudera dengan perjalanan antar pulau sehingga tidak memerlukan penemuan kapal-kapal besar dengan layar luas berlapis-lapis serta tiga susun dayung (trireme). Hal-hal tersebut lah yang menyebabkan mengapa orang-orang dari Eurasia yang datang ke Amerika, daripada Native American mendatangi Eropa pada awalnya. Jikalau yang terakhir ini terjadi pun, Amerika kekurangan hewan ternak untuk bisa menularkan kuman yang bisa menyebabkan ribuan penduduk Eropa musnah.

Satu hal lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah tulisan. Cristoforo berlayar mengarungi Atlantik lalu mencatat hasil perjalanannya. Tulisan tentang dunia baru dengan emas berlimpah-limpah yang disusun oleh Cristoforo dan pemukim-pemukim awal yang menginspirasi conquistadores macam Hernan Cortes untuk mencari sponsor kepada raja untuk melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah tersebut. Cortes pun berhasil menaklukkan kekaisaran Aztec dan juga mencatatnya dalam jurnal-jurnal. Jurnal-jurnal inilah yang menginspirasi conquistador lainnya, Pizarro, untuk menaklukkan bagian lain dari benua tersebut. Ia mendapatkan pengetahuan tentang lingkungan, masyarakat, serta gaya hidup orang-orang asli Amerika dari tulisan-tulisan pendahulunya. Ia juga mengetahui senjata yang digunakan, teknik berperang, hingga kebiasaan raja-raja yang memerintah di sana dari tulisan-tulisan tersebut. Native american sebagian besar tidak mengenal adanya tulisan. Satu-satunya bukti arkeologis mengenai tulisan pada native american hanyalah peninggalan kuno bangsa Maya maupun Olmec (keduanya terletak di Semenanjung Yucatan, jauh sebelum bangsa Aztec berkuasa di sana). Bangsa Inca hingga masa penaklukannya sama sekali belum mengenal tulisan. Hal ini menyebabkan masyarakatnya tidak mengenal daerah-daerah lain di luar teritorinya secara luas, hanya dari cerita beberapa orang pengembara yang menceritakannya pada masyarakat dalam skala kecil. Ide-ide yang dihasilkan juga tidak secara mudah bisa tersampaikan pada skala yang luas karena keabsenan tulisan. Teknologi juga tidak bisa berkembang dengan cepat karena hal ini. Bangsa Eropa jauh mengungguli Native American dalam hal ini.

Berbagai macam penjelasan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan alam di sekitar tempat tinggalnya. Ketersediaan tumbuhan pangan, hewan yang berpotensi untuk dijinakkan, serta letak geografis daerah menjadi faktor penentu bagaimana sejarah berjalan dan kebudayaan tercipta. Dan jika dua kebudayaan dari dua daerah yang sama sekali terpisah akhirnya bertemu, banyak sekali keanehan yang dipersepsi oleh orang-orang dari masing-masing kebudayaan. Intelegensi sama sekali tidak berperan dalam level ini. Kekompleksan budaya serta teknologi dalam skala luaslah yang selanjutnya akan menentukan siapa yang bisa survive dari pertemuan kedua kebudayaan tersebut. Sejarah telah memberikan salah satu contoh dari pertemuan tersebut melalui peristiwa di Cajamarca, Peru, 500 tahun silam, dan Pizarro dan Atahualpa adalah pion yang digerakkan oleh sejarah untuk bisa menceritakannya kepada kita, agar kita semua dapat berpikir.

DILATASI WAKTU EINSTEIN

0

Sewaktu saya kecil dahulu tahun 1970an, saya sering berkhayal seperti apa hidup di tahun 2000 kelak. Maklum namanya anak kecil yang suka nonton TV, dan sangat suka film-film science fiction semacam Lost in Space ataupun Star Trek, saya membayangkan hidup tahun 2000 sudah penuh dengan kemajuan-kemajuan yang seperti saya lihat di televisi, misalnya robot-robot yang berkeliaran di sana-sini membantu pekerjaan manusia, dan juga perjalanan-perjalanan antarplanet bahkan antargalaksi yang sudah menjadi kebiasaan pada saat tahun 2000 kelak.

Meskipun kini saya dan kita semua tahu bahwa tahun 2000 ternyata perubahan kehidupan tidak sedramatis seperti yang saya bayangkan sewaktu saya masih kecil, namun khayalan saya tentang nikmatnya perjalanan ruang angkasa tidak pernah sepi dari fikiran saya. Saya kini mengetahui bahwa perjalanan angkasa luar ke galaksi-galaksi yang jauh dan bertemu dengan makhluk-makhluk asing yang cerdas masih jauh api dari panggang, bukan hanya dihambat oleh jauhnya jarak-jarak antargalaksi, namun juga saya kini mengetahui bahwa menurut teori relativitas Einstein, tidak ada satu bendapun yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya yaitu secepat 3\:X\:{10}^{8} meter/detik, atau sekitar 1.080.000.000 km/jam. Mungkin banyak juga makhluk-makhluk cerdas di luar angkasa sana yang sama frustasinya dengan kita karena tidak dapat menjelajahi alam semesta melebihi kecepatan cahaya. Ini masalahnya bukan hanya keterbatasan teknologi, tapi juga hukum alam yang sangat sulit dibengkokkan oleh teknologi semaju apapun!

Teori relativitas Einstein, menguak sedikit harapan di antara keputusasaan manusia dalam menempuh perjalanan luar angkasa yang jauh dan memakan waktu lama. Andaikan kita menempuh perjalanan waktu ke sebuah bintang yang letaknya 100 tahun cahaya, maka jikalau tidak ada benda yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya, menurut teori Fisika klasik, maka minimal waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bintang tersebut adalah 100 tahun lebih sedikit. Namun dengan diformulasikannya teori relativitas Einstein yang berkenaan dengan dilatasi waktu, maka perjalanan yang memakan waktu 100 tahun tersebut dapat ‘dipersingkat’ (awas dalam tanda kutip!) menjadi puluhan tahun,  belasan, atau  bahkan satuan tahun!

Teori relativitas khusus Einstein sebenarnya ada empat: yaitu yang mencakup: Pemendekan Panjang (Length Contraction), Pemelaran Waktu/Dilatasi Waktu (Time Dilation), Penambahan Massa (Mass Increase), dan juga hubungan antara energi dan massa yang terkenal dengan rumusnya: e=m{c}^{2}. Namun yang paling mempesonakan saya adalah masalah Dilatasi Waktu/ Pemelaran Waktu (Time Dilation) saja, yang akan saya tulis dalam postingan ini.

Nah, karena saya bukan ahli Fisika, saya mengharapkan jikalau ada kesalahan dalam tulisan saya ini atau kalau ada yang perlu ditambahkan, terutama mereka yang ahli fisika, tentu saya sangat berterimakasih atas kontribusinya. Hasil tulisan saya ini adalah penyederhanaan dari berbagai situs yang saya baca tentang Dilatasi Waktu/Time Dilation.

Hubungan antara waktu (baik waktu pengamatan pada saat diam ataupun waktu pada saat bergerak), kecepatan cahaya dan juga kecepatan benda bergerak adalah sebagai berikut:

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

dimana {t}_{1} waktu pada benda diam, sedangkan t_o adalah waktu pada benda bergerak, v adalah kecepatan benda bergerak, sedangkan c adalah kecepatan cahaya yaitu: 3\:X\:{10}^{8}\:\frac{m}{s} atau 1.080.000.000 \frac{km}{jam}. Sekarang kita ambil contoh misalkan kita bergerak dengan mobil kita terus menerus selama 100 tahun (misalkan! 😀 ) dengan kecepatan 100 km/jam. Mula-mula kita konversikan dulu kecepatan 100 km/jam menjadi 27.8 meter/detik. Bagi mereka yang belum bi(a)sa mengkonversikan dari satuan km/jam menjad meter/detik, caranya adalah sebagai berikut:

100 \frac{km}{jam}\:=\:100 \frac{km}{jam}\:X\:\frac{1000\:m}{1\:km}\:X\:\frac{1\:jam}{3600\:detik}\:=\:27.8\frac{m}{detik}

Lalu sesudah itu kita masukkan kecepatan tersebut ke dalam rumus dilatasi waktu seperti di atas:

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{27.8}^{2}}{({3\:X\:{10}^{8})}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{772,84}{9\:X\:{10}^{16}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{1}

{t}_{o}\:=\:100

Dengan memakai kalkulator kita tentu dengan mudah dapat menghitungnya. Kita dapat melihat di sini bahwa kalau kita bergerak ‘hanya’ dengan kecepatan 100 km/jam dalam waktu 100 tahun, maka waktu pada benda diam dan waktu pada benda bergerak perbedaan sangat sangat sangat kecil sekali, sehingga bisa diabaikan. Alias 100 tahun pada benda diam sama dengan 100 tahun pada benda yang bergerak secepat 100 km/jam. Nah, sekarang coba kalau kita naik pesawat ruang angkasa dengan kecepatan 0,7 kali kecepatan cahaya (0,7c) atau 0,7 X 1.080.000.000 km/jam = 756.000.000 km/jam. Kita masukkan ke dalam rumus, maka:

