KAMIS, 22 SEPTEMBER 2016

0

A torrent of emotions? Irrational decision maker

You can trust the faintest of ink more than the strongest of memories

Writing helps me understand my life

What precise actions did you undertake today

Plan every moment, write to do list

Organize first – buy last.

Kita adalah yang kita biasa lakukan, kita adalah cerminan perbuatan yang sering kita lakukan.

Live everyday on a fresh new start, be there.. be true to who you are, what first then how. More conciously

If you have one minute left to live, what would you do?.

If you were to die tommorrow what would be your biggest regret? What can you do now to make sure that doest happen.

What bad habits do you to break?

What good habits do you want to cultivate?

I just deviate myself 5° degrees on you, yes it may seems like a small thing, but keep extending that line out further and further and the difference becomes huge wihtin a period of time.

Death is not sad, the sad thing is most people don’t live at all, I know why you not afraid being death, because you have not been alive all this time.

The one who are hardest to love, are usually the ones who need it the most.

The fog will remain as long as you saty still, it will be uncertain, hazy, possibly, confusing, disempowering.

Life is not lost by dying, is lost minute by minute, day by dragging day in all the thousand small uncaring ways.

We cant waste time we can only waste ourselves

Contemplation often makes life miserable we should act more, think less and stop watching ourselves life.

Simple definition of life, the chance you are have been waiting for.

What to do with your life? the same thing you would o if you had two lives and this the second.

Adalah hal yang wajar bahwa manusia hanya akan bergerak apabila mendapatkan keuntungan.

It is only by looking backwards that are able to see the connection and patterns in our life.

You wont discover your passion by wondering or worrying about it, you will discover it by taking action.

The point is not to sit around asking yourself what is your purpose? realize how much and how important htis goal really is to you, beyond momentary pain?

If i dont do anything.. i will get stuck in my current situation.

I know this is a momentary pain, and that i will die someday, momentary life.

Life is race, even or during the night is still race.

What unpleasant ecperience are you able to handle? are you able to stay up all night to finish your homework

Are you able to have people laugh you off, until you get it right?

When I was a child, I used to write stories. I used to sit in my room for hours by myself writing away about aliens, about superheroes, about great warriors, about my friends and family. Not because I wanted anyone to read it. Not because I wanted to impress my parents or teachers. But for the sheer joy of it. I just want to sheer joy with someone that i could fit in, is you…

How could you know all of those movie maker have obession about their movie must be watched? what if they just love what they did, felt joy within. Are you know what is important to you?

 

 

REVIEW SOLANIN | SPOILER ALERT

0

Solanin bercerita tentang persahabatan lima sekawan yang dimulai sejak kuliah, mereka adalah Naruo Taneda (Kengo Kora), Jiro “Billy” Yamada (Kenta Kiritani), Kenichi Kato (Yoichi Kondo). Mereka bertiga membentuk band rock dengan nama Rotti, sedangkan Meiko Inoue (Aoi Miyazaki) dan Ai Kotani (Ayumi Ito) adalah pendukung.

Sementara Meiko Inoue dan Taneda Taneda adalah sepasang kekasih yang bertemu saat masa kuliah mereka. Taneda adalah gitaris dan vokalis sebuah band bernama Rotti yang ia berntuk bersama dua temannya Jiro ‘Billy’ Yamada (drummer) dan Kenichi Kato (Bassis). Meiko dan Taneda adalah sepasang kekasih yang tinggal dalam satu atap tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Meiko merasa tidak nyaman menjadi pekerja kantoran, sementara pekerjaan Taneda mengharuskan ia berangkat sore dan pulang pagi, jadi begitu tiba di rumah Taneda hanya tidur karena kelelahan.

Ketika itu ada acara seleberasi kelulusan kampus mereka di sebuah club, rotti tampil untuk pertama kali, teneda sebagai vokalis pun merasa gugup, pertunjukan berjalan lancar, hingga tiba saat mereka membawakan lagu terkahir mereka yang baru saja buat dihari ini untuk seleberasi kelulusan mereka. Taneda kehilangan kata-kata dan lirik yang ia ingin nyanyikan. Tiba-tiba dia mengatakan :

‘Ah sial! Aku tidak membutuhkan lirik!’

‘Dengarkan!’

