KONSEP RUANG DALAM GEOGRAFI


Konsep Ruang dan Tempat

A. Konsep Ruang

1. Pengertian Ruang

Ruang adalah tempat yang memberikan kita hidup karena di dalamnya terdapat unsur-unsur yang diperlukan untuk kehidupan. Karena itu, menurut istilah geografi umum yang dimaksud dengan ruang (space) adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfera tempat hidup tumbuhan, binatang, dan manusia. Sedangkan menurut istilah geografi regional bahwa ruang adalah suatu wilayah yang mempunyai batasan geografi, yaitu batas menurut keadaan fisik, sosial, atau pemerintahan yang terjadi dari sebagian permukaan bumi dan lapisan tanah dibawahnya, serta lapisan udara di atasnya. Menurut Sumaatmadja, mengatakan bahwa wujud ruang dipermukaan

bumi berbentuk tiga dimensi, bentangannya berupa daratan dan perairan, sedangkan kearah vertikal berupa lapisan udara, dalam ruang ini berlokasi benda hidup dan benda mati serta gejala-gejala yang satu sama lainnya beriteraksi.

Ilmu geografi sangat menekankan eksistensi ruang sebagai pendekatan kerangka analisisnya. Analisis keruangan (spatial) mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat – sifat penting atau serangkaian sifat-sifat penting. Ahli geografi akan bertanya faktor – faktor apa yang menguasai pola penyebaran dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain, dalam analisis keruangan harus diperhatikan adalah pertama, penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan atau dimanfaatkan untuk pelbagai kegunaan yang dirancang.

Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997). Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen pembentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimpulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

  1. What? Struktur ruang apa itu?
  2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
  3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
  4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
  5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
  6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur

Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.

Dalam melakukan pendekatan terhadap gejala dan masalah, geografi akan menggunakan pendekatan topik utama, biasanya mencari apa yang menjadi pusat perhatian manusia. Misalnya di daerah tertentu topik yang menjadi perhatian utama adalah kelaparan. Maka kelaparan inilah yang menjadi sorotan utamanya. Artinya dapat dijuga dikatakan ruang di mana kelaparan berlangsung.

Kelaparan di daerah yang bersangkutan diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, intensitasnya, dan interelasinya dengan gejala yang lain dan dengan masalah secara keseluruhan. Pokoknya hal-hal yang berkenaan dengan topik kelaparan harus diungkapkan sedalam-dalamnya, sehingga diperoleh deskripsi ruang geografi mengenai kelaparan tersebut.

Diharapkan bahwa pengungkapan topik kelaparan tadi berkenaan dengan penyebarannya, interelasinya, deskripsi dan sebab-sebabnya, dapat mengungkapkan masalah geografi di daerah bersangkutan secara lebih luas. Hal yang sama dapat pula dilakukan terhadap topik-topik lainnya, seperti pengangguran, erosi, kenakalan remaja, kekurangan air, industri, dan lain-lain sebagainya.

Yang menjadi pegangan utama dalam melakukan pendekatan topik ini yaitu bahwa tidak boleh dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi wadah gejala atau topik yang kita dekati. Faktor-faktor geografi seperti manusia dan keadaan fisisnya tidak boleh diabaikan. Berdasarkan landasan keruangan ini, kita akan dapat mengungkapkan karakteristik kelaparan di daerah/wilayah yang bersangkutan bila dibandingkan dengan gejala atau kelaparan di daerah/ wilayah yang lainnya.

Pada pendekatan keruangan lainnya, pendekatan utama diarahkan kepada aktivitas manusianya (human activities). Pertanyaan utama pada jenis pendekatan ini ialah bagaimana kegiatan manusia atau penduduk di suatu wilayah yang bersangkutan? Jadi, hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas penduduk itu menjadi sorotan utama.

Pengungkapan aktivitas penduduk ini ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan deskripsinya dengan gejala gejala lain yang berkenaan dengan aktivitas tadi. Ditinjau dan penyebarannya, kita akan dapat membedakan jenis aktivitas tadi sehubungan dengan matapencarian yang dilakukan penduduk. Apakah aktivitas itu berlangsung di daerah pegunungan, apakah di dataran rendah, apakah dekat dengan sungai, apakah jauh dan sungai, apakah di pantai, dan demikianlah seterusnya.