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{(0,7c)}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{0,49c}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\:0,49}}

100=\frac{{t}_{o}}{0,714}

{t}_{o}=71.4

Maka terlihat bahwa 100 tahun waktu di Bumi sama dengan 71.4 tahun waktu di pesawat luar angkasa yang melakukan perjalanan selama 100 tahun di Bumi. Sekarang kita coba masukkan kecepatan 0,8c, 0,9c, 0,95c, 0,99c, 0,999c ke dalam rumus di atas dan hasilnya:

0,8c ——-> t_o = 60 tahun

0,9c ——-> t_o = 43,6 tahun

0,95c ——> t_o = 31.2 tahun

0,99c ——> t_o = 14,1 tahun

0,999c —–> t_o = 4,48 tahun

Di atas kita melihat bahwa 100 tahun di Bumi sama dengan 4,48 tahun (kira2 4 setengah tahun lah!) waktu di pesawat angkasa yang bergerak dengan kecepatan 0,999c selama 100 tahun Bumi. Ini adalah setitik harapan bagi kita yang ingin menjelajahi bintang-bintang di galaksi lain yang jauhnya. Namun tentu saja ini bukan perkara yang mudah, selain kendala teknologi juga untuk menerbangkan pesawat luar angkasa yang besar dengan kecepatan 0,999c tentu memerlukan energi yang sangat sangat sangat besar, seluruh cadangan energi organik yang ada di Bumi sekarang belum tentu bisa menerbangkan pesawat luar angkasa ini sampai ke ujung galaksi, apalagi sampai ke galaksi lain! Untuk itu perjalanan angkasa seperti ini nampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat ini.

Nah apakah anda tertarik untuk mengarungi luar angkasa dengan kecepatan 0,999c seperti ini agar ‘lebih awet muda’? ‘Awet muda’ di sini dalam tanda kutip karena memang andaikan kita mengarungi angkasa selama 4,5 tahun dengan pesawat angkasa tersebut (yang sama dengan 100 tahun di Bumi) kita memang hanya merasakan 4,5 tahun seperti 4,5 tahun hidup normal di Bumi, bukan merasakan 100 tahun di Bumi dengan badan tetap muda yang hanya bertambah 4,5 tahun! Bukan! Sekarang, andaikan kita kembali dari perjalanan ruang angkasa kita (yang kita rasakan hanya 4,5 tahun) kembali ke Bumi, ternyata Bumi telah berubah selama 100 tahun secara teknologi dan sosio-kultural. Kita merasa sangat terasing di Bumi kita, kita melihat peralatan canggih dan teknologi yang belum kita kenal pada saat kita berangkat dari Bumi. Peradaban dan sosio-kultural juga mungkin sudah berubah banyak selama 100 tahun belakangan di Bumi. Dan yang paling membuat kita sedih adalah orang-orang yang kita kenal dan kita cintai mungkin sudah lama meninggalkan kita


Jadi maksudnya bahwa jika seorang pria menjauhi kembarnya dekat dengan kecepatan cahaya, ketika ia kembali (juga dekat dengan kecepatan cahaya) ia akan menemukan bahwa kembarannya telah berusia lebih tua dari dia. Karena semua proses – kimia, biologi, mekanik, dll – dibatasi oleh kecepatan cahaya, penuaan biologis bepergian itu akan memperlambat seperti halnya jam kendaraan yang digunakannya bepergian. ini sudah terbukti ?

Anda salah mengerti sepertinya. Proses kimia, biologi, dsb pada orang di pesawat yang menjauhi kembarannya akan tetap berjalan seperti biasa. umurnya juga 70-80 tahun. Tapi semua ini karena diukur dari frame of reference orang di pesawat itu. Tapi jika diukur dari frame of reference kembarannya di bumi, maka waktu (dan semua proses) di pesawat itu akan terlihat lebih lama. Demikian juga orang di pesawat itu akan melihat waktu (dan semua proses) di tempat kembarannya berada, berjalan lebih lambat, walaupun menurut (frame of reference) kembarannya, waktu berjalan seperti biasa. Intinya semua tergantung frame of referencenya.

REVIEW AIR BATTLE PD 1

0

Mustard or mud, sit or blood, greed your teeth and stay there……

Sesakit apapun yang kamu rasakan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan pertempuran.  Pertempuran di udara sama sulitnya seperti di darat, maka perlu taktik dan kerjasama yang baik di antara penerbang.

Sebagai pesawat pengintai, penerbang belum mengenal tugas-tugas penembakan atau pengeboman.  belum juga tejadi adanya pertempuran udara sampai pertengahan tahun 1914.  Sebuah momen paling bersejarah dari perjalanan panjang pertempuran udara adalah pada tanggal 5 Oktober 1914. Pada hari itulah sebutan pesawat pengitai berubah menjadi pesawat tempur.

Pada hari itu, sebuah pesawat Voisin tipe 3 milik French Air Service, sedang melaksanakan patroli di garis pertempuran.  Pesawat tersebut diterbangkan oleh Sersan Joseph Frantz dan Sersan Louis Quenault sebagai juru tembak. Kedua penerbang tersebut melihat sebuah pesawat Jerman di wilayah tersebut.  Mereka kemudian mendekati pesawat Jerman tersebut, untuk mengambil jarak tembak yang baik.  Pesawat Jerman, antara tidak tahu kehadiran pesawat Perancis tersebut atau mengabaikannya, tidak memberikan reaksi terhadap mendekatnya pesawat Voisin.  Pesawat yang bermusuhan memang sering mengabaikan pertemuan antar pesawat, karena sudah menjadi hal yang biasa sebelumnya.  Antar pesawat juga tidak saling menembak/mengancam bila saling bertemu.   Namun, itu sebelumnya khan ?  Karena pada saat itu, senapan mesin Quenault sudah diarahkan pada pesawat Jerman yang benar-benar lengah terhadap bahaya yang sedang mengancam keselamatan jiwa mereka. “Tret..tret..tret..tret” peluru pun berhamburan dari pesawat Voisin, dan menerjang badan pesawat Jerman.  Beberapa detik kemudian, pesawat Jerman sudah melayang, jatuh, dan hancur.  Pesawat dan penerbang Jerman ini menjadi korban pertama dalam pertempuran udara.  (Walaupun Jerman menjadi pemicu terjadinya PD I, namun justru Perancis-lah yang pertama memuntahkan amunisinya dalam pertempuran udara)

Sejak saat itu, semua pesawat-pesawat mulai dipersenjatai.  Semua negara yang terlibat perang menyadari bahwa penerbang tidak mungkin mengharapkan bahwa dalam setiap misi yang dijalankan mereka terbebas dari setiap rintangan.  Untuk mengatasi segala permasalahan yang dijumpai di udara, mereka harus mempunyai senjata yang memadai untuk mempertahankan diri.  Para penerbang mulai memikirkan metoda yang baik untuk menyergap pesawat musuh.  Mereka dilengkapi dengan pistol, riffle, bom kecil, selain senapan mesin.

Mulai tahun 1915, Inggris mulai mengembangkan pesawat tempur single seat.  Sebelumnya, penerbang selalu terbang berdua, ditemani oleh juru tembak. Untuk pola yang baru, penerbang harus terbang sendiri, dengan satu tangan.  Metoda ini sebenarnya meniru apa yang dilakukan oleh pasukan kavaleri saat menunggang kuda.  Sementara satu tangan memegang tali, tangan yang lain digunakan untuk membidik dan menembak lawan.  Memang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan,  namun menimbang keuntungan dan kerugian yang didapat, pola ini nantinya semakin berkembang dan menjadi dasar bagi sistem Hands On Throttle And Stick (HOTAS), seperti yang dipakai pada pesawat tempur modern.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pemasangan senapan mesin pesawat pada masa pra PD I adalah letak propeller di hidung pesawat yang menghalangi lintasan tembakan.  Salah satu penerbang yang berhasil melaksanakan percobaan senapan mesin adalah Rolland Garros, seorang penerbang Perancis.  Nama penerbang ini menjadi nama paling bersinar pada masa awal PD I.  Pada percobaan yang dilakukan, senapan mesin dipasang sebuah interupter gear, yang bisa mencegah benturan tembakan dengan propeller, karena senapan akan tidak aktif pada saat garis tembakan sejajar dengan permukaan propeller blade.  Namun demikian, percobaan ini berakhir dengan kegagalan.  Karena sering kali peluru masih sering nyasar dan menghantam putaran propeller blade.  Hal ini sangat berbahaya, karena blade bisa patah.  Jerman pun yang saat itu mengadakan eksperimen yang sama, mengalami kegagalan karena masalah yang sama.