*Drum dan bass pun mulai dimainkan

** Taneda-pun mulai bernanyi dengan nada tidak beraturan seperti ‘rapping’ tapi ‘out of the tune’

“Ini adalah saat ketika pesawat menabrak gedung-gedung!, Di mana perang di mulai di suatu tempat!, Ini adalah Aku yang merasa muak tanpa perasaan gembira pada semuanya!… Itu karena kita tidak memiliki cahaya harapan di masa depan kita!… Tidak ada perubahan dramatis yang akan terjadi!, Setiap hari akan terus membosankan!… Mungkin hidup sangatlah membosankan!… Tapi Aku tidak ingin menjadi seseorang yang berpura-pura puas dengan itu!.. Berhasil lulus menjadi seseorang…!”

“Tapi Aku ..!”

“Tapi Aku ..!”

“… Aku perlu lebih banyak waktu …”

“… Sampai ku temukan jawaban …”

“Bahkan jika itu berbahaya, bahkan jika harus ke ujung dunia. Aku akan berjalan di jalan ku sendiri.”

Tapi setelah mereka lulus, mereka mulai memasuki dunia orang dewasa, dimana mereka harus memikirkan masa depan mereka, langkah selanjutnya yang harus mereka buat, mereka bekerja seperti layaknya orang dewasa. Tapi mereka masih bersahabat, mereka akan bertemu 2 kali dalam sebulan untuk berlatih band dan berkumpul bersama mengenang masa kuliah mereka.

Meiko bekerja sebagai pegawai selama 2 tahun. Ai-chan bekerja di toko pakaian, Billy mengambil alih bisnis farmasi ayahnya, Taneda bekerja sambilan ini dan itu, sementara Kenichi menjalani hidupnya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus + bekerja sambilan di toko alat musik.

Tapi hidup tidaklah sempurna, ada masa dimana mereka bertanya-tanya apakah jalan yang mereka pilih sekarang benar, apakah mereka puas dengan apa yang mereka lakukan sekarang dan selalu, pertanyaan yang tidak meyakinkan pada diri sendiri, apakah benar apa yang mereka lakukan sekarang adalah yang mereka inginkan. Tapi meski begitu, hidup teruslah berjalan.

Pada akhirnya, Taneda menjadi serius, ia keluar dari pekerjaan paruh waktunya dan menciptakan lagu bersama yang lain. Meiko bagaimana pun mendukungnya. Menurutnya Taneda terlihat paling keren saat ia serius dengan musik. Dan saat itu lah tercipta lagu berjudul ‘Solanin’. Mereka membuat CD demo dan mengirimnya ke berbagai perusahaan rekaman. Tapi sayang sekali, hanya sampai disana, tidak ada perusahaan yang memanggil mereka kecuali satu, dan itu pun bukan untuk membuat debut mereka, tapi ingin memakai musik mereka untuk debut seorang idol, yang di langsung di tolak oleh Meiko.

Mungkin setelah itu Taneda menjadi stress, itu lah yang dipikirkan oleh Meiko. Meski mereka terlihat baik-baik saja, mereka berkencan dan menghabiskan waktu bersama, tapi tiba-tiba Taneda meminta putus saat kencan mereka di perahu.

Lalu saya teringat ketika Taneda masih kuliah dan jatuh cinta pertama kali terhadap meiko, Taneda berkata : “ku pikir kita dapat bertahan asalkan kita bersama-sama, apakah itu salah?..

Lalu Meiko mengatakan : “Jangan berani-berani melepaskanya.”

Tetapi ketika di perahu itu, Taneda meledak. Tapi tentu saja Meiko tidak mau dan mengingatkan Taneda kalau Taneda berjanji mereka akan terus bersama-sama selamanya dan jika mereka bersama mereka akan baik-baik saja.

“Kau bilang kita akan selalu bersama!, kau tidak bisa mengatakan hal-hal seperti itu kecuali jika kau serius! Kau idiot!”

Pada akhirnya mereka berbaikan lagi. Keesokan harinya, Taneda pamit dan tidak pernah kembali. Kira-kira 5 hari setelah itu, Meiko mendapat telepon dari Taneda bahwa ia akan pulang, karena selama ini Taneda bekerja di tempat dahulu ia bekerja. Meiko tentu saja senang mendengar hal itu, tetapi ketika dalam perjalanan kecelakaan itu terjadi. Dan Meiko tidak pernah menjumpai Taneda kembali.

Dua bulan berlalu sejak saat itu. Meiko hidup dalam kesepian. Ia tidak bisa melupakan Taneda dan selalu mengurung diri, membuat teman-temannya khawatir. Ia bahkan melukai diri sendiri.