Dari penyebaran kegiatan penduduk tadi, kita akan dapat pula mengungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, dengan keadaan hidrografi, dengan keadaan komunikasi-transportasi, dengan keadaan tinggi-rendah permukaan, dan dengan faktor-faktor geografi lainnya. Dengan demikian, kita akan dapat pula membuat suatu deskripsi tentang aktivitas penduduk tadi berdasarkan penyebarannya dalam ruang, dan berdasarkan interelasi keruangannya dengan gejala-gejala lain serta dengan masalah sebagai sistem keruangannya.

2. Ruang menurut ekologi

Ekologi khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara manusia dengan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip dan konsep yang berlaku pada bidang ilmu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan geografi dalam memandang aspek ruang. Menurut ekologi, ruang dipelajari, ditelaah dan dianalisis sebagai sesuatu gejala atau sesuatu masalah dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi.

Ruang menurut ekologi sebagai suatu bentuk ekosistem hasil hubungan dan penyesuaian antara penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungannya pada area atau daerah tertentu. Jadi dalam hal ini, interelasi manusia dengan alam lingkungan di sekitarnya dikaji berdasarkan konsep dan prinsip ekologi, atau dengan perkataan lain dengan menggunakan pendekatan ekologi.

Sebagai sebuah ekosistem, suatu ruang dipandang atau diarahkan kepada hubungan antara manusia sebagai makhluk hidup dengan lingkungan alamnya. Pada pendekatan ekologi suatu daerah pemukiman ditinjau sebagai suatu bentuk ekosistem hasil interaksi penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungan alamnya. Demikian pula jika kita mengkaji daerah pertanian, daerah perindustrian, daerah perkotaan dan lain-lain sebagainya.

Pendekatan ekologi pada studi geografi, bukan merupakan metode pendekatan satu-satunya. Pendekatan ekologi ini merupakan metode pendekatan pelengkap untuk melakukan pendekatan masalah yang tidak dapat didekati atau ditelaah oleh metodemetode lainnya.

3. Ruang menurut ilmu wilayah

Berdasarkan konsep pewilayahan, ruang permukaan bumi dibatasi oleh keadaan fisik, sosial, dan batas administrasi pemerintahan. Jika satu kesatuan alam permukaan bumi menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama maka dinamakan sebagai ruang geografi (space). Ciri-ciri yang relatif sama tersebut misalnya seragam dalam hal keadaan fisik permukaannya, kebudayaan masyarakatnya mempunyai ciri yang khas, dan ruang tersebut menunjukkan suatu sistem kehidupan dalam keterikatan yang kentara. Ruang geografi yang memiliki ciri khas tertentu disebut wilayah (region).

Jadi apa bedanya antara ruang dan wilayah? Wilayah, sebagaimana yang telah dijelaskan, merupakan kesatuan alam yang seragam dan/atau kesatuan masyarakat dengan kebudayaan yang khas sehingga dapat dibedakan satu wilayah dengan wilayah yang lain. Penamaan wilayah yang bersangkutan tentunya bergantung pada satuan alam atau kesatuan budaya yang digunakan.

Dalam geografi, kesatuan wilayah dapat ditentukan berdasarkan pada sejumlah region. Contoh region (wilayah) yang dicirikan unsur fisik antara lain wilayah geologi (geological region), wilayah tubuh atau jenis tanah (soil region), wilayah vegetasi (vegetation region), dan lain-lain; sedangkan wilayah yang namanya didasarkan pada sosial-budaya manusia misalnya wilayah ekonomi, wilayah sejarah, wilayah perkotaan, wilayah perdesaan, dan lain-lain.

Suatu wilayah dapat ditentukan dalam ukuran yang luas tetapi dapat pula dalam ukuran yang lebih sempit tergantung dari kerincian dalam mengindentifikasi kesamaan atau keseragamannya. Contoh wilayah yang luas misalnya wilayah Asia Tenggara, Wilayah Eropa barat, Wilayah Amerika Latin, Wilayah Afrika Tengah, dan lain-lain. Wilayah yang disebutkan di atas masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Relatif memiliki keseragaman budaya, keseragaman tingkat peradaban, dan lain-lain sehingga jika diperbandingkan antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya dapat dibedakan dengan jelas.