Masalah bisa teratasi saat Rolland Garros bergabung dengan Raymond Saulnier, seorang ahli yang sanggup menjawab semua masalah kegagalan interupter gear.  Dibelakang setiap blade (baling-baling) dilapisi besi deflector, sehingga bila ada peluru yang nyasar dan menghantam blade, peluru akan dibelokkan dan berhamburan, namun masih mengarah pesawat yang dibidik oleh penerbang. Metoda ini cukup sukses dalam beberapa percobaan, sehingga mulai digunakan pesawat-pesawat Perancis di medan pertempuran.

Pada tanggal 1 April 1915, Garros dengan senapan Morane-Saulnier tipe L bisa menembak dan menjatuhkan pesawat Albatross Jerman. Setelah itu nama Rolland Garros berkibar dalam kancah pertempuran udara.  Dalam waktu setengah bulan, dia berhasil menembak 5 pesawat Jerman.

Namun sayang, pada tanggal 18 April 1915, pesawatnya berhasil ditembak pesawat Jerman dan melaksanakan pendaratan darurat di wilayah Jerman.  Garros dan pesawatnya menjadi tawanan perang.  Peristiwa ini menjadi bumerang bagi Perancis.  Bila Perancis merasa sangat pilu atas tertangkapnya Garros, maka Jerman sebaliknya.  Tertangkapnya Garros membawa berkah besar bagi mereka.  Senapan mesin rancangan Garros-Saulnier ternyata telah lama menjadi misteri bagi Jerman.  Dengan tertangkapnya Garros dan pesawatnya, Jerman bisa mengadakan penelitian terhadap sistem senjata Perancis tersebut.  Dan sebuah keberuntungan lagi bagi Jerman, si anak ajaib telah datang, yaitu Anthony Fokker.

Fokker, oleh Jerman diberi tugas untuk menganalisa pesawat dan senapan mesin Garros.  Fokker melepas senapan dan melihat bahwa deflector yang melindungi propeller blade dari lintasan peluru ternyata bisa dilepas.  Fokker langsung mengambil kesimpulan bahwa yang terpenting dalam sistem senapan mesin adalah meyakinkan bahwa peluru-peluru tidak akan mengenai propeller blade pada saat lintasan mereka bertemu.  Sehingga Fokker mengembangkan sistem senapan mesin dengan semburan pendek.  Peluru hanya akan keluar dari laras bila lintasan peluru dan propeller blade tidak bertemu. Fokker hanya memerlukan waktu 3 hari untuk membuat kesimpulan ini. Pesawat-pesawat Jerman kemudian dimodernisasi sistem senjatanya. Dan setelah itu mereka banyak memborong korban pesawat-pesawat Perancis dan Inggris.

Senapan mesin jenis baru ini dipasang pada pesawat monoplane Fokker IV. Dengan pesawat ini, banyak penerbang Jerman melambungkan ketenarannya. Letnan Oswald Boelcke, salah satu ace Jerman pertama, berhasil mencoba senapan ini untuk menjatuhkan korban ke-3 sampai 37 korban selanjutnya. Perancis dan Inggris juga tidak mau kalah dalam pengembangan pesawat-pesawatnya, mereka berlomba dan terus berlomba.  Sejak saat itu pesawat mulai menguasai sebagian jalan pertempuran di PD I secara keseluruhan.

Terbentuknya Skadron tempur

Pada awal PD I, pesawat-pesawat mulai memasuki arena pertempuran. Namun penggunaannya tentunya masih sangat terbatas, karena kemampuannya yang masih sangat rendah.  Dalam setiap perpindahan dari suatu garis pertempuran, pesawat harus diangkut dalam gerbong kereta atau dinaikkan truk. Sehingga kadang-kadang hal ini dianggap sebagai beban bagi pasukan darat.  Apalagi pada saat akan melakukan penerbangan, suara pesawat yang keras sering mengganggu kuda-kuda pasukan kavaleri.  Pesawat terbang masih belum sepenuhnya diterima oleh para prajurit di garis depan.

Pada kelanjutannya, pesawat bisa menggantikan tugas-tugas pasukan pengintai yang biasanya memerlukan waktu yang lama untuk menentukan spot-spot posisi musuh di garis depan. Sebelumnya, tim intelijen harus mengendap-endap ke atas puncak gunung, melewati rimba raya, untuk mengintai posisi lawan. Dengan pesawat, tugas sulit tersebut bisa menjadi sangat mudah. Berdasarkan tugas pokok penerbang sebagai pengintai, maka pesawat dengan kecepatan tinggi dan memiliki kemampuan pesawat tempur yang baik belum terpikirkan saat itu.  Setiap pesawat bisa membawa 2 orang, penerbang dan observer.  Para penerbang hanya seorang bintara, justru observer yang bertugas mengintai adalah seorang perwira. Penerbang lebih suka dengan pesawat yang mempunyai kecepatan yang rendah, karena dia akan dengan leluasa bisa melihat ke permukaan.  Pesawat juga cukup terbang pada ketinggian 3000 feet di atas permukaan tanah. Karena dengan ketinggian tersebut, senjata di darat sudah tidak mampu menjangkau posisi pesawat.

Mungkin akan terasa sangat lucu bila kita tahu, bahwa pesawat dari pihak yang bermusuhan hanya akan saling menghindar bila saling bertemu.  Namun itulah aturan tak tertulis bagi setiap pesawat pengintai pada saat itu. Pesawat pun belum bisa membawa beban yang terlalu berat.  Penerbang biasanya hanya dilengkapi dengan pistol, dan bila masih memungkinkan ditambah dengan senapan riffle. Namun senapan itu tidak pernah digunakan di udara, kecuali pesawat mengalami kerusakan dan penerbang terjebak atau mendarat di wilayah musuh.

Dengan semakin banyaknya penempatan pesawat terbang dalam setiap posisi di garis depan, maka negara-negara yang terlibat dalam PD I (Inggris, Perancis, Jerman), banyak membentuk satuan-satuan udara untuk mengelola pesawat-pesawat tersebut.  Kekuatan udara Amerika belum muncul saat itu, termasuk pembentukan satuan-satuan udara. Perancis membentuk satuan-satuan udara yang masing-masing terdiri dari 4 pesawat.  Satuan udara ini dinamakan dengan Escadrille. Sedangkan Inggris membentuk satuan udara yang terdiri dari 3 flight.  Setiap flight terdiri dari 4 pesawat.  Setiap satuan udara sudah dilengkapi dengan personel penerbang, staf, tehnisi, dan personel pembantu lainnya.  Inggris menyebut satuan udaranya dengan nama Squadron. Satuan udara Inggris Squadron, nantinya menjadi dasar bagi pembentukan seluruh satuan udara di dunia.

Satuan-satuan udara Inggris ini kemudian dibawahi oleh Air Batalyon, di bawah komando War Office.  Sejalan dengan perkembangan kekuatan udara, Air Batalyon diubah menjadi Royal Flying Corps (RFC). Dengan semakin banyaknya Squadron yang dimiliki oleh Inggris, maka mulai terbentuklah Wing, sebagai satuan yang mengendalikan beberapa kelompok Squadron.  Namun sayangnya, semua organisasi tersebut masih mengabdi kepada Angkatan Darat. Sehingga Inggris memulai sebuah usaha untuk memisahkan  RFC dari Royal Army Forces. Berkat usaha kerasnya, Angkatan Udara Inggris nantinya berdiri pada tanggal 1 April 1918, sebagai Angkatan Udara pertama di dunia.

Pada saat Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, semua negara yang terlibat perang (Perancis, Inggris, dan Jerman) mendapatkan kerugian yang sangat besar.  Perjanjian perdamaian menuntut Jerman untuk menyerahkan semua pesawat tempur dan mesin-mesin pesawat yang dimiliki.  Kegiatan Angkatan Udara Jerman menjadi beku.  Sedangkan Angkatan Udara Perancis dan Inggris dikurangi kekuatannya menjadi bagian-bagian kecil, seperti rencana sebelum masa perang.  Pada tahun yang sama, telah berdiri organisasi Angkatan Udara pertama di dunia, yaitu Royal Air Force (RAF) milik Inggris.  Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 April 1918.  Hal ini tentunya membangkitkan adanya reorganisasi seluruh kekuatan udara dunia saat itu.

Pada saat PD I dimulai, Inggris memang menjadi pioner dalam organisasi kekuatan udara dengan mendirikan Air Batalyon.  Dalam pertumbuhannya, organisasi ini berkembang menjadi Royal Flying Corps (RFC). RFC-lah yang mengendalikan seluruh pergerakan pesawat tempur Inggris selama PD I. Dalam rangka pembentukan AU yang berdiri sendiri, maka diadakan peleburan 2 kekuatan udara utama Inggris, yaitu RFC dan Royal Naval Air Service.  Ditunjuk sebagai Kepala Staf AU pertama adalah Lord Viscount Trenchard.  Beliau nantinya disebut sebagai Bapak AU Inggris. Usaha reorganisasi yang dilakukan oleh Inggris berjalan semakin baik dengan diakhirinya PD I. Semua satuan menjalani proses efisiensi.  Jumlah prajurit AU dikurangi dari 350.000 menjadi 28.000. Jumlah Skadron dikurangi dari 200 menjadi 25.  Dengan kekuatan yang kecil dan efisien ini, Trenchard telah meletakkan dasar-dasar yang baik untuk AU Inggris yang hebat pada perang selanjutnya, PD II.  Pada tahun 1922, Angkatan Udara Inggris untuk pertama kali mengeluarkan buku petunjuk pokok-pokok organisasi dan petunjuk pelaksanaan lainnya. Semua prosedur operasi penerbangan tempur dibakukan.