Meski ia terlihat baik-baik saja diluar, saat ia bekerja atau berkumpul bersama yang lain, saat ia sendiri Meiko benar-benar terlihat terluka.

Hingga sampailah disalah satu adegan kesukaan saya, ketika Billy dan Meiko bersepeda ke tempat latihan. Billy bertanya apakah Meiko baik-baik saja sekarang dan Meiko menjawab ia merasa baik-baik saja sekarang. Billy mengatakan ia sama sekali tidak sedih dengan kepergiaan Taneda, tapi ia marah padanya karena benari meninggalkan mereka, meski begitu, ia tidak tahu kenapa ia tak bisa berhenti menangis.

Billy : Maaf … Aku tahu ini adalah pertanyaan yang mengerikan tapi… Apa kau baik-baik saja sekarang… Tanpa Taneda?

Meiko : Tentu saja … Aku tidak apa-apa. Tapi… Tapi aku berpikir bahwa Aku harus berhenti merasa sedih.

Billy : Berani-beraninya brengsek itu!, Aku berpikir dia itu egois… Aku memikirkan ini setiap malam. Dia hanya mengacaukan kita dan aku tidak bisa berhenti meneteskan air mata.

Walapun di film ini kematian Taneda disebabkan oleh kecelakaan, disisi lain lain Aku juga berfikir bahwa terkadang orang yang melakukan bunuh diri itu ialah egois, egois bahwa ia memuaskan hasratnya pergi, tanpa sepengetahuan orang lain dengan anggapan tidak ada satupun orang yang akan membantunya, hanya demi menyenangkan egonya atau sebenarnya mereka yang berbuat tidak menyenangkan terhadap diri kita tidaklah jahat melainkan hanya untuk memuaskan ego mereka.

Inilah yang saya dapatkan ketika menonton Solanin, saya pun pernah merasakan apa yang dialami para tokohnya, dan mungkin banyak orang lain yang merasakan hal yang sama. Sehingga film ini bisa sangat bermakna. Aku merasa bahwa ini ialah cerita kita semua.

Saat muda, kita cenderung berpikir hanya ada satu cara yang sulit untuk mencapai kebahagiaan. Tapi sebenarnya cara itu lebih sederhana, ya kita berharap menemukan kebahagiaan yang sederhana, serta apa yang sebenarnya arti dari dunia yang penuh kepura-puraan dan ketidakwajaran ini. Kita yang beradaptasi dengan itu dan malah merasa bosan? kebebasan tanpa tujuan itu ternyata membosankan. Apa kita akan melakukannya hingga sampai masa depan yang membosankan?

Suatu hari ayah Taneda datang mengambil barang puteranya di apartemen Meiko dan Meiko menemukan sebuah catatan dari Taneda sebelum kepergiannya.

Dari sana Meiko menyadari kalau alasan Taneda pergi bukanlah kesalahannya, selama ini ia selalu menganggap semuanya salahnya. Lalu Meiko masih dalam fase ‘bargaining’ – ‘what if’. Seandainya ia tidak berhenti bekerja, seandainya ia tidak mengatakan apapun pada Taneda hari itu, seandainya mereka tidak bertemu dan tidak pacaran.

Ketika itu saya berfikir bahwa segalanya lebih rumit daripada apa yang selama ini saya pikirkan, mungkin. Saya mungkin hanya melihat 1/10 kebenaran yang ada yang dimana kemungkinan ada jutaan, terkadang ada jutaan-jutaan tali kecil yang melekat pada setiap pilihan yang engkau buat saat ini dan saat ini juga saya dapat menghancurkan hidup saya sendiri dengan pilihan yang saya ambil. Tapi ketika umur bertambah 20 tahun kemudian, saya tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah bisa melacak darimana sih semua sumber malapetaka ini. Saya hanya dapat memilih satu dari jutaan senar atau tali-tali itu untuk saya mainkan dan hanya ada 1 kesempatan untuk memainkanya. Misalnya mencari tahu sebab kenapa kita bisa bercerai.

Disamping itu Taneda memberi judul lagi ciptaannya ‘solanin’, ada saat Meiko bertanya apa arti judul lagu itu dan Taneda menjawab ‘racun kentang’. Tapi Meiko menanggap itu ialah perpisahan, awalnya ia menyangka itu lagu perpisahan untuknya yang artinya Taneda memang ingin berpisah darinya. Tapi lama kelamaan ia menyadari itu adalah lagu untuk perpisahan pada masa lalu. Taneda menulis itu untuk ‘say goodbye’ pada masa lalunya dan Meiko menyanyikan lagu itu untuk ‘say goodbye’ pada masa lalunya juga.