Dalam skala yang lebih kecil, ukuran wilayah dapat pula ditentukan. Di Pulau Jawa memiliki wilayah-wilayah yang dapat dibedakan baik secara fisik maupun sosialbudaya masyarakatnya. Secara fisik misalnya ada wilayah geologi Banten, wilayah geologi Zone Bandung, dan lain-lain. Secara sosial-budaya kita juga mengenal adanya wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa), wilayah Kebudayaan Pasundan, Wilayah Kesultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Pewilayahan macam itu disebut pewilayahan secara formal (formal region) karena mengidentifikasi wilayah dengan menunjukkan objek-objek yang ada pada wilayah tersebut.

Tidak semua wilayah dapat digambar pada peta tematik dengan tegas, karena mengalami kesulitan dalam menarik garis yang sebenarnya. Contohnya wilayah Pantura, merupakan wilayah yang relatif sulit ditentukan karena batas wilayah Pantai Utara Jawa tidak seluruhnya memiliki ciri yang seragam atau homogen. Wilayah Pantura hanya didasarkan pada suatu daerah yang dilalui oleh jalan raya yang “kebetulan” menelusuri tepian pantai utara Pulau Jawa. Istilah wilayah Pantai Utara Jawa menjadi sangat terkenal pada saat lebaran (Hari Raya keagamaan) yang mudik memanfaatkan jalur jalan yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya.

Karena banyak orang yang mengalami kesulitan dalam penentuan batas wilayah, maka umumnya akan diidentifikasi pada fungsi tertentu yang kemudian dikenal dengan istilah kawasan. Kawasan industri artinya suatu wilayah yang difungsikan atau dimanfaatkan untuk pengembangan sejumlah industri. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kawasan perkampungan, pertanian, kehitanan, dan lain-lain.

Selain wilayah formal, ada pula yang disebut wilayah fungsional (functional region) atau wilayah nodus yaitu suatu bagian dari permukaan bumi, di mana beberapa keadaan alam yang berlawanan memungkinkan timbulnya bermacam-macam kegiatan, yang hasilnya berbeda dan saling mengisi dalam keperluan kehidupan manusia, karena itu sering pula disebut wilayah organik.

Contoh wilayah fungsional misalnya di suatu wilayah lereng pada sebuah gunung mulai dari lereng atas sampai dengan lereng kaki, disambung dengan daerah dataran rendah hingga akhiurnya ke tepi sebuah pantai. Penduduk di lereng atas hidup dari kehutanan, penduduk di lereng di bawahnya hidup dari perkebunan, penduduk di lereng bawah hidup dari pertanian, penduduk yang berada di dataran mungkin perkotaan dan hidup dari usaha pelayanan jasa, sedangkan penduduk yang berada di tepian laut hidup sebagai nelayan.

Di antara mereka saling membutuhkan dan mengisi kekurangan masing-masing. Untuk memenuhi kebutuhan hidunya nelayan akan “menyumbangkan” lauk pauk ikan laut sedangkan dari petani akan membantu beras untuk dimasak menjadi nasi. Kira-kira orang dari daerah pegunungan yang memiliki sayuran akan menyumbangkan apa?

Dalam wilayah fungsional, semua komponen dapat diperhitungkan peranan dan hubungan kegiatan antara komponen tersebut. Wilayah formal sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat disebut “wilayah fungsional” asalkan komponen yang berada dalam wilayah tersebut diperhitungkan keterkaitan dan perannya masing-masing. Karena itu dalam wilayah fungsional, hal yang khas dari ciri wilayah bukan didasarkan atas keseragaman atau kesamaannya (sebagaimana pada wilayah formal) tetapi dalam wilayah fungsional; beberapa kegiatan yang berbeda menjadi komponen-komponen yang menciptakan suatu sistem kehidupan wilayah fungsional yang menciptakan suatu sistem kehidupan wilayah fungsional. Kehidupan kota adalah wilayah fungsional karena kota tidak dapat “hidup” tanpa ada daerah hinterland-nya (wilayah belakang yang menyediakan hasil-hasil pertanian).

Menurut Jayadinata (1999), adanya wilayah formal dan fungsional dapat memudahkan bagi para perencana untuk melakukan pendekatan dalam mengembangan wilayah tersebut. Berdasarkan pembedaan wilayah tersebut, dalam perencanaan wilayah dibagi dua pendekatan yaitu:

Pendekatan teritorial, untuk perencanaan suatu wilayah formal. Perencanaan wilayah macam ini memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumber daya manusia dan sumberdaya alam dari suatu wilayah tertentu yang dicirikan oleh perkembangan sejarahnya. Sejarah dijadikan salah satu faktor yang mengikat antar anggota masyarakat sehingga membentuk wilayah terirorial tertentu. Perencanaan wilayah teritorial atau formal diarahkan untuk peningkatan perkembangan untuk melayani aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang berada di dalamnya. Perluasan wilayah dalam pengembangan wilayah formal akan dibatasi oleh batas wilayah lain yang berbatasan.