Sistem komunikasi antar pesawat dibakukan dengan menggunakan gerakan pesawat leader. Penggunaan gerakan tangan sering membingungkan dan pirotehnik banyak merepotkan penerbang pesawat tempur single seater. Dengan adanya pembakuan sistem komunikasi antar pesawat ini, maka taktik pertempuran bisa berjalan lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Formasi tempur yang dibakukan adalah Vic formation. Formasi ini memberikan jarak pandang yang baik buat leader dan merupakan formasi yang teraman untuk menembus cuaca buruk. Jarak antar pesawat adalah 30 yard. Pertimbangan ini diambil karena cuaca di Eropa yang sangat buruk.  Sejak saat itu, mulai berlaku adanya sub formasi bila beberapa pesawat harus berpisah dari formasi awal karena sesuatu masalah seperti cuaca, kerusakan pesawat,  pertempuran, dan lain-lain.

Masa perang yang penuh dengan kegiatan pertempuran udara, memang menyulitkan para penerbang untuk mengkaji taktik-taktik yang digunakan. Mungkin mereka tahu bahwa taktik lama yang digunakan banyak yang tidak efektif lagi. Namun para penerbang tidak ada waktu untuk berlatih, sehingga tidak berani untuk keluar dari kebiasaan mereka sebelumnya.  Mereka harus bertempur dan bertempur.  Setelah masa perang, mereka semua mengkaji dan berlatih, membuktikan dan membandingkan berbagai macam taktik yang digunakan.  Dalam buku petunjuk operasi udara pertama tersebut, terdapat beberapa penekanan sebagai berikut  :

  1. Kemenangan hanya akan dapat dicapai dengan menggelar semua kekuatan yang memiliki semangat tempur tinggi.
  2. Setiap serangan harus diakhiri dengan hilangnya kekuatan musuh untuk membalas serangan.
  3. Daya kejut harus selalu menjadi kunci pokok dalam setiap pertempuran.

British Royal Air Force dibawah pimpinan Lord Viscount Trenchard memang telah memiliki dasar-dasar dan pengalaman tempur yang baik saat itu.  Dalam masa PD I, mereka telah biasa menggerakkan ratusan pesawat dalam misi pertempuran. Sehingga mereka memiliki wawasan yang baik untuk merumuskan segala macam operasi pertempuran yang akan dilakukan.

Dalam masa kelahiran organisasi Angkatan Udara, seorang tokoh yang berpengaruh pada masa itu adalah Jendral Guilio Douhet, yang telah menyusun buku berjudul The Command of the Air. Buku ini telah membuat perwira Italia ini menjadi tokoh berpengaruh dalam pengembangan Air Power di dunia internasional.  Dia menggariskan bahwa peperangan masa depan akan dimenangkan oleh negara yang mengembangkan kekuatan udaranya dengan baik. Menurut Douhet, hal ini bisa dicapai dengan penggunaan pesawat-pesawat yang bisa menjatuhkan bahan-bahan high explosive untuk menghancurkan bangunan, pembakaran, dan penyebaran gas beracun untuk mencegah pertumpahan darah antar pasukan darat.  Dengan metode ini, kehancuran total di pihak musuh akan bisa dicapai dengan lebih aman. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar penggunaan taktik pertempuran. yaitu mencapai hasil yang maksimal dengan resiko terkecil.

Salah satu teori Douhet yang menarik adalah tentang nilai efektivitas dan efefisiensi operasi pengeboman. Douhet mengasumsikan bahwa target-target yang ada di permukaan tanah biasanya terkonsentrasi dalam area kurang dari 500 m².  Target ini akan bisa dihancurkan oleh hanya 10 pesawat bomber yang masing-masing membawa 2 ton bom, yang dijatuhkan dari ketinggian 10.000 feet oleh penerbang-penerbang yang sudah terlatih dengan baik. Dengan memiliki 1000 buah pesawat bomber, maka 50 target bisa dihancurkan setiap hari. Sehingga pasukan darat tidak perlu repot-repot menggerakkan peralatannya yang sangat sulit dipindahkan dan pasukannya yang bergerak dengan sangat lambat.  Pesawat bomber tidak boleh bergerak sendirian.  Mereka harus dikawal oleh pesawat escort yang memiliki kecepatan yang lebih tinggi dan jarak jangkau yang lebih jauh dari pesawat bomber.

Kekuatan di laut dan di darat akan bisa dihancurkan dari udara.  Sasaran utama seperti pangkalan militer, garis komunikasi, dan pusat logistik dapat dihancurkan pada hari-hari awal penyerangan. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut secara mandiri, Angkatan Udara harus memiliki organisasi yang independen. Sebaliknya, bagi negara yang diserang, pembangunan sistem pertahanan udara adalah kebutuhan dasar.  Kita tidak boleh membiarkan pesawat-pesawat tersebut mengudara. Mereka harus dihancurkan di pangkalannya bila mungkin.

Oswald Boelcke, Maha Guru Taktik Pertempuran Udara

Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan kesatria (Korps Penerbangan Inggris)       

Pada saat PD I dimulai tahun 1914, Oswald Boelcke masih berusia 23 tahun.  Pada tahun tersebut, dia mendapatkan sertifikat sebagai seorang penerbang dan ditempatkan di satuan udara Jerman di Perancis.  Nama satuan tersebut masih cukup aneh buat Boelcke, yaitu Seksi ke-13. Namun demikian, dia cukup beruntung karena saudara laki-lakinya yang bernama Wilhelm Boelcke sudah berdinas di sana sebagai observer. Pada saat itu, pertempuran udara belum dimulai.  Tugas penerbang hanya sebatas membawa observer, yang bertugas mengintai posisi musuh. Sehingga satuan tersebut banyak memiliki pesawat kursi ganda, namun belum dilengkapi senapan mesin.Pesawat-pesawat Jerman pun menjalankan tugasnya sebagai pengintai, mencari posisi pasukan sekutu dan menuntun pasukan Jerman ke arah sasaran tersebut.  Bila sudah menemukan sasaran, pesawat akan mengeluarkan tanda yang menimbulkan warna tertentu di udara.

Pada akhir tahun 1914, Boelcke sudah melakukan 43 kali penerbangan operasional. Boelcke sebenarnya sudah banyak mendengar tentang adanya pertempuran udara. Dia dan observernya juga sudah dilengkapi dengan senapan panjang dan pistol.  Namun sejauh itu, dia belum terlibat dalam pertempuran udara.  Pesawat-pesawat Jerman sebagian besar hanya bertugas sebagai pengawal pasukan darat, Scout Aircraft, dan belum dilengkapi senapan mesin.

Setelah tertangkapnya Rolland garros dan keberhasilan Anthony Fokker untuk mendesain senjata baru bagi Jerman, Boelcke yang sudah pindah di seksi ke-62, mendapat kesempatan untuk terbang di pesawat Fokker yang bertempat duduk ganda dan sudah dilengkapi senapan mesin baru.  Sebagai juru tembaknya adalah Letnan Von Wuhlisch. Pada tanggal 6 Juli 1915, mereka berhasil menembak jatuh pesawat Morane, Perancis. Keberhasilannya yang pertama ini juga menjadi penerbangan terakhir Boelcke di pesawat kursi ganda.

Di satuan yang baru, Boelcke mendapat kawan yang nantinya menjadi pasangan terhebat selama karirnya, yaitu Oberleutnan Max Franz Immelman. Perpindahan dari pesawat berkursi ganda, ke kursi tunggal memang menimbulkan masalah baru bagi penerbang.  Pada saat penerbang berkonsentrasi untuk mengadakan penyerangan, perhatian penerbang sangat tersita. Sehingga tidak sempat memperhatikan datangnya ancaman dari arah yang lain.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pesawat-pesawat Jerman mulai terbang berpasangan.  Penerbang yang sering menjadi pasangan Boelcke adalah Immelman.

Kedua orang ini menjadi senjata paling mematikan bagi Jerman.  Pada saat mereka masing-masing berhasil menjatuhkan korban ke-8, pemerintah Jerman menganugerahkan Pour le Merite.  Dua hari kemudian, Boelcke menembak lagi 1 pesawat sekutu.  Pada usia 25 tahun, Boelcke dipromosikan pangkatnya menjadi Kapten dan dipindahkan ke Sivry untuk menghadapi Perancis, sedangkan Immelman dipindahkan ke Douai untuk bertempur melawan Inggris.  Petualangan Immelman berhenti setelah menjatuhkan korban ke-15. Dia ditembak pesawat Inggris dan tewas. Sebagai penerbang tempur, Immelman akan selalu dikenang sebagai penemu taktik pertempuran udara vertikal.  Immelman adalah penerbang yang pertama kali menggunakan manuver vertikal. Keberhasilan Immelman ini didukung oleh pesawat Fokker yang digunakannya. Pesawat itu memiliki power besar dan kecepatan tinggi. Sebagai sahabat, Boelcke pun menyempatkan terbang ke Douai dan melepas kepergian sahabatnya tersebut.