“Kesalahpahaman ini melampaui langit

Apakah kehidupan manusia hanya sebatas ucapan selamat tinggal?

Sedikit masa depan, walaupun terlihat

hanya sebuah ucapan selamat tinggal

Kamar kecil yang pernah kutinggali dulu

Sekarang telah ditinggali oleh orang lain

Kalimat yang pernah kaukatakan, walaupun dengan kata kasar

Setiap hari pun tetap tidak memiliki makna

Seandainya waktu itu kita melakukannya begini, seandainya hal itu dapat kembali

Akungnya Aku yang waktu itu sudah tidak dapat kembali

Walaupun kebahagiaan ini terus melonggar

pasti akan tumbuh bibit yang jelek

Karena itu, sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal

Kaleng kopi yang mendingin bersama musim dingin saat itu

Syal panjang berwarna pelangi itu

Semuanya kucoba untuk mengingatnya kembali

Walaupun kebahagiaan ini terus melonggar

pasti akan tumbuh bibit yang jelek

Karena itu, sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal

Bagaimanapun

Ucapan selamat tinggal pun tidak masalah

Aku dapat merelakannya di mana pun

Selamat tinggal, Aku pun entah bagaimana akan merelakannya

Selamat tinggal, itulah yang akan kukatakan”


Lagunya sangat bagus. Liriknya menyentuh. Saya berusaha merasakan perasaan Meiko ketika sedang bernyanyi lagu yang diciptakan oleh kekasihnya yang telah tiada, yang dimana tersurat lirik-lirik perpisahan, selamat tinggal, aku tak peduli!. Meiko menangis saat Meiko menyanyikan lagu terakhirnya. Lagunya sangat bagus. Liriknya menyentuh. Aku tidak membayangkan Aku akan menangis saat Meiko menyanyikan lagu terakhirnya, tapi ternyata Aku menangis. Film ini ditutup dengan happy ending, tapi Aku merasakan happy ending yang tidak sempurna, happy ending yang kehilangan sesuatu, satu yang hilang.

SHE

0

She dimmed every light
as she closed her tired eyes.
She swore this time
that she would finally be alright.
She stated that she’s fine,
“just leave me behind.”
She always thought
that her bed was so kind.


She thought that it would pass
without a second chance.
That one day she’d sway
and be free from the chains.
But it wasn’t so aligned,
as it never felt right,
as in the midst of the night


she found every knife.
She could write a simple song;
she could appear to be strong.
She could sing into the wall
about everything that’s wrong.


As it wasn’t just a life,
it was one hell of a fight.
And she knows that she swore
that tonight she would try,
with the harmony of okay’s
as blood pooled her thighs.
“just look me in the eyes,
you’ll see clearer skies.


You may now dim the lights
as I close my dreary eyes.
I know that I swore,
but tonight I finally lied.
I’ll see you again,
just not in this life.”

MANIFESTED IMPERFECTION

0

We’re just imperfect manifestation of what we’re dreamed to become when we were young. We often cursed ourselves in the lonely nights. That we, not somebody else, had disappointed ourselves. That life had defeated us. We then usually listened to sad songs, which is just worsening the situation, and makes the misery even deeper. But we just can’t help it. It at the same time also feels like our way to heal.

At some point of life we just don’t know where to go, or what to do. And it happens quite many times. We’re just a child, abandoned in strange place, looking for our fathers, who’s hiding right after he let go of our hands. And we’re cursed for life to find him, to find a figure for us to hold. And all that he left was just a promise that he will give you sign, he will guide you. But you can’t deceive yourself, you feel nothing. You feel empty. And that’s all you now have. And you have to deal to live with it for your entire life.

ON THE NIGHT WAR

0

And on that night, war was declared,
She was the victim of all of my kisses,
I kept whispering, darling please beware,
Tonight you lose your pride, and dress
She laughed at first and said we’ll see,
Who’ll win this war is it you or me,
But I’ll fight you back, and I won’t quit,
And with those thirsty lips you’ll flee,


I interrupted her speech with a kiss,
She kissed me harder just as she said,
You’re losing, love, as I held her up,
And threw her body right on to the bed,
I kissed her lips, her face, and neck,


She moaned as I was on my way below,
By that time I played all of my tricks,
While she was the one to take it slow,
She got right up and got me to unbelt,
And she could’ve felt all that blood flow,
I undressed her and her body I felt,