Pendekatan fungsional, yaiu suatu perencanaan yang memperhitungkan lokasi berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Dalam perencanaan akan dikembangkan model-model perencanaan seperti model gravitasi, analisis masukan-keluaran, pusat pertumbuhan, dan lain-lain. Perluasan wilayah fungsional memperhitungkan dan mengambil manfaat dari keadaan wilayah lain yang berbatasan dalam interaksi dan memenuhi kebutuhan yang tidak dimiliki oleh masing-masing wilayah bersangkutan.

Akhirnya dari masing-masing pengertian tentang ruang ternyata memiliki fungsi yang berbeda-beda, walauapun pada akhirnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk diklasifikasikan sesuai fungsinya sehingga dapat dilakukan pengaturan ruang agar lebih nyaman, berguna, dan dapat berkelanjutan.

B. Konsep Tempat

1. Tempat sebagai suatu konsep yang terikat pada suatu lokasi dalam ruang

Dalam geografi, tempat yang diartikan sebagai suatu lokasi dalam ruang (permukaan bumi) akan diikatkan pada suatu titik koordinat berdasarkan titik lintang dan bujur dalam tata koordinat bumi. Misalnya, suatu tempat yang terletak di titik 7°14’ Bujur Timur dan 4°11’ Lintang Selatan. Dengan mengetahui titik ikat tersebut maka akan mudah mencarinya dalam peta. Indonesia juga mudah kita cari di permukaan bumi pada saat mengetahui tempatnya berdasarkan lokasi atau koordinat bumi.

Konsep tempat ada dua yaitu tempat yang mutlak dan tempat relatif. Tempat yang mutlak misalnya berdasarkan lokasi astronomis sebagaimana dijelaskan pada paragaf di atas. Sedangkan tempat relatif terkait dengan tempat lainnya di suatu ruang atau wilayah. Misalnya kota Jakarta dapat dikatakan sebelah timur, tetapi pada waktu yang lain dapat dikatakan di sebelah barat, tergantung dari mana kita menyebutnya. Pada saat kita berada di Propinsi Banten, maka Jakarta berada di sebelah timur tetapi manakala kita berada di Kota Subang maka Jakarta berada di sebelah barat.

2. Tempat sebagai suatu wilayah dapat membentuk suatu pola

Tempat sesuatu yang terpilih dan dipertimbangkan berdasarkan pemikiran rasional umumnya akan membentuk suatu pola. Jika tersebar dalam ruang, tempat-tempat tertentu dapat membuat suatu jaringan yang terpadu. Dalam mengkaji tempat, orang dapat menganalisisnya berdasarkan pola sebarannya, pola keterkaitannya, dan pola ketergantungannya.

Identifikasi persebaran objek geografi yang paling efektif adalah melalui peta. Kelebihan peta dalam menampilkan data atau informasi yang terkait dengan unsur geografis selain mengidentifikasi persebaran, juga pola dan hubungan objek geografi.

3. Pola dan hubungan antar tempat geografi

Pada peta kita dapat mengidentifikasi suatu pola tertentu. Pada sejumlah disiplin ilmu seperti planologi (perencanaan wilayah), hidrologi, dan biogeografi sangat berkepentingan mempelajari pola-pola tertentu pada peta. Dalam planologi dikenal pola pengembangan wilayah kota dan desa. Gambar dibawah ditampilkan contoh pola persebaran permukiman di wilayah perdesaan.

Pola persebaran di atas terkait dengan objek geografi lain misalnya, pola permukiman yang memanjang sungai. Hal tersebut menandakan bahwa pola kehidupan masyarakat kampung tersebut sangat tergantung dengan aliran sungai, misalnya untuk memenuhi kebutuhan mencuci, kebutuhan sarana transportasi, mencari penghidupan (mencari ikan), dan lain-lain.