Pada saat Boelcke sudah mengemas 18 korban, Kaisar Jerman mengirim surat kepada Boelcke agar kembali ke garis belakang dan menjadi staf.  Kaisar mengatakan bahwa pengabdian Boelcke sudah lebih dari cukup, dan dia telah menjadi prajurit besar.  Namun Boelcke menolak permintaan kaisar tersebut, dan terus bertempur. Bahkan sesaat setelah kematian Immelman, Boelcke yang sangat emosional, berusaha mencari dimanapun pesawat sekutu berada, untuk diajaknya berduel.  Boelcke sudah tidak peduli bahwa dia telah melanggar aturan satuannya, yang melarang penerbang bertempur di luar wilayah pertempurannya sendiri dan di luar ijin satuannya. Saat bertemu pesawat Perancis, Boelcke pun menghajarnya sampai jatuh berantakan. Dia benar-benar ingin melampiaskan rasa kehilangannya atas sahabat terbaiknya.  Saat masalah ini terungkap, Boelcke mengelak dari tuduhan, dan menyampaikan bahwa pesawat Perancis itu jatuh karena ditembak dari bawah oleh artileri Jerman.  Namun alasan tersebut tidak bisa diterima, karena tidak ada pasukan ataupun artileri disana. Dan Boelcke pun mendapat larangan terbang.

Ketika posisi Jerman terdesak oleh Inggris di Somme, Boelcke pun ditarik kembali ke garis depan. Di satuan yang baru ini, Boelcke mendapatkan penerbang-penerbang muda yang tangguh dan nantinya menjadi murid-murid terbaiknya, termasuk Manfred Von Richthofen (Red Baron). Pada bulan September 1916, Boelcke telah menambah jumlah pesawat korban menjadi 26 buah.  Pada tanggal 17 September, Boelcke membuat sebuah keputusan bersejarah saat memerintahkan anak buahnya untuk bertempur bersama-sama dalam formasi tertentu. Unit terlatih bernama Jagdstaffel. Ini adalah pertama kali dilakukan oleh penerbang, karena sebelumnya mereka selalu terbang dan bertempur sendiri.  Boelcke yang diwaktu senggangnya selalu menganalisa manuver pertempuran yang pernah dilakukan, kemudian mengajarkan teamwork kepada para penerbangnya.  Konsep yang telah ditemukan oleh Oswald Boelcke ini nantinya menjadi dasar bagi pengembangan taktik pertempuran udara modern, dan menjadikannya sebagai Bapak Taktik Pertempuran Udara. Jagdstaffel sendiri kemudian ditempatkan di Cambrai.  Sedangkan pangkalan lawan terdekat adalah Skadron 24 Pangkalan Bertangles, Royal Flying Corps, dengan pesawat DH-2.

Pada akhir bulan Oktober 1916, Boelcke telah berhasil menjatuhkan 40 pesawat sekutu.  20 pesawat berhasil ditembaknya dalam 2 bulan terakhir.  Pada suatu malam, Boelcke harus tidur awal karena didera keletihan.  Esok paginya Boelcke ternyata mendapat jatah terbang 4 kali.  Namun sepanjang hari itu, tidak terjadi pertempuran di udara.  Sore harinya, Boelcke mendapat telfon dari garis pertahanan Jerman yang meminta bantuan pesawat.  Boelcke langsung melompat ke atas Albatross diikuti Red baron, Bohme, dan 4 penerbang lainnya.  Di atas awan kelabu di dekat garis pertahanan, mereka menemukan pesawat De Havilland Inggris. Pesawat Perancis yang mengetahui kedatangan 6 pesawat Jerman tersebut langsung melakukan manuver pertahanan.  Beberapa saat kemudian, datang 1 unit pesawat Jerman berjumlah 6 pesawat datang membantu sebagai escort.  Kekuatan jelas tidak seimbang saat itu. Jerman berada di atas angin tentunya. Entah kesalahan apa yang telah di buat oleh formasi pesawat Jerman tersebut, sehingga posisi pesawat menjadi tidak menentu dalam pertempuran tersebut.  Mungkin karena jumlah musuh yang lebih sedikit membuat mereka terlalu bernafsu dan tidak memperhatikan posisi pesawat kawan.  Boelcke dan Bohme tidak memperhatikan bahwa posisi mereka sudah sangat dekat, mereka sama-sama ingin menghabisi Letnan Knight yang berada di pesawat DH-2 Inggris. Badan pesawat Bohme menyentuh mesin dan sayap pesawat Boelcke. Pesawat Boelcke yang sudah tidak bisa dikendalikan menghunjam ke bawah.  Boelcke sendiri terlihat masih berusaha untuk mengendalikan pesawatnya. Pesawat-pesawat Inggris tersebut bisa meloloskan diri, karena para wing man Jerman lebih terkonsentrasi perhatiannya kepada pemimpin, pejuang besar, dan idola mereka yang kini berada dalam pesawat yang tak bertenaga dan tak terkendali, meluncur ke bawah, dan masuk menerobos lapisan awan.  Mereka mengejar turun.  Dalam hati, mengapa bukan salah satu dari mereka yang berada dalam pesawat yang sedang naas tersebut.  Saat keluar di bawah awan, sayap pesawat Boelcke sudah terlempar. Pesawat Albatross itu jatuh di tanah dan Boelcke tewas seketika. (Thousands fighters can’t change your great soul)

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa sabuk pengaman Boelcke ditemukan dalam kondisi kendor.  Kita bisa memaklumi bagaimana payahnya kondisi Boelcke hari itu yang sudah terbang seharian dan didera keletihan yang luar biasa.  Mungkin karena harus cepat-cepat menuju sasaran, Boelcke lupa untuk mengencangkan sabuk pengamannya (His soul is on God’s Hand).  Bangsa Jerman pun berduka cita hari itu.

Dog Fight

Taktik pertempuran pada umumnya didefinisikan sebagai seni atau ilmu dari kekuatan yang sedang bermanuver dalam pertempuran dengan berdasar prisip-prinsip yang telah digariskan. Dalam arti yang lain adalah sebuah cara untuk mendapatkan hasil yang maksimum dengan usaha dan resiko minimum.  Setapi hari, para penerbang Iswahjudi mengasah ketrampilan, berjumpalitan di udara, mencoba setiap taktik yang dimiliki.

Taktik pertempuran udara juga kemampuan para penerbang sangat tergantung dari kharakteristik dan kemampuan pesawat. Dengan pesawat yang baik, dilengkapi kemampuan persenjataan yang memadai, maka penerbang akan mampu melaksanakan setiap taktik untuk mencapai kemenangan pertempuran. Sebaliknya dengan kemampuan yang rendah, jumlah yang minimum, mustahil para penerbang bisa mempraktekkan taktik-taktik modern.

Kalau melihat taktik pertempuran udara di awal PD I, kita akan melihat sebuah pola tradisional dari perkembangan pertempuran udara.  Bila pesawat saling bertemu dan bertempur, mereka hanya saling berputar, menembak, dan melempar bahan peledak.  Bila pertempuran di atas belum cukup sampai bahan bakar habis, mereka mengadakan pendaratan darurat, dan berduel kembali di bawah seperti cowboy. Ditembak mati atau menjadi tawanan akan mengakhiri pertarungan tersebut. Hal ini mungkin terasa lucu bagi para penerbang fighter modern, namun begitulah nenek moyang para penerbang fighter  berjuang demi bangsanya masing-masing.

Sejalan dengan perkembangan tehnologi dan pengalaman dari para penerbang, mereka kemudian mengembangkan taktik-taktik pertempuran yang digunakan.  Dalam beberapa leiteratur menyatakan bahwa taktik yang digunakan pertama kali untuk pertempuran udara adalah dengan memanfaatkan ketinggian.  He who has height, controls the battles.  Dengan memiliki ketinggian lebih dari pesawat musuh, maka kecepatan akan semakin bertambah saat menyergap musuh di bawah, memiliki daya kejut yang lebih baik, dan dengan kecepatan yang masih tinggi akan memudahkan pesawat untuk naik lagi/melarikan diri.

