AGAMA DAN MORAL


Bagaimana jika ternyata moral tidak berasal dari agama? Pertanyaan itu muncul setelah para peneliti makin mengerti tentang apa itu moral. Selama ini, karena sifatnya yang abstrak, manusia beranggapan bahwa sesuatu yang membuat manusia baik (yaitu, moral) berasal dari Tuhan yang mengajarkannya melalui agama. Tapi kini, para ilmuwan mulai menemukan definisi konkrit dari moral, dan pengetahuan ini menyadarkan mereka bahwa ternyata moral tidak semistis yang selama ini dibayangkan.

Salah satu peneliti yang paling giat mempelajari moral adalah seorang ahli Biologi dari universitas Harvard, yaitu Marc Hauser. Definisi Hauser tentang moral, secara sederhana, adalah sesuatu di dalam diri manusia yang membuatnya mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, WALAUPUN kadang manusia tidak tahu apa alasannya. Contohnya, adalah saat kamu melihat seorang pengemis yang masih kanak-kanak. Kemungkinan besar kita akan merasa bahwa hal yang baik adalah memberikan uang kepada pengemis itu, walau mungkin kamu tak tahu mengapa kamu merasa hal itu baik.

Hauser membuat beberapa soal untuk menguji moral manusia, yang beberapa diantaranya dapat dibaca di sini. Coba lihat apakah kamu memiliki moral yang sama dengan sebagian besar masyarakat, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. Dani sedang berdiri di depan persimpangan rel, disamping sebuah tuas yang bisa digunakan untuk memindahkan lajur kereta. Sebuah kereta sedang melaju ke arah Dani. Di rel utama, terdapat 5 orang yang tidak menyadari datangnya kereta. Di rel yang berfungsi sebagai rel tambahan, terdapat 1 orang yang sedang duduk dan akan terlindas jika kereta lewat sana. Haruskah Dani memindahkan kereta ke rel tambahan untuk menyelamatkan 5 orang, tetapi membunuh 1 orang?

dani1

2. Alan juga berada di persimpangan rel, di samping tuas, dan sebuah kereta sedang melaju ke arahnya. Tetapi, 5 orang yang tidak menyadari datangnya kereta, berada di titik dimana persimpangan rel sudah menyatu kembali. Hanya saja, di rel tambahan ada seseorang yang sangat gendut, yang mana apabila kereta menabrak dia, kereta akan berhenti. Haruskah Alan memindahkan kereta ke rel tambahan agar kereta menabrak orang gendut dan menyelamatkan 5 orang?

alan1

3. Maman berada pada situasi yang sangat mirip dengan Alan. Tetapi, di rel tambahan, tidak ada orang gendut, melainkan sebuah besi besar yang juga akan menghentikan kereta jika tertabrak. Hanya saja, sayangnya ada seorang pejalan kaki yang sedang melintas, dan akan terlindas kereta jika kereta memasuki rel tambahan. Haruskah Maman mengarahkan kereta ke besi besar untuk menyelamatkan 5 orang, tetapi mengorbankan si pejalan kaki?

maman1

Ketiga cerita tersebut memiliki kesamaan, yaitu, mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Tetapi, karena kondisinya berbeda-beda, jawaban yang dihasilkan juga berbeda.

Untuk cerita kesatu, 90% responden Hauser mengijinkan Dani untuk memindahkan rel. Pada cerita kedua, mayoritas pembaca tidak akan menyetujui Alan untuk mengorbankan si orang gendut. Untuk cerita ketiga, mayoritas pembaca akan setuju Maman mengarahkan kereta ke besi besar, walaupun mengorbankan si pejalan kaki. Hal yang menarik adalah, banyak dari orang yang mengikuti penelitian Hauser (mungkin sama dengan kamu) tidak mengetahui alasan dari perbedaan jawaban ini. Pokoknya, mereka yakin itu yang terbaik. Inilah yang disebut dengan moral.

Lalu, bagaimana jika pertanyaan ini diberikan kepada orang ateis? Jika agama adalah sumber dari moral, harusnya jawaban orang ateis akan berbeda. Hauser menanyakan cerita di atas pada mereka yang tidak percaya Tuhan. Hasilnya? Tidak terdapat perbedaan dengan orang yang beragama.

Tapi, mungkin jawaban orang ateis tersebut disebabkan oleh budaya. Hauser pun membawa cerita-ceritanya ke suku Kuna, yang tidak banyak berinteraksi dengan budaya barat, dan tidak memiliki agama. Hasilnya? Kembali tidak ada perbedaan.

Lalu, jika moral terbukti ada di dalam diri setiap manusia, bahkan yang tidak beragama, maka darimanakah asal moral? Karena agama bukan jawabannya, maka saya berpaling ke salah satu tokoh sekuler untuk meminta penjelasan, yaitu Charles Darwin.

Darwin mengatakan, bahwa manusia yang ada di masa ini, adalah manusia yang berhasil melewati seleksi alam. Karena manusia membutuhkan bantuan mahluk lain untuk selamat, maka manusia yang berhasil bertahan adalah mereka yang memiliki sifat baik atau penolong (altruis). Sifat baik ini kemudian diturunkan secara gen ke generasi selanjutnya, sehingga menjadi bagian dari cara berpikir manusia, bahkan kadang tanpa disadari. Oleh karena itu, pada saat lahir, manusia normal sudah memiliki seperangkat aturan baik-buruk yang ia warisi dari orang tuanya.

Saya melihat penjelasan Darwin ini cukup masuk akal dan dapat dibuktikan melalui data historis dan genetis. Lalu, benarkah kita tidak butuh agama untuk menjadi orang baik?

Sumber yang dipakai:
– Hauser, M (2006). Moral Minds: How Nature Designed our Universal Sense of Right and Wrong. New York: Ecco.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s