Hubungan antara objek geografi dapat pula digambarkan antara adanya tempat sesuatu membuktikan adanya sesuatu di tempat sekitarnya. Ketika ada delta di muara sungai, maka dapat dipastikan bahwa di daerah hulu sungai mengalami erosi lahan yang kuat. Melalui aliran sungai bahan hasil erosi di bawa menuju muara dan di endapkan di muara sungainya

Pola dan hubungan antara faktor kegiatan manusia dengan lingkungan fisik dapat dilihat pada gambar di bawah ini pada Buku interaksi desa-kota karangan R. Bintarto (1989) bahwa pola perluasan kota lebih cepat berkembang ke arah kota perdagangan dibandingkan dengan daerah laut atau pegunungan. Perbedaan pola perluasan tersebut tentunyan terkait bahwa aktifitas manusia cenderung mencari penghidupan ke daerahdaerah yang lebih ramai.

Gambar 1. Pola Pemukiman Mamanjang Jalan dan Mamanjang Sungai

Gambar 2. Pola Pemukiman Memanjang Pantai dan Pola Radial

4. Menentukan Tempat untuk kegiatan Industri

Penerapan ilmu menentukan tempat atau lokasi, banyak dikaji oleh para perencana wilayah dalam kegiatan industri. Banyak teori lokasi yang digunakan untuk menentukan lokasi industri. Pengambilan keputusan untuk memilih lokasi merupakan kerangka kerja yang prospektif bagi pengembangan suatu kegiatan yang bersifat komersil, yaitu pemilihan lokasi-lokasi yang strategis, artinya lokasi itu memiliki atau memberikan pilihan-pilihan yang menguntungkan dari sejumlah akses yang ada. Semakin strategis suatu lokasi untuk kegiatan industri, berarti akan semakin besar peluang untuk meraih keuntungannya. Jadi, tujuan dari penentuan lokasi industri yaitu untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang besar dan luas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu diperhitungkan dalam menentukan lokasi industri dinamakan faktor lokasi, yaitu sebagai berikut:

  1. Bahan mentah, merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan industri, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah besar demi kelancaran produksi.
  2. Modal, peranannya sangat penting untuk kelancaran kegiatan produksi, baik dalam pengadaan bahan mentah, upah kerja dan biaya produksi lainnya.
  3. Tenaga kerja, merupakan tulang punggung kelancaran proses produksi, baik jumlah maupun keahliannya.
  4. Sumber energi, kegiatan industri memerlukan sumber energi, baik berupa energi listrik, BBM dan gas.
  5. Transportasi dan komunikasi, lokasi industri harus dekat dengan prasarana dan sarana angkutan atau perhubungan dan komunikasi, seperti jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan untuk memudahkan pengangkutan hasil industri dan bahan mentah, serta telepon untuk memudahkan arus informasi.
  6. Pemasaran, lokasi industri harus menjangkau konsumen sedekat mungkin agar hasil produksi mudah dipasarkan.
  7. Teknologi, penggunaan teknologi yang kurang tepat guna dapat menghambat jalannya suatu kegiatan industri.
  8. Peraturan, peraturan atau perundang-undangan sangat penting demi menjamin kepastian berusaha dan kelangsungan industri. seperti peraturan tata ruang, fungsi wilayah, UMR, perijinan, sistem perpajakan dan sebagainya,
  9. Lingkungan, faktor lingkungan yang kurang kondusif selain menghambat kegiatan industri juga kurang menjamin keberadaannya. Misalnya keamanan, jarak ke lokasi pemukiman, polusi atau pencemaran, dan sebagainya.
  10. Iklim dan sumber air, menentukan kegiatan industri, artinya keadaan iklim dan ketersediaan sumber air jangan sampai menghambat kegiatan produksi. Namun semua faktor industri tersebut tentunya tidak seluruhnya dapat diakomodasi secara keseluruah. Terkadang satu industri akan lebih dekat dengan lokasi bahan baku tetapi jauh dengan lokasi pemasaran, atau sebaliknya. Karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan maka lahirlah teori-teori untuk membantu memecahkan masalah penentuan lokasi, yaitu harus didasarkan pada faktor-faktor produksi paling dominan dari suatu kegiatan industri.

Refrensi Rujukan:

  • Bintarto, R dan Hadisumarno, S. 1987. Metode Analisa Geografi. LP3ES. Jakarta.
  • Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.
  • Daldjoeni. N. 1992. Geografi Baru. Alumni. Bandung
  • Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Ghalia Indonesia. Jakarta.
  • Martopo, S. 1988. Pendidikan Geografi di dalam Konsorsium Sains dan Matematika. Lembar Ilmu Pengetahuan. IKIP Semarang.
  • Sumaatmadja, N. 1981. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Penerbit Alumni. Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s