Dengan memanfaatkan ketinggian, maka Immelman terinspirasi untuk menciptakan sebuah taktik yang nantinya disebut dengan Immelman turn.  Dari posisi yang lebih tinggi, pesawat diarahkan ke pesawat lawan.  Pada saat membidik target, kecepatan pesawat bertambah.  Sehingga setelah penembakan selesai, pesawat yang masih berkecepatan tinggi, bisa dibawa naik lagi dengan cepat sampai mendekati stall, wing over, dan menyerang lagi. Di Inggris, Albert Ball mengembangkan taktik penyerangan yang sama, yaitu mengambil start dari ketinggian dan bersembunyi dibelakang pesawat musuh, pada saat jarak sudah didapatkan maka dia langsung menghunjam dan tersemburlah peluru dari senapan mesin Ball.  Hanya saja, Ball belum memanfaatkan vertikal manuver sepenuhnya.

Oswald Boelcke adalah orang pertama yang mampu menggambarkan setiap pertempuran yang dilakukan dalam sebuah sistem analisa yang baik. Sejak tahun 1916, Boelcke juga memulai mengajarkan formasi taktik pertempuran. Boelcke yang kemudian dikenal sebagai tokoh terbesar yang meletakkan dasar-dasar pertempuran udara, menggariskan beberapa rumusan pokok tentang taktik pertempuran udara sebagai berikut  :

  1. Dapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum menyerang.  Jika mungkin, letakkan matahari agar selalu dibelakang ekor pesawat.  Keuntungan terbesar dalam sebuah pertempuran adalah faktor daya kejut.  4 sampai 5 pesawat bisa saja hancur tertembak oleh sebuah pesawat yang memiliki tempat persembunyian yang baik. Dengan menempatkan pesawat di ketinggian, apalagi berada pada matahari, maka musuh akan kesulitan untuk melihat posisi kita.  Daya kejut juga didapatkan dengan menggunakan lapisan awan untuk bersembunyi dan mendekat pesawat lawan lewat posisi ekor. Yang perlu disadari, saat itu belum ada RADAR seperti sekarang.
  2. Mulai serangan pada saat yang tepat.  Pengambilan keputusan dan mental penerbang fighter menempati faktor penting dalam situasi perang.  Sebuah serangan yang dimulai terlalu awal justru tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.  Serangan tersebut juga akan menambah keberanian musuh untuk menghantam balik posisi kita.
  3. Tembaklah musuh pada jarak dekat dan saat musuh benar-benar dalam penglihatan kita.   Dalam PD I, tembakan yang baik berada dalam jarak 25 yard atau kurang.  Dalam jarak tembak, pesawat yang diam sebenarnya bisa saja dihancurkan dalam jarak beberapa ratus yard.  Namun lain soal dengan pesawat yang bermanuver.  Dalam menembak, kita harus yakin benar bahwa yang kita tembak adalah pesawat musuh.  Pada saat itu belum ada radio, sehingga mungkin terjadi penerbang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan dalam cuaca yang kurang baik.
  4.  Bila kita menangkap gerakan musuh, jangan sampai melepas perhatian hingga musuh menghilang lagi.  Bila kita mengikuti menuver musuh, jangan sampai mudah tertipu.  Yakinkan bahwa kita selalu dalam posisi siaga, walaupun musuh sudah terlihat tak berdaya.
  5. Dalam beberapa bentuk serangan, sangat penting memulainya dari belakang.  Ada 4 alasan mengapa penerbang harus melkukan hal ini.  Pertama, bidikan penerbang tidak ada defleksi karena pesawat menembak dalam posisi level off.  Kedua, waktu bidik menjadi lebih lama, karena musuh tidak melihat kehadiran pesawat kita.  Ketiga, jika pesawat target adalah single seater maka dia tak akan bisa membalas tembakan tanpa membelokkan pesawat ke arah kita.  Keempat, Pesawat kita sangat sulit untuk bisa dilihat.
  6. Jika musuh datang menyerang dalam jarak dekat, jangan coba-coba lari sambil membelakanginya.  Bawalah pesawat untuk saling berhadapan.
  7. Jika menyeberang garis pertahanan musuh, jangan sampai kehilangan arah untuk kembali.  Untuk penerbang yang masih muda memang akan dengan sangat mudah kehilangan arah, namun untuk penerbang yang senior mempunyai kewajiban untuk membagi perhatian antara pertempuran dan posisi.
  8. Miliki dasar-dasar pertempuran kelompok, 4 atau 6.  Ketika pertempuran terbagi menjadi pertempuran 1 lawan 1, pastikan bahwa tidak ada 2 pesawat yang menuju 1 pesawat musuh.

Setelah merumuskan 8 prinsip pertempuran ini, Boelcke membentuk unit tempur pertama Jerman, Jagdstaffel.  Mereka bertempur dengan pesawat yang dimiliki Skadron, melawan pesawat-pesawat sejenis juga pesawat hasil tangkapan.  Jagdstaffel mulai beroperasi aktif pada bulan September 1916.  Namun sayang, sebulan kemudian Boelcke sendiri tewas dalam sebuah serangan formasi dengan para wing man-nya.  Dia gugur karena formasi yang dibentuknya sendiri, ternyata melanggar aturan ke-8 dari Boelcke Fighting Formation Role.

Kelemahan mendasar dari formasi pesawat tempur pada PD I adalah ketiadaan sarana komunikasi antar pesawat.  Sehingga koordinasi pertempuran tidak bisa terlaksana dengan baik.  Pada masa itu, instruksi diberikan leader dengan tanda-tanda tertentu yang mudah dimengerti oleh wing man.  Kode-kode tersebut diberikan dalam bentuk gerakan tangan, cahaya berwarna-warni, dan gerakan pesawat.  Gerakan tangan paling jarang digunakan karena banyak menimbulkan kesalahan.  Namun yang paling sering digunakan adalah dengan gerakan pesawat. Pertempuran udara yang melibatkan jumlah pesawat yang besar, yang biasa disebut Dogfight, mulai sering terjadi pada tahun 1917.

Dog fight yang dilaksanakan oleh para penerbang Iswahjudi tentunya sudah jauh lebih modern, sejalan dengan perkembangan sistem dan tehnologi kedirgantaraan yang dimiliki. Para penerbang baru mulai dikenalkan pertempuran udara dengan sebuah latihan Basic Fighter Maneuver (BFM). Pada fase ini penerbang yunior dikenalkan bagaimana mengambil posisi menembak dengan gun dan peluru kendali.   Kedua jenis ini yang sekarang digunakan dalam pertempuran udara di Iswahjudi.

Sebuah pesawat yang diterbangkan oleh para penerbang senior akan bertindak sebagai pesawat target. Dengan tingkat kesulitan manuver yang dikurangi, penerbang yunior yang didampingi oleh seorang instruktur di cockpit belakang akan bisa belajar menmbak dengan cara yang benar.

Pada fase BFM, pertempuran hanya dilaksanakan dengan dua pesawat dan manuver yang paling sederhana dan mudah.   Bila penerbang sudah mahir dalam fase ini, maka pelajaran akan dilanjutkan padaa fase Air Combat Maneuver (ACM). Jumlah pesawat yang ikut dalam pertempuran tetap dua, namun tingkat kesulitan manuver ditingkatkan. Bahkan pada akhir fase ACM, siswa sudah diperkenankan melakukan free maneuver dimana ia bebas melakukan manuver apapun untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Pada maneuver dua pesawat, para penerbang yunior juga akan berlatih melaksanakan interception (peyergapan).   Penyergapan dilaksanakan bila ada pesawat musuh yang mencoba menerobos wilayah udara kita.   Dengan bantuan radar permukaan, penerbang akan melaksanakan misi ini.  Penerbang akan belajar bagaimana untuk mencari pesawat musuh yang nampak di layar radar sampai masuk jarak pandang atau jarak tembak yang optimum. Apabila musuh ternyata mengendus kehadiran pesawat penyergap dan melaksanakan maneuver penyelamatan, bertempur dalam jarak dekat, maka terjadilah dog fight.

Latihan dog fight dalam jumlah yang besar dinamakan dengan Air Combat Tactic (ACT). Pertempuran bisa dilaksanakan antar 4 pesawat bahkan lebih.   Pada kondisi seperti inilah, situasi menjadi begitu rumit bagi penerbang yang tidak pernah dalam dog fight atau penerbang yang masih memiliki jam terbang minim.  Sehingga penerbang secara kontinyu harus berlatih dari  jumlah pesawat yang kecil sampai jumlah yang besar.

THE ACE : PD – 1

0

Perang dunia I yang terjadi antara tahun 1914-1918, memang sudah lama berakhir. Namun demikian, banyak peristiwa didalamnya yang melegenda hingga saat ini. Sekian ribu manusia tewas, dan sebaliknya sekian banyak pemimpin hebat lahir. PD I juga telah menjadi momentum awal lahirnya perang dalam dimensi udara. Memang sangat ironis bahwa pesawat yang direkayasa Wright bersaudara 10 tahun sebelumnya, justru pertama kali diproduksi besar-besaran untuk keperluan perang, untuk menumpahkan darah umat manusia.  Orville dan Wilbur Wright pun tak pernah menyangka bahwa mereka harus melihat Jerman, Inggris, dan Perancis  berperang dengan barang ciptaannya.

Berkisah tentang pertempuran udara, tanggal 5 Oktober 1914 merupakan sebuah hari yang fenomenal.   Berawal saat sebuah pesawat Voisin-3 Perancis, yang diterbangkan oleh Sersan Joseph Frantz dan Louis Quenault sedang melaksanakan patroli di dekat perbatasan Jerman. Mereka melihat sebuah pesawat Jerman tengah berleha-leha di sepanjang wilayah udara perbatasan kedua negara. Dan Voisin pun segera mendekat dan mengambil posisi yang baik untuk menembak. Tidak bisa dipastikan, apa yang ada dalam benak penerbang Jerman saat itu.   Juga tidak bisa dipastikan, apakah ia melihat atau tidak kedatangan pesawat Perancis didekatnya.

Sampai saat itu, belum ada pesawat yang saling tembak di udara. Pesawat hanyalah sebuah alat pengintai, bukan senjata mematikan.  Bila pesawat-pesawat dari dua pihak yang bermusuhan bertemu, mereka hanya saling menghindar dan pulang ke pangkalan. Sehingga, saat senapan Quenault memuntahkan amunisinya dan menewaskan penerbang Jerman,  maka dunia penerbangan mengukir sejarah baru. Pertempuran udara di mulai, dan penerbang Jerman itu menjadi korban pertama.

Sejak saat itu, negara-negara Eropa yang terlibat PD I (Inggris, Perancis, Jerman) segera mempersenjatai pesawatnya. Metoda-metoda pertempuran udara mulai dipelajari. Taktik pertempuran yang pertama kali digunakan adalah pertempuran jarak dekat satu lawan satu dengan pemanfaatan ketinggian. Para penerbang yakin, dengan posisi pesawat yang lebih tinggi maka beberapa keuntungan akan dimiliki.   Selain jarak pandang ke bawah yang luas, juga serangan dengan daya kejut dan kecepatan yang besar akan dengan mudah dilaksanakan dari atas, dari pesawat.

 Pada tahun 1915, perubahan yang menonjol adalah mulai dikenalkannya pesawat tempur kursi tunggal.  Bila sebelumnya seorang juru tembak duduk di cockpit belakang, maka selanjutnya penerbang harus bisa terbang sambil menembak. Hal ini cukup sulit dilakukan pada awalnya karena belum ada sistem HOTAS (Hands On Throttle And Stick) dimana semua tombol untuk menembak ditempatkan di tongkat kemudi.  Sehingga penerbang harus terbang dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegang senapan. Namun pertempuran demi pertempuran telah membuat para penerbang mahir menggunakan sejata tradisional tersebut.

Dalam tahun yang sama, para penerbang mulai mengenal istilah ace ( kartu as), yang berarti penerbang yang mampu menjatuhkan 5 pesawat musuh. Sedangkan penerbang Jerman menyebutnya dengan kanone, yang berarti mesin pembunuh.  Istilah ace lahir dari Perancis, saat Rolland Garros mampu menjatuhkan 5 musuh dalam awal bulan April 1915. Sedangkan penerbang yang bisa menjatuhkan korban lebih banyak lagi, disebut dengan ace of aces.

Diantara penerbang tempur legendaris, penerbang tempur muda sudah pasti akan mengingat nama Oswald Boelcke, Max Immelman, dan Manfred von Richthofen. Mereka adalah induk semang penerbang tempur di seluruh dunia. Mereka rela gugur muda, gugur dalam masa bujangan, untuk mengharumkan korps berlambang “burung rajawali” ini.

Sepasang Elang Jerman

Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan ksatria. (Korps Angkatan Udara Inggris)

Selain seorang penerbang handal, Letnan Oswald Boelcke memang seorang perwira jenius. Saat PD I dimulai pada tahun 1914, Boelcke berusia 23 tahun dan telah menggenggam sertifikat penerbang tempur. Ditempatkan di seksi 13, Boelcke cukup beruntung karena bisa berkumpul dengan saudara kandungnya, Wilhelm, yang selalu terbang bersamanya sebagai juru tembak.   Saat itu pesawat tempur harus terdiri dari dua kursi.  Kursi depan untuk penerbang, sedangkan kursi belakang untuk juru tembak.

Keberhasilan Rolland Garros menembak jatuh 5 pesawat, membuat Jerman pusing tujuh keliling. Untungnya Jerman kedatangan pria jenius berkebangsaan Belanda bernama Anthony Fokker, yang dinegaranya sendiri malah tak diindahkan. Menyusul tertangkapnya Garros dan pesawatnya di akhir bulan April 1915, Fokker hanya butuh waktu 3 hari untuk menjiplak senjata sekelas pesawat-pesawat Perancis dan Inggris.   Sejak saat ini, era senjata udara otomatis dimulai.   Fokker juga menciptakan pesawat-pesawat baru untuk Jerman.

Boelcke yang sudah pindah di seksi 62, Douai, mendapat kesempatan untuk mencoba pesawat dan senjata baru hasil rancangan Fokker.   Pesawat Fokker yang baru masih berkursi ganda, namun memiliki kecepatan yang lebih tinggi dan kemampuan senjata yang lebih baik.   Pada tanggal 6 Juli 1915, Boelcke dan juru tembaknya, Letnan Von Wuhlisch, berhasil merontokkan pesawat Parasol Perancis.   Ternyata peristiwa ini menandai berakhirnya era pesawat tempur kursi ganda.

Di seksi 62, Boelcke mendapat teman seusia yang hebat, Max Immelman.   Dengan pesawat Fokker IV yang sudah berkursi tunggal, Boelcke dan Immelman menjadi senjata mematikan, andalan Jerman.   Sampai bulan Januari 1916, mereka masing-masing telah menjatuhkan 8 pesawat musuh.  Pemerintah Jerman menganugerahkan perhargaan tertinggi Pour le Merite kepadanya.  Orang kemudian memanggilnya sebagai “Sepasang Elang Jerman”, karena mereka memang sering bertempur bersama-sama.

Immelman juga mencetak sejarah di usianya yang masih belia. Dengan pesawat Fokker IV yang memiliki kecepatan tinggi, ia menjadi penerbang pertama di dunia yang melakukan manuver vertikal. Gerakan itu terkenal dengan nama Immelman turn (belokan Immelman). Sampai kapanpun, para penerbang tempur di seluruh dunia sudah pasti akan mengenal belokan Immelman, sebab gerakan ini adalah gerakan wajib yang harus dapat mereka lakukan saat menjalani pendidikan di sekolah penerbang.

Saat berusia 25 tahun dan dipromosikan menjadi Kapten,  mereka berdua harus berpisah.   Boelcke harus pindah ke Sivry untuk menghadapi Perancis, sedangkan Immelman tetap di Douai untuk menghadapi Inggris. Namun mereka tetap menjadi monster yang menakutkan bagi penerbang lawan. Petualangan Immelman berakhir setelah mengemas 15 pesawat korban. Boelcke pun terbang ke Douai untuk menghadiri pemakaman sahabat tercintanya. Boelcke begitu berduka karenanya.

Mendengar kematian Immelman, Kaisar Jerman langsung memerintahkan Boelcke untuk mundur ke garis belakang. Dengan 18 pesawat korban, Boelcke sudah menjadi pahlawan dan sekaligus kebanggaan bangsa Jerman.   Kaisar mengirim surat khusus kepada Boelcke agar ia kembali ke Berlin dan masuk staf markas tertinggi Angkatan Perang Jerman.   Pada penghujung suratnya, Kaisar mengatakan bahwa angka 18 itu sudah cukup buat prajurit besar sepertinya.

Pahlawan tidak mengenal berhenti berjuang, ini yang ada di benak Boelcke.  Dalam perjalanan pulang dari Douai, Boelcke yang sedang berduka nekat bertempur lagi, bahkan tidak seijin satuannya yang berada jauh di Sivry. Ia menyerang pesawat-pesawat musuh di sekitar jalur kepulangannya. Beberapa pesawat Perancis jatuh. Saat dikonfirmasi, Boelcke melaporkan bahwa pesawat-pesawat tersebut jatuh karena artileri AD Jerman.  Sekian hari berlalu, masalah inipun terungkap juga.   Boelcke memang menolak ditarik ke Berlin, namun ia terkena sanksi larangan terbang karena kenekatannya.  Akhirnya ia tetap ditarik ke Berlin.

Saat Jerman mulai terdesak beberapa bulan kemudian, Boelcke dibolehkan bertempur kembali. Kali ini di pangkalan udara Somme.  Selain bertempur, ia mulai mengajar para penerbang baru dan menjadi komandan skadron. Di pangkalan ini Boelcke mendapatkan murid terbaik, seorang anak muda yang benar-benar born pilot, terlahir untuk menjadi penerbang jago. Dialah Manfred von Richthofen, yang nantinya berjulukan Red Baron, ace of aces sepanjang sejarah PD I, penerbang terhebat dengan 80 pesawat korban.

Sampai September 1916, Boelcke telah mengantongi 26 pesawat korban. Tanggal 17 September, Boelcke telah membuat keputusan bersejarah dengan membuat team work pertempuran udara. Pesawat tidak boleh terbang sendiri.  Minimal harus 2 pesawat bahkan lebih. Boelcke adalah orang pertama yang mampu menggambarkan detail-detail pertempuran yang telah dilakukannya dan mengembangkan pertempuran menjadi lebih dari 2 pesawat. Dari pengalamannya, ia kemudian berhasil merumuskan prinsip-prinsip dasar pertempuran udara. Sehingga Boelcke nantinya dinobatkan menjadi bapak pertempuran udara dunia. Pada bulan Oktober 1916, Boelcke telah menjadi juara, ace of aces,  dengan 40 pesawat korban. Dua puluh korban ditembaknya dalam waktu dua bulan terakhir, fantastis !

Dalam bulan-bulan terakhir, pertempuran memang semakin membesar hingga para penerbang harus berjaga siang dan malam.  Suatu malam tanggal 27 Oktober 1916, Boelcke tidur sangat terlambat.  Keesokan harinya, ia harus terbang empat kali namun tidak ada kontak senjata.   Sorenya, Boelcke mendapat pesan dari garis depan yang meminta bantuan pesawat.   Boelcke langsung melompat ke pesawatnya diikuti empat penerbang lainnya termasuk Richthofen muda dan Bohme.    Di atas langit kelabu, mereka menemukan 2 pesawat Perancis.  Melihat jumlah yang lebih kecil, pesawat-pesawat Jerman berusaha langsung menghajar. Tidak adanya sistem radio antar pesawat memang masih menyulitkan para penerbang untuk melaksanakan taktik pertempuran.  Saat bermanuver, sayap dan mesin pesawat Boelcke bersenggolan dengan badan pesawat Bohme.  Pesawat Boelcke menjadi tak terkendali.  Pandangan nanar Richthofen terus mengikuti pesawat gurunya yang menerobos awan, sayapnya terlempar dan menghunjam ke tanah. Sedangkan pesawat Perancis melarikan diri.  “Braakkk” begitu menghantam tanah, Boelcke tewas seketika.  Keesokan harinya, Angkatan Udara Inggris mengirimkan pesan duka cita bertuliskan,”Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan ksatria.”

Red Baron, Profil Seorang Petualang Pertempuran

Manfred von Richthofen, lahir di Breslau pada tanggal 2 Mei 1892 sebagai bangsawan Prusia. Tak heran bila ia sudah pintar menembak dan berburu sejak dari kecil. Pada usia 17 tahun, ia masuk menjadi kadet di Akademi Militer Lichterfelde dan lulus menjadi perwira kavaleri.  Saat PD I dimulai. Richthofen pindah ke korps penerbangan.  Dari sinilah kariernya sebagai penerbang tempur kelas satu dimulai.

Pada awalnya, Richthofen bukanlah penerbang. Ia hanya seorang perwira kavalery yang kemudian minta pindah ke AU.  Di tempat baru Richthofen bertugas sebagai juru tembak yang duduk di kursi belakang pesawat. Tapi karena keuletannya, Richthofen bisa juga masuk ke sekolah penerbang.  Nasib baik berpihak padanya saat ia secara tak sengaja bertemu dengan Oswald Boelcke yang sudah lebih dahulu terkenal.   Boelcke kemudian mengajak Richthofen bergabung dengannya di pangkalan udara Somme. Boelcke lalu mendidiknya menjadi penerbang tempur penuh.

 Pada tanggal 17 September 1916, untuk pertama kali Richthofen terbang bersama Boelcke dalam satu formasi tempur.  Hari itu mereka mampu menembak 5 pesawat musuh. Sampai gugurnya Boelcke pada bulan berikutnya, Richthofen sudah mengemas 7 pesawat korban.   Jerman sudah kehilangan  sepasang elang kesayangannya. Kini mereka sangat berharap banyak kepada Richthofen.   Saat menghantar  Boelcke ke liang lahat di Cambrai pada tanggal 31 September, Richthofen membawa bintang kehormatan sang guru di atas bantal hitam.  Sifat ambisius, petualang yang di balut dalam duka cita bergejolak hebat sejak saat itu. Richthofen bahkan mengirim pesan kepada ibundanya bahwa ia ingin mendapat kehormatan tertinggi sebagai pahlawan Jerman.

Sampai tanggal 4 Januari 1917,  Richthofen sudah mengemas 16 pesawat korban.   Ia menjadi penerbang tempur  ace nomor satu Jerman yang masih hidup. Kaisar Jerman Wilhelm II menganugerahkan Pour le Merite dan  Kaisar Austria menganugerahkan Austrian War Cross.  Setelah ini, Richthofen diangkat menjadi komandan skadron. Ia memerintahkan pesawatnya di cat serba merah, agar musuh tahu kedatangan Manfred von Richthofen. Yah, era kegemilangan Manfred von Richthofen Red Baron dimulai. Ia menjadi monster paling menakutkan setelah era Immelman dan Boelcke, berdarah dingin dan bertempur seperti singa liar.

Sampai tanggal 20 April 1918, Red Baron sudah mengemas 80 pesawat korban. Adiknya, Lothar Richthofen, mengemas 40 pesawat korban.  Dan total kemenangan yang diraih skadron yang dipimpin Red Baron adalah 250 pesawat korban.  Jumlah yang luar biasa. Esok harinya, tanggal 21 April 1918, grup band perwira Jerman merayakan kemenangan ke-80 Red Baron.  Pada pukul 11.30 pagi, Red Baron memimpin 5 pesawat untuk berpatroli di perbatasan Inggris. Inilah penerbangan terakhir sang jagoan. Dalam patroli ini, Red Baron terlibat dalam pertempuran udara besar yang melibatkan puluhan pesawat. Bertempur pada ketinggian rendah, pesawat Red Baron terkena serangan artileri. Sebuah peluru juga sempat mampir didadanya. Red Baron yang begitu dihormati oleh lawannya mendapat penghargaan sebagai tokoh besar.

Para prajurit Inggris membawa jenazah Red Baron ke pangkalan Bertangles dan mengebumikannya dengan upacara kebesaran militer. AU Inggris pun mengirimkan pesan duka cita kepada markas AU Jerman. Pada tanggal 19 Nopember 1925, jazad Red Baron dikirim ke Jerman dengan kereta. Beribu orang datang saat jenazahnya disemayamkan selama 2 hari di gereja Berlin. Saat pemakamannya, Presiden Jerman, Von Hindenburg berbaris dibelakang ibunda Red baron yang sudah hidup menjanda, didampingi putra satu-satunya yang masih hidup, Bolke Richthofen.

Perang, Ambisi, Dan Tehnologi

Tehnologi pertempuran udara semakin berkembang saat ini.  Untuk menjadi penerbang ace dan menyamai rekor Boelcke dan Red Baron sudah sangat sulit untuk saat ini.  Namun kedua orang itu telah mengajarkan nilai luhur kepada kita, yaitu ketekunan, ketelitian, kesetiaan, dan nasionalisme.  Jerman memang gagal dalam PD I, namun tidak bisa dihindari bahwa negara ini telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap kemajuan tehnologi dan taktik pertempuran udara. Penghargaannya yang besar terhadap setiap penemuan baru telah membuatnya menjadi super power pada saat itu. Hanya karena kepongahannya saja yang membuat bangsa itu terpuruk dalam dua perang.   Namun kita patut mengancungkan jempol terhadap perhatian bangsa Jerman pada kemajuan tehnologi, walaupun ia melakukannya karena ada ambisi.  Maka akan terpuruklah suatu bangsa yang tidak bisa menghargai orang pandainya, orang bijaknya.

Anthony Fokker misalnya, pria kelahiran Kediri, 1890, adalah sosok selain Oswald Boelcke, Immelman, dan Red baron, yang dibesarkan pula oleh ambisi Jerman. Dinegaranya sendiri, Belanda, hasil karya Fokker justru tidak dihargai dan diperhatikan oleh pemerintahnya sendiri.  Fokker pun mendanai risetnya sendiri.   Maka saat dana risetnya habis, dengan terpaksa Fokker berpaling ke Jerman yang memang sedang mewadahi orang jenius sepertinya.   Saat Jerman berjaya, etiskah jika semua orang menuding Fokker sebagai pengkhianat.  Banyak lagi contoh lain yang mirip dengan peristiwa ini.

Trus, bagaimana dengan kita ? Katanya kita adalah bangsa besar dengan sekian kekuatan prajurit yang tidak takut menerjang sekian ribu bahaya. Sudahkah kita menghargai sebuah tehnologi karya sendiri, atau hanya sekedar berbangga dengan peralatan yang dibeli dari bangsa asing ? Kita tidak perlu menjawabnya.  Cukup kita rasakan seberapa tingkat kebingungan bangsa ini bila kata-kata embargo sering mengiang di telinga seperti saat sekarang. Senjata kita darimana ?  Tank kita buatan siapa?  Pesawat kita impor dari negara apa ?  Sebuah bangsa yang bisa berbangga harusnya sebuah bangsa yang sudah mampu mandiri.